
Marla bergegas membereskan barang barang keperluannya yang akan dibawa pulang. Sehabis dinas malam, ia sengaja berkemas dari Rumah Sakit tempatnya bekerja. Terlalu jauh dan makan waktu kalau ia harus berangkat dari kost-an.
"La.., ingat, libur kamu hanya 6 hari ya, jangan ditambahin lagi. begitu masuk kamu langsung dinas malam ." Kepala ruangan mengingatkannya lagi.
"Siap bu. Terimakasih ya bu."
"Mmmmm." Hilda mengangguk.
"Saya permisi bu."
"Iya. Titip salam buat bapak ya, semoga cepat sembuh."
"Amin. Makasih bu."
Marla beranjak pergi dengan beberapa tas tentengan bergelantung di kedua lengannya.
Ketika memanggil angkot Marla sedikit kepayahan mengulurkan tangan. Untung saja ada keluarga pasien yang membantunya.
"Makasih bu." Marla menunduk ramah menunjukkan terimakasih.
"Sama sama suster. Hati hati barang bawaannya." Wanita paruh baya tadi mengingatkan. Marla kembali menggangguk sambil bergegas naik ke atas angkot.
"Pinggir bang." Marla turun dari angkot tepat di depan hotel bintang 3 tak jauh dari Rumah Sakit tempatnya bekerja. Sosok tampan bergegas menyambutnya dengan senyuman dan bantuan. Segera tas tentengan tadi berpindah tangan ke lengan yang lebih kekar dan kuat.
"Kamu nungguin aku disitu dari tadi Ja ?"
"Mmm." Yang ditanya mengangguk riang.
"Aduhh....,makasih ya. Aku ga enak jadinya. Udah banyak repotin kamu."
"Ga merasa repot kok." Jaka melebarkan senyumnya, menunjukkan bahwa dia melakukan dengan senang hati.
"Bentar aku bayar kamar dulu ya." Marla akan menuju meja resepsionis hotel.
"Oh ga usah, tadi sudah aku bayar."
"Hah...., serius?"
"Iya. Serius."
"Hmmm..." Langkah Marla berhenti. Sorot matanya menatap Jaka penuh sungkan, tak enak hati rasanya.
"Ga apa apa kok La. Serius." Bahu kekar Jaka menyenggol lengan Marla. "Oh iya, kamu tunggu di sini ya, aku mau antar ini dulu ke mobil, semalam kuparkir di basement soalnya."
"Hah... Kok kemobil kamu ?"
"Terus diantar ke mana ?"
"Yah.., ke mobil yang aku minta di rental dong. Kemarin kan aku minta tolong dirimu carikan rental mobil sekalian sopirnya?"
"Lah, iya. Udah ada kan? Mobilnya dan supirnya." Jaka menunjuk dirinya sendiri sebagai supir mobil yang dirental.
Marla melongo sesaat, lalu...,"ha ha ha..., ya ampun Ja." Ia tertawa lucu sambil tertunduk.
"Udah ya, aku antar ini dulu. Berat tau." Jaka bergegas masuk lift.
Marla hanya tertegun mengikuti arah punggung tegap itu menghilang dari pandangan. Lagi..., perasaan ini semakin sungkan. Sekelebat harap muncul tiba tiba. Seandainya Bima ada di sini. Seharusnya Bima yang ada di sini.
Marla menggelengkan kepalanya pelan, seolah mengusir pengharapan yang tak mungkin itu. Bima berada ratusan kilometer jauhnya saat ini, bagaimana mungkin dia bisa datang. Langkah Marla lalu menaiki anak tangga menuju lantai dua, kearah kamar yang dipesan atas namanya.
"Ting nong. Ting nong." Marla menekan bel kamar beberapa kali, sampai wajah cantik paruh baya muncul di ambang pintu.
"Kau rupanya nang. Mamak tadi lagi mandikan bapakmu, makanya ga bisa cepat buka pintu."
"Oh iya.., bapak udah mandi rupanya."
"Sudah boru. Biar pas kau datang bisa langsung ganti perban."
"Isss... Mantap kali ide bapakku inilah." Marla mengacungkan jempolnya. Yang dipuji senyum senyum tertahan.
Tangan Marla menekan dan membersihkan luka bekas operasi itu dengan telaten. Melihat seluruh permukaan kulit, memastikan luka tidak bernanah atau infeksi. "Bagus kok pak lukanya sudah kering yang sebelah sini. Tinggal yang sudut ini saja yang belum."
"Benang jahitnya ga harus dibuka itu nang?"
"Enggak mak, benang yang ini langsung jadi daging, jadi bekasnya nanti hanya seperti garis saja kalau sudah sembuh."
"Ohhhh..." Ibunya mengangguk faham. Tangan dan pandangannya tak lepas dari suaminya.
"Ting nong." Bel kamar berbunyi lagi.
"Kayaknya Jaka itu mak."Marla sedang memakai barang2 steril, tak bisa menyentuh yang lain sebelum menyelesaikan urusan luka dihadapannya.
"Oh iya." Rohulina paham keadaan itu. "Sebentar ya pak." Ia meletakkan genggaman tangan suaminya perlahan, lalu pergi membuka pintu.
"Pagi nantulang." Suara ramah Jaka terdengar sampai ke dalam.
"Pagi pagi. Ayok masuk." Rohulina membuka lebar pintu.
"Pagi tulang."
"Pagi pagi. Duduk duduk Ja. Maaf ya lagi begini posisi tulang."
"Oh ga apa apa tulang. Ga apa apa."
Semua kembali fokus pada luka dan kegiatan Marla. Jaka datang mendekat, melihat luka yang sedang dirawat sekilas.
"Wah.., inilah enaknya punya anak perawat ya tulang. Ada yang urus kalau sakit."
"Ah.., ha ha ha." Togar tertawa sambil menahan sakit. "Iya. Kalau ga ada dia waktu tulang sakit itu, entah gimanalah tulang melaluinya. Kami ga ngerti apa apa tentang kesehatan ini. Ga kenal siapa siapa juga. Pokoknya pasti bingunglah waktu itu."
Jaka mengangguk angguk sepaham. Dadanya berdegup lembut, terasa hangat sampai memerahkan telinga. Kali ini cinta dari masa lalu itu telah bercampur dengan rasa kagum. Bukan lagi cinta pada Marla belia dengan rok warna biru. Atau cinta pada Marla yang menyayi diatas panggung begitu merdu.
Cinta Jaka yang ini semakin kuat dan bulat pada Marla yang sekarang. Sosok yang anggun sekaligus kuat. Pribadi lembut namun mandiri. Jaka tak bisa mengelak lagi dari debaran perasaan ini. Cinta yang penuh rasa kasih, ingin melindungi sekaligus memiliki.
"Jaka juga banyak bantu kemarin itu. Makasih banyak ya."
"Ah.., sama sama nantulang. Bukan hal besar kok nantulang. Marla yang urusin semua."
"Kamu sudah bantu hal besar nak Jaka. Kalau ga ada kamu yang antar, entah gimanalah saya jadinya."
"Iya. Untung saja Jaka yang antar. Nantulang ga tau jalan, ga kenal kota ini. Makasih ya Jaka."
"Iya tulang nantulang."
"Seandainya saja ada yang bisa kami buat membalas kebaikanmu ini."
"Ah.., ga usah tulang. Doakan saja aku dapat isteri perawat, biar kalau sakit ada yang urus."
"Ha ha ha ha." Tawa mereka pecah bersamaan.
"Marla ajalah. Ngapain cari lagi."
"Ah ha ha. Mana mau Marla sama saya nantulang."
"Iya La ?" Rohulina mengalihkan pandang ke arah Marla. Yang ditanya hanya senyum tak menanggapi.
"Marla pasti punya alasan mak." Togar memberi kode untuk tak mendesak Marla dengan pertanyaan itu. Ia menjaga harga diri putrinya didepan orang lain.
Marla tersenyum senang dengan pembelaan Togar ayahnya. Laki laki yang terlihat keras dan kaku diluar, namun lembut dan penuh kasih sayang di dalamnya. Marla merasakan perlindungan itu dari ayahnya, perlindungan yang sama yang juga didapatnya dari Bima.
Ah.., kenapa hatinya mendadak sendu setiap mengingat nama kekasihnya itu. Sosok yang sangat amat dia harapkan bisa hadir disetiap situasi seperti ini.
"Sudah pak. Sudah rapi. Tinggal kita lihat 3 hari kedepan, obat masih harus dimakan sampai 3 hari lagi." Marla memberi laporan hasil tugasnya.
"Makasih nang." Togar menepuk pundak putrinya. Marla yang sedari tadi berjongkok di samping tempat tidur, segera membereskan sisa sisa pekerjaannya.Togar memandangi wajah putrinya penuh rasa legah.
Putri sulung yang mirip dengannya itu ternyata sudah bertumbuh dewasa. Melihat Marla mampu mengatasi masalah besar seperti saat ini, membuat Togar tidak khawatir lagi. Ia yakin putrinya akan mampu menjaga dirinya dan mengambil keputusan terbaik dalam hidupnya ke depan.