MARLA

MARLA
Cinta Datang Terlambat



Tiba di stasiun bus, penumpang trip pagi belum terlalu ramai. Sesuai pengharapan, Marla dengan santai bisa memilih kursi kedua di belakang supir.


Posisi kursi itu paling suka dipilih penumpang karena punya jendela lebih lebar dari kursi lain dan jarak tempat duduk lebih luas dibanding yang lain.


"Hei...,Marla kan ?"


Sesosok pria jangkung mendekati Marla dan menyapa.


"Eh..,iya benar." Memori Marla bekerja cepat, berusaha mengenali sosok yang menyapanya. "Kamu anak Bunda Mulia ya ?" Marla coba menebak, ia lupa nama laki laki itu, tapi wajahnya mirip teman SMP-nya dulu.


"Iya....,Jaka ini, Jaka. Ingat ?"


"Ooohhhh....,ya ampun.....,Jaka ?"


Marla langsung mengenali sosok itu. Wajahnya memang familiar, tapi postur tubuhnya yang tinggi tegap jauh dari gambaran Jaka di zaman SMP.


"Wah.....,tinggi amat kamu sekarang, ga nyangka ketemu disini. Apa kabarnya ?"


"Yah beginilah La.....," Jaka memperbaiki posisi berdirinya, "kamu apa kabar ?"


"Kabar baik. Kamu lagi apa di sini ?"


"Lagi kerja. Kamu sendiri ngapain ?"


"Lagi nunggu bus berangkat, aku turun mau beli air mineral dulu. Eh taunya ketemu kamu di sini."


"Kamu naik bus ini ?"


"Iya. Kenapa ?"


"Bus ini aku yang bawa La, aku yang supirin. Kamu duduk di bangku mana ? Duduk di depan aja mau ? Biar aku kosongkan aja bangku depan."


"Oh iya....,aduh ga nyangka ya. Mau dong duduk di depan kalo kursinya lempang. Memangnya boleh dikosongkan begitu kursinya ?"


"Bolehlah !! Kalo untuk Marla apa yang ga boleh ya kan ?!"


"Ah ha ha.....,bisa aja. Masih kayak dulu kamu ya Ja, tukang gombal."


"Ha ha ha....,iya ya? Ha ha ha.....,sudah mendarah daging kayaknya."


"Ha ha ha......,"Sontak mereka kompak tertawa.


Jaka membantu memindahkan barang bawaan Marla ke bangku depan, tepat di samping kursi supir. Sengaja mengosongkan bangku di samping Marla yang seharusnya masih bisa diisi 1 penumpang lagi.


"Barang bawaan kamu hanya ini La ?"


"Enggak, sebagian yang besar besar sudah dimasukkan di tempat barang. "


"Ohhhh....,"Jaka mengangguk tanda mengerti sambil mengatur posisi barang2 bawaan Marla di kursi depan.


"Aduh, makasih lo Ja, jadi luas tempat duduknya."


"Ah...,biasa aja ."


Jaka sudah ambil posisi di belakang kemudi dengan Marla duduk nyaman di sampingnya.


Pukul 8 tepat buspun berangkat, perlahan meninggalkan stasiun desa yang berpanorama indah itu.


"Udah lama kerja di Rumah Sakit itu La ?"


"Mmmm...,lumayanlah. "


"Lumayan capek maksudnya ?"


Jaka memotong dengan banyolan.


"Ha ha ha.....," tawa mereka bersamaan.


Jaka tak berubah sedikitpun, teman sekelas yang pernah singgah di hati Marla itu tetap saja humoris dan enak diajak bicara.


Karakternya yang ramah dan ceria membuat Jaka dulu cukup populer di kalangan cewek cewek se-SMP mereka. Sampai beberapa kakak kelas ada yang terang terangan mengaku suka sama Jaka.


"Kamu kegiatannya apa sekarang Ja ?"


"Ya beginilah...,jadi sopir kamu."


Mimik Jaka yang pura pura lugu itu benar benar lucu.


"Ha ha ha....,sontak Marla tertawa dan memukul pundak Jaka gemas, "kamu itu ya dari dulu memang paling pintar buat lucu."


"Hah.....,maksudnya ?!!"


Marla bertanya tak faham, dengan tawa yang belum reda.


"Loh...,kamu ga tau ? Dulu kan aku sempat beter beter kamu ." ( beter : pendekatan)


"Ah....,serius ?!! Marla kaget sekaligus merasa lucu, Jaka mengangguk meyakinkan. "Kok aku ga terasa di beter beter sama kamu ?" Balas Marla dengan bercanda juga.


"Haha ha ha........,"Kompak mereka tertawa lagi.


"Itulah La...,dulu kan aku suka gangguin kamu. Biasalah...,cari perhatian."


"Alah...,kalo itu sih semua cewek di kelas kita juga kamu gangguin. Cewek kelas sebelah juga kamu gangguin. Kakak kelas aja berani kamu gangguin. "


Marla masih tak menanggapi serius.


"He he he.....,iya ya ?"


"Hem Mmmm....."


"Agak agak lupa aku kalo yang itu."


"Hahaha..... Pintar betul kamu ngelesss."


Lagi Marla memukul gemas pundak kekar itu.


Obrolan seru dua orang se-alumni itu berlanjut membahas banyak hal. Tentang teman teman yang mereka pernah bertemu belakangan ini. Membahas guru guru mereka di zaman putih biru, mulai yang paling baik sampai yang paling killer. Bercerita tentang kenangan kenangan yang lucu sampai mengharu biru. Juga moment moment paling menyentuh yang mereka pernah alami.


"Dulu itu aku pernah suka lo sama kamu La ."


"Heh...,becandanya kelewatan deh."


Marla spontan melotot yang dibuat galak . Dalam pikirannya, ini Jaka ngomong ga pake rem banget sih.


"Aku serius La !! "


Wajah Jaka memang terlihat serius sambil masih fokus pada kemudi.


"Aduh....,udahlah. Bercandanya janyan kelewatan. Nanti aku baper lo ?"


"Beneran La. Tanya aja Efendi kalo ga percaya ."


Marla tau Efendi yang dimaksud adalah teman dekat Jaka di SMP. Mereka ada 3 sekawan yang selalu sama kemana mana. Temannya satu lagi Marla lupa siapa namanya.


"Kamu keseringan bercanda, jadi susah dipercaya."


Marla menjawab seadanya, masih tak menganggap serius ucapan Jaka itu. Berbicara sambil menahan tawa.


Walau dalam hati sempat menyayangkan, kalau memang ucapan Jaka ini benar, berarti dulu itu sebenarnya mereka saling suka ? Kenapa baru tau p ini sekarang ?


"Gitu ya ? Aku susah di percaya ya La ?"


Jaka lalu terdiam tanpa ekspresi lucu lagi. Kali ini wajah itu terlihat sedih. Marla yang menyadari keseriusan itu pun ikut terdiam.


Keduanya lalu hening, tenggelam dalam pikiran masing masing.


Masih sulit Marla mempercayai pengakuan Jaka barusan. Bagi Marla pengakuan itu terasa tiba tiba. Dan jelas sekali kalau pengakuan Jaka begitu terlambat. Saat ini dihati Marla sudah ada pria bernama Bima yang mengisi.


Akan berbeda ceritanya kalau pengakuan itu Marla dengar 10 tahun lalu, saat mereka masih sama sama duduk di bangku SMP.


Ketika itu Jaka bermain gitar mengiringi Marla dan 3 temannya bernyayi . Sedang ada perlombaan di kegiatan pentas seni sekolah, salah satunya perlombaan vokal group antar kelas. Dan mereka salah satu peserta yang mewakili kelas.


Keterampilan Jaka yang begitu piawai memainkan gitar sudah mencuri hati Marla. Entah sejak kapan perasaan itu mulai ada, Marlapun tak menyadarinya.


Namun wajahnya selalu berseri seri bila bertemu Jaka, rasanya ingin berlama lama kumpul latihan bila Jaka ada di sana. Sering berdebar debar saat saling bertatap mata. Suka salah tingkah ketika Jaka berbicara padanya atau sekedar menyapa.


Tak lama kemudian terdengar kabar kalau Jaka sudah berpacaran dengan Lesti, teman yang satu vokal group dengan Marla itu memang punya penampilan dan fisik diatas rata rata gadis lainnya. Cantik, pintar, semampai dan populer juga. Serasi sekali kalau berpacaran dengan Jaka. Marla langsung patah hati, berpikir kalau perasaannya bertepuk sebelah tangan.


Sejak itu Marla menarik diri, mulai menghindar bila ada Jaka. Memutuskan keluar dari kelompok paduan suara tempat dimana dia sering bertemu Jaka. Semata mata, karena tak mau melihat kedekatan Jaka dan Lesti.


Bagaimanapun Jaka adalah sosok pertama yang pernah membuat jantungnya berdebar hangat. Dengannya Marla pertama sekali merasakan apa itu suka, atau bisa jadi itu adalah cinta.


Yah.....,Jaka adalah cinta pertamanya.


Sekarang ini, rasa itu sudah tak ada. Waktu 10 tahun berhasil mengikis rasa itu tak bersisa. Seandainyapun pengakuan Jaka itu benar, sudah tak ada gunanya. Karena Cinta itu Datang Terlambat.


Demikianlah cinta. Perasaan yang membuat mabuk kepayang itu harus terus dijaga, dipelihara, dibangun. Karena bila tidak, dia akan pudar ditelan masa. Lalu menyisakan kenangan kenangan tanpa rasa.