MARLA

MARLA
Gadis Yang Kurindukan



BIMA


Pagi ini aku bangun lama , semalaman aku tidur lelap sekali tak terganggu sedikitpun. Mungkin karena udara di kampung yang sejuk, membuat tidurku makin nyenyak. Atau memang karena aku lelah. Atau bisa jadi karena air nira yang lanjut kami minum dengan ayah Marla semalam.


Saat bangun, kulihat semua orang di rumah Marla sudah mengambil kesibukannya masing masing. Togar sedang memberi makan ternak di belakang rumah, ibunya melanjutkan tampian berasnya semalam yang belum kelar. Dita bersiap siap akan ke sekolah dan Marla bertugas memasak sarapan di dapur. Agak malu aku jadinya, karena bangun belakangan dan tak tau mau mengerjakan apa.


"Sarapan dulu."


Aku yang membereskan tempatku tidur, menoleh ke arah asal suara datang. Ternyata Marla yang bicara, sambil membentangkan tikar untuk tempat makan bersama. Seperti berbicara padaku, tapi tidak menghiraukan keberadaanku.


Ketika satu demi satu makanan dibawa dari dapur dan di sajikan diatas tikar, aromanya segera menyeruak memenuhi ruangan itu. Lapar perutku jadinya.


"Pak, Mak, Dit, makan !" Marla memanggil penghuni rumah untuk berkumpul sarapan, tetap tanpa memperdulikanku. Dita segera keluar dari kamar, dan ibunya menyusul menyahut dari samping rumah. Namun ayahnya tidak menyahut, aku inisiatif ke belakang menjemput. Mungkin saja beliau tidak mendengar, pikirku.


"Tulang , mari sarapan." Panggilku ketika menemukan sosok itu dibalik tumpukan goni pakan untuk ternak.


"Oh...,iya iya. Sebentar aku siapkan ini dulu." Kepala beliau menyembul melihatku dari balik tumpukan goni. Benar saja, beliau memang tidak dengar Marla memanggil.


Aku bergegas membantunya mengangkat satu goni dedak berukuran besar, untuk dituang ke dalam drum tempat mencampur makanan ternak.


"Ga seligat dulu lagi badan ini." Beliau membiarkan saja aku membantunya.


"Iya ya tulang."


"Punggung dan pinggang ini sudah gampang sakit sakit. Sebisanya ajalah kukerjakan. " Togar mengambil kursi kayu di dekat pintu, dan duduk disana. Mungkin ingin meluruskan punggungnya yang katanya sakit.


Aku lalu ambil alih, membantu memasukan beberapa ember ubi yang sudah di rebus, batang dan daun ubi rambat yang sudah di potong - potong, lalu 2 ember air panas, ditambah 2 centong sisik ikan kedalam drum. Semuanya sudah ada di situ, aku hanya tinggal memasukkan saja. Togar lalu bangkit dari duduknya dan mulai mengaduk isi drum dengan kayu panjang mirip dayung sampan, agar tercampur rata.


Berjalan ke samping kandang ia lalu mengambil beberapa ember tempat mengangkat makanan ternak. Menceduk campuran itu dan mengisinya ke dalam ember. Aku bergegas mengangkat 2 ember sekaligus dan menuangkan nya ke dalam palungan tempat makanan ternak.


Togar membiarkan saja aku melakukannya sendiri, sambil memandangi dan memberikan instruksi seperlunya.


"Bilas saja embernya dan letak di dekat pintu ini."


Begitu beliau memberi perintah.


Kami membersihkan kaki dan tangan di kamar mandi, setelah selesai memberi makan ternak ,membilas ember ember yang dipakai, dan menyusunnya rapi di samping pintu kandang.


Beliau orang yang telaten dan rapi, terlihat dari belakang rumah yang tertata ini. Meskipun ada beberapa jenis ternak yang dipelihara di belakang rumah , tapi berada di tempatnya masing masing dengan teratur. Tidak berantakan seperti rumah - rumah kampung pada umumnya.


Kemudian kami datang bergabung ke ruang tengah, dimana makanan telah tersaji. Hanya tinggal kami berdua yang ditunggu.


"Aku langsung pergi ya pak, takut terlambat nanti." Dita yang sudah makan duluan segera beranjak dan mengambil tas dari atas kursi tamu. "Pergi ya bang," pamit Dita dan berlalu. Aku hanya mengangguk, etah sempat dia lihat atau tidak.


Marla menyendok nasi kami satu per satu, diberikan kepada Togar, Rohulina , lalu padaku, masih tanpa melihatku.


"Jadi hari ini mau ikut lagi ke ladang nak Bima ?"


Di sela sela obrolan saat makan, Togar menawarkanku pergi ke ladang lagi.


"Aduh, mohon maaf tulang, mungkin lain kali kalau aku datang ke sini lagi. Tapi hari ini aku harus balik ke kota . Kami ada kerjaan proyek tulang. "


"Oh iya ya. " Togar melanjutkan makannya.


Akupun sama, kembali fokus pada makanan di piringku, sambil sesekali melihat Marla yang masih tetap menghindari tatapanku.


Menu yang kumakan sebenarnya sangat enak. Belum pernah aku makan masakan rumahan begini. Sederhana tapi benar benar memanjakan lidah. Mungkin karena belum berbaikan dengan Marla mempengaruhi juga indra pengecapanku. Seperti ada yang kurang rasanya.


"Nanti kamu temanilah Bima ke stasiun bus ya La."


Setelah selesai makan Togar memberi perintah, sambil beranjak ke dapur mengambil perlengkapan yang mau dibawa ke ladang.


"Iya pak."


Meskipun Marla menjawab seadanya saja, tapi aku segera bersorak bahagia dalam hati. Dengan begitu, ada kesempatan buatku dan Marla berkomunikasi.


Rohulina mengikut dari belakang, menghantarkan suaminya sampai ke pekarangan depan. Kemudian terdengar suara sepeda motor yang semakin menjauh dan hilang.


"La.....,mamak istirahat sebentar di kamar ya. Kalau kalian keluar nanti jangan lupa kunci pintu belakang."


Rohulina masuk kerumah , langsung ke kamar.


"Iya mak."


Lagi Marla hanya mengiyakan sambil membereskan piring dan gelas kotor bekas makan tadi, lalu membawanya ke dapur.


Aku menyusul dengan membawa panci nasi, dan teko tempat air minum ikut masuk ke dapur. Kuletakkan di atas meja makan yang ada di dapur.


"La...,habis itu kita bicara ya?"


Kulihat Marla sedang mencuci piring, berharap seusai mengerjakan tugasnya itu dia bisa memberikan waktunya untuk ngobrol denganku sebentar. Menyelesaikan urusan hati yang belum kelar.


Dia hanya diam, tidak menjawab dan tak menoleh sedikitpun.


Kutunggui dia selesai, sambil aku duduk di kursi makan kecil dekat pintu masuk ke dapur dan memeriksa pesan yang masuk ke ponselku. Jariku sudah asik mengutak atik membalas pesan, sampai Marla selesai dengan pekerjaannya.


Aku yang sadar akan ditinggal segera bangkit dan kembali meminta waktunya.


"Bisa ngobrol kan La ?"


Dia hanya melengos saja, melewatiku.


"La...., please, "ucapku cepat menghentikan langkahnya.


"Sebentar lagi aku pulang ke kota La, aku berharap sebelum pergi kita bisa berbaikan . Maksudku bisa berteman baik lagi." Menyadari kecanggungan kalimatku, kuralat kata 'berbaikan' itu, kesannya seolah kami sudah berpacaran.


Sebentar dia hanya diam, mungkin sedang berpikir merangkai kata.


"Abang mau pulang jam berapa nanti ?"


Akhirnya dia bertanya sambil masih membelakangiku.


"Tergantung jam berapa pembahasan kita selesai. "


"Kita ngobrol di warung depan saja. Mamak lagi dikamar, ga enak kalau dia dengar."


Putusnya kemudian.


"Ok."


"Sebentar aku bereskan kamar dulu."


"Ok, aku tunggu di sana ."


Kuhela nafas legah, seiring Marla masuk ke kamar. Akhirnya dia mau kuajak bicara.


Kemudian aku melangkah keluar rumah, melewati pekarangan luas , menuju warung tanpa dinding itu. Hanya ada dua baris kursi bambu panjang dan satu meja di sana. Kursi yang saling berhadapan itu, terpisah oleh meja yang sama panjang.


Aku lalu duduk di kursi warung penjual gorengan yang memang belum buka. Biasanya ibu itu mulai jualan siang menjelang sore sampai malam. Ayah Marla sempat cerita.


Ketika duduk menunggu, mataku segera dimanjakan oleh hamparan hijau bercampur kuning dan oranye kebun jeruk di seberang jalan. Posisinya yang lebih rendah dibanding tempatku duduk ini semakin membuatku leluasa melihat lebih jauh. Pemandangan berlatar gunung seperti ini, lagi lagi tak akan kutemui di kota tempat tinggalku.


Kubiarkan angin bercampur embun pagi menyapu wajahku, terasa segar saat mengenaiku. Sesekali kenderaan sederhana melintasi jalan di hadapanku.


Betapa damainya suasana ini kurasakan. Kupejamkan mata ini, membiarkan inderaku yang lainnya bekerja maksimal, seolah ingin merekam suasana ini dengan baik. Suara suara burung yang masuk di telingaku, hangat matahari bercampur angin berembun yang menerpa kulitku, aroma pedesaan yang begitu khas dan kaya oksigen.


Ingin kusimpan semua ingatan ini. Ingatan tentang kampung Marla. Kusimpan sebagai kenang kenangan yang berharga. Berharap bisa kuputar ulang dalam memoriku saat aku merindukannya.


Yah....,gadis itu. Gadis bernama Marla. Entah kenapa aku masih saja merindukannya, meskipun dia ada di depan mata. Perasaan aneh ini, benar benar sulit kupahami.