MARLA

MARLA
Cintaku bersendirian



Pukul 19.15 WIB operasi Togar selesai. Dokter Rahmad sudah keluar dari ruang operasi, dan mendapati Marla berdiri di samping ruang operasi.


"Untung saja segera dioperasi. Kalau tidak, kemungkinan ususnya yang meradang bisa lengket ke peritoneum."


"Jadi tadi bagaimana dokter ?"


"Tepat seperti yang saya bilang tadi, bagian atas usus yang meradang sudah bocor, tapi kotorannya belum menyebar, jadi masih bisa dibersihkan. Makanya tadi agak lama operasinya, karena harus dibersihkan. Tapi sudah ok sekarang. Jaringan yang meradang sudah diangkat rapi dan bersih. Mungkin akan perlu pemulihan 4-5 hari. Mudah mudahan tidak ada komplikasi ."


"Amin. Makasih dokter." Dokter Rahmad hanya membalas dengan anggukan.


"Ok ya. Jaga baik baik bapak kamu."


"Siap dokter. Makasih sekali lagi dokter."


"Ok ok." Dokter Rahmad sambil berlalu.


Marla mengikuti ayahnya yang dibawa masuk ke ruang pemulihan. Dia melihat pria paruh baya itu masih belum sadar penuh.


"Bapak sudah bangun kok tadi La. Tenang aja, semua masih aman dan terkendali kok. Ini efek biusnya belum habis, jadi tertidur lagi. Ga usah khawatir." Salma menenangkan Marla.


"Selanjutnya gimana kak ?"


"Kita observasi dulu bapak 2 jam ini. Kalau sadar lebih cepat, udah bisa dipindah ke ruangan kok."


"Iya ya kak."


"Kamu kabarin aja dulu sama ibumu. Biar beliau ga khawatir. Kakak belum pulang kok, bisa tungguin sebentar di sini."


"Iya kak. Kakak baik sekali, gimanalah aku mau membalasnya."


"Biasa aja kok La. Udah sana."


" Makasih ya kak. Makasih banyak." Marla terharu.


Sepanjang jalan menemui ibunya, mata Marla mulai berkaca kaca. Kebaikan orang orang yang membantunya melewati semua ini benar benar membuatnya terharu. Semua yang terjadi seolah sudah diatur dan berakhir baik.


Mulai dari perjalanan ayah dan ibunya yang dibantu Jaka. Lalu ada orang orang yang dia kenal ikut terlibat mengurusi ayahnya. Orang orang yang perduli dan totalitas dalam bekerja.


Marla percaya bahwa semua yang terjadi bukanlah kebetulan. Tuhan pasti terlibat merancangnya demikian. Marla meyakini itu.


"Mak..., operasi bapak sudah selesai. Bapak sekarang lagi di ruang pemulihan, dua jam lagi sudah boleh dibawa ke ruangan."


"Amin ya Tuhan..., amin ya Tuhan. Terimakasih Tuhan." Rohulina menangis sambil tak henti mengucap syukur. Dipeluknya Marla dengan perasaan legah yang sulit digambarkan.


Jaka yang melihat itu datang mendekat. Ingin memastikan bahwa semua baik baik saja.


"Gimana La ?"


"Loh kamu belum pulang Ja ?" Marla yang kaget melihat Jaka masih ikut menunggui di situ malah tak menjawab pertanyaannya barusan.


"Gimana ?" Jaka justru lebih fokus pada keadaan Togar.


"Operasinya sudah selesai. Bapak lagi di ruang pemulihan sekarang. Kira kira dua jam lagi batu dipindah ke ruangan rawat."


"Ohhhh..., syukurlah." Jaka ikut legah mendengar itu.


"Kamu ga apa apa pulang kemalaman Ja ? Perjalanan jauh begitu bisa bahaya kan?"


"Tenang aja. Aku bisa urus diri sendiri."


"Bukan gitu. Aku merasa ga enak nanti kalau kamu ada apa apa di jalan."


"Ceritanya kamu khawatir nih ?"


"Khawatir dong. Kamu kantemanku. Teman yang sudah membantuku juga."


"Kalau gitu bisa minta di teraktir dong aku kapan kapan?" Jaka berani bercanda karena Rohulina sedang ke kamar mandi.


"Pastilah. Kamu mau di teraktir apa ?"


"Nanti nanti aja deh. Kupikir pikir dulu."


"Wah..., pintar ya kamu."


"Jangn minta yang mahal mahal , aku ga punya banyak duit."


"Tenang aja."


"Anyway, makasih banyak ya Ja. Kalau ga ada kamu yang bawa bapakku, ga tau lagi aku harus gimana."


"Tadi kan udah bilang makasihnya?"


"Tadi beda, sekarang aku bilang lagi."


"Kalau gitu boleh minta di traktir dua kali nih ceritanya ?"


"Idiiihh..., maunya."


"Ha ha ha..., enggaklah. Bercanda aja. Serius amat sih. Boleh dong bercanda. Dari tadi kamu belum ada senyum aku lihat."


Marla tersenyum kecil dicandain. Dia benar benar bersyukur ada Jaka. Pikirannya yang pelik sedari tadi, sekarang sudah lebih ringan dan tenang.


Seandainya saja Bima juga ada bersamanya disini. Pastilah hatinya jauh akan lebih legah lagi. Disaat seperti ini dia benar benar butuh dukungan dan teman.


Waktu dua jam begitu lambat berjalan. Tiga orang tadi duduk menunggu dalam diam. Masing masing tenggelam dalam pikirannya sendiri.


Lalu Jaka mulai terlihat mengantuk. Marla yang medapati itu timbul kasihan, tapi segan untuk mengusik. Hatinya tergugah rasa terimakasih yang dalam untuk laki laki tampan berkulit putih itu.


Seandainya saja mereka bertemu lebih cepat, mungkinkah romansa bisa muncul diantara mereka ? "Ah..., sadar Marla. Kamu sudah punya Bima." Marla menepuk jidatnya sendiri. Menghalau pikiran barusan dari benaknya.


"Keluarga Bapak Togar ?" Pengumuman dari ruang pemulihan menyadarkan mereka dari lamunan.


"Keluarga Bapak Togar, ditunggu di ruang pemulihan." Marla bergegas bangkit menuju kesana.


"Eh..., Kak Marla." Aisyah junior Marla dulu di ruangan kaget saat Marla masuk.


"Iya. Tadi keluarga Togar dipanggil?"


"Oh..., siapa kakak ini ?"


"Bapak saya Is."


"Oh iya..., aduh maaf kak. Is ga tau."


"Ga apa apa. Kenapa ya dipanggil ?"


"Ini kak, kan mau dipindah ke ruangan. Biasanya kami akan jelaskan keadaan pasien dulu sama keluarga sebelum dipindahkan."


"Oh...." Marla sempat khawatir ada apa apa.


Ketika dibawa ke ruangan Togar sudah sadar penuh. Sakit luka operasi mulai dia rasakan. Beberapa kali sempat meringis sepanjang jalan pengantaran ke ruangan.


Rohulina yang berjalan mengikuti di belakang brankar pengantaran suaminya, mulai merasa tenang. Situasi mencekam tadi sudah berlalu. Semoga setelah ini suaminya bisa pulih dengan cepat. Harapnya dalam hati.


Sebelumnya Marla sudah meminta tolong agar ayahnya bisa dirawat diruangan tempat dia bekerja. Berharap dia bisa lebih detail memantau tentang keadaan ayahnya. Pun bu Hilda sudah memilihkan ruangan yang nyaman untuk ayahnya bisa dirawat.


Karena masih banyak kamar lain yang kosong, khusus kamar Togar, ranjang pasien yang lain dibiarkan kosong, agar ibunya Marla bisa istirahat dan berbaring selagi menjaga.


"Besok gimana dinas kamu La ?" Lili teman dinasnya bertanya memastikan.


"Besok aku mau ijin Li. Hari ini aku benar benar lelah. Ga sanggup kalau harus dinas pagi."


"Sudah ngomong sama bu Hilda?"


"Sudah. Tadi pagi aku sudah ijin. Kalau kira2 keadaan bapakku stabil, lusa aku kayaknya bisa dinas."


Lili mengangguk angguk mengerti. Itu artinya dinas pagi mereka besok akan kekurangan satu personil.


Marla membolak balik catatan status ayahnya. Kesimpulan saat ini, *prognosis ayahnya bagus. Tak ada yang terlalu mengkhawatirkan. Tinggal menunggu 1x24 jam kedepan. Bila terlewati dengan baik tanpa gejala tambahan, artinya kemungkinan sembuh akan lebih cepat.


Sekarang, setengah dari ketakutan Marla sudah berkurang. Beruntung sekali ia memahami fakta medis, dengan begitu akan lebih mudah mengambil langkah selanjutnya.


*prognosis : prediksi medis mengenai perkembangan kondisi pasien.