MARLA

MARLA
Bukan Bunga Biasa



Bus akhirnya tiba di kota, ketika sudah berhenti Bima baru terbangun. Tidurnya terasa nyenyak sepanjang perjalanan, tak menyadari kalau bus sudah sampai tujuan.


Matanya mengerjap ngerjap sebentar, menyesuaikan penglihatannya dengan keadaan sekitar. Langit masih terang, meski hari sudah sore.


Bima melangkah keluar dari bus, menyandang ranselnya dan tas sandang kecilnya yang selalu dia bawa kemana mana. Membuka pesan masuk di ponsel ketika dia sudah berdiri di luar bus.


'Ok bang.'


'Bang, jadinya aku besok kembali ke kota.'


Seketika senyumnya mengembang, "yes....., yes....." lalu berteriak senang. Orang - orang sekitar memandang heran ke arahnya.


Pesan Marla terakhir itu sukses membuat Bima girang bukan kepalang.


Dia berdiri tegak sambil berpikir sejenak.


'Besok nyampe jam berapa di kota ?'


Pesan Bima segera dibalas.


'Aku berangkat trip pertama bang, pagi pagi. Sekitar hampir sianglah nyampe sana.'


'Oh....,ok. Malamnya hangout sama yang lain yuk !'


'Ok bang, aku bisa.'


'Ok sampai ketemu besok malam ya.'


'Iya.'


Bima segera mendial nomor Lina. Beberapa kali dia bergeser tempat mencari posisi yang aman untuk bertelepon.


"Halo..."


"Halo Lin Bima ini.....,"Bima kembali bergeser lagi.


"Iya Bim, halo , kok berisik ? Kamu lagi dimana ini ?"


"Aku lagi di stasiun ini, baru nyampe dari kampung Marla."


"Ohhh.., gitu. Mau bilang apa tadi Bim ?"


"Eh..,iya. Gini Lin...,besok Marla balik ke sini."


"Iya. Terus ?"


"Besok malam, kita ajak hangout yuk."


"Oh, boleh boleh. Dimana ?"


"Ini aku masih mau cari tempatnya. "


"Oh..,gitu. Ok . Ada mau buat rencana apa ?"


" Aku mau 'ask' dia besok malam."


(maksudnya meminta jadi pacar)


"OH YA !! Yakin kamu Bim ?!" Lina memastikan lagi.


"Yakin seratus persen."


"Wah.., senang dengarnya."Lina bahagia mendengar kabar itu. Benar benar salut dengan perjuangan Bima. "Terus aku perlu bantu apa ?"


"Tolong bantu pastikan Marla dong, sekalian ajak teman - teman yang lain, kecuali Desy. Please jangan ada dia. Bisa kan Lin ?"


"Bisa dong. Aman itu."


Mereka lalu bercerita sebentar. Tentang apa yang terjadi selama di sana. Bagaimana respon Marla dan keluarganya. Bagaimana komunikasi Bima dengan Marla sekarang. Sebelum kemudian telepon ditutup.


Bima menghentikan angkutan kota jurusan arah rumah kontrakannya. Sebenarnya dia harus berpindah angkot lagi nanti, karena tidak ada angkot yang jurusannya langsung ke daerah rumahnya.


Setelah naik dan duduk di angkot, otaknya langsung mengatur langkah untuk besok. Tiba tiba dia berubah pikiran, ingin mengatur semuanya sekarang saja.


"Pinggir bang." Angkot yang dia naiki lalu menepi.


"Ada yang ketinggalan bang?" Supir angkot bertanya heran, karena penumpang yang barusan naik itu, mendadak minta turun.


"Enggak bang." Tangan Bima mengulurkan ongkos dan berjalan kembali.


Cepat Bima merogoh tas kecilnya mencari ponsel, segera menghubungi Join. Rumahnya tak jauh dari sini, lebih baik ke rumah Join saja biar sempat, pikirnya. Memastikan orangnya sedang di rumah atau tidak.


"Datang aja Bim, lagi dirumah kok." Orang yang di telepon memberikan jawaban yang di harapkan.


Celingak celinguk kepala Bima mencari becak mesin yang berada di sekitar. Matanya kemudian menemukannya disana , di dekat warung kopi sederetan stasiun bus tempatnya tadi turun. Beberapa becak mesin berbaris antri menunggu penumpang. Bima berjalan ke sana, tawar menawar ongkos, lalu berangkat.


"Kok naik becak Bim?"


Join yang sudah berdiri di teras rumah bertanya heran.


"Aku langsung dari stasiun tadi. Mau langsung pinjam mobil kamu."


"Ohhhhh....,kirain kamu dari rumah."


"Langsung di balikin kan nanti ? Soalnya aku ga ada kendaraan ini."


"Iya."


Mobil itu kemudian keluar dari pekarangan rumah bercat putih gading itu dan melaju di aspal hitam jalanan kota.


Tujuan pertama Bima adalah memastikan tempat kumpul besok. Dia pilih tempat yang asri, tidak jauh dari kost-an Marla.


Bima sempat ingin mengajak Marla kesana, tempatnya bagus, harganya terjangkau, suasananya romantis. Tapi waktu itu Marla tidak bisa, karena teman operan dinas sorenya di rumah pasien tiba tiba berhalangan jaga.


Selesai sudah urusan tempat, Bima gas memesan buket bunga. Dekat dari situ Bima ingat ada floris tempat Hans dulu memesan buket bunga. Waktu Hans meminta Kak Dina menjadi pacarnya dia memesan buket bunga dari floris itu.


Dia lalu masuk ke dalam floris, udara sejuk dalam ruangan itu langsung menyentuh kulitnya. Seorang pekerja floris segera mendatanginya, Bima lalu menyampaikan bentuk bunga sesuai keinginannya.


Anya perkerja floris yang mendampinginya menawarkan beberapa jenis bunga untuk dipilih.


Bima memutuskan memakai mawar berwarna merah untuk dirangkai menjadi sebuah buket.


"Mudah mudahan diterima ya bang."


"Mmm.....,maksudnya ?"


Bima kebingungan dengan pernyataan Anya barusan.


"Biasanya mawar merah itu sering dikasi kalau kita mau minta seseorang jadi pacar."


"Oh gitu !!?"


"Iya bang, setiap bunga ada filosofinya, bisa mewakili kata kata yang ingin kita sampaikan."


"Ohhhhh, iya ya." Dalam hati Bima semakin percaya diri, karena bunga yang dia pilihkan pun bukan bunga biasa.


"Saya jemput bunganya besok sore ya !"


"Baik bang, akan kita siapkan. Ada pesanan lain lagi bang ?" Anya masih mendampingi dengan ramah.


"Tidak, itu saja." Bima menggeleng pasti.


Anya lalu memandu Bima ke arah kasir untuk pembayaran, lalu nota pembelian diserahkan.


Setelah bunga sudah ditangani, Bima masuk ke mobil, kembali mengulang list dalam memori untuk persiapan besarnya besok. Dia tersenyum dan mengangguk angguk puas. Semua persiapan sudah selesai diurus.


Langit telah memamerkan kemilau bintang bintang berkelap kelip, ketika Bima beranjak pulang.


Perlahan mobil itu memasuki pekarangan rumah Join kembali. Bima melirik ponselnya angka 20.30 WIB, tertera di layar ponsel.


"Thanks ya Jo."


"Ok bro, sama sama."


"Besok jangan lupa ya, tolong jemput Marla dengan Lina."


"Siap bro." Joint sambil menyentuhkan telunjuknya dipelipis. Seperti gerakan memberi hormat.


"Makasih banyak ya bro." Bima merangkul sahabatnya itu sambil berterimakasih.


"Semoga sukses ya besok." Join menepuk pundaknya.


Bima lalu keluar dari pekarangan itu, berjalan kesimpang jalan raya kira kira 10 menit, dan menunggu angkot menuju pulang di tepian jalan itu.


_______________


Tibanya di depan rumah, pria berhidung mancung, berkulit eksotis itu melihat pintu terkunci dari luar. Berarti Hans sedang tidak dirumah. Bima lalu merogoh kunci miliknya dari tas kecil yang di sandangnya.


Rumah terlihat berantakan, semua jenis barang rakitan untuk proyek berserakan di lantai. Dilangkahinya saja barang barang itu, membiarkannya tetap begitu.


Hans sering marah kalau barang barang itu di susun, karena kata Hans dia jadi sulit merangkainya. Tiap rangkaian beda komponennya, jadi harus diletakkan sesuai urutan nomor rangkanya.


Sejak itu Bima membiarkan saja Hans yang membereskan sendiri barang barangnya.


Sambil jalan hati hati Hans masuk kekamar meletakkan ransel dan tas sandangnya. Bergegas mandi menyegarkan diri.


"Udah balik Bim ?"


"ASSSTAGAH.... !!!" Bima yang baru keluar dari kamar mandi melompat kaget mendengar Hans bertanya. "Haduh.....,kaget aku." Bima memegangi dadanya sambil bersandar di tembok dekat kamar mandi.


"Huaaa ha ha ha.....,kamu kenapa ?! Aaa haa ha ha ha...."Hans tertawa terpingkal pingkal melihat adiknya seterkejut itu. Padahal suaranya biasa saja, tak berniat mengagetkan.


"Kapan kamu masuk ? Kok aku ga tau kamu datang ?"


"Ha ha ha.....,pas kamu mandi aku duduk di sini. Kamu ga liat apa ? Ha ha ha ha........,ngelamun kamu kayaknya." Hans bicara sambil menahan ketawanya.


"Huhh." Bima yang kelihatan kesal langsung masuk ke kamar. "Beresin itu barang barangmu, bahaya kalo terpijak !!" Perintahnya masih dengan kesal.


Hampir copot jantungnya barusan sangkin kagetnya. Tapi kok bisa sih dia tak menyadari Hans masuk ke rumah ? Memangnya apa yang dia pikirkan sih tadi ?


Mungkin aku grogi karena acara besok, pikirnya. Lalu merebahkan tubuhnya yang lelah di atas kasur.


"Ahhhh, semoga semuanya berjalan lancar besok."


Doanya ,masih di dalam hati.