
Bima berkali kali menghubungi kekasihnya. Tapi berkali kali juga tidak diangkat. Mengirimkan pesan, tapi belum dibaca. Bahkan sekarang nomor Marla tak bisa dihubungi lagi.
Perasaan khawatir dan bertanya tanya timbul didalam hatinya. Marla tak pernah seperti ini sebelumnya. Biasanya akan balik menelepon atau segera membalas pesan, menjelaskan situasinya.
"Tuuut, tuut, halo." Suara Lina yang mengantuk menyahut di seberang sana.
"Hai Lin...,maaf mengganggu malam malam. Apa Marla tidur di rumah kamu ?"
"Mmm...? Enggak. Kenapa ?"
"Dari tadi pagi aku telepon ga diangkat, pesanku juga ga dibalas. Ini barusan ponselnya sudah tidak bisa dihubungi lagi."
"Ohhh..., kirain ada apa." Lina yang sangat kenal Marla dengan santai menganggapi. Yang dia tahu sahabatnya itu malah sering sengaja mematikan ponsel kalau sudah kelelahan atau sedang sibuk bekerja.
Marla bilang biar ia bisa istirahat atau bekerja tanpa gangguan. Kalau keadaan darurat atau penting, Lina akan menelepon Rumah Sakit tempat Marla bekerja. Atau kalau tidak dinas, berarti dia ada di kost-nya tertidur pulas.
"Maksudnya?" Bima bertanya bingung.
"Coba kamu telepon ke Rumah Sakit. Kalau dia ga ada berarti dia itu tidur di kostan. Bentar aku kirim nomor Rumah Sakitnya. Nanti kalau sudah terhubung minta sambungkan ke ruang rawat lantai 4."
"Oh gitu. Ok. Makasih Lin."
Bima menatap ponselnya dengan bingung, meski panggilan sudah berakhir. Ternyata masih banyak hal yang Bima harus tau tentang pacarnya. Dan kebiasaan yang satu ini contohnya.
Bima mendial nomor yang barusan Lina kirimkan. Menunggu panggilan tersambung, sampai mencoba dua kali. " Medica Hospital Indonesia, selamat malam. Ada yang bisa kami bantu?" Panggilan ketiga akhirnya tersambung.
"Ya halo, boleh tolong sambungkan ke ruang rawatan lantai empat kak ?"
"Ok baik. Sebentar kami sambungkan ya pak."
Lalu terdengar lagu Mars Rumah Sakit menunggu panggilan tersambung ke ruang rawat lantai empat.
"Selamat malam ruang rawat lantai 4."
"Selamat malam bu, Marla ada?"
"Suster Marla maksudnya pak?"
"Iya benar."
"Dengan bapak siapa saya bicara?"
"Oh iya, saya Bima."
"Suster Marla sedang diruangan, perlu saya panggilkan?"
"Oh tidak usah bu, nanti takut mengganggu. Saya hanya khawatir karena ponselnya mati."
"Oh...,baik pak. Apa ada pesan, nanti saya bantu sampaikan."
"Tidak ada bu. Terimakasih. Selamat malam."
"Selamat malam."
Bima menutup panggilan, lalu tersenyum lucu memandangi layar ponselnya. Segitu khawatirnya dia tadi, ternyata yang di khawatirkan anteng di tempat kerjanya. Dia simpan ponsel kedalam saku bajunya. Sekali lagi ia tersenyum, merasa lucu sendiri sambil menggeleng gelengkan kepalanya.
Bima memandang keluar jendela, dari ruang kelas di lantai tiga gedung sekolah. Ruangan itu dipakai untuk tempat barang barang proyek disimpan. Mereka sekaligus tidur di sana untuk menjaga barang tidak dicuri, karena sekolah tidak punya satpam untuk jaga malam.
Hanya ada kegelapan di sekeliling mereka. Namun sinaran lampu rumah warga yang jauh disana, terlihat cantik menghiasi kegelapan. Bima yang berbaring diatas meja yang disusun rapat, dengan leluasa menikmati pemandangan itu hingga terlelap.
Waktu begitu sangat lambat berputar. Rindu yang menggunung ini mulai terasa menyiksa. Ingin sekali cepat cepat pulang ke kota dan bertemu Marla.
____________
"Kapan demo bisa dibuat Hans ?"
"Lusa siang kayaknya bisa."
"Apa tidak lebih baik pagi, takutnya ada perbaikan dan lain lain jadi molor ke sore. Takutnya kita ga sempat kejar bus malam kalau mau pulang lusa."
"Aduh...,sabarlah sedikit Bim. Tidak gampang mengerjakan ini. Nanti diburu buru, akhirnya rusak semua kan susah. Harus ulang dari awal lagi." Hans menjawab tegas.
Dia paham betul tabiat adiknya yang satu ini. Semua mau cepat, mau bagus, mau sempurna. Tapi Hans yang paling tau prosesnya. Ada hal yang tidak bisa diburu pengerjaannya.
Bima yang ditegasi begitu memilih diam dan tak mau berdebat. Ia lalu keluar dari situ dan membiarkan Hans bekerja dengan tenang. Bagaimanapun Hans yang paling faham.
Ia memilih tempat nyaman untuk menyegarkan otaknya. Bima lalu tersenyum santai menemukan pemandangan di halaman bawah. Sekumpulan anak anak berseragam olahraga yang berkeliaran di sana, mengingatkannya pada masa masa sekolah dulu.
Sampai saat ketika beberapa pesan beruntun masuk. Raut wajahnya berubah seketika, demi melihat isi dalam pesan itu. Ada 4 pesan gambar yang ia terima dan semuanya adalah Marla.
Untuk sebentar dia masih tak percaya kalau itu Marla. Tapi siapa laki laki yang bersamanya ini? Sedang apa mereka berdua di lobi hotel? Kenapa mereka terlihat sangat dekat?
Bima menarik nafas dalam berkali kali. Mencoba menenangkan hatinya yang mulai bergemuruh emosi. Mencoba tenang dia periksa nomor pengirim pesan, ternyata bukan nomor yang terdaftar. Ketika dihubungi, nomor barusan berada diluar jangkauan.
Bima mengusap wajahnya tak percaya. Namun dalam hati mulai bimbang. "Ah...,bisa jadi itu keluarganya, atau kenalannya." Pikirnya berusaha pisitif.
Bima memutuskan telepon Marla saja langsung. Lalu tanyakan sendiri kebenaranya. Daripada ia berpikir jauh, sementara apa yang di pikirkan belum tentu benar.
Namun berkali kali ditelepon, Marla tidak menjawab panggilan. Selama Bima di luar kota, dia dan Marla hanya sempat mengobrol 2 kali. Hari keempat dia di lokasi proyek dan kemarin sore sepulang Marla dinas pagi.
Waktu itu Marla terdengar sibuk, lalu buru buru menutup telepon. Mereka hanya sempat mengobrol 2 sampai 3 menit saja. Setelahnya Marla kembali tidak angkat telepon lagi.
Keadaan ini membuat Bima ingin kembali kekota secepatnya. Ingin mencari tau sendiri tentang apa yang sebenarnya terjadi. Ia bergegas kembali ke ruangan tempat laboratorium bahasa dibuat.
Begitu memasuki pintu belakang kelas laboratorium bahasa itu, pandangannya berkeliling ruangan mencari sosok Hans. Lalu menemukannya di balik meja console lab sebelah depan. Langkahnya bergegas kesana.
"Gimana? Sudah fix belum?"
"Apanya?" Hans yang ujuk ujuk dikasi pertanyaan tak jelas, balik bertanya.
"Proyek ini. Gimana? Lusa malam kita sudah harus pulang. Jangan ditunda lagi." Nada ketus dari ucapannya jelas sekali.
"ASTAGAHHH...! Tadi juga baru dibilang jangan di desak desak. Kita sudah buat 3 hari lebih cepat. Mana bisa dipaksakan lebih cepat lagi." Hans marah menjawab adiknya. Rasa kesal tak bisa dia tahan lagi.
"Memangnya apa sih yang bikin lama ?" Bima masih ketus.
"Ini yang dikerjakan berisi kabel listrik semua, ga boleh salah menyambung. Harus dicek satu persatu. Semua dipasang manual, ada komponen yang harus di las, ada yang harus di lem. Ada yang harus ditunggu kering dulu baru bisa dibungkus. Jadi ga main main." Hans menjelaskan dengan rinci.
"Jadi kapan pastinya bisa selesai ?"Bima terdengar mengalah.
"Memangnya orang tender bilang apa sih?" Hans yang mulai emosi berasumsi kalau pihak pemberi tender yang mendesak cepat selesai.
Bima diam tak menjawab. Jelas saja dia diam, karena bukan orang tender yang meminta cepat tapi desakan gundah gulana dihatinyalah penyebabnya.
"Atau sini, suruh orang tender ketemu aku, biar aku yang jelaskan."
Lagi, Bima diam.
Hans memandangi diamnya Bima.
"Atau kamu yang mau cepat cepat?"
Bima mundur selangkah dan memain mainkan sepatunya di lantai.
"Ya ampun...." Hans yang akhirnya mengerti hanya geleng geleng kepala menghadapi Bima. Ia kemudian kembali ke pekerjaan yang tertunda diselesaikan tadi.