
MARLA
Betapa sangat terpukulnya aku mendapati kebenaran itu, ketika tanpa sengaja mendengar pembicaraan Hana dan teman temannya yang juga berada di tempat makan yang sama .
"Han....,kamu udah balikan lagi sama Rey ?"
Aku yang duduk di meja ,tepat si sebelah mereka segera memasang telinga ketika nama Han yang kuduga Hana dan Rey disebut.
"Emang kami pernah putus ?"
Yang ditanya balik bertanya.
"Loh bukannya kalian sempat putus ? Rey pernah pacaran sama perawat kan ? Siapa itu namanya ?"
Temannya yang lain bertanya lagi.
"Marla maksudmu ?"
"Iya Yat...,kamu tau juga kan ?"
"Mega...., kalo kalian ga tau yang sebenarnya, ga usah menebak nebak deh." Lagi Hana menyangkal.
"Kok menebak nebak sih ? Banyak yang bilang mereka pacaran kok !" Teman Hana bernama Mega itu membela diri.
"Aku ga pernah putus sama Rey !" Hana menegaskan.
"Maksudnya Rey pasang dua gitu Han?"Teman yang dipanggil Yat tadi bertanya lagi.
"Kok mau sih kamu Han ?" Mega spontan protes.
"Enggak begitu ceritanya !!" Suara Hana meninggi.
Kupasang telingaku lekat lekat, tak ingin kehilangan satu katapun informasi dari pembicaraan mereka. Apa maksud Hana barusan ? Apa yang tidak kuketahui tentang Rey ? Kembali aku fokus mendengarkan.
"Maksudnya gimana Han ?"
"Yati, Mega....,masak kalian ga tau sih ? Selama ini kami tetap pacaran ? Mana bisa Rey hidup tanpa aku . Marla itu cuman dimanfaatin buat merawat mamanya yang sakit cancer. "
"DEG." Jantungku bagai berhenti mendengar itu. Dunia di sekelilingku seolah ikut berhenti berputar, begitupun kain tirai yang memisahkan meja kami dengan Hana dan teman temannya.
"Ah....,ada ada aja kamu Han....., masak iya Rey tega ngelakuin itu ?"
Kalimat Mega membuatku tersadar kembali. Sama....,akupun tak percaya Rey begitu. Pertanyaan Mega seperti mewakili aku.
"Kan aku udah bilang, perempuan yang Rey cintai itu hanya aku. Kalo ga percaya liat aja nanti, pasti Marla diputusin sama dia. Mamanya udah meninggal, mana butuh lagi dia sama Marla. " Hana melanjutkan argumennya.
"Maksudmu Rey ga serius sama Marla gitu ?" Yati mengkonfirmasi.
"Ya ialah, bayangin aja kalo Rey harus bayar perawat pribadi, udah berapa coba ? Rey bilang mamanya juga dapat potongan biaya perawatan karena Marla kerja di RS tempat mamanya dirawat . Kan mamanya Rey bolak balik dirawat. Si Marla itulah yang ngurusin. Rey nya ya jalan sama aku."
"Tega banget sih Rey itu, kasian tau Han. Harusnya kamu bilangin dong sama dia, ga baik begitu. "Mega berempaty. Menyalahkan sikap Hana. Hatiku malah semakin hancur mendengarnya.
"Marlanya aja yang bego, mau dimanfaatin, ha ha...." Hana tertawa saja tanpa empaty.
Aku yang saat ini duduk bersama teman temanku, hanya bisa terdiam. Serasa tak percaya dengan cerita yang kudengar barusan. Pantas saja sikap Rey berubah sekali belakangan ini. Seolah sengaja menghindar, seperti bukan Rey yang mengejar ngejar aku dulu.
Ingin menangis tapi takut jadi perhatian, ingin berlalu namun lututku masih bergetar tak bertenaga. "Ohhh TUHAN......., bagaimana aku sekarang? Apa yang harus kulakukan ?"Teriakku dalam hati.
Benarkan Rey sejahat itu ? Benarkan dia hanya pura pura mencintaiku ? Sandiwarakah selama ini perasaannya padaku ? Perhatiannya itu, benarkah hanya pura pura ?Kok dia tega melakukan itu semua Tuhan ? Lagi keluhku hanya di dalam hati.
"Kok aku sih Han, biasanya Mega yang suka begitu."
"Idih......,menyangkal aja. Kamu tuh yang tukang gosip sebar berita sana sini." Mega dan Yati saling membela diri.
"Udahlah...,kalian berdua sama aja." Hana menutup aksi saling menyalahkan itu.
"Kalau Marla tau, kasian loh dia Han." Mega kembali berempaty.
"Lah..,bukan urusanku. Orangnya juga aku ga kenal. Cuman tau nama sama wajahnya aja. Urusan Rey itu." Hana masih tak perduli.
Seakan tak sanggup lagi kubendung air mata ini, aku berusaha mengumpulkan seluruh tenaga yang kupunya. Kukemasi barang bawaanku kedalam tas tenteng besar dan tas tangan yang kecil.
"Udah mau pulang La ?" Nindi yang tadi sibuk mempromosikan barang jualannya di layar ponsel, menoleh padaku. Bersamaan dengan temanku yang lain menoleh juga, menghentikan pandangan mereka dari layar ponsel Nindi.
"Iya mau istirahat." Jawabku serak.
Kudengar meja Hana dan teman temannya di sebelah tiba tiba hening. Sepertinya sudah tau kalau Marla yang mereka ceritakan tadi sedang berada di sebelah meja mereka. Hanya dipisahkan secarik tirai tak tembus pandang, namun tembus suara.
Aku menarik nafas dalam dalam, mengatur tubuhku ke posisi sempurna dan berusaha melangkah sebiasa mungkin. Sementara biarlah kuredam gejolak rasa ini di dalam dada, menunda deraian air mata yang mendesak ingin tertumpah. Demi harga diriku sebagai perempuan, setidaknya hanya itu kebanggaan yang bisa kupertahankan.
"Aku duluan ya."
Sambil berlalu aku permisi pulang , berjalan ke luar secepat ku bisa.
Setelah keluar dari tempat itu, kuhirup udara sepuas puasnya, membiarkan oksigen masuk dengan bebas ke dalam rongga paru paruku. Berharap mampu meredam gemuruh perasaanku walau sebentar.
Kulangkahkan kaki ke tepi jalan, memandangi angkot demi angkot yang berlewatan. Apa yang terjadi barusan masih bermain main didalam ingatan, membuatku termenung tanpa tujuan.
Lalu aku teringat Lina. Sahabatku sejak kuliah . Yah...,rumah Lina, aku pergi ke rumah Lina saja. Saat ini hanya itu tempat yang terbersit di pikiran. Ingin menumpahkan semuanya di sana. Tangisku, rasa sakit di hatiku dan kemarahanku tentang Rey. Semoga aku bisa lebih tenang bila kesana. Segera kuhentikan angkot jurusan ke rumah Lina yang sedang lewat.
____________
Begitu duduk di dalam angkot aku baru teringat mengirim pesan mengabari Lina. Kalau kalau dia sedang keluar.
'Lin aku mau cerita. Kamu dirumah kan ?'
'Dirumah, baru selesai beres beres jahitan. Datang aja La.'
'Aku udah di jalan, bentar lagi nyampe Lin. Aku nginap di rumahmu ya ? Besok aku dinas malam kok.'
'Iya, datang aja.'
Untung saja Lina cepat membalas pesanku, mengatakan kalau dia sedang dirumah, lumayan legah membacanya. Tak bisa kubayangkan kalau saja sampai disana ternyata Lina tak dirumah , kemana lagilah aku bisa mengadu.
Tiba di rumah Lina, tangisku tumpah seketika, tak lagi perlu kutahan tahan. Kupuaskan menangis sejadi jadinya, suaraku bergema di dalam rumah yang selalu sepi itu. Lina langsung memelukku tanpa bertanya. Mengajakku duduk di kursi tamu. Menepuk nepuk pundakku berusaha menenangkan. Dia mengambil kotak tissu dari atas meja dan menyodorkannya ke hadapanku. Memberiku waktu sampai aku benar benar tenang.
Pelan pelan aku mulai cerita, sambil sesekali masih menangis sesenggukan. Kadang hanya terisak, kadang menangis deras lagi bila teringat hal yang menyakitkan.
"Sabar ya La. Mungkin Tuhan memang tidak membiarkanmu berjodoh dengan dia." Lina berempaty dan berusaha menghiburku.
Aku hanya mengangguk setuju sambil mengusap airmataku yang kembali jatuh.
Kita tak pernah bisa tau jalan hidup ini. Begitupun aku. Dibalik semua kekecawaan yang kudapati, entah apa rencana Tuhan kedepannya buatku. Mungkinkah Tuhan sedang merancangkan hari depan penuh harapan buatku ? Entahlah.
Saat ini, akhirnya Tuhan pertemukan aku dengan Bima. Laki laki yang kutau tulus, apa adanya. Tapi benarkah perhatiannya itu hanya untukku ? Karena seandainya tidak, aku belum siap kalau harus terluka lagi.
Kupejamkan kembali mata ini, membujuk diriku untuk beristirahat, merayu kantuk segera datang, menghantarkanku ke alam mimpi.