MARLA

MARLA
Bimbang



Bima berjalan lagi keluar dari ruangan kelas itu. Menghubungi kembali nomor yang mengirimkan pesan gambar tadi. Nomor yang dituju, berada diluar jangkauan.


Ia iseng menghubungi Marla, tidak berharap akan diangkat. "Halo bang...," tiba tiba panggilan dijawab.


"Oh.., eh.., halo La." Ia kikuk sebentar.


"Iya bang, kenapa ?"


"Ohhh..., enggak. Mmmm, dinas apa ?"


"Dinas malam bang, ini mau makan siang, baru beli nasi bungkus tadi di depan. Hari ini aku ga sempat masak."


"Oh....," Bima bingung bagaimana cara menanyakan tentang pesan gambar yang diterimanya.


"Abang sudah makan ?"


"Iya ? Ohhh, belum. Bentar lagi baru makan. Menunggu Hans membereskan kerjaan."


"Ohhh...." Pembicaraan berhenti.


Bima sibuk dengan pikirannya, sementara Marla sibuk dengan makanan di depannya, sambil ponsel menempel di telinga. Kegiatan bertelepon seperti ini tak lagi semenarik awal awal mereka kenal. Rasa rindu lebih ingin untuk bertemu ketimbang berkomunikasi di telepon.


"Abang lagi rindu sama kamu."


"Uhuk..,uhuk..." Marla yang sedang mengunyah makanan tiba tiba tersedak mendengar kalimat begitu.


"Kamu ga apa apa?" Bima tidak tau kalau kalimatnya barusan yang menyebabkan Marla tersedak.


"Uhuk...,mmhhh. Ah.., ga apa apa. Hanya tersedak bang."


"Hati hati dong."


"Iya...." Marla kembali pada kegiatan makannya dengan senyum berbunga bunga.


"Kamu ga rindu?"


"Hah. Apaan sih ?"


"Kan perlu ditanya dong. Siapa tau rindunya sama orang lain." Bima menyelidik.


"Ya enggaklah bang."


"Jadi, rindu juga ga ?"


"Ya rindulah. Makanya abang cepat pulang. Makin ditelepon gini, malah makin rindu."


"Oh gitu. Bagus dong."


"Kok bagus sih ?"


"Iya..., biar kalo ketemu jadi beda gitu."


"Hmmmm..., mikirin apa ini?"


"Ha ha ha..., ga ada."


"Abang lagi apa ini ?"


"Tadi kan udah bilang. Lagi rindu kamu."


"Iihh, bukan itu. Lagi ngapain maksudnya?"


"Oh..., lagi berdiri telepon kamu."


"Apaan sih. Maksudku, kegiatan abang disana loh."


"Ohhh. Kegiatan abang. Mmmmm......,hari ini kegiatannya ga ada. Paling hanya bantu bantu Hans aja beresin kerjaan. Kalau sudah selesai semua, lusa tinggal demo lab bahasa dan serah terima ke pihak tender sekolah."


"Ohhh.... Jadi kapan bisa balik ke sini?"


"Diusahakan lusa malam. Mudah mudahan ga ada kendala."


"Yah...,lusa aku terakhir dinas malam ."


"Bagus dong, habis dinas malam kan libur. Bisa ketemuan kan ?"


"Ga bisa bang, habis dinas malam aku mau ambil libur tambahan. Mau antar bapak dan mamak pulang kampung."


"Oh gitu." Raut wajah Bima kembali tidak senang lagi. Dalam benaknya berfikir, apa gunanya dia mau cepat pulang, toh ga bisa ketemu Marla.


"Ga bisa digeser hari ya ?"


"Ga bisa bang."


"Berapa lama di kampung?"


"Rencananya 6 hari."


"Kok lama ?"


"Iya." Marla enggan menjelaskan kenapa dia perlu lama di kampung.


Sekali lagi pembicaraan berhenti. Bima kembali digeluti rasa yang campur aduk. Teringat lagi pada foto yang dia terima, tapi tidak berani menanyakannya.


"Bang Hans lagi ngapain?" Marla mencoba mengalihkan pembicaraan.


"Lagi kerja di dalam. Eh..., udah dulu ya La, mau bantuin Hans di dalam." Bima tak bersemangat lagi melanjutkan pembicaraan. Ditambah rasa tak nyaman dan cemburu di hatinya makin sulit dikendalikan.


"Oh iya, ok bang. Jangan lupa makan siang ya."


"Hmmm...,"ponsel dimatikan dengan ogah ogahan.


"Hans..., pelan pelan aja mengerjakannya. Kita ga usah buru buru. Soal tiket pulang, nanti aja dibeli kalau sudah selesai serah terima proyek."


"Hah..., tadi katanya suruh cepat." Hans yang bingung melongo dari balik meja console.


"Iya. Tapi kan kamu bilang kerjanya ga bisa diburu buru. Ya udah."


Hans mengerutkan kening, heran dengan sikap adik bungsunya hari ini. Perubahan moodnya mirip roller coaster yang turun naik tiba tiba. Ada apa dengannya?


"Kamu sebenarnya kenapa sih ?" Hans menghentikan kegiatannya dan berjalan mendekat.


"Ga apa apa. Biasa aja."


"Enggak, pasti ada apa apa ini. Ga biasanya kamu aneh begini."


"Ga ada apa apa."


"Hhhh...." Hans kembali geleng geleng sambil membereskan alat alat kerjanya.


Bima berbalik dan keluar ruangan.


"Ayo makan dululah kita." Hans bangkit berdiri mengikuti Bima keluar ruangan. Merangkul lehernya dari belakang.


Bima pasrah saja diperlakukan begitu. Tak berniat mengelak atau melawan rangkulan abangnya itu. Membiarkan tubuhnya dituntun menuruni anak tangga. Melewati pekarangan sekolah yang sudah sepi ditinggal anak anak yang tadi berolahraga.


"Mau makan apa?" Hans bertanya setelah mereka keluar dari lokasi sekolah.


"Terserah aja."


"Yakin terserah aku ?" Bima hanya mengangguk mengiyakan.


"Ok. Ayok." Lagi Bima menurut dituntun ke satu rumah makan pilihan Hans. Rumah makan tradisional yang tak jauh dari lokasi sekolah.


"Kamu dan Marla ada masalah Bim ?"


"Ah..,enggak."


"Tapi kelihatannya begitu?"


"Enggak kok. Ga ada masalah apa apa."


Hans mengangguk angguk saja, tak mau mendesak lagi. Mereka berdua duduk sebentar setelah membayar menu makanan yang sudah tandas.


"Kalian pernah konflik ga sih awal awal pacaran Hans ?" Bima akhirnya membuka cerita.


"Ya pernahlah. Kenapa? Kamu sama Marla lagi konflik ?"


"Bukan konflik sih, tapi...." Bima ragu sesaat. Lalu memilih tak membahas tentang pesan foto yang diterimanya kemarin.


"Mmm..., tapi ? Apa ?" Hans mendesak bertanya.


"Sepertinya hanya aku yang rindu ingin bertemu. Marla kelihatannya tidak begitu."


"Maksudnya?"


"Aku sengaja memburu kerjaan ini supaya cepat selesai dan kita cepat pulang. Niatku hanya karena ingin bertemu Marla secepatnya."


"Terus."


"Tapi Marla malah pergi pulang kampung."


"Ohhh..., karena itu? Kamu sudah tanya kenapa dia mau pulang kampung ?"


"Katanya mau antar orangtuanya."


"Berarti alasannya kuat dong, kenapa jadi kesal ?"


"Dia akan lama di kampungnya. Sementara kita akan ada proyek lain lagi kan setelah ini."


"Kenapa harus kesal untuk hal seperti itu. Kan kamu bisa kunjungi dia di kampung."


Seketika wajah Bima berubah rileks, rengutan kesal di wajahnya hilang. Kenapa ide ini tak pernah terfikir sebelumnya ya ? Kenapa hanya memikirkan cara biasanya, sementara masih ada cara lain yang bisa dilakukan. Intinya adalah bisa bertemu kan ?


"Gimana ?"


"Kok kamu bisa memikirkan solusi seperti itu?"


"Nah..., itu hanya bisa terfikir kalau kita mengutamakan hubungan. Bukan perasaan atau keinginan pribadi lagi."


"Maksudnya?"


"Maksudnya..., ketika kamu sudah mengasihi seseorang dengan setulus hati, tidak ada lagi keraguan. Sekalipun dia tidak seperti pengharapan, kamu akan berusaha menyesuaikan diri."


Bima mengangguk angguk merenung.


"Konsep hidupmu akan berubah. Bukan lagi memikirkan masa depanmu saja. Tapi masa depanmu bersama dia. Impianmu adalah bagaimana membahagiakan dia."


"Pasti berat melakukannya ya?"


"Bagiku itu tidak berat. Bagiku berkorban untuk orang yang kucintai seperti sebuah prestasi. Seperti sebuah pencapaian yang ingin kuraih."


Bima tertegun mendengar kalimat itu. Begitu dalam maknanya.


"Kalau kamu sukses dan berhasil, tapi orang yang kamu kasihi tidak merasakannya, apa gunanya? Kalau kamu punya banyak uang, tapi orang yang kamu cintai tidak bahagia hidup denganmu, sia sia semua kerja kerasmu bukan ?"


"Bagaimana kamu bisa yakin sudah membahagiakan Kak Dina?"


"Sampai sekarang aku masih belajar Bim. Lewat konflik dan perbedaan pendapat dengan Dinalah aku belajar. Aku belajar mengenal dia, belajar mengerti dia, belajar menerima kelemahan dan kekurangannya. Intinya, hubungan itu berproses Bim. Tidak ada situasi yang aman dalam hubungan."