
JAKA
Dibalik kemudi yang kukendalikan, disamping Marla gadis yang lama kurindukan, akhirnya aku mengetahui ketidak benaran dari masa lalu.
Aku kemudian mengingat Lesti, setelah Marla menyebutkan dia anggota paduan suara.
Dalam memoriku, ada satu kejadian yang tidak pernah diketahui oleh siapapun. Kini baru kutau, bahwa kejadian itu sudah disalah fahami kebenarannya.
Perlahan lahan kenangan 10 tahun yang lalu itu kembali kusegarkan lagi. Menjadi satu cerita utuh yang muncul di permukaan ingatanku.
Waktu itu hari menjelang sore, aku seperti biasa sedang bermain gitar di dalam kamarku yang luas.
"JA...,JAKA.....JAKA.....!!"
Sayup sayup dan semakin jelas kudengar ibuku berteriak memanggil. Suaranya seperti berasal dari halaman depan.
"IYA MA......,"balasku sambil beranjak dari tempat tidur. Masih sambil menenteng gitar yang tadi kumainku, aku melangkah ke arah suara berasal.
Kutemukan mamaku yang cantik sedang menyirami bunga kesayangannya. Seluruh pekarangan luas ini penuh dengan bunga bunga indah miliknya, ditata rapi dan disusun sesuai ukuran menjadi enak dipandang mata.
"Itu ada teman kamu nyariin." Mamaku yang sibuk dengan selang di tangan menunjuk dengan ujung dagunya.
Dalam pikiranku Efendi atau Arpan yang datang, tapi kenapa mereka ga langsung ke kamar saja sih. Biasanya juga begitu.
Namun aku terheran dan menghentikan langkah, ketika yang kulihat ternyata seorang gadis yang berdiri di sana.
"Lesti ?!"
"Hai Ja..."
Lesti segera bangkit dari duduknya. Dia hanya tersenyum berusaha manis, menghadapi aku dengan tatapan heran. Baru kali ini rumahku didatangi perempuan dari sekolah.
"Ada perlu apa ?"
Aku masih berdiri menjaga jarak.
"Eeemm..., ini Ja, mau latihan vocal. Eenng..., mau minta tolong kamu yang bantu. Boleh ?"
"Hah...?"
Aku mengeryitkan dahi tanda tak mengerti.
"Maksudnya gimana ?"
"Gini lo Ja, aku kan pengen ikut lomba lagu Solo untuk acara 17-an. Tapi aku tidak bisa latihan tanpa musik, jadi aku minta tolong kamu yang gitarin. Bantu aku dong Ja ? Boleh ya Ja?"
Dengan cepat tangannya menyentuh lenganku. Meminta manja sambil mengoyang goyangkan lenganku.
Segera kutarik lenganku, melangkah mundur untuk menjauh. Kulihat wajahnya merah padam sambil menggigit sudut bibir, kedua telapan tangan mengatup menahan malu. Mungkin karena bahasa tubuhku yang terkesan menolak.
Aku jadi merasa tidak enak. Tak ada niatku membuatnya merasa dipermalukan. Secara ada mamaku yang mengawasi dari sudut pekarangan.
"Silahkan duduk dek."
Tiba tiba, mama sudah berdiri di belakangku.
"Ehh, iya, bu. Terimakasih."
Lesti berusaha bersikap sewajarnya dan kembali ke kursi yang dia duduki tadi.
"Alum......., buatkan minum ya. Ada teman Jaka di teras."
Mama masuk ke dalam rumah dan menyuruh Kak Alum pekerja di rumah kami untuk menyiapkan minuman.
Aku akhirnya berusaha bersikap ramah. Menarik kursi yang lain dan duduk sedikit jauh dari meja teras.
"Sori ya Ja kalau aku mengganggu waktu kamu. Aku hanya mau minta tolong. Tapi kalau kamu ga bisa juga ga apa apa kok. " Lesti melembut.
Aku jadi serba salah, antara mau atau tidak membantu. Tapi tetap tak nyaman didatangi sampai kerumah begini.
"Perlu bantu gimana tadi Les ?"
Kalimatku seramah yang aku bisa.
Wajahnya langsung berubah ceria kembali.
"Bantu iringi aku latihan lagu solo Ja. Bisa ?"
Aku tau dia sangat berharap aku bisa. Dengan mudah aku menganggukkan kepala menyanggupi.
"Wah.....,terimakasih Ja !" Tak sadar dia bertepuk tangan dan memekik senang.
"Tapi latihannnya di sekolah aja ya, jangan di rumah."
Sejak saat itu, saya rutin mengiringi Lesti latihan bernyanyi. Hampir setiap hari di jam istirahat dan hampir setiap hari sepulang sekolah.
Kami berdua akhirnya akrab karena sering bersama. Tapi tidak ada romansa diantara kami, murni hanya berteman. Kemungkinan orang orang sudah salah faham pada kedekatan itu, termasuk Marla pastinya.
Tunggu.......
Kenapa dia memastikan hubunganku dengan Lesti ?
Apa Marla juga menyukaiku ?
Apa sebenarnya yang dia pikirkan tentang aku dan Lesti ?
Kilirik lagi Marla yang duduk disampingku dari kaca depan. Wajah itu sedang melamun, memandang jauh keluar jendela. Entah apa yang sedang dipikirkannya.
Kalau benar dia juga menyukaiku, tak ingin kulewatkan kesempatan itu sekarang. Hari ini juga akan kupastikan. Tak ingin aku menundanya lagi.
Cukuplah penundaanku yang dulu menjadi penyesalan. Jangan sampai terulang lagi sekarang.
"Sebentar lagi kita sampai La."
Aku mencoba membuka lagi pembicaraan.
"Mmmm..."
Jawaban yang seadanya itu, membuatku kikuk.
"Kamu turun di mana nanti La ?"
"Di stasiun aja Ja. "
Aku mengangguk, bukan karena dia menjawab seperti yang kupikirkan. Tapi karena aku mulai bingung mau tanya apa lagi untuk menyambung obrolan.
"Dari stasiun naik apa nanti ke tempat kamu La ?"
"Naik becak mesin bisa kok, ga terlalu jauh dari situ."
BINGGO..........,otakku langsung bersemangat atur strategi. Nah.........,ini celah yang aku tunggu tunggu.
"Nanti aku antar aja ke tempat kamu ya La."
Sambarku cepat menawarkan. Tak mau kehilangan kesempatan.
"Naik bus ini ?!"
Mata indahnya terbelalak kaget.
"Kamu ga mau ya ?"
Pancingku lagi.
"Bukan ga mau.....," dia coba mengklarifikasi dengan gerakan tangan, " tapi jalan ke dalam kost-an ku kecil Ja. Mana muat bus besar begini masuk ke dalam.
"Ohhhhhh........,kirain." Dalam hati aku berteriak penuh kemenangan. "Berarti kalau diantar pakai mobil kecil boleh aku antar dong ?"
Seketika Marla menjadi salah tingkah, kulihat dari kaca depan senyumnya mulai muncul lagi.
Ahhhhh......,ingin sekali kupandangi senyum itu berlama lama. Tapi situasiku tidak mendukung saat ini. Bagaimanapun banyak nyawa bisa jadi taruhan bila kemudiku melenceng sedikit sajapun dari jalur.
________________
Setelah kurang lebih 4 jam perjalanan kami tempuh, akhirnya bus tiba di stasiun.
Aku segera turun, bergerak ke arah pintu di samping Marla, membantunya turun dengan semua barang bawaannya.
"Aduh...,jadi ngerepotin lo Ja. Aku bisa sendiri kok."
Marla merasa tak enak, sifat yang dari dulu sudah kuketahui.
"Ga repot kok. Namanya menolong, ya , jangan setengah setengah dong. " Kataku mejelaskan, karena memang aku tidak merasa di repotkan.
"Sebentar ya La, mau melapor dulu."
"Ok."
Kutinggalkan Marla sebentar di kursi tunggu penumpang khusus di sebelah dalam kantor. Agar dia tak perlu berdesak desakan diluar.
Ayahku yang kupanggil Pak Tua itu benar benar membuat stasiun ini penuh pertimbangan. Bukan hanya tentang status tanah ini yang dibuat atas milik perusahaan sendiri, tapi keberadaan dan bentuknya juga diatur sedemikian rupa untuk kenyamanan.
Terhindar dari kemacetan, aman dari kendaraan lain yang berseliweran dan dilengkapi warung,apotik juga swalayan kecil tempat bersantai dan berbelanja keperluan di perjalanan.
Aku mengambil Pajero Sport dari gudang di belakang stasiun. Hanya aku dan Pak Tua yang boleh memakainya. Dulu saat aku melanjutkan SMA di kota ini, orangtuaku ikut menetap di sini. Karena itu, bagian belakang stasiun ini dibangun rumah dan gudang mobil oleh orangtuaku.