MARLA

MARLA
Bunga Tanda Cinta



BIMA


Itu dia gadisku, kekasih hatiku yang menyembunyikan sinarnya selama ini. Aku berdiri disini, mengagumi dia yang bersinar di panggung sana, sinarnya yang berkilauan memberikan kebahagiaan bagi setiap yang melihatnya.


Hatiku memuncah rasa bahagia sekaligus bangga. Rasa cinta yang menggunung ini teraduk aduk oleh lagu yang barusan dia nyanyikan.


Sungguhkah itu perasaannya, ataukah hanya kebetulan saja dia menyanyikannya ?


Apapun itu, bagiku tak penting lagi. Yang terpenting saat ini adalah bunga tanda cinta yang akan kuberikan sebentar lagi.


Lalu aku memberikan kode pada MC dan tim sukses yang telah membantuku malam ini.


*Dengarkanlah wanita pujaanku


Malam ini akan kusampaikan


Hasrat suci, kepadamu dewiku


Dengarkanlah kesungguhan ini


Aku ingin mempersuntingmu


Tuk yang yang pertama, dan terakhir*....


MC sekaligus singer itu, menyanyikan lagu yang sudah kuminta sebelumnya. Sebelum Marla turun dari panggung, lagu sudah mulai dinyanyikan. Jantungku mendadak berpacu dengan cepat, tanganku berkeringat meski udara terasa dingin, menyadari giliranku menyatakan cinta segera tiba.


Sambil menunggu Marla turun dari panggung, aku menarik nafas panjang beberapa kali, mencoba menenangkan diri yang sudah bersiap siap dengan buket bunga dan mic dengan tangan di belakang punggungku.


Marla yang sempat kebingungan, merasa lagu barusan bukan untuk dia nyanyikan lalu bergerak turun meninggalkan panggung kecil itu menuju tempat duduknya.


Ketika dia semakin mendekat, aku segera berlutut di hadapannya sambil menyerahkan buket bunga.


"Marla.........,maukah kau menjadi kekasihku ?"


Tanyaku lantang penuh keberanian.


"Wouuuuuww.........,terima terima terima........."


Suaraku melalui mic, terdengar jelas di seluruh ruangan ini, kembali membuat riuh pengunjung disana. Mereka meneriakkan dukungan sekaligus bertepuk tangan.


Marla terpaku di hadapanku, matanya terbelalak kaget sampai telapak tangan menutupi mulut. Matanya mengerjap - ngerjap tak memahami apa yang sedang terjadi.


"Marla, maukah kamu menjadi pacarku ?" Kuulang kembali permintaanku tadi dengan tidak mengubah posisi.


Marla menyebar pandangan, lalu berhenti pada wajah sahabat terbaiknya Lina. Aku mengikuti arah pandangan itu. Lina mengangguk penuh haru memberi dukungan pada Marla.


Perlahan tapi pasti Marla menatapku lekat, beberapa detik Ia lalu mengangguk yakin. Mengambil bunga yang aku sodorkan di hadapannya.


"Iya aku mau.....,"suaranya pelan namun bisa kudengar dengan jelas menjawabku.


Hatiku legah seketika, dengan bangga aku bangkit berdiri. "Yesss.....,"teriakan dalam hatiku meluap keluar.


"Yeeeyyyy............" Sekali lagi pengunjung yang ikut menunggu jawaban pun bertepuk tangan senang.


"Selamat Bim....,"


Hans yang pertama sekali melompat dan mengucapkan selamat. Laki laki kaku yang seharusnya aku panggil abang itu merangkul dan menepuk pundakku bangga.


Kupandangi Marla yang berdiri tak jauh dariku, ditemani Lina dan Kak Dina juga sedang menerima selamat dari beberapa tamu resto yang juga tak kami kenal.


Sesaat kemudian pandangan kami menyatu dalam diam, hanya hati yang saling terpaut. Menikmati kebahagiaan yang tak terlukiskan. Kami berdiri dengan jarak tak terlalu jauh, namun belum berani saling mendekat. Kaki ini bagai melayang tak menginjak bumi, terasa sulit untuk di gerakkan.


Rasaku seperti mimpi. Tapi ini benar benar terjadi. Akhirnya aku melakukannya. Akhirnya Marla sudah menjadi kekasihku sekarang. Sekarang aku berhak cemburu, berhak memanggilnya 'sayang' .


Sampai pada kata 'sayang' di otakku, aku tertunduk sambil senyum senyum malu. Heran pada diriku sendiri. Kok bisa aku jadi lebay begini.


Lagi lagi semua karena cinta. Rasa yang telah mengaduk aduk hatiku. Menghiasi hari hari penuh warna atau sebaliknya bisa memporak porandakan hidup kita.


Rasa yang mampu mengubah duniaku, membuatku menahan ego dan mau berkorban. Dan dunia cintaku adalah Marla. Gadis sederhana namun bersahaja.


Tak lama, kehiruk pikukan pun kembali tenang. MC sekaligus singer dan pemain musik telah kembali kepada tugas utama mereka menghibur semua pengunjung. Dan kamipun kembali ketempat duduk tadi. Namun kali ini, Hans dan Kak Dian ikut bergabung.


"Gimana rasanya La ?" Kak Dina menanyai Marla yang masih memeluk buket bunga tadi dengan wajah malu malu. "Kakinya udah nginjek bumi belum ?" Kalimat barusan segera disambut gelak tawa oleh yang lain.


"Ha ha ha....."


"Cerita dong," Lina ikut menimpali.


Marla kelihatan bingung mau jawab apa. Aku yang duduk di sampingnya ambil kesempatan untuk bicara.


"Aku happy sekali hari ini." Dengan detakan jantung yang masih belum normal kujawab pertanyaan mereka, semoga ini mewakili isi hati Marla. "Thanks ya Lina sudah memastikan Marla, selama ini kamu sering aku repotkan, sering aku tanya tanyai. Karena kamu aku bisa mengenal Marla lebih baik, aku semakin dekat dengan Marla. Terimakasih juga buat Join, kamu sering aku repotin bro, minjem mobilmu, temani aku, jemput Marla. Thanks ya bro."


Join mengangguk dalam, membalas ucapan terimakasihku.


"Dan buat abangku Hans....," suaraku tercekal haru. Pria yang sudah seperti sahabat bagiku ini punya peran yang sangat besar dalam hidupku. Termasuk membantu hubunganku dengan Marla. "Hans...,thanks sudah jadi sahabat buatku. Kamu jadi tempat curhatku paling sering, membantu mendewasakan pikiranku, sikapku, bahkan memberikan masukan masukan untuk hubunganku dengan Marla berjalan baik. Thanks ya." Hans hanya mengangguk sambil tertunduk. Aku tau dia sedang menyembunyikan haru juga.


"Kak Din.....,makasih sudah mau ikut kami repotkan." Dia tersenyum mengangguk lembut, senyuman yang menenangkan. Begitu Hans sering menggambarkan senyum kekasihnya itu. Kak Dina tak hanya cantik, tapi juga sosok pribadi yang dewasa dan lemah lembut. Hans sering bilang kehadiran Kak Dina dalam hidupnya adalah sebuah keajaiban Tuhan yang benar benar nyata dia rasakan.


Sama halnya sepertiku sekarang, yang menemukan keajaiban Tuhan dengan kehadiran Marla dalam hidupku.


Aku dan Hans telah sangat lama melalui hari hari tanpa warna, sepi dan mengalir tanpa makna. Tanpa orangtua, tanpa keluarga.


Sekarang semua akan berubah. Kehadiran calon pendamping dalam hidup kami membuat semangat kembali berkobar. Semangat mempersiapkan masa depan penuh harapan. Kehidupan yang mapan setelah menikah.


Tidak bisa mengharapkan orang lain menolong, hanya mengandalkan Tuhan dan diri sendiri untuk bekal menikah dan berumahtangga kelak.


"Dulu aku juga kayak Marla, kaget waktu Hans minta jadi pacar." Kak Dina memandang Hans dan menyentuh tangannya penuh kasih.


"Kok Kak Dina mau sama Hans ?"


"Apaan sih Bim.......,?"


Hans protes aku tanya demikian.


"Ha ha ha......," Kak Dina hanya tertawa saja melihat respon kekasihnya itu. "Bim.....,abangmu ini sangat bertanggung jawab dan pekerja keras. Dia ini menyayangi dan menghargai aku dengan tulus. Dan yang paling penting, kenapa aku mau sama dia, karena dia ga neko neko orangnya."


Hans mengangkat dagu bangga, wajah sombongnya mengejekku penuh kemenangan.


Kami hanya tertawa lucu melihat tingkahnya. Benar benar bukan seperti Hans. Dia yang biasa terlihat kaku dan tegas, justru bertingkah seperti anak kecil di samping Kak Dina.


Mungkin ini fakta yang tak terbantahkan. Setiap pria akan menunjukkan sisi manjanya dihadapan wanita yang tepat.