MARLA

MARLA
Mengejar Cinta Marla



MARLA


Sehabis mandi rasanya terasa segar, hati dan fikiranku ikut segar dan tenang.


Aku buka pintu kamar kost ku dan berjalan keluar ke arah kursi tamu di luar. Berharap Bima masih menunggu di sana. Dan benar saja, dia masih menunggu di sana.


"Maaf lama menunggu bang. " Kataku berusaha ramah, dan mengambil duduk di depan kursinya.


"Oh....,ga apa. " Katanya sambil menghentikan kegiatannya mengutak atik ponselnya.


Sebentar kami saling membisu.


"Marla apa kabar ?"


"Abang apa kabar ?"


Kami bertanya bersamaan......,lalu jadi tersenyum canggung.


"Kabarku baik bang," kataku kemudian menjawab pertanyaannya.


"Baguslah. Kabarku baik juga. Kakiku sudah semakin baik. "Kata Bima menunjukkan kakinya.


"Baguslah bang, semoga cepat pulih." kataku seadanya.


"Tumben datang kesini bang ? Sepertinya ada yang perlu ?" Tanyaku lagi berbasa basi.


Bima berubah serius. "Selama ini kamu menghindariku La ? Aku hanya ingin tau kenapa ?"Bima menatapku.


Ditanya begitu aku jadi kikuk dan tak tau harus bilang apa.


"Kalau aku ada salah, aku minta maaf. "Kata Bima melanjutkan.


"Bukan bang. Bukan begitu." Jawabku segera mengklarifikasi.


Aku mengambil nafas sebentar. Memilih kalimat yang tepat yang harus kusampaikan.


" Aku hanya tidak ingin disalahfahami bang." Kataku kemudian memberi jawab. "Aku tidak mau mengganggu hubungan abang dengan kak Desy. Aku hanya menjaga itu. "


Bima tidak terlihat terkejut , hanya tersenyum kecil lalu menjelaskan.


"Aku dan Desy tidak ada hubungan apa apa La. Aku sudah pernah cerita ke kamu. " Bima seperti mengerti arah pembicaraanku. Dia mencoba menegaskan lagi.


"Maaf bang.....,apapun itu hubungan kalian. Tapi kak Desy dekat dengan abang sebelum aku. Dan aku mengerti posisiku. Aku dan kak Desy sama sama perempuan dan kita saling kenal. Aku berharap abang bijaksana menyikapinya. "Kataku sesopan mungkin.


"Dulu memang benar aku mendekatinya La, tapi kami tidak pernah dekat." Bima mulai bercerita. "Dulu aku memang menyukainya, tapi ada hal hal yang dia lakukan yang membuatku tersakiti. Aku pikir tidak akan baik aku memaksakan diri. Aku melakukan banyak hal, bahkan yang aku tak suka. Aku berharap dia mau membalas perasaanku. Paling tidak dia mau melihat usahaku. Tapi yang aku dapatkan justru sebaliknya. Dia memakiku di depan banyak orang dengan bahasa yg tak pantas, hanya karena permasalahan sepele. Dia menghinaku karena keadaanku, keuanganku, statusku, aku dijadikan bahan lelucon. Kalau orang lain yang melakukan itu, mungkin tidak terlalu menyakitkan. Tapi karena Desy yang melakukannya, itu sangat menyakitkan. Sejak saat itu memutuskan berhenti mendekatinya. Dan itu jauh sebelum aku kenal kamu La. Seandainya saja Tuhan mempertemukan kita sebelum aku kenal Desy, mungkin akan berbeda ceritanya. Tapi aku tidak bisa memilih akan bertemu siapa dan kapan La. Setidaknya saat ini aku tau harus menuju ke siapa." Bima menatapku dalam, tapi aku tak sanggup membalaa tatapan itu.


Aku hanya tunduk terdiam dengan penjelasan Bima itu. Aku tak tau mau berkata apa, tapi apa yang dia katakan benar adanya. Kita tak bisa memilih akan bertemu siapa dan kapan. Tapi rasa takutku ini membuatku memilih untuk menghindar. Rasa takut disalahfahami. Takut dikecewakan. Takut gagal. Takut. Dan takut.


"Aku tidak minta kamu mengerti aku La. Tapi 'please' jangan menghindar." Bima meminta dengan lembut.


Di lubuk hatiku yang paling dalam akupun tak menyangkal bahwa aku menyukai Bima. Tapi aku tidak cukup berani menunjukkannya. Kegagalanku dimasa lalu ternyata masih menghantuiku sampai sekarang. Ketiaka aku mencintai dengan tulus, dan menjalin hubungan pacaran yang serius, berharap bisa sampai ke pelaminan. Tapi pada akhirnya selalu kandas pada penghianatan yang menyakitkan. Aku berjuang menata hati, mencari tahu salah dimana diriku, apa kurangnya aku, sampai aku merasa tidak percaya dengan diriku sendiri.


Aku tidak siap dengan adanya perempuan lain selain aku. Dengan Bima juga sama, aku tidak yakin dengan diriku. Aku tidak yakin bahwa dia akan memilihku. Kembali teringat kisahku dengan Rey. Bagaimana Rey meninggalkanku untuk kembali kepada mantan pacarnya. Meski pada awalnya dengan sangat meyakinkan Rey bilang hanya akan ada aku. Dengan meyakinkan Rey mengatakan sudah menyeselaikan perasaannya pada mantannya. Pada akhirnya mengakui tak sanggup hidup tanpa mantan pacarnya. Memilih kembali kepada mantannya bahkan memilih menikahinya. Duniaku benar benar runtuh waktu itu.


Hatiku sempat terpenjara lama karena kejadian itu. Aku selalu bertanya tanya, apa yang salah dengan hubungan kami ? Sejak awal aku tak pernah merayu Rey, tak pernah merebut dia dari siapapun. Rey yang datang mendekatiku, memberikan perhatian padaku, memenangkan hatiku, mengatakan kisahnya hanyalan masa lalu. Meyakinkanku menjadi pacarku. Pada akhirnya memilih putus dariku, mengatakan tak bisa hidup tanpa perempuan masa lalunya itu. Lalu selama ini, hubungan seperti apa yang Rey bangun bersamaku ? Aku benar benar merasa bodoh sendiri karena sudah berfikir sampai ke pelaminan, ternyata tidak begitu dengan Rey. Dia memilih perempuan lain untuk dibawa ke pelaminan.


Aku takut Bima juga akan sama. Saat ini mengatakan ingin dekat denganku, sementara ada Desy sebelum aku. Aku takut kalau aku membuka hatiku, dia malah akan kembali kepada Desy, lalu aku akan terluka lagi. Aku tidak siap terluka lagi.


"Mungkin akan lebih baik kalau kita saling menjaga jarak bang. " Kataku menjawab permintaannya. Meskipun didalam hatiku seperti diaduk aduk rasa tak rela.


Bima hanya bisa diam dengan jawabanku. Dan hanya terdiam sampai dia permisi pulang.


Dalam hati akupun tak suka dengan keadaan ini. Tak ingin menjaga jarak dengan Bima. Tapi aku hanya menutupnya rapat dalam hatiku. Aku memaksakan diriku bahwa ini yang terbaik. Ini sudah yang terbaik.


Aku mengantarkan Bima pulang sampai gerbang depan kost tinggalku. Mengantarkan dengan hati dan fikiran yang berseberangan. Logika dan perasaanku seakan sedang berperang saat ini.


______________________


BIMA


Aku melaju meninggalkan kost Marla dengan kecewa. Sulit kuterima pernyataannya tadi.


"Lebih baik kita menjaga jarak saja."


Kalimat itu seperti terngiang di telingaku.


Kenapa harus menjaga jarak? Jelas sekali Marla memang ingin menghindariku. Tapi kenapa ? Apakah dia sedang dekat dengan pria lain ? Atau ada hubungan serius dengan pria lain ?


Setiba di rumah aku duduk di teras depan rumah kontrakanku. Tak lama berselang Hans tiba dengan sepeda motornya. Mungkin sehabis dari rumah pacarnya pikirku.


"Tumben duduk diluar . " Tanyanya heran. "Takut dirumah sendirian ? Nunggu abang pulang ya ?" Ledeknya sambil tertawa tawa senang.


"Apaan sih......,"aku mendengus tak bersemangat.


"Kenapa ?" Hans berubah empaty.


Ditanya begitu aku menarik nafas panjang "Ahhhhh.......,enyahlah." Aku meletakkan kepala ke sandaran kursiku.


"Tentang Marla lagi ?"Tanya Hans spesifik.


Aku hanya mengangguk mengiyakan.


"Kenapa lagi ?" Tanyanya perduli.


"Aku sudah jelaskan tentang aku dan Desy, bahwa kami tidak ada hubungan apa apa. Aku sudah jelaskan dengan sangat jelas. Secara tak lanhsung aku mau Marla tau aku sedang tidak berpacaran dengan siapapun. Dan setahuku dia juga sedang tidak dekat dengan siapapun. Tapi tiba tiba dia bilang "lebih baik kami menjaga jarak". Bagiku rasanya ga masuk akal Hans. "


Sebentar aku diam dan kembali menjelaskan. "Dalam hatiku semakin bertanya tanya. Apakah ini cara dia menolak aku ? Karena dia tidak menyukaiku? Atau apakah dia sudah ada dekat dengan laki laki lain ? Atau dia menyukai laki laki lain ? "


Hans masih mendengarkan dengan penuh perhatian.


"Seandainya kamu di posisiku, kira kira apa yang akan kamu lakukan ?" Tanyaku penasaran pada Hans.


"Kalau aku jadi kamu......,"Hans membetulkan posisi duduknya menghadap padaku. " Aku tidak akan mengikuti apa yang Marla katakan. Aku akan tetap mendekatinya, sampai aku mendapatkan hatinya. Terlepas dia sedang dekat dengan laki laki lain atau dia tidak suka padaku, bagiku itu tak penting. Selama dia belum menikah, berarti masih layak kuperjuangkan. Itu kalau aku. " Hans menjelaskan.


Aku hanya terdiam mendengarkan.


"Perempuan itu akan luluh dengan perhatian dan tindakan Bim, bukan dengan kata kata. Itu yang kutau. "


" Karena bagiku, cinta itu pembuktian. Bukan rayuan gombal. "


"Kalimat I love you akan kalah dengan kamu jemput dia pulang kerja. Atau kalimat Jangan lupa makan ya akan kalah dengan kamu kirimin dia makan siang. Atau kalimat jaga kesehatan ya akan kalah dengan kamu bayarin dia belanja buah biar sehat. Itu prinsipnya. Artinya adalah, waktu kamu mengatakan kamu memperhatikan dia, sayang sama dia, perduli sama dia, kamu harus buktikan dengan tindakan. Menurutku hanya sesimple itu Bim. " Hans menjelaskan panjang lebar.


Aku seperti punya harapan dan semangat baru mendengar penjelasannya itu.


"Lalu bagaimana kalau dia masih terus menghindariku ?" Tanyaku lagi pada Hans.


"Bim hanya ada 2 jawaban. Kamu akan terus perjuangkan atau mencoba beralih dengan perempuan lain. Itu tergantung kamu. "


Aku tersenyum mendengar kalimatnya yang terakhir itu. Aku diminta menentukan sikap. Akan terus bertahan atau berhenti, semua tergantung aku.


Aku tersenyum legah, membiarkan Hans masuk ke rumah duluan.


Dengan hati yang lebih tenang aku menikmati sepoi sepoi angin malam. Bersandar di kursi, memejamkan mata sebentar dan mengatur strategi didalam pikiran cara untuk mendapatkan hati Marla.