
MARLA
Pagi ini, seperti biasanya aku mengurus pasienku Pak Gunadi. Aku membantunya melakukan kegiatan sesuai jadwalnya setiap hari. Awalnya terasa sulit buatku, tapi sekarang sudah menjadi aktivitas yang menyenangkan. Ada perasaan sukacita tersendiri saat merawatnya. Rasanya seperti mengurus Kakek sendiri.
Mengukur tekanan darahnya, mengukur gula darahnya. Menyiapkan obatnya, membantunya membersihkan diri, membantunya sarapan dan membantunya berolahraga ringan. Setiap hari latihan itu harus dilakukan untuk mempertahankan fisiknya agar tidak kaku akibat penyakit stroke dan diabetes yang dideritanya.
Sambil melakukan kegiatan itu, saya sering bercerita, bercanda atau sekedar menyampaikan akan melakukan apa. Kadang kadang dia akan menjawab semampunya. Kadang kadang tidak merespon apa apa. Akibat stroke dan diabetes responya kadang tidak nyambung, bicaranya juga kurang jelas. Awal awal aku tidak mengerti dia mengucapkan apa. Tapi semakin lama, aku belajar memahami dan bisa mengerti apa maksud bicaranya.
"Suster.....,saya mau bawa bapak makan siang keluar hari ini. Sehabis olahraga, kasi bapak tidur dulu ya, biar disana nanti tidak mengantuk. Terus jam 12 siang nanti tolong bantu bapak siap siap ya." Ibu Linda isteri bapak Gunadi memberitahukanku perubahan jadwal bapak hari ini.
"Baik bu." Aku menjawab dengan sopan.
Ibu Linda itu teratur orangnya. Hampir semua kegiatan diatur dan dipersiapkan dengan baik sebelum waktunya. Termasuk jadwal bapak setiap hari, ibu Linda yang atur. Meski usianya sudah 70-an tapi masih terlihat bugar dan cekatan .Wajah dan fisiknya juga masih cantik dan terawat. Mungkin karena perawatan nya yang mahal. Begitu para pekerja di rumah ini sering mengatakan.
"Ibu itu, meski sudah tua begitu, masih perawatan setiap bulan suster. Kadang kadang pergi ke luar negeri juga untuk perawatan. " Begitu mbak Yuyun pernah bercerita.
Aku yang mendengar cerita itu manggut manggut saja, tanpa berkomentar atau banyak tanya. Pikirku, cukup tau sajalah, ga usah terlalu mau tau. Lagipula wajar dan sah sah saja sih melakukan perawatan, dia kan punya uang dan punya waktu juga.
Siangnya setelah membereskan Pak Gunadi, kita berangkat bersama ke sebuah restoran. Disana sudah ada anak anak, menantu dan cucu cucunya yang menunggu. Biasanya mereka akan membantuku menurunkan bapak dari mobil. Dan membantu ibu Linda membawakan barang bawaan.
"Halo papa........," Pak Calvin anak pertamanya menyambut kami di depan lobi restoran.
Pak Gunadi, tersenyum lebar mendapat sambutan itu. Sambil perlahan turun dari mobil dia bertanya, "Maya mana ?" Yang dia maksud menantunya. Isteri Pak Calvin. Meski bicara celat, tapi kalimat tadi terdengar jelas dia ucapkan.
"Di dalam, siapkan menu makanan kita." Pak Calvin menjelaskan.
Pak Gunadi sangat sayang dengan Bu Maya, menantu pertamanya. Karena Maya itu anak dari teman dekatnya. Sayangnya temannya itu sudah meninggal. Sebelum meninggal, temannya menitipkan bu Maya kepada Pak Gunadi. Karena bu Maya adalah anak perempuannya satu satunya. Waktu itu Pak Calvin dan Bu Maya baru menikah.
Cukup memakan waktu membawa Pak Gunadi dari depan lobi restoran sampai masuk ke restorannya. Karena dia tidak memakai kursi roda, kami harus membantunya berjalan perlahan. Pak Calvin sengaja melakukannya untuk melatih papanya berjalan. Agar otot kakinya tidak kaku. Kursi roda hanya digunakan untuk tempat duduk bila papanya merasa lelah berjalan. Setelah istirahat sebentar, akan dibantu lagi berjalan. Seorang karyawan restoran membantu membawakan kursi rodanya.
Lalu kami sampai di dalam restoran, saya lalu membantu Pak Gunadi untuk duduk di kursinya yang sengaja diatur tepat ditengah, sehingga mudah berinteraksi dengan seluruh keluarga. Semua keluarga menghentikan kegiatan mereka sebentar. Menyambut Pak Gunadi saat sampai ke meja tempat berkumpul. Lalu mulai menyapa satu persatu. Ada yang mengajak bercanda, ada yang tanya kabar, ada yang peluk dan cium, ada juga yang main atraksi jari. Pak Gunadi sangat mahir mengikuti gerakannya. Lalu senyum tawa bermekaran di wajah mereka semua. Terutama Ibu Linda, isteri Pak Gunadi, yang sedari tadi hanya memandangi dari tempat duduknya di samping Pak Gunadi. Meski mereka sudah tua, tapi hubungan mereka masih penuh cinta. Terlihat bagaimana Bu Linda bicara dan memperlakukan Pak Gunadi penuh perhatian. Bagaimana dia bertanya dan memastikan kebutuhan Pak Gunadi. Menanyakan mau makan apa atau mau pesan apa.
"What do you want to eat Yeye?" Tanya Bram, cucu pertama Pak Gunadi. Cucunya sudah lama tinggal di Australia, lebih sering memakai bahasa Inggris.
Cucu cucu Pak Gunadi biasa memanggilnya Yeye artinya kakek dalam bahasa mandarin dan Naynay untuk memanggil nenek pada Ibu Linda.
"May I get the spicy one ?" Kata Pak Gunadi
"No papa. Tidak boleh. Nanti sakit perut." Tante Linda segera melarang.
"I'll give him just a bite. Is it ok Naynay ?" Bram mencoba bernegosiasi dengan neneknya.
Bu Linda menghela nafas mengalah. " Ok lah. Tapi hanya sesulang saja." Jawabnya menegaskan.
Bram dan Pak Gunadi toast tangan karena berhasil merayu Bu Linda.
Saya duduk satu meja juga dengan mereka. Saya duduk di sebelah kanan Pak Gunadi. Seperti biasanya, saya akan membantu pak Gunadi menaruh makanan di sendoknya. Membantunya membersihkan mulutnya dan membantunya memilah milah lauk di piringnya.
Keluarga ini sangat hangat dan sopan. Meski saya hanya seorang pekerja di sana, mereka tidak semena mena kepada saya. Mereka memastikan makanan saya, membiarkan saya memesan sendiri makanan saya sesuai selera saya di restoran yang sama. Mengambil alih pekerjaan saya mengawasi Pak Gunadi sementara saya sedang makan. Bergantian setelah pak Gunadi selesai makan. Selalu mengatakan terimakasih karena sudah membantu merawat papa mereka.
Bisa dibilang, mereka adalah keluarga kaya raya namun rendah hati.
Mbak Yuyun pekerja di rumah Pak Gunadi sering bercerita tentang keluarga ini kepadaku. Dia sudah bekerja sangat lama di sana. Sejak dia masih gadis, sampai sekarang sudah hampir punya cucu. Dia bilang ibunya juga dulu bekerja dengan keluarga Bu Linda semasa masih muda. Sampai bu Linda menikah dengan Pak Gunadi, lalu digantikan oleh mbak Yuyun.
"Saya sudah lama kerja di sini suster. Sampai sudah tau banyak tentang keluarga ini, hapal letak rumah ini dan semua sifat karakter orang di dalamnya . " Kata mbak Yuyun waktu itu.
Semua cerita tentang keluarga ini saya tau dari mbak Yuyun, termasuk cerita bagaimana Pak Gunadi bisa terkena stoke.
Pelajaran berharga yang saya bisa dapat dari
keluarga ini adalah bagaimana menghargai orang tua dan keluarga. Bisa dikatakan, anak anak dan menantu Pak Gunadi adalah orang yang sibuk. Masing masing punya usaha yang harus diurus. Baik usaha keluarga, maupun usaha mereka sendiri. Tapi 2 kali setiap bulannya mereka akan berkumpul dan makan bersama sambil saling bertukar cerita seperti sekarang ini.
Lalu saya berfikir, "wajarlah keluarga ini berhasil dan sukses, terlihat dari mereka memperlakukan orangtuanya."
Selepas saya selesai makan, saya kembali ke tugas saya mengawasi Pak Gunadi. Sebentar saya lirik jam di tangan, menunjukkan hampir pukul 3 sore. Biasanya kami akan pulang duluan, meninggalkan Ibu Linda dan yang lainnya di sana. Karena Pak Gunadi harus istirahat.
Pak Calvin menyuruh supir menghidupkan mobil, lalu memanggil karyawan restoran untuk membantu saya membawa Pak Gunadi. Sambil dia sendiri juga berjalan mengikuti di belakang kami, terus mengawasi sampai kami masuk ke mobil. Melambaikan tangannya kepada papanya sampai kami keluar dari area hotel.
Pak Gunadi ada 3 orang anak. Pak Calvin, Pak Hendra , dan bu Juwita. Saat kumpul keluarga mereka bertiga akan ambil perannya masing masing. Pak Calvin akan memastikan papa dan mamanya sampai dengan aman. Pak Hendra dan isterinya akan menemani mamanya bercerita, sedangkan Ibu Juwita akan mengawasi Pak Gunadi selama di restoran, memastikan kebutuhannya terpenuhi, sambil mengajaknya bercerita. Polanya aku perhatikan selalu sama setiap kali aku mendampingi Pak Gunadi.
Setiba di rumah, pak supir dan mbak Yuyun membantu saya membawa Pak Gunadi ke rumah. Lalu Lesti dan Weny pekerja lainnya di rumah itu membantu membawakan barang barang dari mobil.
Sementara saya merapikan tempat tidur Pak Gunadi, dia akan duduk menonton TV sebentar.
Lalu berganti baju rumah dan berbaring di kasurnya beristirahat.
Selesai sudah pekerjaan saya sampai sore ini.
Lalu saya duduk di kursi kayu di dekat di situ dan ingat hari ini ada janji dengan Bima. Mengambil ponsel yang sedari tadi belum sempat saya pegang, niat akan mengirim pesan . Sampai saya baca pesan itu.
"La...,sore ini aku ga bisa masuk, tolong gantikan sampai besok pagi ya. Aku ada urusan mendadak." Pesan Menti yang terkirim siang tadi. Baru sempat kubaca sore ini. Membaca pesan itu aku mendadak sendu.
Artinya janji dengan Bima harus batal hari ini. Rasanya sedih seperti mau menangis. Sekaligus kesal dengan Menti, kenapa ubah jadwal tiba tiba begini.
Dengan perasaan kecewa aku chat Bima, mengatakan aku tidak bisa pergi sore ini. Agar dia tak usah repot repot datang menjemput.
Yah......,ga semua bisa terjadi sesuai pengharapan. Hiburku dalam hati, mengobati marah dan sedihku. Seperti inilah bahagia yang tertunda.