MARLA

MARLA
Antara Dua Sahabat



Baru saja Lina sampai di teras rumahnya, sosok Desy telah menyambutnya dengan tatapan marah


"Hai Des, baru nyampe kamu ?"


Lina menyapa sebiasa mungkin. Tidak terpengaruh oleh raut wajah bak hendak menerkam dari sahabatnya itu.


Ketika pulang dari kost-an Marla tadi, Lina sudah mempersiapkan diri untuk hal seperti ini. Adegan akan diamuk oleh Desy. Dia sudah siap dengan apapun perkataan dan sikap tak baik dari Desy. Begitulah dia mengenal sosok Desy yang arogan, sombong, egois. Meski belakangan ini sifat itu banyak berubah, tapi muncul lagi saat dirinya disinggung, merasa tidak senang atau bila orang lain tidak seperti keinginannya.


Kadang Lina heran, kenapa masih bersahabat dengan Desy sampai hari ini. Mungkin rasa kasihan yang membuatnya tetap mempertahankan persahabatan mereka. Kasihan akan kehidupan Desy. Meski dari luar ia terlihat kuat dan garang, namun didalam, sebenarnya Desy benar benar rapuh dan hancur.


"Yuk masuk Des." Lina membuka pintu rumahnya dan mempersilahkan Desy masuk. Ibunya sedang tidak dirumah, mendampingi bapak di luar kota, 2 hari lagi baru kembali. Sekarang hanya ada mereka berdua diruang tamu yang tak terlalu luas itu.


"Penghianat kamu Lin! Benar benar tega kamu sama aku!" Desy langsung menyerang dengan kalimat pedas sembari masuk.


"Tega gimana maksudnya ?" Lina santai menanggapi. Dia yang melangkah masuk lebih dulu membiarkan saja amarah itu meluap di belakangnya.


"Kamu ga tau, atau kamu pura pura ga tau ?" Desy menyindir sinis.


Lina memandang lurus pada Desy, mengangkat bahu pertanda tak tau. Meskipun Lina bisa menebak, bahwa yang Desy maksud adalah tentang Bima dan Marla. Namun Lina memilih tak mengatakannya, takut kalau dia salah bicara, hanya akan membuat amarah Desy memuncak.


"Kenapa sih kamu ga terus terang aja cerita tentang mereka Lin ?" Nadanya masih meninggi.


"Mereka siapa ? Cerita tentang apa ?" Lina yang tetap tenang, menatap Desy serius.


"Haalaahh..., sudahlah! Ga usah pura pura ga tau! Kamu tau kan siapa yang aku maksud ?"


"Bima dan Marla maksud kamu ?" Dengan penuh kehati hatian Lina menebak.


"Ya iyalah...!" Amarah Desy langsung berapi api.


"Aku sudah cerita kan sama kamu ? Lupa ya ?"


Lina membela dirinya tanpa terpancing ikutan marah.


"Mana ada kamu cerita!"


"Iya.... Hanya itu ! Tapi kamu kan ga pernah cerita tentang hubungan mereka! Kamu sengaja kan sembunyikan ini dari aku ? Tega kamu Lin ! Kamu benar benar tega!"


Lina menarik nafas sebentar sebelum bicara. Mencoba memilih kalimat yang tepat untuk disampaikan. "Memangnya kalau aku cerita, mereka sudah sangat dekat kamu yakin akan baik baik saja ? Terus, kalau aku cerita mereka akan berpacaran, kamu mau buat apa ? Mau merusak hubungan mereka ? Mau menggagalkan semua rencana Bima seperti waktu itu ? Atau mau marah marah ga jelas sama Marla ? Gitu ? Apa yang berbeda kalau aku cerita Des? Kamu bisa buat apa ?" Lina berusaha bicara setenang mungkin, meski dalam hati menahan geram.


Desy tercekal dengan pertanyaan pertanyaan beruntun Lina barusan. Ia sendiripun tidak tau mau bagaimana. Hanya saja dia butuh tempat untuk melampiaskan amarahnya, kekesalannya.


"Kalau dengan marah marah begini kamu bisa merasa lebih tenang, merasa lebih baik, silahkan saja Des. Saya dengarkan." Lina berusaha menenangkan.


"Sebenarnya aku berharap kamu bisa membantu hubunganku dengan Bima Lin. Kamu kan tau aku cinta sama dia, aku suka dia Lin. Karena kamu sahabatku, aku pikir kamu akan berpihak padaku." Desy melunak, suaranya bergetar menahan pilu di hati.


"Des..., Marla itu sahabatku juga, kamu pun sahabatku, jadi aku harus fair. Sejak awal aku sudah memperingatkan kamu, perbaiki sikapmu sama Bima, tapi kamu tidak pernah mengindahkan. Bima berjuang mendekatimu bukan 1 atau 2 hari Des, bukan beberapa bulan juga, tapi setahun lebih. Kalau akhirnya dia memilih berhenti, akupun bisa memahami itu. Kesempatan demi kesempatan yang kamu punya selama ini untuk memiliki Bima telah kamu sia siakan berkali kali Des. Sekarang tidak ada lagi kesempatan itu , semua sudah berlalu. Suka atau tidak suka, kamu harus merelakan. Kamu karus menerima bahwa sekarang Bima telah memilih Marla."


"Itulah yang tidak bisa kuterima Lin, aku tidak akan pernah bisa terima itu! Berarti Bima sudah mempermainkan aku! Selama ini dia mendekatiku, kenapa dia tidak sabar menungguku? Kenapa dia malah meninggalkan aku? Kenapa disaat aku mulai menyukainya, dia justru memilih Marla ? Harusnya kamu membela aku Lin, bukan membela Bima. Harusnya kamu ada di pihakku. Harusnya itu yang kamu bilang sama Bima ." Desy setengah berteriak menyalahkan.


Lina kembali menghela nafas meski ingin marah. Betapa egois dan keras kepalanya wanita ini. Namun saat menatap mata sahabatnya yang mulai berkaca kaca, perasaan marah di hatinya mereda dengan sendirinya. Lina lalu duduk di samping Desy, mengusap punggung gadis itu untuk menenangkan.


"Maaf kalau kamu berfikir begitu." Lina tak mau berdebat lagi. Meski dengan jelas dan nyata ia tau, bahwa selama ini Desy lah yang mempermainkan Bima. Bagaimana ia menggantung perasaan Bima selama ini. Memperlakukannya dengan kasar dan tidak sopan. Mempermalukan kekasih Marla itu di depan banyak orang. Merendahkan Bima dengan ucapan dan sikap yang tak pantas.


Seandainya Lina jadi Bima, bisa jadi akan meninggalkan Desy juga. Tak ada orang yang tahan di sampingnya. Sikapnya yang suka mengatur hidup orang lain membuat jengah siapa saja yang dekat dengannya.


"Kamu benar benar tega Lin. " Desy mulai berurai air mata.


"Sory Des, aku tidak bermaksud begitu."


Lina membiarkan saja Desy menyalahkan dan menumpahkan tangis padanya. Dia berusaha menenangkan sahabatnya itu dengan menepuk nepuk bahunya . Saat ini hanya itu yang bisa membantu Desy. Bukan koreksi atau masukan yang sudah pasti akan menyulut amarahnya lagi.


Desy hanya butuh empaty, hanya butuh dimengerti dan di tenangkan. Lina memahami itu dengan jelas. Bagaimanapun juga, ini kali pertama Desy mengakui bahwa dia mencintai Bima, meskipun sudah terlambat. Orang yang dia cinta kini sudah bersama yang lain.


Suara tangis sesenggukan dalam pelukan Lina belum juga mereda, Desy meluapkan semuanya di sana, dibahu sahabatnya. Sahabat yang paling mengerti dirinya, paling bisa menerima dia dalam keadaan apapun. Saat ini Desy tak hanya menangisi patah hatinya, tapi juga menangisi kesepiannya, kebodohannya dan penyesalannya.


Penyesalan yang dalam karena telah mengabaikan dan menyia-nyiakan cinta Bima selama ini. Rasanya begitu menyakitkan. Tidak rela dan tidak bisa terima ketika Bima mencintai perempuan lain. Tiba tiba penyesalan itu berubah menjadi kebencian dihatinya. Benci pada sosok Marla yang Desy fikir telah mencuri Bima darinya.