MARLA

MARLA
Cinta Untuk Marla 2



BIMA


Pagi ini selesai sarapan Marla sudah muncul di ruangan rawatku. Dengan rantang di tangan.


"Pagi......,"sapanya ramah. Membangunkan Hans yang kembali tertidur di sofa.


"Ini aku bawa sarapan. Bang Hans belum sarapan kan ? Masakan rumah bang. Kalo ga enak jangan di ledek ya. " Kata Marla sambil menyerahkan rantangnya ke arah Hans.


"Buat aku ga ada ?" Tanyaku cemburu.


"Loh....,bukannya dapat sarapan dari sini ?"Tanya Marla bingung.


"Porsinya sedikit, kurang mengenyangkan." Kataku sendu.


Hans yang melihatku tiba tiba manja dan ke kanak kanakan, hanya senyum senyum dibelakang Marla.


"Oalah.......,itu di bagi dua deh. Aku buat lebih memang. Semoga cukup." Marla menunjuk ke arah rantang yang baru diserahkan nya.


Pagi pagi dapat kunjungan dari yang tercinta rasanya benar benar luar biasa. Aku bayangkan seandainya dia resmi jadi pacarku pasti akan lebih luar biasa lagi.


Ada hikmah yang bisa kunikmati dari kabar buruk kecelakaanku ini. Setidaknya aku dan Marla bisa lebih sering ketemu. Meski hanya sebentar sebentar saja, cukuplah mengobati riduku. Terkadang Marla masuk ke ruangan rawatku mengganti cairan infus, menyuntikkan obat, memberikan obat makan atau mengukur tekanan darahku.


Saat Marla menyentuh tanganku untuk memeriksa tekanan darah, jantungku berdesir lembut, detaknya berpacu lebih cepat. Apakah Marla tau itu ? Entahlah.


Aku mulai jenuh dan tak nyaman berada di tempat tidur. Terutama karena semua harus aku lakukan di tempat tidur termasuk BAK dan BAB. Kata dokternya tadi, aku belum bisa turun tempat tidur. Ada retak di bagian tulang kering kakiku ,retak di tulang bahu dan lengan atasku. Jadi disarankan tunggu 1 minggu baru latihan pakai penyanggah.


Untungnya Marla beberapa kali menjenguk ke ruangan rawatku, saat dia sedang tak sibuk. Itu benar benar sangat menghiburku.


Setelah 1 minggu harus ditempat tidur, akhirnya hari ini aku mulai jadwal terapiku. Lalu latihan menggunakan penyanggah. Beberapa kali Marla mendampingi sesi latihan dan terapiku. Ada rasa canggung saat aku harus bertopang dengan menggenggam tangannya, tapi harus kuakui aku justru menyukainya.


Marla benar benar bekerja seprofesional mungkin. Saat kami saling bersentuhan, saat tak sengaja saling menatap, selalu ada senyum diwajahnya menyemangatiku. Aku bisa merasakan ketulusan dari setiap bantuannya. Sungguh aku terpukau dengan kebaikan hatinya. Ohhh Tuhan......, betapa kumengasihi perempuan ini, takkan kusakiti dia. Please Tuhan, ijinkan aku memilikinya. Begitu doaku di dalam hati.


Pekerjaan yang kemarin tertunda diselesaikan oleh Hans. Mulai dari mengirimkan barang barang proyek ke kota S, memesan tukang, sampai mengawasi pekerjaan di lokasi proyek. Sementara Hans mengurusi pekerjaan. Aku minta tolong Lexi menemaniku di Rumah Sakit.


Sampai pada satu hari menjelang siang, 2 orang muncul di ambang pintu masuk ruangan rawatku. Itu Lina dan Desy.


"Aduh Bima.......,kok bisa sampai begini ?" Desy menyerbu ke arahku, memelukku dan memegangi tanganku.


Aku kaget dengan sikap Desy itu sekaligus merasa tidak nyaman. Dan lebih tidak nyaman lagi ketika aku melihat Marla berdiri di ambang pintu, menyaksikan Desy memelukku. Marla yang berdiri di sana dengan talam perkakas pengganti perban diam terpaku memandangiku, lalu berbalik badan dan keluar. Aku sempat melihat raut kecewa di wajahnya, tapi aku tak bisa berbuat apa apa.


Tak lama kemudian teman Marla yang masuk mengganti perbanku. Aku langsung mengerti maksudnya. Pasti Marla sudah salah faham lagi. Dalam hati aku merasa bersalah jadinya.


Keadaan itu membuatku jadi malas bicara, tak terlalu menggubris kehadiran Lina dan Desy. Menjadi sangat tak nyaman dengan kehadiran mereka.


"Kok bisa Bim. Gimana ceritanya ?" Tanya Lina kemudian.


Aku menarik kasar tanganku dari genggaman Desy. Sengaja menunjukan kepadanya bahwa aku tak suka dia perlakukan begitu, apalagi berpura pura mesra padaku.


Kuceritakan kronologisnya singkat. Kubilang bahwa aku sedang menuju ke tempat Marla karena janji makan malam. Aku bilang bahwa Marla yang sudah menyelamatkanku dan membawaku kemari.


"Ya udah aku akan temani kamu di sini". Kata Desy spontan. "Hari ini dan besok aku libur kok. Senin aku akan minta ijin." Katanya tanpa diminta. Seolah tak mau perduli dengan ceritaku tentang Marla.


Aku ,Lina dan Lexi saling berpandangan. Lalu cepat aku menolak.


"Ga usah Des, Hans ada kok menemani. Lagian kalo Hans sibuk , aku bisa ditemani Lexi. "Kataku menolak.


"Enggak Bim, aku tetap akan temani kamu di sini. "


Desy bersikukuh dengan nada meninggi.


Aku yang tau wataknya hanya diam dan tak mau berdebat lagi. Aku tak ingin dia tiba tiba menggila dan teriak teriak di ruanganku.


Dalam hati aku seperti menyesali, kenapa bisa sampai suka dengan perempuan ini. Arogan, sombong, egois dan kekanak kanakan. Apa sebenarnya yang aku suka darinya dulu? Aku sendiripun tak tau. Aku memejamkan mataku meredam kesal. Berharap Desy segera pergi. Mengabaikan semua komunikasi yg ingin dia bangun denganku.


________________


Senin pagi ini Hans harus berangkat ke kota S. Memastikan barang barang yang dikirim ke sana sampai dengan aman. Sekaligus meninjau lokasi tempat proyek. Kalau sempat Hans dan beberapa pekerja akan mulai pengerjaan dasar dulu. Besok pagi Hans akan pulang, karena pengerjaan inti akan menunggu furniture selesai dikerjakan.


Sementara Hans ke proyek, Lexi menjagaku di Rumah Sakit dengan Desy. Aku tak menyangka dia serius dengan ucapannya. Meski selalu aku abaikan. Pagi - pagi benar dia sudah datang tadi, membawa sarapan untuk Lexi dan buah untukku.


Aku semakin merasa tidak enak dengan ini semua. Ditambah Marla benar - benar tidak pernah muncul lagi di ruanganku setelah kejadian kemarin.


Beberapa kali aku mencoba menghubungi ponselnya tapi tidak diangkat. Aku mengirim pesan tapi tidak dibalas, bahkan tidak dibaca sama sekali.


Jelas jelas Marla menghindariku.


"Besok Hans sudah pulang Des, kamu ga perlu datang jaga di sini lagi."


"Ga apa apa kok Bim. Aku bisa jaga dengan Hans disini. Kan bagus Hans ada teman ngobrol kalau kamu istirahat." Dia masih bersikukuh.


"Des, ga perlu sampai begini. Aku tidak nyaman kamu ada di sini. Ga usah berpura pura baik padaku. Aku tidak suka kamu ada disini ." Tolakku dengan tegas.


"Kenapa ? Karena Marla ? Apa kalian pacaran ? Enggak kan ? Apa bedanya denganku ? Asal kamu tau, aku ga berpura pura baik, Aku hanya berusaha melakukan yang terbaik." Katanya mulai sengit.


"Jangan membawa bawa Marla dalam cerita ini. Sejak lama, sudah tidak ada lagi perasaanku yang tersisa untukmu. Aku sudah terlalu lelah memahami kamu. Sekarang aku justru merasa sangat tidak nyaman dengan sikap kamu. Jadi 'please' ,jangan seperti ini. Apapun maksud dan rencanamu, kalau itu tentang aku dan kamu, tolong berhentilah. Tidak ada harapan untuk kita berdua." Kataku tegas.


Lexi yang mendengar itu memilih diam sambil melihat ponselnya. Seolah olah dia mengabaikan perdebatan kami.


"Hhhh, kamu hanya mencari alasan ..........,pasti karena Marla ?!!"


Serangnya sinis.


Aku menggeleng putus asa. Sepertinya Desy tidak menerima penjelasanku.


"Nanti sore aku akan datang lagi." Katanya lagi sebelum berlalu.


Aku menghela nafas menahan kesal. Apakah yang aku ucapkan kasar ? Entahlah. Tapi itu fakta. Fakta kalau saat ini aku memang tidak punya perasaan apapun dengannya lagi. Hanya ada Marla di sana.


Lexi yang sejak tadi hanya jadi pendengar, seperti mengerti isi hatiku.


"Menurutku Bim, Desy hanya akan berhenti ketika kamu memastikan hubunganmu dengan Marla. Saat ini kamu sedang di zona abu abu. Dengan Desy tidak, dengan Marla juga tidak. "Lexi mendadak bijak. Lalu dia melanjutkan. "Aku bisa mengerti kenapa Marla menghindarimu Bim. Seandainya aku jadi dia, mungkin aku akan melakukan hal yang sama. Dia tidak mau menjadi orang ketiga diantara kamu dan Desy. Meskipun kamu bilang kalian tidak ada hubungan apa apa. Tapi Desy berfikir lain. Coba kamu pertimbangkan lagi. "


"Lex......,aku juga mau hubungan kami jelas. Tapi aku ga tau hati Marla. Dia suka aku atau tidak, aku ga tau. "


"Ya kamu tanyalah Bim......."Lexi meledek.


"Kalau kamu berharap Marla akan ngomong, dia suka kamu, itu ga akan terjadi coy......"


"Perempuan kan gengsi mengakui perasaan. Kecuali si Desy ini mungkin. Udah ga tau malu lagi kayaknya dia Bim. "


Aku hanya tertawa kecil menanggapi. Sebenarnya apa yang Lexi bilang benar adanya. Tapi aku terlalu takut. Aku takut Marla menolakku. Takut setelah aku sampaikan perasaanku dia akan menjauhiku, menjaga jarak dariku. Aku tidak siap dengan penolakannya.


________________


Hari ini aku terapi dan latihan lagi. Saat aku keluar dengan kursi roda, menuju ruang terapi, sekilas aku melihat Marla di meja perawat. Berpakaian dinas khas rumah sakit tempatnya bekerja. Dia cantik dengan seragam dinas itu. Hatiku senang melihatnya, meski dia tidak menyapaku, bahkan tak menolehku saat aku melintas.


"Apakah dia marah padaku ? Atau bencikah dia padaku ?"Berbagai pertanyaan bermunculan di kepalaku.


Hans yang mendampingiku sejak tadi memperhatikan. Aku terlihat tak bersemangat, dan kurang konsentrasi selama terapi.


"Bim kok melamun ?" Tanyanya tiba tiba.


"Mmmm.....??" Aku yang ditanya tiba tiba balik bertanya .


"Dari tadi kamu melamun. Pelit bicara. Biasanya kamu selalu bertanya tentang proyek, kamu selalu nanya detil sekali. Sejak aku sampai di sini kamu ga ada nanya. Kamu kenapa ?"


"Aku mau istirahat...,mau cepat cepat keluar dari Rumah Sakit ini. " Kataku tidak menjawab pertanyaan itu. Memilih membaringkan diriku di tempat tidur dan menarik selimut.


______________


Hari ini dokter sudah mengijinkanku pulang, dengan catatan harus memakai penopang selama 1 bulan. Ternyata retak di kakiku lumayan. Dokter menganjurkan kontrol kembali minggu depan.


"Makasih dokter, nanti obat obatnya gimana dokter ? " Tanya Hans sebelum dokter berlalu keluar ruangan.


"Saya akan buatkan resepnya nanti ya. Saya titip sama suster."


"Baik dokter, terimakasih."


Hans berbincang dengan dokter yang merawatku sejenak. Lalu mengikutinya keluar ruangan. Menerima resep obat untuk pulang. Lalu kembali ke kamar.


"Gimana ?" Tanyaku datar.


"Udah ok. Sedang dihitung administrasinya. Nanti katanya dikabari kalau sudah selesai. "


"Kok bukan Marla yang menemani dokter visite kamu ?" Tanya Hans mulai menyadari ada yg tak biasa. "Ada apa kamu dan Marla ?" Ditanya begitu, hatiku terasa ngilu. Tapi aku malas menjelaskan.


Hans yang melihat gelagat tak senangku ,memilih diam dan tak membahasnya lagi.


Aku berjalan dengan penopangku ke arah tempat tidur. Mau baring sebentar sebelum pulang. Seharusnya aku senang sudah bisa pulang. Tapi saat ini aku serius sedih. Seandainya aku bisa berpamitan dengan Marla.


Sepertinya Hans membaca wajah sedihku. Dia keluar ruangan. Aku tak tau untuk apa. Tapi tak lama dia masuk lagi, lalu bilang, "bentar lagi Marla kemari."


Aku yang memang berharap bertemu Marla, bersorak girang dalam hati.


"Ngapain ? Jadi ngerepotin. " Kataku berbohong.


Bahasa yang keluar dari mulutku malah sebaliknya.


Tapi Hans yang begitu kenal aku hanya tersenyum dan menggeleng lucu.


"Yah, kita pamitanlah sama dia. Itu sopan santun namanya. Kan dia yang bantu kamu."


Hans menjawab bijaksana, tanpa mempermalukan hatiku.


Tak lama berselang Marla masuk ke ruang rawatku. Masih dengan senyum ramahnya. Tapi justru senyum ramah itu seperti bilah pisau yang menyayat hatiku. Kenapa dia masih bisa tersenyum. Akan lebih baik seandainya dia marah saja, setidaknya rasa bersalahku sedikit berkurang.


"Hai bang Hans, bang Bima.......,bentar lagi pulang kan ya ?" Marla menyapa dengan ramah. Tak ada yang berubah dari sikapnya. Tetap sopan dan ceria menyapa kami. Aku bertanya dalam benak, terbuat dari apa hati gadis pujaanku ini. Apakah dia baik baik saja ? Atau berpura pura baik baik saja.


"Iya La.....,kita mau sambil pamitan. Ga enak kalo ngomong di sana. "


"Mungkin Bima ada mau bilang sesuatu ?" Hans mendadak menunjukku.


"Ah enggak ada. Makasih untuk bantuannya La." Aku kembali mengeluarkan kalimat yang tak kuharapkan. Padahal banyak pertanyaan yang ingin kutuangkan. Apa kabar kamu La ? Apakah kamu baik baik saja La ? Kamu marah ya La ? Kok teleponku tidak diangkat? Kok pesanku tidak dibalas ? Kamu menghindariku ya La ?


Pertanyaan pertanyaan itu hanya menumpuk di fikiranku.


"Sama sama bang. Semoga cepat pulih ya bang Bima. "Marla lembut mejawab.


Aku malah hanya mengangguk tanpa kata kata.


"Aku balik kerja dulu ya bang. Maaf nanti tidak bisa antar. " Marla selesai berbasa basi dan keluar. Meninggalkan aku yang merasa bodoh karena tidak bisa mengatakan apa apa.


Harusnya tadi aku minta maaf, karena batal ajak dia makan malam. Atau aku bisa saja buat janji makan malam lagi dengan dia. Atau aku bisa tanya aja kenapa teleponku tak pernah diangkat atau pesanku yang tidak dibalas. Atau apalah yang bisa aku bicarakan.


Faktanya aku malah mendadak bodoh dan bersikap bodoh.