
Begitulah cinta. Perasaan yang mampu mengaduk aduk seluruh hidupmu. Membuatmu merasakan pahit, manis, sedih , senang, getir, dan berbunga bunga di waktu yang bersamaan. Yang bisa mengubahmu menjadi pribadi yang benar benar berbeda 180°. Perasaan yang membuatmu sanggup melalui tantangan apapun, mengorbankan apapun, bahkan menyerahkan nyawa sekalipun. Semua Atas Nama CINTA .
Demikianlah rasa itu telah menghantarkan Bima pada keadaan ini. Keadaan dimana dia sanggup datang mengejar Marla sejauh ini. Memilih diam, mengalah dan meredam egonya demi tak menyakiti Marla.
Melihat Marla menangis sedih adalah hal yang paling menyakitkan buatnya. Lebih menyakitkan dibanding bertengkar dengan abangnya Hans.
Tak lama suara mobil terdengar berhenti di pinggir jalan. Lalu muncul suara suara yang Bima kenali menyapa Rohulina di samping rumah. Join, Hans,Dina dan Lina sudah sampai dari jalan jalan mereka. Tapi mereka hanya mengobrol di luar, menemani Rohulina menampi beras di samping rumah.
"Dit....,ambilkan kursi plastik itu nang !"
Suara Rohulina memerintah putri keduanya terdengar juga sampai ke ruang tamu itu.
Dita adik Marla mengambilkan kursi plastik untuk mereka duduk.
Bima mulai gelisah menyadari waktunya tak banyak bisa berada di sini. Sesuai janji tadi pagi, kehadiran Join dan yang lain memang untuk menjemputnya pulang. Tapi dia masih belum mau pulang. Urusannya dengan Marla belum selesai. Dia tak mau pulang dengan keadaan hati yang tak pasti seperti ini.
Lalu idenya tiba tiba muncul, membuat rencana yang berani.
"Nginap di sini aja kalau gitu." Pikirnya cepat.
Bima lalu melangkah keluar, meninggalkan Marla yang spontan berdiri keheranan. Terdengar berbasa basi dengan mereka yang mengobrol diluar.
"Nantulang, aku nginap di sini ya nantulang." Sambar Bima cepat ditengah obrolan pamitan pulang.
Spontan Lina dan kawan kawan menoleh heran ke arah Bima. Seolah bertanya tanya Bima dapat keberanian darimana bicara begitu.
"Ohhhhh, boleh aja. Nanti tidur di ruang tamu ga apa apa kan ?" Rohulina memberi ijin. Seketika tatapan heran mereka beralih ke Rohulina yang tak memperhatikan keseriusan di wajah Bima, karena fokus dengan tampian berasnya.
Bima tersenyum senang mendengar ijin itu, meminta kunci mobil dari Join, berniat mengeluarkan tas ranselnya. Join merangkulnya cepat dan mengiringinya ke arah mobil.
"Berani juga kamu Bim. Yakin mau nginap di sini? " Join bicara setelah didekat mobil, agak jauh dari rumah Marla.
"Yakinlah bos, usaha itu jangan setengah setengah." Dengan percaya diri Bima menjawab.
"Masih ada yang lain ga ?" Join memeriksa kedalam mobil kembali. Mengingatkan Bima agar jangan ada barangnya yang tertinggal di dalam.
"Cuma ransel ini kok Jo. Barangku sudah ada didalam ini semua."
"Ok deh, semoga sukses Bim." Kembali Join menepuk pundak sahabatnya itu memberi dukungan.
Bima kembali masuk ke ruang tamu yang tadi dia tinggalkan. Ternyata Marla tak lagi duduk di sana. Dia letakkan ranselnya di samping kursi tamu tempatnya tadi duduk, lalu keluar lagi menemui teman temannya. Berbaur dengan obrolan obrolan mereka.
Tak lama Togar datang dan bergabung dengan obrolan di kumpulan itu.
"Ga jadi bapak ke ladang ?" Rohulina bertanya, melihat suaminya yang memegang parang panjang yang disarungkan, malah duduk dan ikut nimbrung mengobrol.
"Masih ada tamu, masak mau ditinggal." Togar memberi jawab.
"Itu teman Marla katanya mau nginap pak." Rohulina melanjutkan.
"Oh iya, boleh ajalah. Nanti pake tikar di ruang tamu, ga apa apa kan ? Yang perempuan biar di kamarnya Marla sama Dita aja." Togar menyambut dengan senang hati.
"Oh kami ga ikut nginap amangboru." Sela Lina cepat.
"Hanya Bima yang menginap tulang," Hans menjelaskan.
"Ohhhh.....,kupikir kalian semua mau nginap."
"Enggak tulang." Joint menimpali lagi.
"Kalo gitu, mau Bima tulang ajak keladang ?"
"Hah ?" Yang ditanya malah bingung.
"Tulang mau lihat pohon nira ke ladang, ada beberapa pokok belum di deres. Siapa tau ada yang berisi bisa dibawa untuk kita minum nanti."
"Oh bisa tulang. " Bima cepat menyanggupi. Sembari mengikut di belakang Togar yang berjalan ke arah depan pekarangan rumah itu.
Pekarangan yang cukup luas, bersih dan rapi. Itu kesan yang tergambar di benak Bima. Baru sekarang dia memperhatikan sekitar dengan jelas. Mungkin saat tiba disini tadi pagi fokusnya bertemu Marla, jadi tak terlalu memperhatikan lingkungan yang dia lalui.
Mereka berdua berlalu meninggalkan kumpulan tadi, menuju sepeda motor yang terparkir di pinggir jalan, tepat di depan mobil join terparkir juga.
"Bisa bawa sepeda motor ini?" Togar yang sudah berdiri di samping sepeda motornya bertanya.
"Bisa tulang." Bima mengangguk yakin. Baginya itu hanya hal kecil. Kalau saja Ayah dari Marla ini tau dia dulu sering balapan liar pakai sepeda motor temannya yang jenis begini, pasti heran beliau ini. Bahkan sambil tiduranpun Bima bisa bawa ini motor.
"Kamu saja yang bawa." Togar menyodorkan kunci sepeda motornya.
Bima mengambil kunci sepeda motor itu dengan sopan. Berpindah tempat di depan Togar, menaikinya dan menghidupkan mesin.
Togar mengangguk anguk kecil. Anak ini bisa diandalkan, bisiknya dalam hati.
Bima sedikit grogi kala Togar naik di atas boncengan. Ada perasaan segan sekaligus bangga di hatinya membonceng beliau itu. Bagaimanapun pria ini akan jadi calon mertuanya, atau bisa jadi mertuanya bila Tuhan mengijinkan.
"Ayok." Togar meletakkan telapak tangannya di kedua pundak Bima sambil menepuk tanda siap. Pundak itu menjadi tempat Togar berpegangan agar tidak jatuh. Agak lucu juga kalau dia berpegangan di pinggang Bima. Parang yang tadi dia ambil terselip di dalam sarung pisau yang diikat di pinggangnya.
Hanya butuh 20 menit untuk sampai di lahan hijau dan luas itu. Sepanjang jalan mereka sambil mengobrol banyak hal, semakin mengakrabkan keduanya.
"Parkirkan di sana saja." Togar menunjuk samping gubuknya memberi instruksi.
Setelah turun dari sepeda motor Togar berjalan kesebelah kiri gubuk itu ,menjumpai pekerja ladang yang dibayar harian. Mengobrol sebentar dan kembali ke samping gubuk tempat Bima masih berdiri.
"Berapa luas ini tulang." Tanya Bima takjub melihat hamparan tanaman muda sejauh mata memandang.
"Kalau ini masih sedikit, hanya 3,5 hektar."
"Wiiihhh.....,"Bima kagum. "Itu sudah luas tulang."
"Kalau yang jauh lebih luas lagi. Ada 6 hektar.Tapi saya sewakan sama orang. Ga sanggup mengerjakannya."
Bima hanya mengangguk angguk.
"Pohon niranya ada di bawah sana, dekat mata air."Togar menunjuk ke arah matahari terbenam. Lalu mengambil jerigen ukuran sedang dari dalam gubuk dan menyerahkannya pada Bima untuk di bawa.
Mereka berjalan dalam satu baris ke sudut lahan luas itu, menyusuri pinggiran tanaman kentang berumur 3 bulan.
Baru kali ini Bima melihat bentuk tanaman kentang secara langsung. Masa kecilnya di habiskan sampai besar di kota, jarang sekali melihat lahan pertanian.
Mereka berdua sudah berdiri di bawah pohon enau yang tumbuh tak beraturan. Togar turun dan naik memantau setiap pohon yang mereka datangi. Ada beberapa yang di deres dan ada beberapa yang di ambil niranya.
"Ayok." Togar mengajak pulang dengan gerakan tangan.
"Sudah tulang ?"Bima hanya dijawab anggukan oleh Togar.
Berdua mereka duduk di teras gubuk sederhana itu. Pekerja harian yang tadi mereka jumpai sedang bergerombol di samping gubuk dekat sumur air. Mereka terlihat bergantian memakai gayung membersihkan kaki dan tangan. Sepertinya bersiap siap hendak pulang.
Togar masuk ke dalam gubuk dan keluar membawa 2 cangkir plastik, menyerahkan satunya pada Bima.
"Pernah minum air nira ?"
Bima hanya menggeleng sambil menyodorkan cangkir plastik di tangannya. Membiarkan beliau itu menuang air nira ke cangkirnya.
Bima melihat cangkirnya yang terisi setengah, mencicipi sedikit dari ujung cangkir. Cairan itu terasa manis segar, mirip rasa air tebu yang pernah diminumnya. Bima lalu menegaknya habis.
"Gimana ?"
"Enak tulang."
"Ha ha ha.......,enak kan ?"
Bima mengangguk.
"Tapi jangan diminum begitu, minumnya sedikit sedikit biar rasanya tetap melekat di lidah. Kalau minum begitu harus minum banyak banyak baru terasa, kalau minum nira banyak banyak bisa mabuk nanti, kalau sudah mabuk mana bisa bawa sepeda motor mau pulang."
"Ha ha ha.........,"mereka tertawa bersama.
Togar kembali mengisi cangkir Bima dan cangkirnya dengan air nira sampai setengah.
"Makasih tulang." Cangkir Bima sudah terisi kembali.
Berdua mereka mengobrol bagai bapak anak.
"Marla itu mirip sekali seperti tulang. Baik, sopan, ramah." Bima memuji.
"Ah....,ha ha. "Tersipu Togar mendengar anaknya dipuji.
"Anak anak saya itu aslinya pemalu, tapi saya latih untuk berani. Bagaimanapun suatu hari mereka akan pergi dari saya, ketemu berbagai macam orang. Harus pintar pintar membawa diri. Apalagi mereka itu perempuan, harus pintar jaga diri. Makanya mungkin Marla ga terlalu punya banyak teman. Dia pilih pilih kalau berteman. Bukan tentang materi kalau berteman, tapi karakter orangnya. " Togar memandangi cangkirnya dan meneguk isinya sedikit.
Bima memandangi wajah beliau itu, ada keseriusan di sana. Jadi teringat ketika ayah Marla bercerita sedih karena tak punya anak laki laki. Alasannya bukan tentang melanjutkan Marga, tapi khawatir kalau Marla dan Dita tidak ada yang menjaga. Kalau beliau kenapa kenapa, siapa yang bisa melindungi kedua putrinya.
"Tulang tidak malu mengajak saya ?" Tanya Bima penasaran.
"Kok mesti malu ? Kenapa ?" Togar balik bertanya karena tak faham.
"Yah.....,tulang kan tau saya suka sama Marla. Apa tidak masalah kalau saya sama tulang akrab begini. Maksudnya kayak saya kurang sopan tulang."Bima bertanya ragu.
"Ah......,tidak masalah buat saya." Togar menjawab enteng.
"Justru saya harus kenal dengan orang yang mendekati anak saya, biar tau, bisa cocok atau tidak sama anak saya."
"Kalau misalnya jodoh.....,yah amin puji Tuhan. Kalaupun tidak jodoh, tidak ada benci atau dendam. Karena sudah dekat, jadi enak menyampaikannya."
Lagi Bima mengangguk. Benar benar kagum dengan pola pikir ayah Marla ini.
Dalam hati Bima berdoa, semoga dia benar benar berjodoh dengan Marla. Betapa bersyukurnya dia bila itu terjadi. Bukan hanya mendapatkan gadis baik hati seperti Marla, tapi juga mertua luar biasa seperti beliau ini.