MARLA

MARLA
Memutar Waktu Untuk Kembali



BIMA


Pagi ini aku kembali ko kost Marla, masih dengan harapan yang sama, semoga bisa menemukannya di sana.


Ketika tiba disana, aku melihat tetangga kostnya ada di kamar Marla sedang bersih bersih. "La......,Marla....." ,terobosku tanpa tanya. Masuk ke kamar berukuran 2,5 x 3 meter itu.


"Kak Marla sudah pergi tadi bang. Katanya mau pulang kampung. Tadi subuh dia datang ambil barang barangnya. Ini kunci kamar dititip sama aku. "


Listie tetangga kamarnya itu memberitahukanku kabar itu, sambil menunjukkan kunci kamar Marla ke arahku.


Setelah menanyakan beberapa hal, aku lalu bergegas menuju stasiun bus ke kampung Marla. Tibanya di sana aku celingak celinguk mencari sosok Marla. Namun tidak kutemukan.


Kuulang lagi menelisik setiap sudut stasiun bus yang tidak terlalu luas itu, takut ada yang terlewat tadi. Di dalam bus, dekat loket, sekitar kursi tunggu penumpang, bahkan swalayan di samping stasiun itupun kuperiksa, siapa tau saja dia membeli sesuatu di sana. Tapi belum kutemukan juga dia.


Cara terakhir aku lalu bertanya ke petugas loket, menanyakan apakah bus sudah ada yang berangkat ? Mereka bilang ini sekarang bus ke 4 yang akan berangkat 20 menit lagi.


Seketika harapaku pupus,dalam dugaanku bisa saja Marla sudah berangkat dari tadi. Melihat waktunya, memang besar kemungkinan aku tak sempat menyusulnya.


Dengan sedih kulaju sepeda motorku pulang ke rumah. Namun dipertengahan jalan aku berubah fikiran. Mengganti haluanku menuju kerumah Lina. Satu satunya orang yang bisa aku minta informasi tentang Marla.


_____________


Lina kaget mendengar suara sepeda motor mendekat masuk ke pekarangan rumahnya. Dia lalu menjenguk keluar dan menemukan Bima di sana.


"Hei Bim.....,masuk yuk masuk."


Bima melangkah masuk setelah memarkir sepeda motornya dan melepas alas kakinya. Lalu duduk di kursi tamu sekaligus ruang kerja Lina itu.


"Sorry ya agak berantakan. " Kata Lina membereskan potongan kain yang berserakan di lantai. Menyusunnya sesuai pola dan meletakkannya di meja kerjanya.


"Ga apa apa.....,aku hanya sebentar aja kok." Bima memaklumi. Berhubung dia juga datang tiba tiba.


Lina pergi ke belakang sebentar dan keluar membawa dua gelas teh manis dan cemilan dalam piring kecil.


"Waduh......,kok malah repot sih. Aku hanya sebentar aja kok Lin. "Bima merasa tak enak hati.


"Ga repot Bim. Hanya teh kok. Kecuali kamu minta bandrek, ya iya repot." Lina bercanda.


"Sebenarnya aku mau nanya tentang Marla Lin. Kali aja kamu tau. "


"Emang semalam ga sempat ketemu ?"


"Ga sempat kususul Lin. Pas aku ke kost nya, dia malah ga pulang ke sana. Terus tadi pagi aku datang ke kost nya lagi, dianya udah pulang kampung katanya. "


"Oh ya.....??!!"


"Aku yakin dia pasti sangat kecewa dengan kejadian semalam, sampai pergi pulang kampung."


"Sebenarnya dia ada cerita, memang mau pulang kampung Bim, tapi harusnya besok. Karena hari ini kami ada janji mau belanja bakal baju titipan mamanya. "


"Oh, gitu......,kapan ?"


"Kemarin, waktu aku pastikan dia ikut acara semalam."


"Oh iya ya.....,dia ada cerita ga, kenapa pulang kampung ?"


"Dia memang sengaja ambil cuti, mau istirahat di kampung katanya. Kemarin kan dia sempat kena typus. "


"Kena typus ? Kapan ?"


"Waktu kamu di luar kota itu lah. Pasti dia ga cerita sama kamu kan ?" Lina segera menebak ketika melihat mimik kaget di wajah Bima.


Dan Bima menggeleng kuat.


"Hhhh, udah kuduga. Dia larang aku cerita sama kamu, katanya dia sendiri nanti yang bilang. " Lina lalu menjelaskan. "Jadi kemarin itu sebenarnya dia sakit. Waktu dinas pagi dia hampir pingsan karena demam. Setelah diperiksa ternyata typus. Dokter suruh dia opname, tapi dia ga mau. Akhirnya istirahat di kost. Awalnya aku juga ga tau, waktu itu dia telepon nitip dibelikan belanjaan dapur. Aku heran, kok tiba tiba nitip belanjaan. Ga pernah pernahnya begitu. Ehhhhh....,barulah dia bilang kalau dia lagi sakit. "


Bima terkaget mendengar cerita itu. Merasa bersalah atas ketidaktahuannya. Ditambah kejadian tak terduga semalam, pastilah Marla semakin terluka. Hati Bima sakit mengingat itu, menimbulkan tekad dalam dirinya, harus bertemu Marla bagaimanapun juga.


"Kamu tau jalan ke kampungnya Lin ?"


"Tau...,beberapa kali pernah ke sana."


"Sekarang ?!!" Lina kaget demi mendengar itu.


"Iya, sekarang."


"Kita berdua maksudmu ?"


Bima menangkap kecanggungan Lina dalam kalimatnya.


"Aku bisa ajak yang lain kalau kamu mau."


"Ok, coba ajak Hans dan Dina aja kalo enggak."


Tanpa ba bi bu, Bima lalu menghubungi Join lebih dulu. Berniat meminjam mobilnya ,begitu Bima jelaskan keperluannya pinjam mobil itu, Join tak hanya memberi pinjaman mobil, malah menawarkan diri untuk ikut. Katanya sekalian mau ambil video untuk kerjaannya.


Kemudian menghubungi Hans yang langsung setuju mengingat kampung kak Dian tak jauh dari kampung Marla.


"Ok, kami ikut, sekalian Dian mau singgah di rumahnya." Hans langsung setuju saat aku hubungi, kebetulan sekali Hans sedang bersama Kak Dian.


Lina lalu membereskan keperluannya bepergian dengan Bima masih menunggu di ruang tamu. Sambil menunggu Lina, dia lalu menelepon Hans kembali.


"Hans.....,nanti singgah ke rumah ga ?" Tanyanya begitu telepon diangkat.


"Singgahlah, ambil baju ganti sama perlengkapanku. "


"Sekalian bawa bajuku juga ya. Yang mana aja boleh, yang penting ambil dari lemari atas." Lemari atas yang dimaksud adalah tempat Bima menyususn bajunya untuk pergi pergi.


"Ok. Ada yang lain ?"


"Enggak, itu saja."


Lina pamitan dengan mamanya, karena papanya sedang diluar kota. Ada acara keluarga yang harus dihadiri. Karena akan pergi kerumah Marla, mamanya memberi ijin.


Mereka sepakat titik kumpul di rumah Join. Menjelang siang mereka sudah berangkat. Dengan Join yang menyetir duluan, selanjutnya akan gantian dengan Bima.


Pertengahan jalan mereka berhenti mencari tempat makan siang. Seperti biasa, Hans yang merekomendasikan tempat. Dan kali ini juga benar benar tempat makan yang enak. Makanan khas daerah situ yang lumayan terkenal.


_____________


Marla yang baru tiba di rumahnya disambut mamak yang sedang menjemur biji kopi. Teras rumah yang cukup luas itu dipakai untuk menjemur biji kopi, lalu bagian depan disewakan pada orang lain untuk berjualan gorengan dan sebelahnya lagi berjualan mie dan nasi goreng.


Marla menyapa ramah pada orang yang berjualan itu.


"Kok lama nyampe nang ? Tapi cepat tadi kamu berangkat ?"


"Iya mak, busnya banyak berhenti berhenti, nyari penumpang katanya. "


"Makanlah dulu makan, masak arsik ikan mas mamak tadi. "


Marla lalu menuju ke dapur, meninggalkan barangnya terletak di meja kursi tamu. Mengisi piringnya dengan nasi dan ikan arsik legendaris buatan mamak nya. Walau sederhana, tapi arsik ikan mas masakan mamaknya itu cukup dikenal di kampung itu. Kalau ada acara nikahan, mamak sering diminta memasak ikan mas untuk acara.


"Yang pulangnya si Marla ?" Bapak baru pulang dari memeriksa pekerja di ladang, lalu bertanya saat melihat tas Marla terletak di atas meja tamu.


"Di sini aku pak, lagi makan. "Teriak Marla menyahut dari dapur.


"Oh uda sampe rupanya." Bapak sudah nongol di pintu dapur.


"Ayok makan pak." Ajak Marla menghargai.


"Makanlah inang makan. Masih kenyang, nanti ajalah bapak makan. " Bapak kembali ke ruang tamu, selonjoran kaki sambil menonton berita siang. Mamak segera membawakan air hangat untuknya. Lalu ikut duduk menonton berita.


Pasangan yang harmonis. Meskipun orang kampung, tapi hubungan mamak dan bapak bisa dibilang romantis. Untuk ukuran pria kampung bapak termasuk suami yang sayang isteri. Diam diam Marla memandangi kedua orangtuanya dari arah pintu dapur. Berharap suatu hari punya suami penyayang seperti bapaknya.


Membahas suami, ingatan Marla lalu menghadirkan sosok Bima. Ah.....,hatinya perih ingat wajah itu. Kejadian semalam benar benar sulit dilupakan. Bertanya tanya dalam hatinya, apa maksud Bima melakukan semua itu. Marla merasa tertipu dengan kebaikan dan perhatian Bima selama ini. Tanpa diminta air mata itu mengalir lagi, membuat pipinya basah. Buru buru Marla menghapusnya sebelum ketahuan oleh Dita adiknya yang keluar dari kamar mandi dekat dapur.


Harusnya Marla jangan biarkan hatinya jatuh cinta. Pada akhirnya ia harus kecewa lagi. Sakit yang dirasakannya kali ini melebihi rasa sakit saat putus dari mantan mantannya dulu. Dadanya nyesak menyesali yang terjadi. Seandainya waktu bisa mundur ke belakang, Marla pasti tak akan pergi ke acara itu semalam. Biarlah kisahnya dan Bima tertutup dengan manis sebatas teman saja. Mungkin dengan begitu tak akan berakhir semenyakitkan ini.


Tapi siapa yang bisa menolak takdir. Siapa yang bisa menebak jalan hidup sendiri. Semua proses memang harus dilalui. Suka atau tidak, mau tidak mau, hidup harus terus berjalan. Seperti saat ini, luka ini harus kuhadapi, sakit itu harus kujalani. Sampai masanya Tuhan akan berbaik hati, dan memberikanku kelegaan di hati.