
BIMA
Hans dan aku bersiap akan kembali ke kota M. Pekerjaan kami di kota K, sudah rampung semua. Pembayaran kontrak juga sudah diselesaikan dengan baik. Hanya tinggal bersalaman dan pamitan ke pihak sekolah saja.
"Bulan depan aku mau ke kota S. Proposal kita direspon di sana." Kata Bima "Siapa tau mereka tertarik, kita akan ada proyek baru. " sambungku menjelaskan.
"Sepertinya akan tiap bulan ini. " Hans tersenyum menanggapi.
"Baguslah, biar kamu ada modal nikah. Ha ha ha.....,"kataku meledek Hans. Segera dibalas tinju di lenganku. Sembari kami tertawa bersama menunggu bus umum menuju pulang.
"Gimana hangout nya ? Jadi nanti ?" Hans memastikan
"Oh iya, ga jadi nanti. Marla dinas malam hari ini. Jadinya besok sore di Distro. " Bima
"Mmm, ok lah. " Hans mengangguk tanda mengerti.
Sepanjang perjalanan aku dan Hans tertidur di bus. Selama di proyek, tidur kami tidak karuan, rasanya legah setelah selesai.
*********
Setiba di rumah, abangku Hans bergegas mandi. Sepertinya akan malam mingguan dengan pacarnya.
"Bim....,nanti bereskan barang barang ya." perintahnya sebelum pergi. "Kamu ga kemana mana kan ?" tanyanya memastikan.
"Enggak. " Aku yang sudah rebahan di tempat tidur menjawab ogah ogahan.
"Kamu ga kemana mana kan ?" Hans melongo ke kamarku mengulang pertanyaannya, karena tak mendengar aku menjawab.
"Enggak. Pergilah. " Jawabku lebih meyakinkan.
"Jangan lupa bereskan barang barang nanti ya." Ulangnya lagi mengingatkan.
"Iya. " Jawabku lagi.
Seperginya Hans, aku melanjutkan tidur. Tiba tiba ada telepon masuk. Desy memanggil. Aku mengerutkan kening membaca nama itu. Sudah hampir 1 tahun tak mendengar suaranya.
"Halo, "Jawabku sembari bangkit dari tidurku. Memilih duduk di sisi tempat tidur.
"Hai Bim, Desy ini."
"Mmmmm." Aku menjawab ogah ogahan.
"Lagi apa ?"
"Mau tidur."
"Ada rencana kemana malam ini ?"
"Ga ada. Dirumah aja mau tidur."Jawabku tak niat.
"Nongkrong yuk sama teman teman. Kami nanti mau ke tempat makan baru di daerah selatan."
"Enggak dulu Des, aku baru sampai dari luar kota. Masih capek, mau dirumah aja, mau istirahat." Kataku menolak.
"Oh gitu ya....,ok deh." Desy menutup panggilan. Terdengar nada kecewa di suaranya. Tapi aku tak lagi perduli. Kulanjutkan tidurku yang tadi tertunda. Namun hatiku merespon lain. Seperti ada rasa sakit yang sulit kujelaskan terasa di sana. Ini pertama kalianya Desy menghubungiku, bahkan mengajakku keluar. Kemarin juga pertama kalinya dia mengirim pesan duluan, menanyakan kabar. Aku pikir seperti ada sesuatu yang berbeda. Otakku mencoba mencerna keadaan ini. Kantukku perlahan lahan hilang.
Aku memilih bangkit dan membereskan barang barang kami dari proyek. Berencana melanjutkan tidur setelah mandi dan makan malam di warung depan.
____________
Ditempat berbeda Desy dirundung galau tak menentu. Terang terangan Bima menolaknya. Ini tak seperti yang dia pikirkan. Lina benar, Bima telah berubah hati.
Satu satunya cara tinggal ikut hangout besok. Segera dia menghubungi Lexi.
"Halo Lex, besok aku pergi sama kamu ya ke hangout itu. Desy menutup telepon segera sebelum Lexi sempat bicara.
"Oh..,ok. " Lexi menjawab dengan terheran heran. Menggelengkan kepala menghadapi sikap Desy yang sesuka hati. Kebiasaan dimanja mungkin sejak kecil. Pikirnya.
Desy tak ada pilihan lain, dia yang harus mendatangi. Tidak akan mungkin Bima mau kembali seperti dulu lagi. Mengejarnya kemana mana, melakukan banyak cara mendekatinya.
"Ok Desy......,kamu bisa. Kamu pasti bisa." Ucapnya pada diri sendiri.
________________
Lina menekan nomor Marla. Sepertinya tidak diangkat. Dia ulangi menekan no yang sama.
"Halo. " Marla menjawab.
"Hai La...,dari mana aja sih kok baru ngangkat ?"
"Baru selesai mandi aku. Mau dinas malam."
"Ohhhh....."
"Kenapa Lin ?"
"La, besok hangout yuk. Teman teman pada ngajak."
"Besok jam berapa ?"
"Sore gitu jam 5 atau jam 6. Kita di Distro."
"Aku ga tau tempatnya Lin."
"Besok kita sama aja, kita ketemu di simpang Gatot Subroto ya."
"Oh, ok ok. "
Marla yang bersiap siap mau pergi dinas, segera menutup telepon. Pikirnya, bagus jugalah besok bisa bersantai dengan teman teman sejenak.
"Besok akan ada Bima ga ya di sana ?" Harapnya dalam hati.
"Tapi ah, nanti aku kecewa lagi. Siapa tau aja ada Desy juga disana. Kata Lina, Bima sedang dekat dengan Desy. Terus, kenapa Bima mendekatiku. Mungkin Lina ada benarnya, Bima orangnya gampangan. Gampang jatuh cinta. Tapi......,dia tidak kelihatan seperti itu. " Marla berdebat kata dalam pikirannya.
Sebentar dia melirik jam di tangannya dan melompat spontan. "Astaga......" Pekiknya panik. Buru buru berangkat dinas malam.
"Aduh....,semoga ga telat, semoga ga telat. " Harapnya sepanjang jalan di atas angkot. Bersyukurnya angkotnya sudah penuh, jadi melaju dengan cepat dan tidak berhenti berhenti lagi.
Dengan perasaan legah Marla mengabsen. Akhirnya dia tidak terlambat. Melangkah cepat ke ruangan tempat dia berjaga malam.