
Hari ini Marla bersiap siapa akan berangkat dinas pagi. Setelah selesai berbicara melalui telepon dengan Bima semalam, perasaan rindu dalam hatinya muncul begitu kuat. Namun jadwal dinasnya yang padat membuat rindu pada Bima tak terlalu menyiksa. Tidak terasa 4 hari sudah terlewati.
Ponselnya bergetar ketika Marla sudah berada di atas angkot (angkutan kota). Nomor ibunya memanggil.
" Halo mak ? Tumben telepon pagi pagi mak?" Lina mengangkat telepon dengan santai, sambil mencandai ibunya dari ponsel.
"Halo nang, sedang sibuk kamu? Ada yang mau mamak bicarakan, bisanya mamak bicara sebentar ?"
"Kenapa mak ?" Kening Marla mulai berkerut penuh tanya. Suara ibunya terdengar serius dan panik. "Bicara aja mak, lagi di angkot kok aku ini bisa dengar jelas kok mak."
"Oh iyanya. Ini nang, bapakmu kan dari kemarin demam, sudah 2 hari demamnya ga turun turun, setiap makan muntah, perutnya keras, tapi ga bisa buang angin dan ga bisa BAB, berdiripun ga bisa dia nang. Setiap dipegang perutnya, kesakitan dia. Jadi mamak bingung mau bawa berobat kemana, makanya mama mau tanya kamu nang."
"Oh iya....,bawa ke Medan ajalah mak. Biar diperiksa lebih rinci. Aku dinas pagi hari ini, nanti langsung saja bawa ke tempatku kerja mak."
"Gitu juga memang mamak pikir. Tapi naik apalah kami dari sini nang ? Siapalah teman kami nanti di jalan pikir mamak juga, takut mamak ada apa apa di jalan kalau kami naik bus."
"Ohhh..., gitu ya?" Marla berpikir cepat, mencari solusi terbaik yang bisa dilakukan. "Kalau pakai ambulans klinik gereja ga bisa mak ?"
"Sudah mamak telepon tadi pagi, katanya sedang dipakai juga antar pasien ke Medan. Kalau menunggu itu kembali sudah kelamaan."
"Oh...,iya ya." Wajah Marla kembali serius memikirkan solusi lain. Ponsel masih menempel di telinga tanpa suara. Sepertinya dua perempuan terpaut jarak itu sama sama sedang berpikir mencari solusi terbaik. Marla lalu terpikir satu orang yang mungkin bisa membantu. "Mak aku tanya temanku dulu ya, siapa tau dia bisa bantu. Nanti kutelepon lagi ya mak."
Marla segera mengakhiri telepon dan menghubungi nomor yang dia kenal begitu telepon dengan ibunya ditutup.
"Tuuut, tuuut. Halo?" Terdengar suara perempuan di seberang menyahut panggilannya.
Marla mengeryitkan kening sembari menatap layar ponselnya. Memastikan sekali lagi kalau nomor yang dia hubungi sudah tersambung pada orang yang tepat. Tapi kenapa perempuan yang jawab ? Dia bingung. "Hal, halo bu?"
"Halo La ? Apa kabar ?" Lalu suara berbeda menjawab lagi. Suara barusan ini jelas orang yang dia harapkan. Bukan suara perempuan tadi.
"Halo Ja....,hah...." Marla menghela nafas legah membalas suara barusan sampai tak terfikir menjelaskan kabarnya. Suara itu adalah suara orang yang dia harapkan menjawab panggilannya. "Aku pikir aku salah telepon orang tadi Ja."
"Oh.., ha ha ha..., itu mamaku. Kebiasaan mama itu, main angkat aja ponsel orang."
"Oh.., begitu. Minta maaf ya Ja, aku tidak kenal suara beliau tadi.
"Ah..., biasa aja itu. Ada apa La, ada yang bisa kubantu ?"
"He he..., tau aja aku butuh bantuan ? Iya nih Ja, bapakku kan lagi sakit, mau berobat ke Medan tapi ga ada kendaraan yang bisa bawa. Ambulans klinik gereja juga sedang dipakai antar pasien, takutnya kelamaan kalau nunggu ambulansnya balik."
"Mmmm...,jadi aku bisa bantu apa nih La ?"
"Ohhh..., bisa bisa. Nanti mau dibawa ke Rumah Sakit mana rencana La ?"
"Langsung saja ke Rumah Sakit tempat aku kerja . Aku hari ini masuk dinas pagi, jadi bisa stand by menunggu disini."
"Ok. Ok. Langsung berangkat pagi ini La ?"
"Kalau bisa sih. Lebih cepat lebih baik menurutku Ja, jadi cepat ditangani juga disini."
"Siap siap.Mmmm...,ya udah aku langsung gerak ya La. Jemputnya kerumah kamu kan La ?"
"Iya benar. Terimakasih banyak ya Ja."
"Nanti aja terimakasihnya. Belum juga dikerjakan. "
"Ha ha ha..., kamu mau bantu aja udah terimakasih Ja."
"Oh gitu, iya deh. Kembali kasih Marla. Ok. Aku gerak ya."
"Ok Ja. Makasih ya." Kembali Marla berterimakasih karena terharunya. Bantuan dari orang tak terduga ini bagaikan keajaiban, sehingga untuk sementara ini ia bisa bernafas legah. Kembali mendial nomor ponsel ibunya.
"Halo nang. Gimana jadinya ?" Suara ibu di seberang terdengar harap harap cemas.
"Sudah mak, aku sudah telepon temanku. Nanti dia bawa mobil sama supir menjemput kalian kerumah. Sudah kuarahkan supaya langsung di bawa ke Rumah Sakit tempatku kerja. Sampai di sini nanti aku yang urus. Jadi tenang aja ya mak, ga usah panik. Berdoa aja mamak, biar semua perjalanan lancar dan bapak segera ditangani di sini."
"Aminlah nang, amin. Jadi siap siaplah mamak dulu ya. Biar mamak kemasi barang2 yang perlu dibawa. "
"Ok mak, ok. Nanti ada apa apa telepon aja lagi ya mak." Marla kembali menenangkan ibunya yang sudah pasti cemas dan panik saat ini.
Marla berusaha tenang meski gusar dalam hati. Rasa khawatir dan takut tak mungkin bisa disangkal. Menebak nebak ayahnya sakit apa bisa separah itu ? Bagaimana perjalanan mereka menuju ke Medan ? Bagaimana nanti biaya berobat ayahnya ? Bagaimana Dita adiknya yang ditinggal sendirian di sana ?
Tapi Marla memilih berserah dan berdoa pada Tuhan. Berdoa kecil sesering mungkin di dalam hati. Menyerahkan sepenuhnya kedalam kendali Sang Khalik. Tiba tiba saja dia mengharapkan Bima ada. Saat situasi seperti ini, Marla berharap punya seseorang yang bisa dia andalkan. Seseorang yang hadir saat dia butuhkan.
Sesampai di ruangan tempat dia dinas, Marla segera menceritakan situasinya pada kepala ruangan dan teman dinas paginya hari ini. Mereka semua bisa memaklumi dan memberikan tugas ringan untuk dia kerjakan, agar tidak mengganggu konsentrasinya. Kepala ruangan memberinya ijin ke ruang loker sesering dia butuhkan, dan standby di IGD bila ayahnya tiba di Rumah Sakit.
"Ya sudah La, ambil kerja yang ringan saja, tidak usah pegang pasien dulu . Fokus sama orangtua kamu aja dulu, ga usah ambil libur hari ini, sayang kan kamu udah isi absen pagi juga. Nanti ambil liburnya waktu orangtua kamu dirawat saja." Bu Hilda memberikan toleransi. Bagaimanapun Marla bukan orang yang sembarangan minta ijin kalau tidak perlu dan mendesak. Marla termasuk bawahannya yang selalu bisa diandalkan.
"Baik bu, terimakasih banyak bu." Kembali Marla menerima kebaikan lagi, juga dari orang tak terduga. Bu Hilda biasanya sangat tegas dan disiplin, jarang mau bertoleransi. Soal pekerjaan, tidak boleh ada yang main main dibawah kepemimpinannya.