
Lina dilema diantara kedua sahabatnya. Dia jelas sangat tau Desy menyukai Bima. Bahkan mulai mencintai Bima. Sayangnya Bima sudah berubah hatinya. Di satu sisi Marla juga kelihatannya menyukai Bima. Meski Marla tak bilang, tapi sikapnya menunjukkan begitu.
"Apa yang harus kubilang ke Desy." Lina mengusap tengkuknya sambil berfikir.
Lina mengambil ponselnya, menghubungi Bima.
"Halo Bim....."
"Iya....,gimana Lin ? " Bima menyambar cepat dengan pertanyaan.
"Marlanya ga bisa Bim, Sabtu dia masih masuk malam. Minggu aja dia libur." Lina menjelaskan.
"Oh gitu.......,ya udah ga apa...., Minggu sore aja yuk kita hangout nya. Kamu bisa kan ?" Bima memastikan.
"Bisa aja, jadi minggu sore berarti ya ?" Tanya Lina.
"Iyalah Minggu sore aja." Bima meyakinkan. "Thanks ya Lin sudah bantu memastikan.
"Sama sama......., sampe ketemu minggu sorelah ya." Kata Lina menutup pembicaraan.
Setelahnya, Lina menghubungi Desy.
"Lagi dimana dirimu ?" Tanya Lina setelah Desy mengangkat teleponnya.
"Di kerjaanlah, jam 5 baru pulang."
"Ada janji ga habis pulang kerja."
"Enggak, kenapa ?"
"Nginap sini ya ?!"
"Aduh....,ga bisa aku ....., besok ada meeting penting jadi malam ini mau siapin data."
"Oh gitu, bisa singgah ga nanti."
"Oh bisa bisa."
"Ok, makan malam di sini aja nanti."
"Ok. Thank Lin."
Pembicaraan selesai. Lina mengumpulkan pola pola kain yang berserakan di lantai. Menyusunnya sesuai pasangannya masing masing. Masih sempat menyelesaikan 1 baju lagi pikirnya.
********
Lina sengaja tutup kios lebih cepat. Beberes sebentar, pergi masak dan mandi. Selesai Lina mandi Desy sudah tiba di rumah.
"Lin....,ada Desy itu." Mamanya mengetuk kamarnya mengabari.
Lina mempercepat menyisir rambut. Lalu keluar kamar dan menyambut sahabatnya itu.
"Hei cepat juga nyampenya."
"Iya, aku tadi numpang mobil Rena. Rumahnya dekat sini. "
"Ohhh....., pantesan cepet. Makan dulu yuk. " Lina memandu ke arah meja makan.
"Ma.....,ayo makan." Lina mengajak mamanya.
"Duluan aja kalian, mama nunggu papa." Jawab mama yang lagi di depan tv. "Sisihkan aja untuk kami." perintah mama melanjutkan.
Lina bergegas mengambil piring untuk ikan dan mangkok untuk sayur. Menyisihkan untuk papa dan mamanya.
*******
Lina dan Desy sudah duduk mengobrol di teras.
"Kamu sama Bima gimana Des ?" Lina langsung ke inti pembicaraan.
"Apaan sih, tiba tiba nanya itu." Desy kaget ditanya begitu.
"Kemarin aku teleponan dengan Bima. Yang aku tau hatinya sudah berubah."
Waja Desy mendadak berubah serius, spontan menoleh ke arah Lina. Ingin memastikan kalau Lina tidak sedang bercanda.
"Makanya aku tanya kamu Des, hubungan kamu dan Bima gimana ?" Lina mengulang pertanyaannya, seperti mengerti arti ta5apan sahabatnya itu.
Desy sedikit kikuk, bingung mau menjawab apa. Tapi kemudian dia menjawab seadanya.
"Aku juga ga tau Lin. Seperti aku bilang kemarin. Aku mau belajar mencintai dia."
"Jadi sekarang perasaan kamu gimana ?"
"Aduh.....,gimana ya. Kalau suka, bisa dibilang aku suka. Kulihat Bima gigih orangnya. Menurutku patut diberi kesempatan." Jawab Desy meyakinkan.
"Kok aku jadi kurang suka ya kamu ngomong begini. Ngajak aku kesini mau bahas ini ternyata. " Desy bereaksi tidak senang. " Kalo dia memang mau ngejar cewek lain ya udah, biar ajalah. Ga mungkin juga dong aku ngejer ngejer dia. Sorry aja." Jawab Desy arogan.
Lina sudah menduga Desy akan berkata begitu. Meski itu bukan hati Desy yang sebenarnya. Harga dirinya terlalu tinggi untuk mengakui perasaannya.
Lina mendekat dan menyentuh pundaknya sahabatnya itu.
"Kamu cinta ga sih sama Bima ?" Lina bertanya lembut.
Desy tak punya pilihan lain selain mengakui perasaannya.
"Aku mungkin mulai cinta sama dia Lin. Mulai rindu, mulai kecarian. Tapi memang belakangan ini dia udah ga pernah chat aku. Ga pernah telepon lagi. Ga pernah ngajak jalan juga. Setiap kali aku ikut kumpul kumpul, dia juga udah ga ikut gabung. Aku pikir karena dia memang sibuk. Jadi aku biarin aja. Gengsi aku nanya duluan."
"Apa sejak kita kumpul terakhir itu dia ga ada komunikasi lagi sama kamu ?" Aku bertanya memastikan.
"Sepertinya gitu Lin. Kayaknya nomor ponselnya juga udah diganti. Padahal kamu tau kan, kejadian waktu itu aku benar benar menyesal. Tapi mau bilang apa lagi, semua udah terjadi . "
"Kamu ada minta maaf nggak ?"
" Tadinya mau minta maaf tapi aku malu Lin. Mau ditaruh dimana mukaku. Rendahan sekali rasaku." Desy masih kekeh dengan egonya.
" Kamu kan memang salah. Baiknya memang harus minta maaf kan ? " Lina mengoreksi.
"Siapa tau dengan begitu hatinya bisa balik lagi ke kamu."
" Emang siapa sih cewek yang lagi dia deketin ? Penasaran aku, sebagus apa itu cewek. " Desy masih arogan.
"Kenapa ?! Mau kamu ultimatum itu cewek ?! Kalau sikap kamu masih tetap begini, ga rendah hati, sepertinya harus kamu relakan Bima deh. " Kata Lina tegas.Desy sedikit tersentak. "Bima berfikir dia tidak bisa menghadapi sikap kamu Des, makannya dia memilih mundur. Jadi dia selesai dengan kamu. Faham. "
Desy terdiam, sepertinya dia menyadari itu juga, tapi tak mau membicarakannya. Lina sahabatnya yang begitu kenal dia apa adanya. Orang yang paling tau hatinya dan yang paling bisa memberinya masukan terbaik.
********
Setelah pulang dari rumah Lina, Desy menangis di kamarnya. Jelas jelas dia mencintai Bima. Ga ada pria lain selain Bima di hatinya. Dia sangat berharap Bima memintanya jadi pacar. Tapi mendengar cerita Lina tadi, hatinya sakit. Merasa menyesal dengan semua sikapnya.
Seandainya aku tidak seangkuh ini. Seandainya aku sedikit memberi perhatian ke Bima. Seandainya aku memberikan respon yang baik padanya. Ah....,banyak seandainya yang bisa aku lakukan. Sekarang aku bisa apa. Bima sudah berubah haluan, hatinya bukan untuk ku lagi.
Desy duduk di sisi ranjangnya. Mengambil ponselnya. Memandangi nomor Bima yang baru. Bahkan nomor baru itupun dia hanya berani diam diam mengambilnya dari ponsel Lina. Mengetik pesan dan mengirimkannya.
"Hai Bim....,apa kabar ? Ini Desy."
Dia menarik nafas sebentar, menyingkirkan egonya sebelum memutuskan akan mengirimkan pesannya. Lalu pesan terkirim ke Bima.
"Baik"
Bima membalas singkat.
"Lagi sibuk ya ?"
"Lumayan."
"Lama ga dengar kabarnya. Kok ga bilang kamu ganti nomor ?"
Untuk beberapa saat Desy menunggu, tapi pesannya barusan tak berbalas.
"Minggu ini ada kegiatan apa ?'" Desy mengirimkan pesan baru.
Pesan tak dibalas lagi. Sebentar Desy masih menunggu, memandangi pesan yang dikirimnya barusan. Bahkan pesan itupun belum dibaca. Desy menghela nafas lagi, lalu meletakkan ponselnya menyerah.
Desy menutup wajahnya dengan kedua tangan nya. Masih ada air mata di sana. Lalu dia menarik nafas dan mulai bertekad lagi. Sudah waktunya dia menanggalkan ego. "Akan kulakukan apapun untuk menarik hati Bima lagi." Niatnya dalam hati. Dengan cepat Desy memutar otak mencari cara, dan terfikir akan seseorang.
Desy mengambil ponselnya segera menghubungi Lexi. Salah satu teman baik Bima. Dia pasti tau apa kegiatan Bima. Siapa tau ada kesempatan bertemu.
"Hai Lex......,apa kabar ? Desy ini."
"Oh....,hai Des." Di balik telepon sana Lexi sedikit kaget dihubungi Desy. Belum pernah terjadi sebelumnya.
"Minggu ini ada mau pergi hangout ga ?" Tanya Desy 'to the poin'.
"Ada...,kita hangout di Distro Minggu sore. Kenapa ? "
" Ada siapa aja yang mau ikut ?"
"Mmmm.....,banyak sih. Ada Hans sama pacarnya, ada Join, ada Bima, ada......"
"Ok aku ikut gabung ya Lex.....,tapi jangan bilang bilang dulu, siapa tau aku ga jadi ikut. " Mendengar nama Bima ada ikut, Desy cepat memutuskan gabung. Memotong penjelasan Lexi.
"Oh gitu....., ok." Lexi keheranan, tapi tak menganggap Desy serius akan ikut. Biasanya Desy tidak pernah mau diajak hangout di tempat begitu. Biasanya selalu pilih pilih orang untuk pergi hangout. Tapi Lexi hanya mengabaikan itu, berfikir mungkin Desy mulai berubah.
Desy kembali menarik nafas menenangkan diri, selesai menelefon Lexi.
"Ok....,sudah tau Bima akan ikut hangout. Aku hanya perlu punya rencana. " Desy menyemangati dirinya.Tinggal menyusun rencana untuk hari Minggu. Mereka ga boleh tau aku ikut.
Dia sudah memutuskan akan melakukan apa saja, singkirkan saja ego ini sebentar, pikirnya.