MARLA

MARLA
Sejarah Yang Terulang



Sepanjang perjalanan menuju ke tempat acara, Bima hanya diam didepan kemudi yang dikendalikannya. Marla yang duduk di sampingnya juga demikian, memandang keluar jendela di sisi kirinya, seolah menyembunyikan luapan perasaan bahagia yang terpancar di wajahnya.


Hanya suara deru mobil yang terdengar melaju, namun dua manusia di dalamnya seperti kikuk tak berkata kata. Seolah bingung mau bicara apa, tak tau harus memulai dari mana. Lalu Bima memutar siaran mencari gelombang radio yang tepat, yang enak di dengar, ketika berhenti di lampu merah yang padat. Berusaha sekedar mengisi keheningan diantara mereka.


"Kali ini kita akan putarkan request lagu dari seseorang di seberang sana. Siapa ini orang di seberang sana ya ? Ha ha ha..... Siapa pun itu, salam baik buat kamu yang di seberang sana. Jangan kemana mana, kita dengarkan lagu darinya Andmesh , Cinta Luar Biasa." Suara penyiar yang riang dari radio itu berhasil memecah keheningan. Suara itu lalu berganti dengan petikan gitar pengiring lagu.


Suara Andmesh pun mengalir lembut mengisi seluruh ruang di mobil itu. Perlahan namun pasti, Marla lalu ikut bersenandung mengikuti liriknya. Meski suaranya pelan, tapi Bima bisa mendengar suara merdu itu dengan jelas. Ini hal baru yang Bima tau tentang Marla. Tak hanya cantik orangnya, suaranyapun indah. Benar benar enak terdengar di telinga.


Waktu pertama kali


Kulihat dirimu hadir


Rasa hati ini inginkan dirimu....


Hati tenang mendengar


Suara indah menyapa


Geloranya hati ini tak kusangka...


Rasa ini tak tertahan.....


Hati ini selalu untukmu....


Terimalah lagu ini


Dari orang biasa


Tapi cintaku padamu luar biasa.......


Marla terus bernyanyi mengikuti lagu itu sampai selesai.


Bima terpukau mendengarkannya, merasa damai dalam alunan suara Marla bernyanyi. Lagu itu seperti mewakili isi hatinya untuk Marla. Teringat saat pertama kali dia melihat Marla, menyapanya dan bertukar cerita dengannya. Bima menyadari bahwa dia sudah jatuh cinta pada gadis sederhana itu.


"Aku baru tau kamu pintar bernyanyi . "Puji Bima kemudian setelah lagu selesai . Akhirnya punya bahan memulai cerita.


"Ah..,biasa aja bang. "Kata Marla tersipu malu. Lalu pembicaraan mereka pun mencair sampai ke tempat tujuan. Terdengar tawa di sela sela pembicaraan itu.


Sepertinya Bima harus berterimakasih pada Sang Andmesh atau sama penyiar radionya mungkin. Keadaan hening itu berubah manis dan penuh canda tawa pada akhirnya.


________________


MARLA


"La.......,di sini." Lina yang sudah lebih dulu tiba melambai memanggilku mendekat. Demi kesopanan aku tak langsung bergegas kesana, tapi menunggu Bima dan berjalan beriringan ke arah sana. Ternyata ada beberapa orang yang kukenal sudah berada di situ juga.


"La kita duduk di sini ?" Kata Bima mengarahkan.


Aku lalu menuju ke arah itu, tak jauh dari posisi Lina dan Samuel duduk. Ternyata ini acara dating seperti waktu itu, hanya tempatnya berbeda. Pantas saja Lina menyuruhku berpakaian formal. Terimakasih pada Bima yang sudah menjemputku dengan mobil, dandananku tak berantakan.


Setiap muda mudi jadinya dekat dan saling kenal dengan baik. Ada beberapa juga memang sedang berpacaran. Dan selalu janjian dating rame rame seperti ini, tapi tempat duduk tiap couple pisah pisah, dengan jarak yang tetap berdekatan. Seperti ingin saling mejaga, mengingat godaan berpacaran cukup besar.


Di sela sela acara, Bima dan aku bertukar cerita tentang banyak hal. Perasaan ini damai bersama Bima, ingin berlama lama duduk berdua dengannya. Bicara tentang apa saja, bercanda, tertawa, saling memuji. Ah..... Bima, kamu benar benar telah mencuri perhatianku. Lina benar, aku memang sudah jatuh cinta padamu.


_______________


BIMA


Tak berhenti aku curi curi menatap Marla, meski wajah itu sering sembunyi dari tatapanku. Mengalihkan perhatiannya ke pembawa acara, ke gelas minuman yang dia aduk aduk tak jelas, ke sepiring makanan di hadapannya. Tapi sekarang, gantian aku yang deg degan berat. Sesi dimana aku akan menyatakan cinta semakin dekat. Mungkin karena itu aku grogi saat ini. Entahlah.......


Acara terus berjalan sampai jauh, sesi aku akan menyatakan cintakupun tiba. Semua konsepnya sudah di diskusikan dengan mereka sebelumnya. Aku lalu mulai mempersiapkan diriku, sambil memberi aba aba pada Lina yang duduk tak jauh dari kami. Minta Lina bantu menyiapkan bunga dan kotak hadiahnya. Tinggal menunggu pembawa acara akan memanggilku ke depan, rencananya aku akan bacakan beberapa bait pantun sebelum menyatakan cintaku pada Marla dan memintanya menjadi pacarku.


Lalu tak sengaja mataku menangkap sosok Desy disana. Duduk di dekat meja yang ada di samping pembawa acara. Perasaanku tiba tiba berubah tidak enak, wajahku menjadi kaku dan menoleh ke arah Lina yang berekspresi sama denganku.


Dalam hati aku berdoa doa, semoga Desy tak melakukan hal konyol lagi kali ini. Oh Tuhan 'please' , jangan biarkan sejarah tak menyenangkan itu terulang kembali. Doaku mengingat kembali kejadian Desy marah meledak ledak saat kita hangout tanpa mengajaknya.


Wajahku seperti memucat membayangkan kerusuhan yang bisa saja terjadi akibat ulau Desy. Daaannnn.............


Desy buru buru berdiri di samping pembawa acara, saat namaku dipanggil untuk tampil ke depan. Kulihat wajah Marlapun berubah tak nyaman. Aku dengan jantung berdegup kencang karena khawatir, maju ke depan dengan hati hati. Seakan bersiap siap seandainya Desy mau membuat kekacauan. Meninggalkan Marla dengan pandangan penuh tanya di tempat duduknya. Entah apa yang sekarang dia fikirkan.


Desy mengambil kesempatan dengan cepat. Merebut 'microphone' dari tangan pembawa acara dan mulai membahas tentang masa lalu.


"Bima.....,aku tau kelihatannya tak pantas, tapi aku tak mau menyia nyiakan kesempatanku. Sekian lama kamu mendekatiku, memperhatikanku, mengejarku, bahkan menyatakan cinta padaku. Aku memang belum memberikan jawab, aku hanya mengamatimu selama itu. Tapi saat ini aku akan menjawab pertanyaan itu. Aku mencintaimu Bima, aku benar benar jatuh cinta padamu. Dan aku mau menjadi kekasihmu. Terimakasih karena telah menungguku dengan sabar selama ini. "


Setelah itu Desy kemudian berhambur ke arahku, memberikan kecupan dipipiku dan memelukku dengan erat. Aku terdiam penuh keterkejutan, tak sempat membantah ataupun mengelak, hanya terpaku di tempat. Berusaha mencerna kejadian yang baru saja terjadi.


Semuanya terjadi begitu cepat, tanpa sempat kubantah ataupun kuhindari. Tak kusangka Desy akan senekat dan seberani ini, benar benar tak menduga. Dalam 'slow motion' aku menoleh ke arah Marla, melihatnya menggeleng sedih berurai air mata, dan berlalu pergi. Seakan tersadar dari apa yang terjadi, kudorong Desy menjauh dariku. Bergegas menyusul Marla yang pergi tergesa gesa, akibat melihat adegan yang tak seharusnya terjadi. Ini bukanlah apa yang aku rencanakan, ingin rasanya aku menjelaskan itu.


Perasaan marah ini, kesal ini, seandainya bisa kulampiaskan pada Desy . Tapi tidak, setelah kupikirkan lagi, terlalu sia sia waktuku untuk itu. Saat ini mengejar Marla lebih penting dari segalanya . Gadis yang seharusnya akan menjadi kekasihku itu pastilah terluka. Sama terlukanya juga denganku, setelah merencanakan segalanya dengan baik dalam waktu yang panjang ,namun Desy telah merusak semuanya dengan singkat.


Dari jauh kulihat Marla telah menyeberangi jalan. Menghentikan angkutan kota yang setahuku bukan menuju ke kostnya. Mungkin ingin cepat cepat pergi menghindariku .


Marla tak sempat ku susul. Kuputuskan masuk ke dalam lagi, mendatangi Join yang masih berada di tempat acara. Ku abaikan tatapan mereka yang penuh tanya ke arahku. Hanya menatap penuh kemarahan kepada Desy yang mesih berdiri di atas panggung. Lalu kuminta kunci sepeda motorku sembari menyerahkan kunci mobil Join, untuk bertukar kendaraan dengannya.


Bergegas aku ke arah sepeda motorku diparkir. Melaju secepat mungkin ke kost-an Marla, berharap akan menemukan dia di sana. Aku ingin menjelaskan apa yang terjadi sebenarnya.


Langit malam yang menaungiku seperti ingin menghibur hati yang gundah gulana ini. Memperlihatkan bentuk bulan melengkung indah, ditemani bintang yang memancarkan sinar di sela sela terangnya lampu kota.


Setibanya di sana, beberapa kali kuketuk pintu kamar Marla, namun tak ada balasan suara dari dalam sana. Penghuni di sebelah kamarnya lalu menjelaskan kalau tak melihat Marla pulang. Bahuku jatuh lemas ketika Marla tak kutemukan di kost-an nya


Kududuki sepeda motor yang tercagak aman , mengambil ponsel menghubungi nomor Marla. Meski sudah kuduga teleponnya tak akan diangkat, tapi tetap kuhubungi juga. Ah......,entahlah......, mungkin karena sudah tak ada lagi cara yang tersisa.


Aku masih berharap di tempat yang sama, menunggu Marla pulang ke kostnya. Pikirku mungkin saja dia masih dijalan. Lalu waktu berputar lambat. Satu jam, dua jam , sampai 4 jam, hingga pukul 1 subuh tiba. Tapi tak terlihat tanda tanda Marla pulang. Harapanku akhirnya redup, memutuskan pulang kerumah dengan hati kecewa. Meski begitu, kuniatkan besok akan datang ke sini lagi.


Kupandangi bulan melengkung yang menggantung indah di langit sana. Mungkinkah dia tau dimana gadisku berada. Seandainya saja akupun tau..........