
Bima menyiapkan semua keperluan dan peralatan untuk dibawa ke luar kota.
"Tiket bus sudah dipesan Bim ?"
"Sudah sudah.....,berangkat jam 6 sore."
"Oh iya ? Kenapa ga tiket malam ?"
"Yang ada tinggal tiket jam 10 malam, lainnya sudah habis."
"Ehh...,tumben tiketnya habis ?"
"Iya, mungkin karena ini ada hari libur beberapa hari, jadi banyak yang naik bus malam."
"Ohhh, iya ya. Bisa jadi, bisa jadi."
"Kamu jadi kerumah kak Dina ?"
"Ini mau pergi. Sekalian antar sepeda motor. Nanti kamu nyusul kan ?"
"Iya nyusul, sekalian singgah ke kost-an Marla."
"Ehem ehem..., yang baru pacaran itu...."
"Iya dong..., masak pergi ga pamitan dulu sama pacar."
"Betul itu, betul. Ok deh, aku jalan ya."
"Eh...,jangan lupa ini dibawa."
Bima menunjuk pada sekatung perlengkapaan proyek yang sudah dibungkus rapi.
"Oh iya...."
Hans lalu meraih bungkusan tadi, menaruhnya di sepeda motor dan pergi.
Sepeninggal Hans, kembali Bima sibuk memastikan kembali barang barang yang perlu dibawa untuk mereka pakai nanti di lokasi proyek. Setelah yakin semuanya ok, barulah Bima berkemas mandi.
Hari merangkak siang ketika Bima meninggalkan rumah kontrakannya. Dengan barang yang terikat di boncengan sepeda motor, ia berkendara menuju stasiun bus yang akan mereka naiki nanti.
Secepat mungkin Bima ingin menyelesaikan tugasnya, tak sabar untuk segera bertemu Marla. Angannya sedari tadi telah dipenuhi oleh gadis itu.
Ditempat berbeda Marla sibuk berbenah kamar kost-nya. Lina baru saja pulang setelah makan siang tadi. Tak lama ponselnya berdering dengan nada khusus untuk panggilan dari Bima. Segera wajahnya sumringah ketika tau siapa yang menghubungi.
"Halo."
Jantung Marla berdetak cepat namun terasa lembut saat mengangkat panggilan itu. Rasa bahagia dan rindu sudah menggunung saja rasanya.
"Halo La. Lagi apa ?"
Suara di seberang terdengar santai dan akrab.
"Lagi beres beres kamar, dari kemarin belum sempat."
"Oh gitu....,aku mengganggu dong ini ya ?"
"Oh...,enggak, enggak kok."
Marla cepat menyangkal.
"Bener nih ga mengganggu ?"
"Bener bang. Gak mengganggu kok."
"Aku boleh datang ga ?"
"Memangnya ga jadi berangkat ke luar kota ?"
"Jadi...,nanti berangkat jam 6 sore."
"Ini udah jam 3, apa keburu datang ke sini ?"
"Keburu dong, nih aku udah di depan."
"Ah...! Serius...?"
Marla melonjak kaget. Buru buru keluar dari kamar dan menjenguk ke luar kostan. Dan..., benar saja Bima sudah disana, nangkring di atas sepeda motornya yang tercagak satu di pinggir jalan.
Seketika wajah Marla berseri bahagia, ia lambaikan tangan, memberi tanda mengajak masuk.
"Kok ga bilang mau datang bang?"
Tanyanya ketika Bima sudah dekat. Ponsel lalu ditutup.
"Ini kan udah bilang mau datang."
"Ha ha ha...,itu namanya bukan bilang. Tapi manggil, biar dikasi masuk. "Marla sambil terkekeh menjawab alasan pacarnya.
"He he he...."
Bima duduk saja dengan cengar cengir merasa menang.
"Mau minum apa bang ?"
"Oh boleh pesan jus, kopi sama ayam penyet ya ?"
"Lah..., tadi nawarin !"
"Ha ha ha..., mau minum air putih atau teh manis, yang ada hanya itu lo bang ."
"Ohhhh..., bilang dong..., kirain tadi ada semua...."
Jawaban itu malah membuat Marla kembali terkekeh kekeh lucu. Tak menyangka pacarnya ini bisa ngelawak juga. Lalu beberapa menit kemudian Marla sudah muncul di depan teras membawa 2 gelas minuman dan snack ala anak kost-an.
"Makasih."
Bima segera menyeruput minumannya pelan pelan karena masih panas.
"Jam berapa dinas malam ?"
"Seperti biasa bang, jam 8 absen masuk."
"Ohhhhh..., Bima mengangguk angguk. Abang ga bisa antar ya La." Darah Marla berdesir lembut mendengar kata abang. Rasanya begitu nyaman dan begitu dekat. Biasanya Bima selalu bilang 'aku' menyebut dirinya sendiri.
"Ah..., ga apa apa bang."
Marla menyesap minuman dari gelasnya juga.
Keduanya lalu terdiam, seolah topik pembahasan telah habis dibicarakan. Bima berfikir keras mencari bahan cerita, padahal barusan tadi ia menggebu-gebu ingin bertemu. Rasanya banyak hal ingin diceritakan, tapi mengapa sekarang semua bahan cerita tadi seolah hilang tanpa bekas ?
"Semalam jam berapa sampai di rumah bang ?"
Marla kembali membuka obrolan.
"Oh, hampir jam 12 malam."
"Kok lama ?"
"Iya sempat ngobrol sebentar sama Join waktu kembalikan mobilnya."
"Ohh."
Pembicaraan terhenti lagi di sana. Pikiran Bima sedang dipenuhi banyak pertanyaan untuk Marla. Bagaimana perasaannya ? Bahagiakah dia menjadi pacarnya ? Bisa tidurkah dia tadi malam ? Namun lidah terasa kelu.
"La..., kenapa mau jadi pacar abang ?"
Justru pertanyaan yang tak terfikirkan itu yang meluncur keluar dari mulut Bima.
"Hah...?" Marla kaget dengan pertanyaan itu. Ia bingung mau jawab apa. "Kenapa tanya begitu bang ?"
"Yah..., hanya penasaran saja."
Marla terkekeh lucu sambil menutup mulutnya. "Abang sendiri kenapa mau jadi pacarku ?"
"Abang ? Kenapa mau ?" Balik Bima yang kebingungan mau jawab apa. "Kok jadi balik nanya abang sih ?" Wajah kikuknya jelas tergambar.
"Bingung kan mau jawab apa ?"Marla terkekeh kekeh merasa menang.
Bima menggaruk garuk kepalanya yang tak gatal, coba menyembunyikan tampilan kikuk di wajahnya.
"Sejak awal ketemu kamu, abang sudah suka. Makin kesini, abang semakin kenal kamu, lama lama jadi jatuh cinta."
Marla tak menyangka akan mendengar kalimat seperti ini keluar dari kekasihnya. Ia bagai melayang karena bahagia, dengan hati yang berbunga bunga. Bagaimana bisa kalimat manis nan menggetarkan sanubari itu meluncur manis dari bibir Bima. Seluruh tubuhnya terasa panas dari ujung kepala hingga ujung kaki, seakan suhu udara di sekitarnya meningkat tajam dengan tiba tiba.
"Kamu sendiri, kenapa mau jadi pacar abang ?"
Lagi.... Jantungnya berpacu cepat lagi. Seperti pemain bola profesional yang mencetak gol berturut turut. Begitulah 2 kalimat Bima tadi, sukses meluluh lantakkan pose cuek nan anggun Marla.
"Apa yang abang suka dariku ?" Marla mengelak menjawab dengan pertanyaan itu.
"Mmmmm.... Apa ya ?" Bima memutar bola matanya berfikir.
"Entahlah. Abang hanya merasa nyaman dekat dengan kamu, bicara sama kamu. Begitu saja perasaan itu ada."
"Kamu sendiri ?"
Gadis itu hanya termangu tak menjawab. Telinganya sedang menikmati kalimat kalimat manis dari Bima.
"Jangan jangan kamu terpaksa nih jadi pacar abang ?" Marla hanya tersipu mendengar kalimat itu.
Bagaimana mungkin dia terpaksa. Tentu saja memiliki pasangan hidup seperti Bima adalah pengharapan dan doanya. Perempuan mana yang tak luluh dengan perhatian dan perlakuan baik lagi manis seperti ini. Seandainya saja Bima tau, di dalam hati Marla ada cinta yang menggunung untuk dia, memenuhi seluruh ruang kehampaan dalam dirinya. Marla hanya merasa malu mengutarakannya.
"Enggaklah bang." Jawaban diplomatis itu menutup pembicaraan antara mereka lagi.
Bima seakan enggan beranjak pergi. Tapi waktu memaksanya berlalu. Bagaimanapun dia sangat butuh pekerjaan ini. Proyek kali ini adalah yang terbesar yang pernah mereka kerjakan. Tak perlu ditanya bagaimana cintanya pada Marla, tapi bagi Bima cinta tanpa materi sama dengan gombal belaka. Meski berat, tapi mereka harus berpisah sekian waktu.
"Sory ya La, abang harus pergi."
"Ga apa apa bang."
Dua pribadi bersitatap penuh cinta, namun berjuang menahan diri, dari rasa sedih karena harus berpisah. Dari rasa rindu karena tak bisa saling bertemu sementara waktu.
"La......,boleh panggil sayang sama abang ?"
"Hah...." Marla kaget, kepalanya serasa membesar mendengar kalimat permintaan itu.
Kenapa pria pemilik hidung mancung ini selalu saja sukses memberikan kalimat kejutan padanya.
Demi melihat Marla yang tersipu merah padam, Bima mengerti, gadis pujaannya itu sedang bergemuruh di dalam hatinya.