
Senja semakin merunduk kedalam peraduannya. Langitpun mulai gelap menampakkan temaram.
"Tulang, seandainya Marla mau menerima saya, apa tulang merestui ?"
Togar kaget dengan pertanyaan itu. Tak menduga Bima se-terus terang itu. Meski begitu dia berusaha menjawab dengan bijak.
"Saya sangat mengasihi anak anak saya, kebahagian mereka adalah sukacita saya. Saya bebaskan mereka memilih pasangan hidupnya masing masing, kalau mereka memang bahagia dengan itu, tak ada alasan untuk saya menolak."
Bima merasa legah dengan jawaban itu. Dia yang sebelumnya sempat tidak punya kepercayaan diri karena tidak punya orangtua. Ditambah lagi dia bukan orang yang berpangkat seperti Binsar pariban Marla.
Togar meneguk isi cangkirnya lagi.
"Pesan saya hanya satu nak Bima," Togar memperbaiki posisi duduknya menghadap pada Bima ,"kalau Marla menerimamu, jaga harga dirinya, jaga nama baik anak saya, jaga marwahnya." Togar memandang Bima serius.
"Yang saya harapkan adalah, bisa berjalan dengan kepala tegak, saat mengantarkan putri saya kedepan altar. Dihadapan Tuhan menyerahkan mereka dengan rasa bangga kepada laki laki pilihannya, untuk melanjutkan tugas saya menjaga mereka. Itu saja." Togar memandang lurus pada Bima penuh keseriusan, sekaligus ketegasan.
Bima sedikit gentar dengan sikap itu. Tapi di hatinya tak ada keraguan sedikitpun, karena dia benar benar serius dengan Marla, tak ada niat bermain main.
Di satu sisi, bukan hal yang mudah memenuhi permintaan ayah Marla itu, tapi juga bukan hal yang sulit. Bima cukup paham akan inti yang tersirat dari pesan itu, adalah sebuah komitmen dan tanggung jawab yang orang tua itu harapkan untuk anak gadisnya.
"Saya sudah menikah puluhan tahun..," lanjut beliau lagi sambil memandangi tanaman kentang yang terhampar di hadapannya, "sampai hari ini tak pernah saya melepaskan tanggung jawab saya sebagai suami. Melindungi pasangan hidup saya dari siapapun yang berniat menyakiti. Meskipun keluarga saya, orangtua saya dekat dengan saya, tapi saya melarang mereka terlibat mengatur rumah tangga saya.
Sekalipun saya tidak punya anak laki laki, hanya diberikan Tuhan anak perempuan, tidak mengubah atau mengurangi kasih dan tanggung jawab saya pada isteri dan anak anak saya. Bagi saya, kedua anak perempuan itu sama berharganya dengan anak laki laki. Isteri saya sudah bertaruh nyawa melahirkan mereka ke dunia. Bagian saya adalah menjaga dengan baik pengorbanan itu.
Makanya saya tak pernah membatasi Marla dan Dita menggapai mimpi, menyekolahkan mereka setinggi mungkin. Saya berharap mereka juga akan menemukan jodoh yang terbaik, yang mengasihi mereka seperti apa yang saya lakukan."
Bima menatap wajah tua beliau itu saat berbicara. Ada pengharapan dan kesungguhan tergambar jelas di sana.
Saat rembulan mulai merangkak naik menghiasi langit malam. Kedua pria berbeda generasi itupun bergerak menuju pulang. Masih dengan Bima yang memandu kendaraan. Dengan penuh kehati hatian menghindari lubang dan batuan besar, dibawah sorotan sinar lampu kenderaan yang menerangi jalan seadannya.
Bima merasakan legah yang tak terucapkan. Keputusannya untuk menginap benar benar membuahkan hasil. RESTU itu akhirnya dia dapatkan. Meski tidak dengan gamblang diutarakan, tapi ayah Marla menyiratkan restu itu dari setiap kalimat yang diucapkannya. Selanjutnya konsentrasi penuh tertuju pada Marla, tentang apa yang harus dia lakukan untuk mendapatkan cintanya.
___________
Setibanya di rumah, kedua pria itu telah disambut dengan makan malam yang menggugah selera. Semua tersaji di atas tikar pandan yang dibentangkan di lantai semen.
"Wah....,pas kali ! Kami memang sudah lapar." Togar segera duduk bersila di atas tikar. Dengan kompak, Bimapun melakukan hal yang sama, mengambil duduk bersila di samping beliau itu. Kalau saja orang lain yang tak kenal melihatnya, pasti akan mengira Bima adalah anak laki laki tertua di keluarga itu.
Melihat 2 pria yang dikasihinya duduk akrab, Marla benar - benar legah di dalam hati. Begitu menghargai apa yang Bima lakukan, demi bisa dekat dengan keluarganya, terutama ayahnya.
Bima menyantap lahap menu makan malam itu tanpa canggung lagi, merasa diri seperti bagian dari keluarga ini. Keadaan yang menenangkan, hangat dan bersahabat, sesuatu yang tak pernah dia rasakan sebelumnya, karena telah yatim piatu di usia belia. Sesekali matanya mencuri pandang ke arah Marla yang tak banyak bicara. Sesekali kemudian melibatkan diri dalam obrolan Dita, Rohulina dan Togar dan menjawab pertanyaan pertanyaan kecil mereka.
____________
Bima sudah terlelap begitu pulas. Dia berbaring di atas tikar yang dibentangkan diruang tamu yang bersatu dengan ruang keluarga itu. Meringkuk didalam selimut menghindari udara dingin. Dibawah sinar lampu yang temaram, ada sebentuk wajah penuh cinta yang memandangi dia tertidur. Marla berdiri tak jauh dari tempat Bima berbaring, langkahnya yang ingin mengambil minum kedapur terhenti tepat di depan pintu kamarnya. Ada perasaan damai di hatinya, serasa tak percaya kalau lelaki di hatinya itu sedang tidur di rumahnya, tak jauh dari tempatnya sedang berdiri.
Namun rasa damai itu tak bertahan lama, Marla segera menampik rasa itu jauh jauh, berganti rasa takut dikecewakan lagi. Pengharapan yang besar sering kali menyisakan luka yang dalam pula bila tak terwujud. Marla segera beranjak kedapur menyelesaikan kebutuhannya dan masuk ke kamarnya kembali.
Saat berbaring, rasa ngantuknya sudah hilang. Matanya hanya memandang ke langit langit kamarnya setengah melamun. Kenangan pahit itu kembali menguar, adegan demi adegan menyakitkan itu dengan mudah saja bermunculan di dalam ingatannya. Bagaimana Desy mencium Bima, tepat di depan matanya, didepan mata banyak orang.
Entah kenapa kenangan menyakitkan lainnya seperti menariknya kembali ke masa itu. Sosok Rey dari masa lalu menyeruak ke permukaan.
"La......,please berikan aku waktu untuk membuktikan cintaku padamu." Begitu Rey mengejar Marla 2 tahun lalu.
"Rey....,kamu dengan Hana gimana ? Aku ga mau dibilang merebut kamu dari dia."
" Aku dan Hana ga ada hubungan apapun lagi. Kami sudah lama putus La. "
Perjuangannya untuk mendekati Marla berulang ulang, berkali kali, akhirnya meluluhkan hati itu. Perempuan mana yang tak tersentuh dengan perhatian, tidak jatuh cinta dengan tindakan manis nan romantis. Demikianpun Marla, pada akhirnya menerima cinta Rey.
Dan mereka mulai resmi berpacaran.
Waktu itu, Marla berfikir Rey dengan tulus mencintainya. Sehingga tanpa ragu diapun dengan tulus juga membantu merawat mamanya Rey yang terkena sakit kanker rahim stadium akhir. Hampir semua waktu berpacaran mereka, selalu dihabiskan bersama dengan mamanya dan sibuk mengurus mamanya. Banyak masa hanya Marla sendiri yang melakukannya, tanpa Rey.
"La.....,kamu harus jadi menantuku. Kalau aku sudah tiada nanti, menikahlah dengan Rey ya nang. " Kalimat itupun kemudian terucap oleh ibunda Rey. Sumber awal dari impiannya akan sebuah pernikahan dengan Rey.
Sampai ibunda Rey pada akhirnya dikalahkan oleh kanker itu dan menghembuskan nafas dalam pelukan Marla, karena sampai akhir hidupnya Marla dengan setia masih merawatnya. Bentuk ketulusan terbesar Marla kepada Rey, kepada keluarga besar Rey Brata. Begitu sangat jelas diingatan betapa sedih dan berdukanya Marla atas kepergian calon ibu mertuanya itu. Namun sekarang Marla menganggap itu sebagai kebodohan terbesarnya.
Ketika setelah itu Rey berubah sikap, mencari cari alasan untuk bertengkar, menghindari untuk bertemu. Sampai akhirnya mengabaikan semua pesan dan telepon. Dari situ Marla mulai bertanya tanya dan mencari tahu.
Lalu tanpa dicari cari, kebenaran itu justru datang sendiri. Seolah olah Tuhan sengaja mengatur skenario itu. Untuk mengungkapkan kebenaran yang sebenar benarnya.