MARLA

MARLA
Ketika Hati Berdamai



Marla melangkah keluar rumah setelah usai merapikan kamar tidur. Sebenarnya dalam hati ia tak ingin pergi ke sana, takut ter-trigger lagi dengan perkataan Bima seperti semalam.


Tapi satu sisi hatinya yang lain tak ingin berlama lama menjaga jarak dengan Bima. Terasa jauh meski dekat dimata. Ingin juga segera berbaikan kembali.


Marla duduk di hadapan Bima, membelakangi jalanan di depan rumah.


"Tadi mau bicara apa bang ?"


Bima membuka matanya dan mengatur duduk yang sempurna, tak langsung menjawab pertanyaan itu. Sebentar memandangi Marla lekat lekat, seperti ingin merekam wajah itu sebaik mungkin, melengkapi memori kenangannya akan tempat ini, tempat dimana gambaran sosok gadis yang dicinta duduk berhadapan dengannya.


Marla yang tau sedang diperhatikan, mengalihkan wajahnya ke samping kiri pekarangan luas itu. Membuang pandangannya ke arah bunga bakung yang sudah mekar berbunga di halaman rumah tetangga.


"Hahhhh," perlahan Bima menghela nafas, mengatur nada bicaranya. Berusaha bertutur selembut dan sesantai mungkin. "Aku senang berada di sini La. Suasana seperti ini tak pernah kudapatkan." Kalimat barusan tak menjawab pertanyaan Marla.


"Dulu aku sering berharap punya keluarga lengkap sepertimu. Tak disangka aku bisa merasakan bahagianya itu disini, ditengah keluargamu." Lagi Bima tak menjawab pertanyaan, hanya bercerita tentang hatinya, tentang perasaannya saat ini.


Marla tak bergeming, masih lekat pandangannya ke arah bunga bakung di halaman tetangga.


"La....," yang dipanggil segera menoleh, "makasih sudah menyambutku di sini. "


Penuh ketulusan Bima mengatakan itu. Sehingga ketulusan itu tersampaikan kepada Marla.


Ada rasa damai terpancar di wajahnya. Damai ini hanya bisa dia rasakan saat bersama Marla. Gadis yang sedang dia perjuangkan demi mendapatkan perhatian dan cintanya.


Marla hanya tersenyum kecil menanggapi. Dia tak tau harus merespon apa. Tak tau juga harus bersikap bagaimana. Akankah mengabaikan atau kembali ramah seperti dulu lagi.


Tapi yang pasti rasa marah dan kesal di dadanya seperti lenyap entah ke mana. Berganti dengan empaty dan perduli pada lelaki yang haus akan kasih sayang itu. Sisi lembut kewanitaannya terusik, ingin memenuhi kasih sayang itu. Kasih sayang yang tak pernah Bima dapatkan.


"Semua kehidupan yang kita jalani punya sisi baik dan buruknya masing masing bang."


Nada suara Marla jauh lebih bersahabat kali ini. Mimik wajahnya tak lagi menunjukkan permusuhan. Sebaliknya kalimat itu seperti air gunung yang sejuk menyegarkan sanubari.


Bima tersenyum sambil mengangguk kecil, setuju pada kalimat Marla barusan.


"La...,sory ya kalau ada tindakanku atau ucapanku yang menyakiti kamu. Sedikitpun tidak ada niat di hatiku sengaja melakukan itu. Maaf ya ."


Marla menunduk dan menggigit bibir. Hatinya langsung tersentuh dengan permintaan maaf itu. Jantungnya segera berpacu dengan cepat. Karena kalimat itu tak lagi terasa menyakitkan seperti semalam. Begitu adem masuk ke hati. Menggugah rasa cinta yang sempat terabaikan.


Selanjutnya pembicaraan itu semakin hangat, semakin santai dan semakin mendekatkan mereka.


"Jadinya mau pulang jam berapa bang ?"


Marla sudah kembali lembut seperti sebelumnya.


"Kok perasaanku kayak diusir sih ?"


"Bukan begitu bang. Biar tau mengatur waktu. Karena busnya hanya berangkat 3 kali bang. "


"Oh ho ho....,gitu. Ok ok."


Bima hanya bercanda dengan perasaan diusir tadi, Marla jawabnya serius.


Obrolan itu mengalir begitu saja. Santai dan penuh candaan kembali. Tak ada rasa yang tersinggung, tak ada kalimat satire yang terlontar, hanya rasa nyaman, rasa apa adanya.


"Marla kapan balik ke kota ?"


"Dua hari lagi bang."


"Kenapa ga lebih cepat baliknya ?"


" Ga apa apa, masih mau di sini aja."


"Bukan karena menghindari aku kan ?"


"Ha ha ha........" Marla tak menjawab iya atau tidak. Hanya tertawa sambil dalam hati mengakui kebenaran tebakan Bima tadi.


Bima hanya ikut tertawa, tak berniat memperjelas jawaban. Bagaimanapun Marla itu perempuan, butuh menjaga harga dirinya. Tidak mungkin menjelaskan segamblang itu. Dia maklum.


Menjelang siang, Bima bersama Marla berjalan kaki menuju stasiun bus. Satu satunya bus yang mengangkut penumpang menuju ke kota.


"Kabari kalau sudah sampai di kota ya La !"


Sampai bus itu berangkat dan bergerak menjauh, Marla masih berdiri ditempatnya. Sukacita yang tak tergambarkan menyelusup mengisi relung hati itu. Ternyata begini rasanya hati yang legah. Legah karena telah berdamai, dengan sosok yang dia cinta.


Sepanjang perjalanan pulang senyumnya tetap mengembang. Menyapa orang orang yang dikenalnya ketika sedang berpapasan.


Saat tiba dirumah, Rohulina sudah keluar. Setelah Bima berpamitan hendak pulang tadi, terlihat memang ibunya sibuk membongkar gudang padi di samping rumah. Mungkin sedang ke kilang menggiling padi, pikir Marla.


Marla duduk di ruang tamu, rumah itu terasa kosong dan sepi. Dita baru pulang sekolah nanti sore. Jam di dinding masih menunjuk pukul12 siang. Marla mau apa di jam begini sendirian. Dia memutuskan masuk ke kamar dan membuka ponselnya. Membuka buka pesan yang masuk.


Senyumnya langsung terkembang lagi membaca pesan yang baru masuk. Pesan dari Bima.


'Terimakasih ya La, aku benar benar bahagia berada dirumah kamu. Terimakasih untuk semuanya '


Sekali lagi Marla tersenyum, sambil tangannya mengetik membalas pesan.


'Sama sama bang, maaf kalau aku sempat cuekin.'


Pesan terkirim.


Tak lama ponselnya berdering, terlihat di layar ponsel Bang Bima memanggil.


Marla sedikit grogi. Sudah lama sejak terakhir kali dia berbicara lewat ponsel dengan Bima.


"Halo..." Marla berusaha setenang mungkin. Menyembunyikan detakan jantungnya yang jelas jelas berdebar debar tak tenang.


"Hi La....,udah sampe rumah ?"


"Udah bang."


"Mmmm......,aku masih di jalan."


"Ha ha ha.....,udah tau bang, kan ga mungkin nyampe secepat itu."


"He he he....,iya ya."


Bima terdengar kikuk. Bingung mencari bahan cerita, tapi masih ingin mendengar suara Marla.


"Kalau sudah sampai nanti kasi kabar ya bang."


Marla memecah kebisuan akhirnya.


"Mmmmm."


Keduanya kembali hening, Marla hanya mendengar suara angin dan deru mesin bus dari ponselnya.


"La.....,lusa kami akan berangkat lagi keluar kota, ada proyek yang harus dikerjakan. Barusan Hans mengabari. Sepertinya pas kamu balik ke kota, aku udah berangkat. Sory ya."


Marla hanya diam mendengar itu. Hatinya mendadak sedih. Bahagianya barusan tak bertahan lama.


"Berapa lama ?"


"Dua minggu paling cepat. Yang dikerjakan ada 2 proyek. "


"Gitu ya ? "


"Mmmmm."


"Ga apa apalah bang. Kan bisa ketemu kalo abang pulang dari sana." Marla seperti menghibur diri sendiri.


Setelahnya telepon terputus, mungkin jaringan yang kurang bagus. Perjalanan pulang ke kota memang melewati daerah yang susah sinyal.


Marla berbaring gundah diatas kasur kapuk nyaman itu. Hatinya menimbang nimbang, akankah kembali ke kota besok atau lusa. Kemudian dia bangkit dan membereskan barang bawaannya. Sudah diputuskan, dia akan berangkat besok pagi pagi.


Di tempat yang berbeda, dalam bus Bima tampak kesal dengan hilang sinyal yang dialaminya. Sebentar jari jemarinya tengah mengetik pesan.


'La.....,sori tadi terputus, di sini susah sinyal. Nanti kalau sudah sampai aku telepon lagi ya.'


Pesan dikirim, tapi belum terkirim, menunggu koneksi sinyal terhubung. Bima menghela nafas kesal lagi. Lalu memasukkan ponsel ke dalam tas bahunya. Berusaha mengalihkan perhatian ke pemandangan hijau diluar jendela.


Tapi entah kenapa hamparan hijau itu tak lagi menarik untuk dinikmati. Yang ada Bima malah terkantuk kantuk sepanjang perjalanan . Segera dia sandarkan kepala ke tepian kursi penumpang, mencari posisi yang pas untuk terlelap, menggulung jaketnya dan menyelipkan gulungan itu diantara kepalanya dengan tepian kursi.