
MARLA
Saat pagi tiba, kuselesaikan semua tugas mengurus pasienku seperti biasa. Setelah selesai mengurus Pak Gunadi, biasanya aku mandi dan membereskan diri di sini. Ada kamar mandi bawah yang bisa kami pakai untuk membersihkan diri atau mengganti pakaian. Sambil menunggu teman operan pagi ini datang, aku temani Pak Gunadi menonton berita.
"Pagi......"
Aku menoleh ke arah suara. Itu Lita, teman dinasku yg akan jaga pagi ini.
"Syukurlah........," gumamku legah dalam hati. Karena aku akan masuk sore di RS hari ini.
Lita bergegas ke kamar mandi, membasuh tangan dan kakinya serta mengganti pakaian.
"Kamu nge - long La ?" Lita bertanya setelah selesai berberes diri. Maksudnya jaga pasien lebih dari 1 sift jaga.
"Iya, Menti semalam ga masuk. Untung semalam aku libur di RS. " Kataku menjelaskan.
"Lah....,kenapa lagi dia ga masuk ? Keseringan dia itu."
"Ga tau, ga nanya juga." Jawabku ringan, sambil membereskan barang barangku.
"Kayaknya udah perlu diingetin itu. Setiap Sabtu dan Minggu sering batalin jaga. Mana batalinnya dadakan lagi. Gimana kalau kita lagi ada perlu, kan repot begitu. "
"Iya....,aku aja semalam udah batalin janji jadinya. Besok ketemu kak Evi sampaikan aja," lanjutku.
"Ok.....,hati hati kamu ya."
Lita mengantarku keluar pintu. Aku hanya menjawab dengan anggukan.
Jalanan sepi di pagi ini. Mungkin karena ini hari Minggu. Kepalaku celingak celinguk melihat angkot nomor tujuanku lewat. Pagi ini aku mau langsung masuk ibadah jam pertama. Biar pulangnya sempat istirahat sebentar sebelum dinas sore. Tiba tiba dari arah kananku muncul sosok yang kukenali mendekat dengan sepeda motor.
"Bang Bima ?!!" Aku terkejut sekaligus senang.
"Hai.....,dugaanku ga meleset. Kamu benar ada disini." Bima tersenyum sumringah.
"Ngapain ?" Kagetku masih belum hilang.
"Jemput kamu."
"Hah.....,serius ??!!"
"Serius....."
Aku hanya membalas dengan senyum sumringah, sambil berbunga bunga dalam hati.
"Mau langsung pulang?" Bima bertanya.
"Mau langsung ibadah pagi bang, nanti aku masuk dinas sore di rumah sakit ."
"Sama dong aku juga mau ibadah pagi."
Aku mengernyitkan kening ke arahnya.
"Tadi katanya mau jemput aku ?"
"Ha ha ha.....,iya. Sebenarnya memang mau ibadah. Aku sengaja lewat sini, tadi rencananya kalau ga ketemu kamu mau langsung ibadah pagi. Karena liat kamu di sini, niatnya berubah, aku bisa ibadah sore nanti. Eh malah kamu mau ibadah pagi juga. Jadi pas dong, kayak udah diatur sama Tuhan." Jelasnya pajang lebar.
Mendengar kata kata Bima itu, tak pelak aku berteriak bahagia dalam hati. Tapi berusaha mengatur sikapku sebiasa mungkin.
Saat ibadah kita duduk berdampingan, mengikuti ibadah dengan tenang. Bima memastikan tempat duduk kami dan membantuku dengan barang2 bawaanku. Aku jadi teringat moment waktu itu. Saat Bima menungguku di pintu masuk, sebelum ibadah dimulai. Dia melakukan hal yg sama seperti hari ini. Dalam hati aku berdoa pada Tuhan "semoga moment seperti ini bisa terulang lagi lain waktu ya Tuhan. Amin"
Aku mulai mengagumi Bima. Sosok laki laki mandiri ini ternyata punya hati yang cinta Tuhan. Di jaman sekarang, jarang jarang bisa ketemu laki laki seperti ini, yang senang beribadah, yang memperlakukan perempuan dengan sopan, yang melindungi dan membuat nyaman. Meski aku tau dia sedang mendekatiku, tapi semua yang dia lakukan ini ga norak sama sekali. Tidak memaksakan diri. Semua terlihat seperti apa adanya Bima, terkesan tulus.
"Dinas sore jam berapa La ?" Tanya Bima setelah kami selesai ibadah pagi.
"Jam 14.30 absen sore, tapi aku harus kekost dulu bang, soalnya ga bawa baju ganti." Kataku menjelaskan.
"Aku antar aja nanti ." Bima menawarkan diri.
"Ga usahlah bang, ga enak aku jadinya. Seharian mengganggu kegiatan abang."
"Lagi ga ada kegiatan juga kok. Ga apa apa."
Jadilah seharian ini aku dengan Bima menghabiskan waktu bersama. Makan siang bersama sampai akhirnya diantar dinas sore ke rumah sakit.
"Makasih banyak bang sudah ditemani seharian. Diantar dinas sore lagi. "
"Sama sama. Anggap aja ini ganti semalam yang ga jadi pergi."
" Oh iya ya.....,aduh jadi ga enak aku. Benar benar minta maaf ya bang. Semalam temanku mendadak bilang ga bisa masuk jaga." Aku merasa ga enak ingat janji yang batal itu. Ah.....,ga ada ruginya juga semalam batal pergi, pikirku. Perjalanan hari ini malah lebih syahdu ceritanya.
"Ga apa apa La, namanya juga mendadak kan." Bima memang sudah balas seperti itu semalam di chat, sekarang dia ulangi lagi dalam bentuk kalimat langsung.
"Oh iya, nanti malam, aku ga bisa jemput kamu pulang dinas. Malam ini aku dan Hans harus berangkat ke kota A. Ada proyek di sana."
"Oh iya...,ga apa2 kok bang. Aku bisa diantar aja udah makasih banyak bang. Sudah biasa juga kok pulang sendiri." Jawabku ringan, meski dalam hati sedih itu tak bisa kupungkiri.
Bima tersenyum menanggapi. Tapi itu senyum berat, bukan senyum ceria seperti biasanya. Tersenyum berat sambil menatapku dalam, seolah tau hatiku yang menyembunyikan sedih.
Senyumku yg tadi terpasang di wajah, perlahan memudar memandang ekspresi itu. Entahlah.......,aku seperti mengerti makna senyum beratnya itu. Seolah menyiratkan makna kalau dia juga sedih harus berpisah. Sebenarnya kalau aku mau jujur, akupun merasakan yang sama.
Untuk sesaat kami hanya terdiam menekur, dengan fikiran kami masing masing. Sampai Bima membuka bicara lagi.
"Aku dan Hans perlu 2 minggu menyelesaikan proyek di sana. Semoga bisa lebih cepat." Bima menatapku dalam sambil mengatakan itu. Ingin menegaskan bahwa dia tak rela harus berpisah.
"Jadi selama itu, kamu akan pergi dan pulang sendiri dulu ya." Kata Bima melanjutkan.
Tiba tiba semakin besar rasa sedih itu menyusup hatiku. Tapi aku terlalu gengsi mengakui itu. Berusaha mengatur ekspresi wajahku setenang mungkin. Menunjukkan bahwa seolah olah itu tidak mempengaruhiku.
"Tenang aja bang.....,aman itu." Kataku sesantai mungkin. Sambil menepuk pundaknya "hati hati di jalan ya bang, " kataku berusaha tegar.
Dia hanya mengangguk kecil.
"Ok bang, aku harus absen sore nih." Kataku melanjutkan. Menghindari situasi yang mulai mengharu biru itu.
Bima segera pergi begitu aku melambai dan bergegas masuk ke rumah sakit.
Sambil melangkah ke ruangan jagaku, aku menertawakan hatiku. Sekuat apapun aku menyangkal, sedih itu tetap terasa menyakiti.
Well.....,to be honest, aku sedih. Kalau bisa dibilang sangat sedih malah. Mungkin ini hanya perjalanan satu hari bersama Bima, tapi memoriku mencatat sangat detil setiap sudut yang kami lewati, setiap jalan jalan yang kami lalui dan tempat tempat yang kami singgahi.
Rasanya seperti aku sudah sangat mengenal Bima. Bisa sedekat dan senyaman itu bersama dia. Bima memperlakukanku dengan baik dan sopan. Hatiku seolah terbuka lebar dan rindu untuk diisi kembali. Menempatkan nama Bima di sana.
Ah.....,tapi 2 minggu kan ga lama, pikirku menghibur diri. Berusaha menepis rasa yang campur aduk di dalam hati, agar bisa fokus untuk tugas hari ini. Bagaimanapun juga tugasku butuh hati yang tenang dan pikiran dengan konsentrasi penuh.