
Lina sudah berdiri di gerbang masuk area kost itu, sumringah melangkah ke arah Marla yang memang sedang duduk bersama seseorang di kursi tamu teras luar dari kost-an.
"Hei Lin......,naik apa tadi. "Marla segera berdiri menyambut ketika melihat sahabatnya itu memasuki pagar kost-an.
"Oh iya kenalkan." Marla buru buru menyentuh pundak Jaka ketika melihat pandangan Lina seperti bertanya ke arah sosok yang membelakanginya itu. "Ini Jaka, teman SD ku. "
Yang diperkenalkan segera mengulurkan tangan bersamaan dengan senyuman menghiasi wajah.
"Ini Lina Ja, teman kuliahku di Keperawatan."
Lina lalu menyambut uluran tangan perkenalan itu dan membalas senyuman ramah barusan.
Setelahnya keadaan diam sejenak. Marla mulai bingung, ia ingin segera bersiap siap, tapi tak enak karena masih ada Jaka di sana. Segan menyuruhnya pergi.
"Kamu belum siap siap La ? Beres beres dulu gih sana. Biar kami tungguin. " Lina yang menyadari kesungkanan Marla segera menolongnya tepat waktu.
"Ehh....,iya. Mmmm, aku tinggal kalian sebentar ya Ja. " Marla segera menyambung kalimat bantuan tadi dan bergerak segera ke arah kamar kost-nya.
"Oh.....,kamu udah ada janji rupanya La ?"
Jaka menyadari kehadirannya sedang mengganggu saat ini.
"Iya Ja......,sory ya. Aku jadi ga enak nih. "
Dalam hati Marla benar benar bersyukur Jaka mengerti situasi.
"Oh ga apa-apa. Ga apa-apa. Aku yang harusnya jadi ga enak La, jadi ganggu waktu kamu." Jaka lalu bangkit niat undur diri. "Ok deh...,aku pamit pulang dulu ya, lain kali kita janji ketemu ya La."
Orang yang dimaksud hanya mengangguk menyetujui.
"Saya pulang dulu ya. Mari ."
Jaka lalu pamit dengan mengangguk sopan ke arah Lina dan berlalu menuju mobil yang terparkir di luar pagar kost-an. Marla mengikuti di belakangnya mengantarkan Jaka pergi.
Di kursi tamu Lina sibuk membalasi pesan Join dan Bima yang masuk bergantian. Sebagai salah satu orang kunci yang bertanggung jawab pada suksesnya rencana mereka kali ini, Lina bertugas memastikan kehadiran Marla dengan baik dan tepat waktu.
Marla yang mengerti dirinya ditunggui, langsung masuk ke kamar dan berbenah. Pertama dia merapikan barang bawaannya tersusun agar tak kelihatan berantakan saja, nanti saja dibongkar pikirnya.
"Lin.......,sabar ya, aku mandi dulu."
"Iya...,cepetan."
Dua teriakan yang saling membalas itu menunjukkan keakraban layaknya di asrama dulu.
Marla cepat-cepat masuk ke kamar mandi dengan handuk di tangan. Lalu keluar lagi dan mengunci pintu dan menutup gorden kamarnya, agar saat selesai mandi nanti orang yang melewati kamarnya tak melihat tubuhnya hanya dibalut handuk.
Kost-an dengan kamar mandi di dalam itu sudah lama ditempati Marla. Dia ingat dulu ditemani Lina saat mencari tempat kost ini. Saat sebelumnya pernah ngekost di dekat rumah sakit tempatnya bekerja. Namun kost-nya yang dulu itu tidak nyaman dan mahal.
Tidak nyaman karena dalam satu kamar yang kecil diisi oleh 4 orang. Ditambah dengan kamar mandi yang jauh dari kamar dan hanya ada satu kamar mandi di setiap lantai yang dihuni sekitar 12 orang itu. Sangat repot kalau mau bergantian memakai kamar mandi.
Lina dan Marla menemukan tempat kost ini dari teman SMA Lina, yang menawarkan untuk melanjutkan kontrakan kost adiknya. Karena sudah selesai kuliah dan diterima bekerja di ibukota, mau tak mau harus cari orang untuk melanjutkan kontrakan kost yang sudah sempat dibayar 1 tahun. Yang punya kost bilang uang yang sudah sempat dibayarkan tidak bisa diminta balik lagi.
Na na na, na na na......
Na na na na na.........
Na na......
Marla yang selesai mandi keluar dengan berdendang kecil. Satu kebiasaan ini tak pernah hilang sejak dulu. Kesukaannya akan bernyanyi sudah ada sejak lama.
Waktu SMP, saat ia memilih keluar dari tim paduan suara adalah masa terburuk baginya. Meninggalkan satu satunya tempat dimana dia bisa mengekspresikan kesukaannya bernyanyi, hanya karena Jaka dan Lesti.
Marla tak sanggup melihat, laki laki yang disukainnya itu terlihat mesra dengan perempuan lain. Rasa itu lebih menyakitkan dibanding meredam keinginan bernyanyinya.
Jika dia tetap berada di Tip Paduan suara maka pemandangan kemesraan Jaka dan Lesti itu akan menjadi santapannya setiap hari. Beberapa kali seusai kelas pelajaran di akhir jam sekolah, Marla tak sengaja melihat keduanya bernyanyi bersama, dengan Lesti bergayut manja di bahu Jaka.
Tak hanya itu. Saat tampil latihan bersamapun Lesti beberapa kali merangkul lengan Jaka begitu akrab, dan Jaka akan membalas dengan toyoran manja di dahi gadis itu. Marla jengah melihatnya. Jantungnya selalu berpacu menahan cemburu setiap melihat kedekatan mereka berdua.
Dan ketika Lesti akhirnya mengatakan kalau dia dan Jaka sudah berpacaran, Marla tak sanggup lagi menahan sedihnya. Dia langsung pamit pulang duluan, dengan alasan senggugut haid. Bu Yasmin pembina Paduan Suara mengijinkannya saja tanpa banyak tanya.
Pertama kalinya Marla berbohong untuk alasannya. Tak terpikir alasan lain untuk minta ijin. Dan hari itu pun sebagai hari terakhirnya di Paduan Suara.
"Marla......,ke meja ibu sebentar ya. "
Bu Yasmin yang mengajar kesenian sekaligus extrakulikuler Paduan Suara meminta Marla mengikutinya ke kantor guru.
"Duduk dulu di depan meja ibu ya La. "
Marla lalu duduk di tempat yang dimaksud, sambil melihat Bu Yasmin menyerahkan map hijau berisi lembaran kertas kepada Bu Revita, wali kelas Marla.
"Belakangan ini ibu tidak pernah lihat Marla lagi di kelas Paduan Suara. Ibu mau tau kenapa ?"
Suara bu Yasmin yang selalu lembut itu, hampir saja membuat Marla menangis. Sosok yang sangat akrab dengannya itu bagaikan mama kedua baginya.
Marla menahan sendunya. Menarik nafas panjang lalu menghembuskannya perlahan, sambil otaknya mencari alasan yang tepat untuk disampaikan.
"Marla mau lebih fokus belajar bu. Kan sudah kelas 3, mau bersiap untuk ujian akhir nanti bu. "
Pastinya alasan ini masuk akal dan juga tidak bohong. Marla puas dengan jawabannya.
Bu Yasmin memandangi Marla yang tertunduk penuh selidik. Belum yakin pada jawaban barusan. Meskipun dia tau ada alasan lain yang Marla sembunyikan, tapi Bu Yasmin memilih memakluminya ketimbang menginterogasi Marla. Mencoba mengerti bahwa anak didik kesayangannya itu punya privasi.
Marla keluar dari kantor guru dengan mata berkaca kaca. Tak sengaja berpapasan dengan teman teman Paduan Suara yang akan latihan di kelas atas di samping aula. Mata indahnya juga menangkap pasangan akrab Jaka dan Lesti jalan berdampingan. Semakin terasa sesak di dada jadinya. Air mata yang berusaha dia bendung, bertambah banyak menumpuk di pelupuk mata.
Marla lalu berbelok ke lorong di sebelah kanannya. Ke arah kamar mandi dekat kantin belakang. Mengabaikan sapaan teman teman yang sempat melihat sosoknya. Kemudian menumpahkan tangis tanpa suara di dalam kamar kecil itu. Terisak sedih dengan tangan menutupi mulut.
Khawatir isak tangisnya kedengaran orang lain di kamar mandi sebelah, ia lalu memutar keran air, mengisi ember berwarna hijau muda itu, yang sebenarnya sudah penuh.
Pertama kalinya Marla menyukai seseorang. Bukan hanya suka, mungkin itu cinta. Yah...., pertama kalinya Marla merasakan cinta. Harus diakui, Jaka adalah cinta pertamanya, cinta monyet berbalut putih biru masa remaja. Dan pertama kalinya juga Marla patah hati karena cinta.