MARLA

MARLA
Berhak Bahagia



Malam ini benar benar menjadi sejarah indah bagi dua insan jatuh cinta bernama Bima dan Marla. Bukan hal mudah mewujudkan hubungan ini bisa terjadi. Resmi menjadi sepasang kekasih membuat keduanya merasakan buaian bunga bunga cinta.


Bima menyunggingkan senyum puas penuh kebanggaan. Sesekali menatap Marla penuh cinta saat berbincang santai di tengah kumpulan. Sosok yang dipandangi sering tertunduk malu bersemu merah saat mata saling bersitatap.


Malam merangkak larut, waktu berputar terasa lebih cepat dari biasanya. Masa untuk berpisah semakin dekat.


"Jadi gimana pulangnya nih kita ?"


Join yang memang sudah kelihatan mengantuk mengakhiri cerita dan candaan mereka yang seakan tiada usai.


"Kayak tadi aja, aku malam ini nginap di kost-an Marla kok."


"Ok, kalo gitu kamu bawa mobilku aja Bim, aku bawa motormu. Nanti pulangnya singgah ke rumahku antarkan mobil sekalian jemput motormu. Gimana ?"


"Ok. "


Jadilah mereka pulang dengan kedaraan saling beriringan. Gang rumah Dina sampai lebih dulu, Hans melambai meninggalkan iringan.


Begitupun Join, masuk ke jalan arah rumahnya, meninggalkan konvoi mereka. Akhirnya kendaraan beroda empat itu tiba di depan kost-an Marla.


"Aku duluan masuk ya." Lina yang memang sudah sangat gerah karena keringat, menenteng tas baju gantinya masuk duluan.


"Ok Lin. " Marla lalu menyerahkan kunci kamarnya, sementara dia sendiri masih berdiri di sana dengan sopan, menunggui Bima berlalu pulang. Tapi yang ditinggui malah keluar dari mobil dan berdiri di hadapannya sekarang.


Sebentar darahnya berdesir lembut. Menatap senyuman penuh makna di wajah pria yang baru saja menyatakan cinta padanya itu.


"Besok dinas apa ?"


"Besok masuk malam bang."


"Oh.....,"Bima kikuk sendiri. Menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal. Serba salah harus bagaimana. Bingung juga harus bilang apa. Jantungnya malah berpacu cepat. Apa yang salah dengannya ini, kenapa tiba tiba jadi grogi sendiri.


"Ada yang mau di omongin bang ?"


"Mmm...,ah...,ga ada sih....."


Bima semakin bingung, sekarang ditambah merasa bodoh sendiri. Ngapain coba dia turun , tapi mau pergi juga seperti tak rela. Hatinya masih ingin berlama lama disini. Bersama kekasih hatinya yang telah lama di damba. Tapi bagaimana bilangnya ya ?


"Besok abang jadi berangkat ke luar kota ?"


Pertanyaan Marla memecah kebisuan.


"Oh...,iya...,mau bilang itu."


Tiba tiba Bima seperti terselamatkan dari keadaan canggung ini. Ahhh, Marla memang selalu menjadi penyelamat keadaan baginya.


"Besok berangkat malam, tapi dari pagi akan sibuk siapkan barang barang sama perlengkapan. Proyeknya kira kira 3 minggu baru selesai, jadi selama itu kami akan di sana terus."


"Ok bang. Hati hati di perjalanan. Nanti kan masih bisa teleponan. "


Marla meyakinkan Bima untuk tak perlu khawatir.


Justru kalimat itu membuat Bima merasa bersalah. Dia memberanikan diri mendekat. Meraih tangan Marla kedalam genggamannya. Menyentuhnya lembut dengan kedua telapak tangannya. Entah kenapa hatinya yang tadi galau menjadi tenang, jantungnya masih berpacu cepat namun sudah teratur.


"La..,terimakasih sudah mau menjadi pacarku. "


Bima menatap lekat kepada sepasang bola mata indah milik Marla. Seperti perasaan legah yang tak bisa di jelaskan ketika menatap mata teduh itu.


Marla terdiam tak bicara, jantungnya tiba tiba berpacu tak terkendali. Desiran hangat mengalir cepat karena Bima menggenggam tangannya. Dentaman jantung memacu adrenalin kesem1ua sudut dalam rongga di tubuh ramping itu. Bagaikan ledakan ledakan kecil menyenangkan di dalam hati yang sulit digambarkan. Mengaburkan pikiran dan logika yang ada. Wajahnya seketika terasa panas memerah. Beginikah rasa sebenarnya dari cinta ?


Sambil mengatakan itu Bima melepas genggamannya perlahan dan berlalu masuk kedalam mobil.


Sebentar Marla masih terpana, suara Bima barusan terdengar seperti dengungan bernada jelas di telinganya. Memori Marla merekam baik semua kejadian dalam ingatan, adegan demi adegan bagai diatur dalam versi lambat. Ketika Bima menepuk punggung tangannya lembut dan berjalan pergi, barulah Marla tersadar dan mengangguk membalas kalimat Bima tadi. Tatapan jatuh cinta itu memandangi Bima yang berkendara menjauh pergi.


Ahhhhh......, hipnotis cinta. Ini pasti hipnotis cinta yang sedang merasuki sanubarinya. Tapi rasa ini menyenangkan. Rasa yang tak pernah ada sebelumnya. Yah.....,dengan pria sebelum Bima, hanya menyisakan ingatan tak menyenangkan.


Ingatan Marla pada hubungan sebelumnya hanya tentang diabaikan, disakiti dan dirinya dengan pengorbanan tiada akhir. Ia berfikir dengan berkorban maka hubungan bisa dipertahankan. Namun pada kenyataannya tak demikian. Hubungan demi hubungan yang dia jalin selalu kandas di tengah jalan.


Membuatnya sering bertanya pada diri sendiri, dimana letak salahnya. Tapi sekarang dia menyadari, sejak awal dia memang tidak dicintai, hanya di manfaatkan dan dipermainkan.


Berbeda dengan cara Bima memperlakukannya, penuh cinta dan kasih. Menghargai dan memahami, menghormatinya sebagai kekasih.


Marla masih terpaku di sana, memandangi tangannya yang tadi digenggam kekasihnya. Lalu tersenyum penuh kebahagiaan, karena semua yang terjadi bukanlah mimpi. Semuanya nyata terjadi, bukan mimpi yang bisa hilang saat dia terbangun. Bima benar benar nyata dan ada.


"Hayo......,tadi ngapain lama lama di depan ?" Lina yang sudah bersiap tidur segera meledek sahabatnya yang baru masuk ke kamar. Wajah merona Marla hanya senyam senyum menanggapi, memancing rasa penasaran pada yang bertanya.


"Cerita dong......"Lina memonyongkan mulutnya, meminta dengan manja.


"Aku mau mandi dulu."


Marla senyam senyum mengabaikan permintaan itu. Timbul niat ingin mengerjai sahabatnya, ia lalu meraih handuk tergantung di balik pintu dan masuk ke kamar mandi. Meninggalkan Lina yang tak terima diabaikan. Sadar Marla sedang mencandainya Lina terkekeh lucu, lalu berusaha mencegah Marla masuk kamar mandi.


"Heh.....,awas kamu ya...,"


Lina masih terkekeh, meski kalimat terdengar mengancam.


"Ha ha ha ha.....,ih....,awas ih.....,orang mau mandi juga !"


Marla tertawa terbahak bahak sambil buru buru menutup pintu kamar mandi.


Lina lalu ikut tertawa senang sekaligus haru pada orang yang pernah menyelamatkan nyawanya . Marla sahabat yang sudah seperti saudara baginya itu berhak bahagia, setelah sekian banyak luka yang dia alami. Entah kenapa dia merasa kasihan pada sahabatnya itu.


Hutang budi yang dia emban karena kebaikan Marla dulu, seperti terlunaskan ketika Lina melihatnya bahagia bersama pria yang tepat. Dan Bima adalah laki laki yang tepat untuk Marla.


Lina yakin betul bahwa Bima tidak seperti mantan mantan pacar Marla sebelumnya. Dengan Bima dia yakin Marla akan menemukan dirinya dicintai.


Tak habis pikir, kenapa Marla yang begitu baik harus ketemu Rey, laki laki jahat yang hanya mempermainkannya dan memanfaatkan Marla habis habisan. Atau pacaran dengan laki laki br***sek seperti Bastian. Mengingat nama itu saja, Lina geram rasanya.


Bastian hampir saja melecehkan Marla. Seandainya Lina tak datang waktu itu, entah apa yang akan terjadi pada Marla.


Seharusnya Lina akan menemani Marla ke rumah Bastian, tapi ada pelanggannya yang datang mau fiting baju. Karena tidak keburu, Lina bilang akan datang menyusul.


Laki laki itu yang katanya sedang sakit mendesak Marla datang kerumahnya, minta diperiksa dan ditemani ke rumah sakit. Meskipun Marla berusaha menolak dan memberikan saran lain, tapi Bastian ngotot Marla harus datang.


Sebenarnya sejak awal Marla sudah tak nyaman dan curiga, toh dirumah Bastian kan banyak orang yang bisa dimintai tolong. Kenapa harus Marla yang datang ? Fikirnya juga waktu itu. Tapi toh akhirnya dia pergi juga, merasa tidak enak kalau menolak permintaan Bastian.


Lina akhirnya datang menyusul Marla ke rumah Bastian. Untunglah dia datang tepat waktu. Saat dia masuk, hampir saja Marla di lecehkan di depan matanya. Jika terlambat sedikit saja, entah apa yang terjadi pada sahabatnya itu.


"Ayo pulang Lin !" Marla menggenggam tangan Lina sangat erat waktu itu. Wajahnya tegang dan pucat, tanpa ekspresi. Antara malu, takut, marah dan entah perasaan apa lagi yang bercampur dalam hatinya.


Lina hanya mengikutinya tanpa bertanya apa apa lagi. Ingin saja menghajar Bastian saat itu, tapi Marla menarik tangannya pergi. Dia menemani Marla sepanjang perjalanan pulang menuju kost-an, Lina tau sepanjang jalan itu Marla sedang menahan air matanya sekuat tenaga, agar tak tumpah berhamburan.


Kamar kecil berukuran 3 ×3,5 meter ini menjadi saksi, bagaimana mereka menangis bersama kala itu. Lina membiarkan saja Marla menumpahkan semua perasaan dengan tangisan dalam pangkuannya. Meluapkan semua rasa yang membebani selama ini. Meneriakkan tangis sepuas puasnya.


Untunglah hanya ada mereka berdua di seluruh lantai satu rumah kost-an . Ketiadaan penghuni lain di musim liburan mahasiswa saat itu, seperti keberuntungan kecil yang mereka syukuri. Setidaknya Marla bisa menangis puas sebebas bebasnya. Tanpa perlu khawatir terdengar orang di kamar yang lain.