
Pagi ini Marla berberes kamar. Sepulang dinas malam dari Rumah Sakit tadi, dia istirahat sebentar, menghilangkan rasa kantuk dan lelahnya. Lalu terbangun hampir sore, memilih merapikan kamar dan pakaian nya yang berantakan lebih dulu. Setelah dia sembuh dari sakit , dia belum sempat mengerjakannya. Untung saja dia tak ambil kerjaan perawat pribadi sementara waktu. Ingin fokus memulihkan kesehatannya saat ini. Mulai Senin terhitung cutinya di rumah sakit tempatnya bekerja sudah berlaku, ada rencana pulang kekampung. Beristirahat di sana sementara waktu,ditengah tengah keluarganya yang hangat dan penuh energi positif. Sekian tahun bekerja Marla belum pernah mengambil cuti dan karena baru kali ini ambil cuti, dia diberi waktu cukup panjang dengan proses yang cepat.
Tak lama Lina menghubungi, " La.....,jangan lupa nanti malam ya. Jam 6 siap siap aja biar dijemput." Begitu suara Lina dibalik ponsel mengingatkan.
"Ok Lin....., makasih ya." Kata Marla menjawab. Berterimakasih karena Lina bela belain akan jemput dia. Mungkin karena aku baru sembuh dari sakit kali, fikirnya.
Marla melirik jam di atas pintu kamar kostnya, ternyata sudah sore. Buru buru dia menghentikan kegiatannya berbenah. Mengambil nasi dari ricecooker yang dia masak tadi setiba di kost-an. Lalu membongkar lauk yang tadi dia beli di warung langganan dekat rumah sakit tempatnya bekerja.
Sejak kejadian dia sakit itu, lambungnya menjadi lemah, tidak boleh terlambat untuk diisi. Hasil periksa darahnya waktu itu dijelaskan, ternyata demamnya bukan karena sakit biasa saja, tapi menunjukkan gejala typus di pencernaannya. Meski dia tak ada diare sebelumnya, terkadang pola makan dan menu makanan tak sehat berpotensi besar sebagai penyebabnya. Untung saja teman yang mengantarnya ke IGD menyarankan periksa darah. Sebagai perawat senior yang sudah berpengalaman, pengetahuannya tentang pemeriksaan pendukung diagnosa penyakit tak diragukan lagi. Dokter jaga IGD saat itu pun setuju dengan saran itu.
Sebenarnya dokter menyarankan Marla opname. Tapi Marla menolak, minta istirahat di rumah saja. Meski tak menjelaskan alasannya, tapi teman sejawatnya itu bisa mengerti. Pasti akan lebih nyaman istirahat di rumah daripada di rumah sakit. Untungnya bakteri 'Salmonela Thyposa' itu terdeteksi lebih cepat, sehingga tak sempat beranak binak lebih banyak di pencernaannya. Segera dimusnahkan dengan obat obatan yang diresepkan untuknya, sebelum kuman itu menyebabkan kerusakan yang lebih parah di dalam ususnya. Meski efeknya tetap terasa mengganggu sistem pencernaannya. Karena sibuk berbenah, jam makan siangnya terlewat sudah. Semoga saja tidak ada keluhan apa apa sehabis makan.
Hampir petang, kegiatan berbenahnya akhirnya selesai. Hanya menyisakan pakaian kotor yang harus dicuci. Besok bawa ke laundry saja, fikirnya. Saat ini Marla memilih me-laundry kan pakaiannya seperti kemarin, karena tenaganya belum cukup prima mengerjakan cucian.
Melihat waktu yang menuju petang, bergegas Marla mandi dan bersiap. Tadi sudah sempat janji jam 6 sore harus sudah 'ready ' . Dia tak ingin Lina harus menunggu saat menjemput nanti.
Setelah mandi, dia mengeringkan rambutnya yang ikal dan menatanya. Lalu memakaikan riasan sederhana di wajahnya yang polos. Lina bilang acaranya akan sedikit formal jadi perlu berdandan dan berpakaian formal juga. Tidak sulit bagi Marla memilih baju yang harus dia kenakan, karena pilihan bajunya juga tidak banyak. Cukup hanya menambahkan aksesoris manis saja, yang memang sangat jarang dia pakai.
Di tempat berbeda persiapan yang sama juga terjadi. Bima mematut dirinya di depan cermin. Hari inipun tiba, soraknya gugup di dalam hati. Entah kenapa dia merasa gugup saat ini. Memeriksa persiapannya sekali lagi, memastikan bahwa tak ada yang tertingal. Kali ini dia harus benar benar siap. Pukul 5 sore kurang, dia menyalakan mesin mobil. Sengaja dia meminjam mobil Join untuk moment ini, karena tak ingin merusak dandanan Marla akibat terpaan angin bila naik sepeda motor. Pastilah dia akan berdandan, Lina sudah memastikan itu pada Marla.
Tak lama kemudian, Bima melanju mobil ketempat Marla, penasaran dengan tampilan Marla nanti. Rindunya seperti meledak ledak saat ini, ingin segera menemui gadis pujaannya.
Marla sudah menunggu di kursi tamu yang ada di depan kostnya, ketika sebuah mobil datang dan memarkir di sana. Marla hanya melirik sebentar, merasa yang datang sepertinya bukan orang yang dia tunggu, kemudian asik kembali dengan ponsel di tangannya. Membalas pesan masuk satu persatu, akibat seharian ini sibuk berbenah tak sempat membalas pesan pesan yang masuk.
Ohhhhh my God..........,bang Bimaaaaaa, teriak bahagianya tertahan di hati. Dalam satu tarikan panjang, nafasnya tertahan di dada, degupan jantungnya turut berirama riang, berpacu cepat bagai dentuman di kepalanya. Tangannya spontan menutup mulutnya yang menganga kaget, dengan mata terbelalak memandangi sosok tampan di hadapannya. Seolah berusaha meyakinkan dirinya, bahwa Bima benar dan nyata berdiri di hadapannya, bukan hayalan akibat rindunya.
Bimapun terkesima sesaat, spontan menghentikan langkahnya lebih dekat, ketika melihat Marla berdiri perlahan di hadapannya, dengan riasan lembut dan paduan busana yang serasi dengan kulitnya. Ekspresi kaget diwajah itu begitu jelas menambah pesona cantiknya.
" Bang Bima ?!!! Kapan sampai ?!!" Tanya Marla kemudian penuh haru. Suaranya terdengar bergetar dan tertahan, berusaha menguasai dirinya, tak ingin kalimat yang salah berhambur keluar dari mulutnya, atau sikap yang terjadi tanpa sadar dilakukannya. Dia tak ingin ada kejadian yang akan disesalinya akibat rindu yang terbendung ini. Marla menarik nafas , mencoba mengatur irama jantungnya yang berantakan.
"Kemarin, " jawab Bima dengan senyum penuh kasih. Rindu di hatinya ini menyesakkan dada. Ingin rasanya menyentuh gadis itu, mengusap lembut rambutnya, atau menggenggam erat tangannya. Ingin menceritakan isi hatinya saat itu juga. Tapi tidak.......,bukan sekarang waktunya, Bima menahan sejenak rasa itu. Dia akan memberikan yang terbaik, yaitu pernyataan cinta darinya dengan cara yang indah. Sebuah kenangan bahagia yang akan diingat selamanya, menggantikan memori buruk Marla pada cinta. Agar semua orang tau betapa berharganya dia, Marlaku tersayang.
Sorot matahari senja nan hangat menerpa kedua insan jatuh cinta itu, tenggelam dalam fikiran mereka yang berbeda. Seolah alam ingin terlibat membangun suasana romantis diantara mereka. Dan suara kicau burung yang hendak pulang ke sarang, memberi warna sempurna pada adegan itu, seperti musik latar di cerita drama cinta Marla dan Bima.
Selangkah lagi menuju ke sana......
Ya....,hanya selangkah lagi.
Marla untuk Bima hanyalah bentuk cinta dalam kesederhanaan. Bagaimana hati pria itu tunduk dalam kasih yang tulus, keseriusan dan komitmen cinta yang utuh. Bukan hanya nafsu belaka, yang hanya ingin mengambil keuntungan dari sebuah hubungan tanpa ikatan. Tak banyak cinta yang seperti itu.
Marla mungkin banyak tersakiti, dan itu masih membekas sangat tegas di hatinya. Namun Bima hadir mengisi hidupnya, menunjukkan sisi cinta yang berbeda. Bahwa masih ada cinta yang indah, cinta yang dapat menyembuhkan rasa sakitnya. Cinta yang bisa membuatnya tersenyum berbunga bunga. Cinta yang hadir apa adanya, yang membuatnya merasa berharga. Merasa ada harapan di dalam cinta.
Begitulah seharusnya cinta. Tulus apa adanya, saling berusaha memberi yang terbaik, saling mendukung, saling menyemangati. Bukan sekedar nafsu belaka, yang memuaskan rasa sesaat saja. Hanya akan ada kehampaan di sana, begitu kosong dan sia sia.
Lalu bagimu, apakah cinta itu? Bagaimanakah bentuknya ? Seperti apakah rasanya ?