MARLA

MARLA
Sang Putri Sulung



"Mak...,dari penjelasan dokter tadi, kesimpulannya bapak harus dioperasi secepatnya mak." Marla berusaha tegar, menyampaikan keadaan ayahnya.


"Ya Tuhan...." Rohulina langsung menutup wajahnya dan menangis. Raganya terasa melayang mendengar kata 'operasi'. Baginya yang baru kali ini menginjakkan kaki di Rumah Sakit, benar benar buta akan hal medis, bahkan kata itu adalah hal yang sangat menakutkan.


Marla dengan cepat menangkap tangan ibunya yang mendadak lemas mendengar kalimatnya barusan. Tenaga Rohulina seolah menguap, membuat tungkainya tak berdaya. Jaka yang berdiri di sampingnyapun spontan ikut menopang tubuh wanita paruh baya itu agar tidak ambruk.


Gejolak perasaan mulai berkecamuk dalam hati isteri Togar itu, tumpang tindih dan silih berganti. Perasaan takut, khawatir, cemas. Begitu saja semuanya menyeruak seolah mendesak di rongga dada, memunculkan pikiran ambigu dalam dirinya.


Bukan hanya tentang biaya Rumah Sakit yang Rohulina khawatirkan saat ini, tapi juga tentang anak bungsunya yang dia tinggal di kampung sendirian. Bagaimana Dita disana ? Amankah dia dirumah seorang diri? Apalagi Dita tidak tau kalau orangtuanya berangkat ke kota siang tadi.


Juga terpikir tentang keadaan suaminya setelah operasi. Akankah suaminya kembali sehat sempurna seperti sedia kala? Atau adakah komplikasi yang mungkin bisa terjadi setelah operasi ?


Lalu setelah perawatan operasi apakah suaminya sudah bisa langsung dibawa pulang ke kampung? Kalau tidak, dimana mereka akan tinggal sementara, setelah suaminya keluar dari Rumah Sakit? Mengingat mereka tak ada keluarga atau kenalan dekat di kota ini.


"Mak..., ga usah terlalu khawatir. Bapak pasti bisa sembuh total. Aku kenal kok dokter yang menangani bapak. Dia salah satu dokter yang terampil dan berpengalaman. Kita doakan saja mak, semoga Tuhan melancarkan semua proses operasi bapak sampai pemulihannya berjalan dengan baik."


"Amin amin." Rohulina menggangguk lemah, dengan lirih mengaminkan ucapan putrinya. Saat ini kalimat lain seolah sulit keluar dari mulutnya. Perasaan yang berkecamuk itu hanya bisa mendekam dalam hatinya.


"Tadi aku sudah telepon ke sekolah Dita mak," lanjut Marla lagi seolah mengerti kekhawatiran ibunya, "sudah bicara sama dia langsung , aku cerita keadaan bapak dan bilang kalian dalam perjalanan membawa bapak berobat. Jadi dia sudah tau kok kalian disini. Nanti malam sudah aku suruh dia tidur di rumah *bou."


Kembali Rohulina hanya mengangguk. Dia duduk dengan wajah menunduk. Pandangannya lurus pada ubin lantai yang lebar dan terlihat mengkilap itu. Lalu teringat sesuatu dan menarik tangan Marla ikut duduk.


"Kira kira berapa biaya berobat bapak nanti perlu kita siapkan nang ?"


"Aku sudah menghadap sama bendahara tadi mak, kalau tidak ada komplikasi, biayanya mungkin sekitar 10-15 juta sampai pulang. Kalau dikurangi diskon karyawan mungkin sekitar 8 -12 jutaan, pembayaran bisa belakangan."


Rohulina mengangguk angguk faham. Masalah demi masalah yang dia khawatirkan mulai teratasi pelan pelan. Untuk uang senilai yang disebutkan Marla, dia masih punya.


Memang sejumlah uang itu sudah mereka tabung sejak lama. Rencananya akan digunakan untuk keperluan Dita masuk kuliah. Tak apalah dipakai dulu, sampai keadaan suaminya bisa pulih kembali.


"Aku ada tabungan sekitar 10 juta mak. Siapa tau mamak perlu, boleh pakai uangku dulu." Marla menawarkan.


"Jangan nang. Itu uang kamu, simpan untuk keperluanmu. Mamak masih bisa usahakan biaya untuk bapak. Tidak usah khawatir."


Tak lama setelah itu, semua prosedur diurus secepatnya. "Semua berkas dan pemeriksaan sudah lengkap ya La, tinggal menunggu panggilan dari ruang operasi." Nindy menjelaskan sambil menyusun rapi kertas status Togar.


"Makasih banyak ya Nin." Marla menyentuh lembut bahu temannya itu. "Aku titip bapakku ya."


"Ok. Sama sama. Nanti coba aku tanya ya, apakah kamu boleh ikut ke ruang operasi ."


"Oh iya? Boleh ya?"


"Aku tanya dulu ya. Mudah mudahan bisa."


"Ok ok. Makasih ya Nin."


"Idih..., belum juga ditanya." Nindy tersenyum menanggapi memperlihatkan dua lesung manis di pipinya.


"La..., makan dulu tuh, aku tadi beli di depan." Jaka menyusul Marla ke pintu ruang observasi.


"Nanti aja Ja, aku ga selera makan."


"Makanlah La..., sekalian temani juga nantulang makan . Meski ga selera, tenaga tetap harus diisi. Kamu perlu sehat untuk menjaga orang sakit. Kalau kamu jatuh sakit, tulang siapa yang urus?"


Meskipun lidah tak berselera, tapi permintaan perut untuk diisi tak bisa diabaikan. Dua wanita beda generasi itu akhirnya melahap habis 2 bungkus nasi padang pemberian Jaka tadi.


"La, ayahmu operasi jam 5 sore ini. Kalau kamu mau ikut masuk, harus ikut prosedur steril, jadi kamu akan stanby di dalam. Kalau kamu hanya mau lihat, nanti bisa dari jendela monitoring, jadi ga perlu steril. Kamu mau yang mana ?"


"Menurutmu aku harus pilih yang mana Nin ?"


"Loh..., kok malah tanya aku ?"


"Soalnya ada mamak juga yang harus kutemani."


"Ohhh..., jadi gimana dong ?"


"Aku ga usah ikut masuk deh Nin."


"Ya udah ga apa apa. Teamnya dokter Rahmad yang ini macam semua kok." Jempolnya sambil diangkat.


"Oh iya ?"


"Iya. Yang dampingi operasi teamnya kak Salma. Anastesi dokter Daulay."


"Ohhh..., baguslah. Semogalah lancar semua."


"Amin amin. Nanti ikut aja antar sampai ke dalam La." Marla mengangguk mengiyakan.


Tepat pukul 5 sore Togar sudah ada di ruang tunggu pasien operasi. Marla memegangi tangan ayahnya yang terbaring dengan infus terpasang. Baru kali ini dia melihat ayahnya tak berdaya. Tampak lemah dan pasrah.


"Bapak takut?"


"Sedikit."


Togar menarik nafas panjang, berusaha menekan rasa takut dan sedih. Ketidakberdayaan ini memilukan hatinya. Dia pandangi putri sulung di sampingnya dengan tatapan haru.


Satu sisi dia bangga karena telah membesarkan putrinya dengan baik. Sehingga gadis itu bisa berdiri mendampinginya kala dia sakit. Seperti saat ini.


Di sisi lain ada perasaan gagal. Merasa gagal karena tak bisa mendukung impian putrinya. Keterbatasan dana membuat Togar tak sanggup membiayai Marla masuk sekolah kedokteran seperti yang dicita citakannya.


"Selamat sore Pak Togar, kita siap siap ya pak." Suster Salma keluar memeriksa persiapan operasi pasien.


"Iya suster." Togar menjawab pelan. Tak bisa disangkal rasa takutnya bertambah menjelang akan dioperasi.


"Kak Salam, aku titip bapakku ya kak." Marla benar benar memelas meminta.


"Yang sabar ya dek. Tenangkan hatimu, tenangkan hati mamak. Doakan kami, doakan bapak juga, agar semuanya berjalan lancar."


"Iya kak. Makasih ya kak. Titip bapakku ya kak." Kali ini Marla memelas dengan menitikkan air mata.


Dia tak merasa malu harus menangis di depan Salma. Bagi Marla, suster Salma tak hanya sekedar perawat senior yang pernah bekerja di ruangan yang sama dengannya. Tapi Salma juga seorang mentor yang berhati lembut dan bijaksana.


Saat pertama kali Bekerja di Rumah Sakit ini, Salma banyak membantunya tentang pekerjaan. Terutama hal hal baru yang Marla tidak tahu. Memberikan dukungan dan penghiburan kala Marla mendapat teguran.


*bou/namboru : saudara perempuan dari ayah