
JAKA
Jaka menatap lekat gadis berbaju biru yang berdiri tak jauh di depannya. Wajah familiar berambut ikal itu mirip seseorang dari masa lalunya.
"Marla kan ?"
Bergegas Jaka mendekat lalu menyapa gadis itu untuk memastikan.
Iya, benar. Ternyata tak salah lagi, itu memang Marla.
"Jaka ini, Jaka ! Ingat ga ?"
"Oohhhh...,ya ampun...,Jaka ?!" Mimik wajah gadis itu berubah ramah. Syukurlah ternyata dia masih mengenaliku.
Lama tak bertemu Marla, wajah itu benar benar sudah berubah banyak. Pembawaannya pun begitu dewasa dan luwes. Dia bukan lagi Marla yang dulu kukenal pemalu. Aku dibuat pangling.
Sekelebat memori cinta monyet di masa putih birupun muncul ke permukaan ingatanku.
"Apa kabar kamu sekarang ? Lagi ngapain kamu di sini ? Kamu sudah menetap di sini lagi sekarang ?"
Berondongan pertanyaan itu membuatku bingung mau jawab apa ?
"Yah.....,beginilah."
Kupersilahkan dia memandangi sendiri keadaanku. Bahwasanya aku baik baik saja.
"Udah lama ya kita ga ketemu ? Terakhir kapan ya ?"
Udah lama banget malah La, sampe kamu lupa wajahku. Bisikku dalam hati.
Perasaan bahagia tak terlukiskan memenuhi rongga dadaku. Akhirnya aku bertemu denganmu La. Kamu ga tau aja, kalau aku sedang mencarimu kemana mana. Bertanya tanya kepada semua teman teman SMP yang kujumpai.
Kalau tau akan bertemu di sini, harusnya aku sedikit berdandan keren tadi. "Ah...,ya sudahlah."
"Kenapa Ja ?"
"Mmmmm ? Oh enggak."
Memang jodoh tak akan lari kemana. Tuhan itu benar benar baik banget. Sungguh kebetulan yang luar biasa, Marla juga naik bus yang aku bawa. Ingin rasanya aku teriak ,"terimakasih Tuhaaannn," tapi nanti dikira sakit jiwa.
Menempatkan Marla duduk di bangku depan, di samping kursi kemudiku, adalah ide yang benar benar brilian. Jadi kami bisa leluasa mengobrol sepanjang jalan kenangan ini.
Aku yakin otak encer ini pasti diturunkan dari papa. Pengusaha transportasi itu sering kupanggil Pak Tua. Selalu punya ide yang cemerlang membangun hubungan bisnis dengan baik. Mirip miriplah dengan yang kulakukan.
Marla banyak bercerita, kadang kadang bertanya juga. Dia tumbuh menjadi gadis yang ceria sekarang.
Perasaan cinta yang masih kusimpan rapi sampai sekarang seperti menemukan pemiliknya. Sesekali jantungku berdebar ketika tangan mungil itu menepuk bahuku.
Tawa kami lepas seperti tanpa batasan, akupun tak perlu jaim lagi. Kuberanikan diri mengakui perasaanku ditengah obrolan santai kami.
"Kamu dulu kan sering ikut vokal group, ikut paduan suara, ikut lomba menari juga kan ? Sering jadi suara solo di paduan suara. Betul ga ?"
" Ihh...,kamu masih ingat aja ya ?"
"Ingatlah."
Bagaimana mungkin aku melupakan itu. Kemanapun dia pergi aku selalu mengikuti.
Sampai bela belain masuk paduan suara demi aku bisa dekat dengan Marla, meski sebenarnya suaraku pas pasan. Untung saja keahlian bermain gitarku berguna di sana, jadi ga terlalu malu maluin.
"Kamu tuh dulu ga setinggi ini deh Ja. Kok bisa tiba tiba tumbuh menjulang kayak sekarang ?"
"Ohhhh, mau tau rahasianya ?"
"Mm hm..."
"Tiap hari aku siram kakiku pakai air embunan pagi yang baik untuk pertumbuhan."
"Hua haaa haa.......,hua haaaaa haaa haa." Marla tertawa terpingkal pingkal.
"Lalu kujemur diriku dibawah sinar matahari pagi. Jadilah aku setinggi ini."
"Huaaa ha ha ha......"Tawa Marla pecah, sambil terpingkal pingkal memukul pundakku gemas. "Emangnya kamu tanaman merambat. Hua ha ha ha....."
Aku yang bahagia dengan tawa lepas Marla hanya memasang wajah datar, takut mukaku yang sedang kasmaran kelihatan.
"Puas ketawanya?"
Kataku masih dengan wajah datar. Marla malah makin tertawa. Katanya wajahku lucu kalau begitu.
"Aha ha ha....,aduh....... sakit perut aku ketawa Ja."
Marla memegangi perutnya, yang geli akibat tertawa terbahak bahak.
Kembali aku senyam senyum senang.
Entah mimpi apa aku semalam bisa satu bis dengan Marla hari ini, mungkin karena niat baikku menolong orang yang kesusahan. Jadi Tuhan berbaik hati pertemukanku dengan Marla.
"Waktu SMP aku pernah beter beter kamu lo La."
Kuberanikan diri berterus terang.
"Ahh......., masak sih ?! Bukannya dulu itu semua cewek juga kamu beter beter Ja ? Ga bisa liat licin dikit. Langsung kamu dekati."
"He he he....,"aku tertawa malu. "Enggak lo La. Cuman kamu yang aku beter beter dulu."
"Mmmm.....,udah deh. Ga usah ngeles, fakta membuktikan mister playboy."
Marla menggeleng geleng , sambil memasang tampang tak percaya. Dia masih pikir aku bercanda mungkin.
"Serius aku La. Cuma kamu lo. "
Marla malah senyum meledek. Benar benar tak percaya pada pengakuanku.
"Jadi kamu juga mikir begitu ya La?"
"Mikir gimana ?"
Wajah Marla menahan lucu. Tak perduli dengan keseriusan di wajahku.
"Kalau aku playboy ?"
"Hem hm. " Marla mengangguk tegas.
Sedih hatiku mendengar pendapat Marla barusan. Seandainya dia tau kalau sejak dulu, bahkan sampai sekarang dihatiku ini hanya ada dia.
Meski tak kupungkiri, dulu sering mendekati perempuan di sekolah, tapi niatku hanya sekedar ingin membantu teman. Efendi dan Arpan dulu punya gebetan, aku hanya membantu mereka mendapatkan pujaan mereka.
Setelah mereka berdua punya pacar, malah aku sendiri yang tidak punya pacar.
"La......,waktu SMP kamu suka nyanyi kan ? Tapi kenapa tiba tiba keluar dari paduan suara ?"
Sudah lama aku ingin menanyakan ini. Tapi dulu tak punya keberanian.
Wajah yang sesekali kulirik dari kaca depan itu hanya tersenyum tipis, antara kurang nyaman atau apa, ketika aku membahas tentang paduan suara.
"Yah...,kaget aja, ga ada angin ga ada hujan,tiba tiba keluar dari paduan suara." Lanjutku kemudian, membantunya keluar dari rasa tak nyaman. "Tau kamu keluar, ga lama aku ikut keluar juga dari paduam suara. "
"Oh ya !?"
Kelihatan sekali Marla tak tau tentang hal ini. Dia terkejut.
"Kenapa ?"
"Serius mau tau ?"
Apakah dia benar benar tidak tau ? Atau hanya ingin memancingku bicara ?
Tapi dia mengangguk yakin.
"Karena kamu La."
Aku berusaha menunjukkan wajah seriusku padanya, sambil kendaliku tetap fokus pada jalanan.
"Hah.....?!"
Kali ini matanya mengerjap ngerjap berusaha mencerna kalimatku barusan. Mulai menanggapi serius pada apa yang kuucapkan.
Kemudian tak bicara apa apa lagi. Hanya melirik sebentar ke deretan kursi di belakang kami.
"Apa kabar kamu sama Lesti ?"
"Lesti ? Lesti siapa ?"
" Masak sama pacar sendiri lupa."
"Aku ? Pacaran sama Lesti ? Kapan ? Kata siapa ?"
Kaget aku mendengar informasi tak benar itu. Perasaan aku ga pernah punya pacar waktu SMP. Justru diantara kami 3 sekawan cuman aku yang belum punya pacar sampai sekarang.
Aku benar benar tak ingat siapa itu Lesti. Berusaha mengkaji pernyataan statusku yang katanya berpacaran dengan Lesti.
Kutunjukkan wajah bersungguh sungguh, menegaskan tatapan seserius mungkin, sambil mataku awas mengendalikan bus dibalik kemudi.
"Semua orang di paduan suara tau kalian pacaran. Dia kan anak paduan suara, sering tampil vocal group dengan aku dulu. Masih mau menyangkal ?"
"Ohhhh, Lesti yang itu.....!"
Ingin saja kuhentikan bus ini sebentar, lalu menjelaskan semua pada Marla.
Jelas jelas sudah ada kesalah fahaman di sini.