MARLA

MARLA
Kepingan Yang Hilang



Marla selesai mandi, lalu memoles penampilannya berdandan cantik. Memakai riasan ringan di wajah dan perona bibir. Menggulung kembali rambut ikalnya yang masih basah dengan handuk berbeda. Kemudian menatanya dengan tampilan alami.


"La....,lebih cepat ya. Join udah datang jemput tuh."


Lina mengetuk pintu kamarnya memberitahukan.


"Oh iya. Ok, bentar ya. Tinggal pakai baju."


Marla membuka lemari memilih baju yang bagus untuk dikenakan. Matanya menangkap satu dress yang baru ia dibeli namun belum pernah dipakainya. Dress berwarna biru lembut bercorak pink dan ungu itu, terlihat padu di kulit kuning langsat milik Marla. Dia ingin tampil cantik saat bertemu Bima nanti. Pria yang telah bertahta di istana hatinya itu memang penyuka warna biru.


Senyum simpul menghiasi wajah Marla yang tampil cantik dengan riasan sederhana, membayangkan Bima akan senang melihatnya mengenakan dress warna biru kesukaan pria pujaannya itu.


Kemudian tangannya beralih ke meja di samping lemari, memilih aksesoris yang pas untuk paduan dress di badan dan sepatu hak hitam tak terlalu tinggi menunjang penampilannya. Sekali lagi ia memastikan tatanan rambutnya sebentar sebelum meraih tas tangan dan keluar menemui dua orang yang sudah menunggunya.


"Mmmmm....,cantik cantik."


Lina langsung memuji penampilan Marla sambil bertepuk tangan senang, yang disambut anggukan setuju dari Join.


"Yuk jalan......,Bima udah jalan juga katanya barusan. "


Join memandu kedua gadis cantik itu ke arah mobilnya terparkir. Lina memilih duduk di depan, katanya biar Join ga kayak sopir duduk sendirian di depan.


Join mulai melajukan kendaraan perlahan lalu semakin cepat diatas aspal hitam jalanan kota. Menghilangkan kesunyian dengan suara radio yang memutarkan tembang indah......


"Hokehhh.....,kali ini kita akan memutarkan lagu miliknya Bunga Citra Lestari featuring Ari **** 'Aku Dan Dirimu' yang sudah masuk tangga lagu teratas. Sekaligus sebagai penutup siaran tangga lagu kita sore menjelang malam hari ini. Jangan pindah siaran anda karena sebentar lagi akan ada rekan saya Bayu yang akan memutarkan tembang kenangan yang tak kalah manis . Saya Radika Putri undur diri dari ruang dengar anda semua. Sampai temu dengar kembali besok di gelombang yang sama.


Bye bye bye....."


Suara renyah penyiar radio perempuan ini terdengar familiar di telinga Marla, karena tetangga samping kamarnya sering memutar gelombang radio yang sama. Lalu lagu yang lagi hits itupun mengalun bersih memanjakan telinga.


*Tiba saatnya kita saling bicara


Tentang perasaan yang kian menyiksa


Tentang rindu yang menggebu


Tentang cinta yang tak terungkap


Sudah terlalu lama kita berdiam


Tenggelam dalam gelisah yang tak teredam


Memenuhi mimpi mimpi


Malam kita*


Marla bagai terhipnotis ketika musik mulai memasuki telinga. Segera suara merdu miliknya pun mengisi seluruh ruang yang tak luas itu. Mengimbangi suara penyanyi asli yang dihantarkan dari gelombang bernama radio.


Dua insan yang duduk di kursi depan menikmati suara merdu milik Marla melantun indah. Kedua sumber suara seperti perpaduan harmoni yang sempurna. Sementara Marla terus bernyanyi sambil memandangi jalanan diluar jendela, mobilpun melaju mendekati arah tujuan.


Sampai akhirnya penyiar di radio berubah menjadi Bayu, dengan suara berat terkesan maskulin, barulah mereka tiba di tempat tujuan.


Bima sudah sampai duluan, berdiri di parkiran dekat mobil mereka berhenti. Ketika mobil sudah terparkir sempurna, Marla, Lina dan Join keluar dan berjalan bersama dengan Bima memasuki restoran tempat mereka punya acara.


Ada sebuah panggung kecil di sana, sekaligus pemain musik 1 orang ditambah penyanyi 1 orang. Meja tempat mereka duduk tak jauh dari sana. Di meja paling depan sudah ada Hans dan Dina yang duduk di satu meja kecil.


"Hai..." Dina melambai dari arah sana.


"Loh....,hanya kita aja ya Lin ?"


Marla bingung karena hanya ada mereka berenam saja di tempat itu. Biasanya selalu ramai dengan muda mudi yang lain. Hanya ada tamu tamu lain yang tak dia kenali berada di tempat yang sama dengan mereka sekarang.


"Iya...,pada ga bisa mereka ikut, soalnya udah sempat buat acara di tempat lain."


"Ohhhh......"


"Kita duduk berempat aja di sini La...,biar rame."


Lina mengatur tempat duduk Marla menghadap ke panggung, duduk tepat di samping Bima.


"La suara kamu bagus, nanti nyanyi ya ? "


Tanpa menunggu persetujuan Marla, Join bejalan ke arah panggung membisikkan sesuatu di telinga MC sambil menunjuk ke arah Marla.


"Aduh....,aku udah lama ga nyanyi Lin.....,nanti suaranya ga bagus gimana coba ?"


Marla panik mendadak disuruh bernyanyi.


"Pasti bisa kamu....,kalau suara udah bagus, mau nyanyi dimana aja, kapan aja juga tetap akan bagus kok La. "


Lina memberi dukungan.


"Sana La, aku udah bilang sama MC nya."


"Nyanyi lagu apa ?"


"Lagu yang tadi kamu nyanyikan di mobil."


"Hah....??!!"


Sambil bingung Marla melangkah canggung ke arah panggung. Memandangi Lina Bima dan Join bergantian, berharap mendapat keyakinan.


Bima mengangguk meyakinkannya, tangan itu mengacungkan jempol memberikan dukungan.


Menyanyikan lagu BCL feat Ari **** itu bukan hal yang sulit buat Marla. Tapi tidak akan bagus bila dinyanyikan sendirian. Untungnya MC sekaligus penyanyi nya itu tanggap situasi, menawarkan bernyanyi duet dengannya. Marla serasa terselamatkan.


*Duhai cintaku...,sayangku


Lepaskanlah


Perasaanmu....,rindumu


S'luruh cintamu......


Dan kini hanya ada aku dan dirimu


Sesaat di keabadian*....


Ending lagu duet ditutup dengan epic dan sempurna. Tepuk tangan riuh terdengar, tak hanya mereka berenam yang bertepuk tangan .Pengunjung yang lainpun ternyata ikut menikmati duet epic barusan.


"Lagi lagi lagi lagi...."


Teriakan penonton meminta Marla bernyanyi lagi, seperti aksi penggemar sungguhan saja.


Marla menutup wajah menahan malu sekaligus terharu. Sudah sangat amat lama dia tak pernah lagi bernyanyi di atas panggung seperti ini. Sukacitanya meluap luap. Sanubarinya seperti menemukan kepingan yang hilang selama ini.


Wajah Marla menangkap sosok Bima yang bertepuk tangan memberikan dukungan dari kursi di depan panggung. Ia melambaikan tangan pada pria itu, sambil membisikan kalimat 'Thank you' yang kentara dari bibirnya. Bima hanya mengangguk, bagai mengerti bahasa tanpa suara barusan.


Entah kenapa Marla merasa semua hal baik mulai berdatangan di hidup nya sejak dia bertemu Bima. Semua sukacita ini, semua kebahagiaan ini dan semua kenangan indah ini seperti sengaja Tuhan kirimkan bersamaan dengan kehadiran laki laki bernama Bima.


Meski sering rasa takut itu datang kembali. Rasa takut kehilangan, rasa takut dikhianati lagi, rasa takut ditinggalkan, rasa takut tersakiti lagi, dikecewakan lagi. Marla benar benar tidak siap kalau harus mengalaminya lagi. Hatinya terlalu rapuh untuk bisa bertahan.


Bagaimanapun bagi Marla 'mencintai' masih semenakutkan itu. Rasa yang seharusnya membawa kebahagiaan, tapi baginya justru menyisakan kenangan kenangan pahit dan menyakitkan.


Seandainya saja sejak awal bertemu Bima, maka ketakutan itu pasti tak pernah ada. Luka luka yang menyakitkan itu pasti tak akan ada. Namun hidup harus terus berjalan, baik maupun buruk keadaan yang datang.


*Ucapkanlah kasih


Satu kata yang ku nanti


Sebab kutak mampu membaca matamu


Mendengar bisikmu


Nyanyikanlah kasih


Senandung kata hatimu


Sebab ku tak sanggup mengartikan getar ini


Sebab ku meragu kepada dirimu


Mengapa berat


Ungkapkan cinta


Padahal ia terasa


Mengapa berat


Ungkapkan cinta


Padahal dia terasa.....


Lagu 'Ada Cinta' milik Acha Septriasa itu mengalun merdu dari bibir Marla.


Bahasa lagu yang terlantun indah seperti mewakili perasaannya saat ini. Berharap Bima menangkap pesan yang terselip di dalamnya.


Saat lagu berakhir, Marla bergetar menahan haru. Kenapa lagu ini begitu menyentuh hatinya yang terdalam.


Namun tepuk tangan riuh yang terdengar mengisi seluruh ruang restoran bernuansa cafe itu, menyadarkannya dari nuansa sendu.


Marla tak lagi menutupi wajahnya, binaran sinar bahagia terpampang nyata di sana. Membiarkan dirinya menikmati suasana langka ini.