
Tak sabar rasanya Bima menunggu besok segera tiba. Setelah kembali dari kota A, Bima tak segera mengabari Marla. Cukuplah hanya Lina yang memastikan, toh besok akan ketemu juga, pikirnya.
Merasa pesannya belum di balas juga, Bima inisiatif menghubungi Lina.
"Tut....,tut.....,tut.....,nomor yang anda tuju....."Bima segera memutus panggilan. Lalu mendial ulang lagi. "Tut.......,tut...,halo Bim ," akhirnya suara di balik telepon itupun menjawab.
"Hei...,Lin.....,aku udah dirumah nih."
"Oh iya...,kapan nyampenya ?"
"Tadi pagi...... Gitu nyampe aku langsung ngabarin kamu tadi, coba liat deh pesan masuk."
" Oh iya ? Masak ?" Lina menjawab kebingungan. Merasa tidak menerima pesan masuk dari Bima. Namun Lina lalu menjawab, "oh iya iya, sory tadi ga perhatikan." Lina mengiyakan setelah memeriksa pesan masuk dari Bima ada di ponselnya. Tapi keterangan pesan sudah di baca, membuatnya mengernyitkan dahi, karena merasa belum membacanya. Ah mungkin tadi terskip aja makanya tidak terbaca fikirnya.
"Jadi gimana persiapannya Lin ? "
"Sudah ok semua sih. Tempatnya, persiapan acaranya, teman teman yang ikut. Semua sudah ok. Apa ada yang lain lagi kira kira Bim ?"
"Bunga yang kemarin aku minta tolong pesankan, apa sudah dipesan Lin ?"
"Oh iya......,itu juga udah ok ya. Termasuk Marla juga sudah aku pastikan." Kata Lina update.
"Wah......,luar biasa . Makasih banyak loh Lin, kamu baik benar bantu siapin semua."
"Biasa aja Bim, aku juga lakukan ini buat Marla. Dia pantas mendapatkan yang terbaik. "
"Iya ya....,beruntung sekali Marla punya sahabat seperti kamu, totalitas mengasihi."
"Ah...,ga juga Bim. Sebenarnya aku yang bersyukur punya sahabat seperti Marla. Apa yang aku lakukan ini belum seberapa dibanding apa yang Marla lakukan. "
"Oh ya...,kok bilang begitu ?"
"Iya. Dulu aku pernah kecelakaan, waktu kami masih sama sama kuliah di keperawatan . Saat itu kan kami di perantauan, ga ada keluarga dekat. Marla yang menjagaku berhari hari di Rumah Sakit. Dia bela belain minta ijin dari asrama buat nginap di rumah sakit jaga aku sampai mamaku bisa datang. Bukan cuma itu Bim, dia juga sumbangin darahnya untuk di donorkan padaku. Kalau aku ingat itu, aku hutang budi sama dia. Sampai sekarang juga dia selalu baik padaku. Setiap ada acara apapun di rumah, selama dia bisa, pasti akan datang buat bantu bersih bersih atau berberes."
Cerita Lina barusan membuat Bima terkesima. Kisah itu benar benar baru baginya, mengenal Marla lagi dan lagi lebih dalam. Bukan hanya Lina, sebenarnya Bimapun berhutang budi pada Marla. Teringat lagi dia akan kecelakaan waktu itu.
"Aku harap kamu bisa bahagiakan Marla ya Bim. Dia itu baik , sayangnya selalu ketemu laki laki yang ga baik. Sering kasian melihat dia, selalu di kecewakan." Lagi Lina melanjutkan.
"Dia pernah punya pacar Lin ?" Tanya Bima ingin tau.
"Iya ya......,"Bima empati, semakin mengerti Marla, wajarlah gadis itu takut membangun hubungan, bahkan menjauhinya, menghindar, mungkin dia takut menjalin hubungan yang baru , mungkin dia takut dikecewakan lagi. Ada sendu di dalam hati Bima, meniatkan dalam hati, tak akan menghianati Marla.
"Marla itu tulus orangnya Bim, tapi sayang, selalu dikecawakan lagi dan lagi. Makanya aku sangat mendukung kalian berdua jadian. Aku lihat kamu juga tulus sama Marla. Semoga aku ga salah menilai ya Bim ."
"Masak sih Lin ? Jadi kamu lihat aku tuluskah ?"Tanya Bima memastikan lagi.
"Iya. Aku kan bisa menilai juga. Awalnya karena aku ga kenal kamu, sempat berfikir kamu sama saja dengan cowok lain. Apalagi dengar dengar kamu banyak dekat sama cewek cewek di komunitas kita, salah satunya yang aku tau dengan Desy. Tapi setelah kenal kamu, pandanganku tentangmu itu berubah. Apalagi setelah aku tau cerita yang sebenarnya, wah penilaianku sebelumnya ternyata salah ."
"Iya ya Lin.....,makasih lo kamu bisa menilai aku begitu." Kata Bima menghargai . Dia sama sekali tidak menduga kalau Lina juga memperhatikan dan menilai dirinya selama ini . Sepertinya dia ingin memastikan, bahwa Marla tidak jatuh pada orang yang salah, dan mengalami kecewa yang sama seperti sebelumnya.
Sampai kemudian mereka telah mengobrolkan cerita berbeda lainnya. Lalu Bima mulai banyak bertanya tentang Marla, tentang pribadinya, keluarganya, perjalanan hidupnya, kesukaannya dan hal yang tidak disukainya. Semakin Bima menyadari, bahwa banyak hal yang tidak dia ketahui tentang Marla. Kemudia Bima memastikan beberapa hal lagi tentang rencana besok malam, sebelum akhirnya menutup pembicaraan.
______________
Desy masih dalam kegalauannya. Besok Bima akan jadian dengan Marla, semakin pasti baginya tak mungkin memiliki Bima lagi. Ditambah sikap Bima yang selalu mengabaikannya, menegaskan posisinya di hati Bima, bahwa tak ada cinta lagi untuk dia di sana. Selama Bima di luar kota, berkali kali Desy coba menghubunginya, mengirimkan pesan, tapi tak pernah berbalas, sepertinya sengaja diabaikan. Teringat lagi Desy akan pesan yang dia baca di ponsel Lina. Bima bisa chat sangat panjang dengan Lina hanya untuk membahas tentang Marla. Dia sangat cemburu dengan itu, juga sangat marah pada Lina, kenapa tega menyimpan semua ini darinya. Seperti kali ini, Bima sudah tiba dari luar kota, namun hanya mengabari Lina, sementara pesan pesannya tak pernah berbalas. Pasti bukan karena Bima sibuk seperti dia berusaha berfikir selama ini. Tapi Bima memang tidak mau membalasnya, bahkan tidak membaca beberapa pesannya.
Bima juga selalu menghindarinya sejak kejadian kecelakaan waktu itu. Sehabis dirawat di rumah sakit, Bima boleh pulang ke rumah. Desy mengambil kesempatan membantu merawat Bima di rumahnya, tapi kemudian setelah pulang kontrol dokter, Bima malah ga pulang ke rumahnya. Sengaja menginap di rumah Join demi menghindar. Desy dibuat kecarian waktu itu, sempat bertanya kesana kemari, dia ada terfikir, jangan jangan Bima opname lagi. Tapi belakangan baru tau kalau selama ini dia menginap di rumah Join sampai hampir pulih dan ga butuh di tolong lagi.
"Udah pulang kerja kamu Des ? Tadi Dafa telepon mami, katanya kamu ga balik lagi ke kantor sehabis jam istirahat. Dia khawatir. " Suara mami sambil mengetuk di balik pintu, menghentikan lamunannya.
Desy melangkah ke arah pintu dan membukanya, lalu balik lagi berbaring ke kasurnya, diikuti maminya dari belakang. Dengan lembut maminya mengusap kepalanya sambil bertanya, "kamu kenapa ? Ga kayak biasanya ?"
Desy hanya bangkit dari baringnya dan memeluk ibunya sambil menangis. Tak ada lagi benteng ego yang mampu menahan aliran deras air mata itu.
"Loh......,kok jadi nangis gini ?" Bu Ratna kebingungan melihat putri dalam dekapannya menangis mengharu biru. Sampai beberapa saat lamanya, dia hanya memeluk, membiarkan Desy lebih tenang.
"Ada apa sih ?" Kembali Bu Ratna bertanya sesudah Desy lebih tenang.
Sesenggukan Desy menceritakan hatinya pada Ratna maminya. Bagaimana sedang patah hatinya dia saat ini. Bagaimana menyesalnya dia mengabaikna seseorang selama ini. Pada akhirnya dia tidak rela kalau pria itu menjadi milik orang lain.
"Oh....,ya ampun. Itu toh penyebabnya." Ibu Ratna menunjukkan empatinya sambil mengelus kepala putri semata wayangnya itu.
Lalu melanjutkan kalimatnya. "Selama kamu sudah tau yang salah, itu sudah bagus. Kamu sadar kesalahanmu, menyesalinya dan ingin memperbaikinya. Tinggal kamu cari tau bagaimana memperbaikinya." Desy hanya mendengarkan tanpa menjawab apa apa. Hanya membiarkan Bu Ratna mengusap air mata di pipinya dan mengusap usap kepalanya mencoba menenangkan.
"Jodoh itu di tangan Tuhan sayang. Kalau Tuhan takdirkan dia menjadi milikmu, maka dia akan kembali padamu. Begitu juga sebaliknya, walau kamu kejar kemanapun kalau bukan jodoh, tetap akan berlalu juga."
Gambaran di hati Desy penuh kegamangan. Sulit membedakan apakah itu cinta atau hanya ambisi. Antara merelakan Bima atau memperjuangkannya bagaimanapun caranya. Tak berfikir lagi benar atau salahnya. Hanya mengikuti ketidakrelaan hatinya melepaskan Bima menjadi milik orang lain. Fikiran irasionalnya mencari ide yang tepat. Entah apa yang direncanakannya, hanya dia dan Tuhanlah yang tau.