MARLA

MARLA
Tak Bertepuk Sebelah Tangan



MARLA


Ini hari ke dua aku harus istirahat di kost. Setelah semalam sempat hampir pingsan saat dinas pagi. Untungnya teman dinas membawaku langsung ke IGD rumah sakit. Pemeriksaan awal demamnya sampai 40°C . Mungkin kelelahan kata dokter jaga saat itu. Tapi hasil periksa darahku menjelaskan berbeda. Setelah diberi terapi, aku dapat resep obat dan surat istirahat selama 3 hari.


Yang biasanya aku jarang ada di kost-an. Kali ini tak punya pilihan lain. Aku harus berada di kost-an, istirahat memulihkan tubuhku. Kuhubungi Lina, temanku yang paling dekat.


"Lin....,nanti sibuk ga ?"


"Ga sibuk, tapi mau keluar beli bakal kain. Kenapa ?"


"Aku titip belikan belanjaan bisa ?"


"Belanjaan ?" Lina bertanya bingung. "Belanja kain maksudnya ?" Tanyanya memastikan, berhubung dia akan belanja kain.


"Bukan. Belanja keperluan dapur . "Kataku menjelaskan. Aku titip belanja karena pasar dekat ke rumahnya.


"Oh.....,boleh. Mau belanja apa ?" Aku lalu menyebutkan keperluan belanjaku.


"Tumben banget nitip belanjaan, biasanya belanja sendiri. Kenapa?" Tanya Lina menyelidik. Tak pernah pernahnya aku titip belanjaan. Lina jadi tanda tanya ?


"Aku kurang sehat Lin. Semalam sempat pitam (hampir pingsan) di kerjaan. "Kataku terus terang. Pikirku, tak perlu kurahasiakan. Kuabaikan saja rasa segan dan sok mandiriku kali ini. Karena saat ini aku memang butuh bantuan.


"Oh....,ya ampun. Sakit apa La ?" Suara Lina tiba tiba panik.


"Hanya demam aja kok. Udah berobat juga semalam. Beberapa hari istirahat harusnya udah sehat." Kataku seperti menyemangati diri sendiri.


"Ya udah, istirahat ajalah ya. Segera aku ke sana." Kata Lina penuh perhatian.


"Jangan lupa belanjaanku ya Lin." Aku kembali mengingatkan.


"Iya iya....,nanti sekalian aku bawa."


Lina yang tadinya akan belanja bakal kain, langsung berubah haluan jadi belanja pesanan Marla. Dia pulang kerumah dan menyiapkan beberapa masakan, untuk dibawa ke tempat Marla.


"Kasihan sekali anak itu. Sakit ga ada yang tau. Ga ada keluarga yang dekat di kota ini." Dalam hati Lina penuh empati.


Menjelang siang Lina sampai si kost Marla, jaraknya memang tidak terlalu jauh dari rumahnya. Hanya perlu naik angkot 1 kali saja kira kira 10 menit. Lalu masuk jalan gang menuju kost-an Marla.


Mendengar ketukan di pintunya, Marla telah menebak itu pasti Lina. Dan benar saja, Lina dengan tentengan seabrek.


"Lin....,masuk sini." Marla mempersilahkan Lina masuk ke dalam kamar kost-nya yang tak terlalu luas. Ada kursi dan meja belajar kecil di dekat jendela. Lina segera meletakkan barang bawaannya di sana dan duduk di kursi belajar multifungsi itu.


"Aku ada bawa rantang makanan," kata Lina sembari membuka bawaannya. Ada dua baris rantang berisi makanan.


"Yang ini untuk makan sekarang. Yang ini untuk nanti malam. " Lina menujukannya kepadaku.


Aku hanya mengangguk dan kembali ke kasurku.


"Langsung makan lah. Nanti keburu ngantuk kamu ga sempat makan lagi."


Benar juga Lina bilang, aku lalu menurut dan beranjak ke kursi belajar, bertukar duduk dengan Lina.


Aku mulai memasukkan makanan yang telah disiapkan Lina sesulang demi sesulang. Meski tak berselera, tapi kupaksakan makanan itu masuk mengisi lambungku. Lina menatapku penuh prihatin.


"Kenapa ga bilang dari semalam sih La, kalo kamu sakit ? Aku bisa temani kamu di sini." Lina mulai protes sambil menyusun barang belanjaan pesannanku di rak dekat kamar mandi.


Aku hanya diam saja tak menjawab pertanyaan itu. Masih bergumul dengan makanan di hadapanku.


"Jadi semalam kamu makan apa ?" Tanya Lina.


"Titip dibelikan nasi bungkus sama anak kost di sebelah. "Jawabku setelah berjuang menelan makanan yg ada di mulutku.


"Lain kali kalau ada apa apa langsung kabarin dong La." Kembali Lina mengingatkan.


"Atau kamu nginap di rumahku ajalah, biar bisa aku rawat sekalian. "Lina menawarkan, aku tau dia sungguh sungguh, bukan basa basi. Tapi aku merasa tak enak hati. Perhatiannya yang sekarang ini saja sebenarnya aku merasa seperti merepotkan Lina. Hanya saja tak kusampaikan begitu.


"Ga usahlah Lin, nanti repot harus banyak bawa bawa barang keperluanku. "Kataku menolak dengan halus.


"Udah lebih baik kok aku Lin. Besok mungkin udah lebih enakkan aku."


Lina tak berkomentar pada alasanku barusan. Mungkin dia mengerti akan ketidaknyamananku.


"Oh iya...,Bima ada telepon kamu ga ?" tanyanya membahas hal berbeda.


"Ada."


"Terus."


"Terus apanya ?" Tanyaku seraya menoleh ke arahnya.


"Iya...,terus kalian ngobrolin apa ?"


"Oooh...,ngobrol biasa aja. Tanya tanya kabar. Dia cerita kerjaannya si sana, aku juga." Kataku seadanya.


"Kamu ga bilang kamu sakit ?"


"Enggaklah. Ngapain juga harus bilang."


"Kalian kan dekat, biar dia taulah kamu sakit."


"Ga usahlah, mengganggu konsentrasi dia nanti di sana. " Kataku menolak.


"Hanya demam biasa aja kok. "kataku lagi


"Kamu juga ga usah cerita cerita ya sama dia Lin."


"Ok lah, kalau begitu." Lina mengangguk.


"Hubungan kita baik. Dia teman yang baik."


"Tapi kamu cinta kan sama dia?"


Mendengar pertanyaan itu aku tersenyum kearah Lina. "Semua perempuan pasti cinta sama Bima. Dia laki laki yang baik, pekerja keras, perhatian, tulus, ramah, rendah hati juga. " Jelasku


"Dan ganteng juga." Lina menambahkan


"Dan ganteng juga." Kataku mengikuti kalimat terakhirnya dengan tersungging senyum.


"Jadi kamu cinta sama dia ?" Tanya Lina lagi.


"Pastilah aku suka sama Bima, bohong kalau aku bilang tidak. "


"Jadi hanya suka atau cinta sih sama Bima ?"


Aku menatap serius padanya ,"aku ga tau hatiku sekarang Lin. Apakah aku suka atau cinta ?"


"Kenapa ?"


"Aku takut jatuh cinta Lin. Takut kalau aku jatuh cinta sama Bima, kami tidak bisa berteman baik lagi seperti sekarang ini. Aku takut kalau aku jatuh cinta sama Bima, aku ga bisa menjaga sikapku di depan dia. Iya kalau dia punya perasaan yang sama juga, kalau ternyata dia menyukai perempuan yang lain ? Aku ga siap Lin." Jelasku panjang lebar.


"Itu kan fikiran kamu aja. Padahal Bima cinta sama kamu. Aku bisa liat itu dari sikapnya ke kamu. Dari caranya memperlakukan kamu. Dan dia pernah bilang juga ke aku." Kalimat terakhir, Lina ucapkan dengan hati hati, sambil melihat reaksiku.


Dan benar saja aku segera menoleh dan bertanya.


"Bima bilang sama kamu ?"


Lina tak menanggapi. Mengemasi barang barangnya untuk pulang, menyimpan senyum lucu yang meledekku.


"Lin....,maksudnya apa tadi kamu bilang barusan." Aku ulang bertanya


"Yang mana ?" Lina seolah mengelak dan menahan tawanya.


"Lin.....,"aku memelas, penasaran dengan kalimat terakhir itu. "Yang tadi, yang kamu bilang Bima bilang sama kamu dia cinta sama aku ?"


Lina malah berberes dan pamitan mau pulang. "Aku pulang dulu ya, besok aku ke sini lagi." Kilahnya bergerak akan pergi.


"Liiinnnnn........,please." Spontan aku menarik tangannya, mencegahnya pergi.


"Ha ha ha ha ..........,aha ha ha ha...,"tawa Lina yang telah tertahan pun meledak, sampai terpingkal pingkal.


Aku yang sadar telah dipermainkan dari tadi langsung cemberut. "Ah....,Lina." Kataku sembari menghempas pegangan tanganku di lengannya.


Aku lalu duduk di atas kasurku sambil memeluk lutut. Membiarkan Lina yang tertawa terpingkal pingkal sambil memegangi perutnya yang sakit.


Setelah tawanya reda, aku lalu bertanya lagi.


"Kapan dia bilang begitu sama kamu ?"


"Beberapa minggu lalu, sebelum dia berangkat ke luar kota." Terangnya. "Kamu ga tau kan kalau aku mulai dekat sama dia ?"


Aku langsung menatap penuh selidik.


"Jangan salah faham ya. Dia dekatin aku karena mau tau tentang kamu. "Jelasnya segera seolah membantah kecurigaanku. "Bima banyak tanya tanya tentang kamu La. Dia bilang dia serius, suka sama kamu, cinta sama kamu. Yah aku sebagai teman, turut mendukung dengan menceritakan kamu ke dia. Daannnn.....,tentu saja aku menceritakan hal yang baik. "Katanya lagi menekankan kalimat terakhirnya.


"Terus terus." Kataku menyimak serius dan senang.


"Udah gitu aja. Makanya aku tau."


"Oh....,kupikir masih ada cerita yang lain lagi. "


"Nah , sekarang kamunya gimana ? Kalo misalnya dia nembak kamu, gimana ?" Lina tiba tiba bertanya galak.


Aku yang ditanya begitu malah terdiam. Ga tau mau jawab apa. Senang sih mendengar perasaan kami sama, artinya aku ga bertepuk sebelah tangan. Tapi lalu pacaran dengan Bima, itu hal yang berbeda. Apakah kami akan senyaman sekarang ini juga, atau malah menjadi kaku dan canggung. Apakah Bima akan serius sampai seterusnya ? Bagaimana kalau dia menyukai gadis lain lagi ? Bagaimana kalau nanti kami akhirnya putus, apakah aku siap terluka lagi ?


"Hei.....,kok malah melamun."Lina menyentak lamunanku.


"Aku ga tau Lin. Aku takut aja nanti kalau kami sudah pacaran dia jadi berubah. Gimana kalau dia akhirnya suka sama perempuan lain dan putus denganku ? Aku ga yakin Lin." Kataku membeberkan fikiranku.


"Ya ampun La.....La jauh kali mikir sampai ke sana. Dijalanin aja belum." kata Lina.


"Mungkin putus dengan Rey sakit buat kamu. Bekasnya susah sembuh. Tapi ga semua laki laki seperti Rey. Cobalah memulai hubungan yang baru La. Kalau kamu ga coba, gimana kamu bisa tau."


"Terus gimana dengan Desy ?" Tanyaku lagi.


"Setahuku Bima memang pernah mendekati Desy, tapi mereka tidak pernah pacaran. Dan sejak Bima menarik diri dari Desy, mereka sama sekali tidak ada hubungan apa apa lagi.


"Terus gimana dengan perempuan perempuan lain yang kamu bilang Bima dekat ? Kamu bilang Bima gampang jatuh cinta orangnya."


"Yah....,itu kan aku dengar dari orang. Karena sekarang ini aku dan Bima dekat, aku baru tau yang benarnya. Namanya juga penilaian orang, kan bisa aja salah."


Aku tak berkomentar lagi dengan kalimat Lina barusan. "Entahlah Lin......,aku hanya takut. " kataku kemudian.


"Wajarlah.......,kamu takut karena kamu tidak ingin gagal lagi. Itu sih manusiawi." Lina memaklumi.


"Tapi pernah ga sih kamu terfikir, seandainya Bima meminta kamu jadi pacarnya, kamu akan terima atau kamu tolak ?"


"Pastilah aku terima Lin. Jauh di lubuk hatiku, akupun berharap dia melakukan itu."


Lina tersenyum sambil mengangguk setuju, seperti menyetujui kata kataku. "Kayaknya kamu mendadak sehat nih, ha ha ha ....." Katanya lagi menggodaku.


Tapi kali ini aku tak cemberut lagi, taoi berhambur memeluknya dan membiarkan dia menertawakanku. Faktanya memang benar. Sepertinya aku memang mendadak sehat dengan kabar itu. Kabar kalau Bima juga menyukaiku, mencintaiku. Perasaan ini tak bertepuk sebelah tangan.