
Jaka menghentikan mobil besar itu di depan kantor tadi, menjemput Marla dan barang barangnya dari dalam kantor. Marla mengikut saja di belakangny dengan menenteng barang barangnya yang lain.
"Kita naik ini ?!"
Jelas sekali mimik keheranan sekaligus tak nyaman tergambar di wajah Marla.
"Iya." Jaka mengangguk yakin sekaligus bingung pada pertanyaan Marla. Ia meletakkan barang barang tadi di kursi belakang, lalu membukakan pintu depan untuk perempuan itu duduk.
"Ja....,kita naik becak mesin aja deh. Ga enak kalau kamu harus minjam mobil orang lain untuk antar aku."
Jaka semakin bingung. "Mobil orang? Ini kan mobil papaku, artinya ini mobilku juga kan?" Jaka seolah bertanya pada diri sendiri.
"Ini mobilku La."
Sekarang gantian Marla yang melongo tak percaya. Kulit pipinya bersemu merah karena malu. Tanpa membantah lagi, dia menurut saja duduk di kursi yang pintunya dibukankan tadi.
Jaka tersenyum senang, sambil berjalan kearah kursi kemudi. Hatinya benar benar bahagia ketika Marla bisa duduk di sampingnya lagi. Bedanya kali ini, mereka hanya berdua.
Jaka mengabaikan pandangan para supir dan penumpang disekitar yang sedari tadi senyam senyum melihat tingkah keduanya. Entah apa yang membuat mereka tersenyum, Jaka tak tahu dan tak mau tau. Perlahan lahan mobil sporty itu meninggalkan area stasiun.
"Kenapa ?"
Jaka yang mendapati Marla menutupi wajahnya lalu bertanya.
"Aduh...,aku malu banget Ja sama kamu."
Lagi ia menutupi wajahnya karena merasa malu.
"Ha ha ha.....,kenapa mesti malu sih ?"
Jaka yang fokus pada jalanan, melirik sekilas padanya.
"Aku ga tau ini mobil kamu."
Kembali tangan itu menutupi wajahnya.
Jaka kembali tersenyum mendengar itu. Tingkah Marla barusan, membangkitkan sepenggal kenangannya dengan Marla dulu. Kenangan saat mereka bersama di kelompok paduan suara sekolah.
Kebiasaan Marla yang ini, ternyata masih ada sampai sekarang. Setiap ia merasa malu atau melakukan kesalahan, pasti akan menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Atau Marla akan menelungkupkan wajahnya diatas lengan yang dilipat di atas meja.
"Kebiasaan kamu ga pernah hilang ya La."
"Kebiasaan? Maksudnya?"
Marla melihat Jaka dari separuh wajahnya yang masih ditutupi telapak tangan.
"Itu....,kebiasaan nutup nutup muka."
"Kebiasaan nutup muka? Maksudnya gimana?"
Marla spontan membuka wajahnya dan memandang serius pada pria dariasa lalunya itu.
"Kamu sadar ga sih? Dari dulu itu kamu punya kebiasaan nutup muka kalau malu, kalau salah. Atau telungkupin wajah diatas meja. Sadar ga sih?"
"Kamu perhatiin ya? Kok aku malah ga sadar?"
"Ya iyalah, namanya kita suka, semua muanya diperhatikan."
"Serius? Kamu beneran suka aku dulu?"
"He he he.....,yah...,gitulah."
Sekarang gantian Jaka yang malu. Lebih tepatnya gugup dipandangi gadis manis di sampingnya.
Seandainya saja Marla tau, sampai nomor sepatunya di zaman SMP saja Jaka bisa tau. Waktu itu ia khusus membeli sepasang sepatu untuknya. Ingin diberikan sebagai kado saat acara kelulusan SMP. Tapi sayangnya Marla tak hadir di acara itu.
"La...,dulu waktu acara kelulusan kenapa kamu ga datang ?"
"Aku datang kok."
"Hah...? Kok aku ga lihat?"
"Ada. Aku hadir."
"Ga ada ahhh.....,aku ga ada liat kamu di acara itu."
"Aku datang......,tapi ga lama. "
"Kok aku ga ada liat ? Aku keliling satu sekolahan lo nyariin kamu. Gada liat kamu."
"Iya."
"Ha ha ha.... Ngapain?"
"Kan tadi aku udah bilang, namanya kita suka sama seseorang, ya pasti diperhatiin, dicariin."
"Iya ya. Aku ada kok Ja. Aku datang, tapi hanya sebentar di gedung aula. Langsung ke kantor guru ngurusin berkas berkas. Terus pulang."
"Kenapa?"
"Mmmm, ga kenapa kenapa."
Marla bicara sambil melihat lihat ke luar, Memastikan mereka tidak salah masuk jalan. "Nanti di depan belok kanan ya Ja, kost-an ku udah dekat lagi."
Jaka mengikuti sesuai arahan. Lalu mereka tiba di bangunan 2 lantai dengan halaman dan teras tamu yang luas. Sebelah bawah itu kamar perempuan, sebelah atas untuk kamar laki laki. Dengan tangga diluar dan akses pintu masuk yang berbeda.
Ada pintu besar menuju ke dalam dengan ruangan kosong sebelah kiri. Ada beberapa sepeda motor terparkir rapi di sana, dan sebelah kanan, deretan kamar kost.
"Duduk Ja. Aku antar masuk barang barangku dulu ya."
Jaka tidak langsung duduk. Ia berkeliling sebentar memandangi sekitar area kost-an itu. Terpikir ingin membangun kostan juga suatu hari. Tanah kosong di samping terminal ayahnya sepertinya cocok dibuat usaha begini.
Beberapa lama Marla sudah keluar lagi, menemuiku di teras yang terpisah dari ruang kamar kamar tadi. Membawa 2 gelas air putih bersama bungkusan cemilan.
"Diminum Ja, adanya air putih aja, belum sempat masak air panas. "
"Oh iya, ga apa apa. Ini juga udah mantap."
Kuambil beberapa potong kue kacang yang Marla bilang dibawa dari kampung.
"Kamu sudah punya pacar La ?"
"Uhuk uhuk....,hah ?!"
Yang ditanya langsung batuk batuk karwna tersedak. Mungkin kaget aku tanya tiba tiba begitu.
"Maksudku kalau belum punya pacar, kenapa tidak kita aja yang pacaran ?"
"Kamu tuh ya....,dari dulu senengnya menggombal aja." Marla lagi lagi menjawab meledek.
"Bukan gombal aku La. Serius aku. Nih dengar aku ceritain ya. Jadi kan La, aku udah suka sama kamu sejak kelas 1 SMP, tepatnya sejak uìiu bazar amal di sekolah. Kamu ingat waktu itu kamu nyanyi lagu daerah, denger suara kamu itu, enak gitu masuk ke telinga. Terus aku banyak cari taulah tentang kamu. Kudengar kamu masuk Tim paduan suara ,aku ikutan masuk juga, mwskipun aku ga tau nyanyi La."
"Emangnya aku nyanyi lagu apa ?"
"Lagu Piso Surit."
Marla hanya mengangguk angguk saja membenarkan.
"Nah....,untungnya di kelas 2 SMP kita bisa satu kelas, aduh aku senang kali La. Serius."
Marla tersenyum menghargai.
"Sebenarnya waktu perpisahan itu, aku mau bilang perasaanku, tapi kamunya ga ketemu. "
"Ja....,makasih kamu sudah jujur. Terus terang aku merasa tersanjung. Tapi sekarang kan keadaan kita berbeda, kita bukan anak SMP lagi. Kalau sekarang, setiap keputusan kita punya tujuan yang jelas. Bukan hanya sekedar rasa suka aja. Tapi butuh komitmen yang jelas. Aku sih lebih suka kita berteman saja. Masa lalu biarlah berlalu. Lagipula, kamu kan sudah memilih Lesti waktu itu, yah hargailan pilihanmu."
"Aduh......,aku sama Lesti ga pernah pacaran La, serius. Demi Tuhan aku berani bicara . Sebenarnya yang bilang aku pacaran sama dia siapa sih ?"
"Lesti yang bilang, katanya kalian baru jadian. Waktu kami latihan vocal group, tiba tiba dia minta keluar. Lesti mau ikut lomba solo bareng kamu. Katanya kamu yang ajak, kamu mau iringi dia nyanyi pakai gitar.
"Terus ?!"
Aku sudah mulai geram mendengar cerita ini.
"Terus dia bilang kamu yang bujuk bujuk, karena kalian baru jadian jadi dia turuti permintaan kamu. Gitu."
"Terus kok ga ada yang tanya ke aku ?"
"Katanya kamu ga mau ada yang tau, takut Lestinya dibuli orang yang suka sama kamu. Alasannya banyak cewek yang suka sama kamu. "
"Astaga.......,gila ya Lesti itu. Pintar banget memutar balikkan cerita. Yang ada justru, dia datang ke rumahku sore sore, minta tolong aku iringi latihan solo. Bahkan sampai hari H pertandingan juga memohon mohon aki iringi. Aduhhhh....,bener bener ya. "
"Maksudnya gimana Ja ?"
"Yah....,maksudku kami ga pernah pacaran. Aku ga pernah bilang suka sama dia, dan memang aku ga pernah suka sama dia. Yang ada aku malah minta tolong sama dia buat dekatin aku sama kamu."
Aku benar benar menyesali ketidaktahuanku di masa lalu. Jika memang benar Marla menyukaiku, wajarlah dia menjauh. Perempuan baik baik seperti Marla, pastilah tak mau menjadi orang ketiga di hubungan teman baiknya. Tapi Lesti jelas bukan perempuan baik baik, dia tega menusuk teman baiknya dari belakang.