
MARLA
Pagi ini kacau sekali, aku bangun kesiangan, setelah semalaman berfikir hingga sulit tidur karena kedatangan Bima. Dengan terburu buru aku beberes diri, secepat kilat melengkapi keperluanku dan memasukkan nya ke dalam tas kerja. Untungnya sudah tersususn rapi sebelum sebelumnya. Hanya tinggal memasukkannya ke dalam tas.
Tergesa gesa aku berangkat kerja, dengan waktu mepet begini dalam bayanganku, aku pasti akan terlambat. Tiba tiba aku sangat terkaget melihat Bima ada diluar pagar kost ku, nangkring diatas sepeda motornya.
"Aku antar ya La, "seru Bima seraya menyodorkan helm untuk kukenakan. Mungkin dia bisa melihat wajahku yg luyu dan cemas takut terlambat kerja. Entah sejak jam berapa dia ada disana menunggu aku keluar.
Tak sempat berfikir panjang , apalagi adu argumen, aku segera mengambil helm yang disodorkan Bima dan mengenakannya. Lalu naik ke atas boncengan nya tanpa berkata apapun.
Sepanjang jalan kami hanya diam. Bima sepertinya juga mengerti bahwa aku tak ingin membahas apapun atau membicarakan apapun. Dia fokus pada jalan yang kami lalui, di beberapa simpang dia sengaja mengambil jalan memotong menghindari macet. Bima kelihatannya sangat faham akan jalan jalan yang kami lalui.
Sampai akhirnya kami tiba di depan rumah sakit tempat aku bekerja, dengan waktu yg masih banyak tersisa. Dalam hati aku bersyukur "Thank God" ,menarik nafasku legah saat melirik jam di tanganku bahwa aku tidak terlambat. Lalu aku turun dari boncengan itu, menyerahkan helm ke Bima dan , "Makasih ya bang, " kataku pada akhirnya.
Bima hanya mengangguk, mengambil helm dari tanganku dan mencantolkannya di sepeda motornya dengan rapi. Lalu berlalu dari hadapanku dengan senyuman.
Aku berjalan masuk ke area Rumah Sakit tempatku bekerja. Lalu ke arah absensi di lobi depan. Saat mengantri, seseorang menyenggolku sembari menyapa. Aku kaget dan menoleh ke arah suara itu berasal.
"Heh....,sumringah amat sih ?!!" Kata suara itu padaku. Ternyata Lili, teman dinasku diruangan yang sama.
"Ah....,biasa aja." Jawabku seadanya.
"Beda lo......,dari tadi aku liatin senyum senyum gitu sambil jalan. " Lili kembali menegaskan.
Entah kenapa wajahku mendadak memerah. Apa iya sejelas itu kelihatan ? Dalam hati aku takut ketahuan.
"Ah.....,udahlah. Ayo cepat, nanti terlambat operan pagi." Kataku mempercepat langkahku mendahului Lili. Sepertinya kalimat pengalihanku berhasil dengan baik. Dari belakangku Lili mengikuti langkahku tanpa bertanya tanya lagi.
__________________
Benar adanya memang, kalau hati gembira itu tidak bisa di sembunyikan. Dalam hati aku bergumam sambil bersenandung senang.
"Ah....,entahlah, " kucoba menepis perasaan itu. Tapi kali ini sulit. Aku seperti ingin membiarkan diriku menikmati bahagia itu.
Tadi pagi aku sudah berfikir hariku akan kacau, akan dapat teguran dan akan menjalani satu hari ini dengan 'mood' yang jelek. Tiba tiba Bima datang dan itu semua berubah baik. Apakah ini pertanda baik ? Aku dan Bima ?
"Aduh....,sadarlah Marla," gumamku menepuk jidatku sendiri.
Sepanjang hari menjalankan dinas langkahku rasanya begitu ringan. Entahlah....., apa karena Bima ?
Saat makan siang aku buka ponselku. Ada pesan Bima yg belum terbaca.
"Nanti pulang jam berapa ? Aku jemput ya ?"
Begitu bunyi pesan nya.
Sambil senyum aku mengetik membalas pesan.
Tapi aku hapus . Aku ketik lagi dengan bahasa yang berbeda. Merasa kurang yakin aku hapus lagi. Aku bingung harus balas apa.
"Ya ampun ada apa denganku ?" Tanyaku dalam benak.
"Hari ini aku dinas rumah." Balasku akhirnya. Maksudnya aku ada jadwal merawat pasien di rumahnya.
"Ga apa, nanti aku antar aja." Balas Bima cepat.
"Aku selesai operan jam 4 sore." Pesanku lagi.
"Ok, aku tunggu di depan nanti ya." Bima membalas.
Pukul 4 sore lewat sedikit, aku selesai operan dinas. Ketika diluar RS tempatku bekerja Bima sudah menunggu diatas sepeda motor dengan helm di tangan.
Saat melihatku mendekat, senyumnya merekah.
"Kita mau ke arah mana La ? " Bima setengah menoleh kearahku yg duduk diboncengan. Memastikan tempat yang akan kami tuju.
Lalu aku menyebutkan alamat tempatnya tanpa memandang kearahnya dan sepeda motorpun melaju. Kembali tanpa banyak bicara dan bertanya, Bima hanya melaju sepeda motornya di tengah keramaian jalan raya. Lalu aku menikmati sapuan angin dan pemandangan langsung jalanan. Selama ini aku hanya mengabaikan pemandangan itu dari balik kaca angkot yg kunaiki.
Kali ini pemandangan jalanan itu terlihat berbeda. Aku baru tau kalau ada penjual roti pancung kesukaanku di perempatan lampu merah. Lalu ada reperasi jam tangan di sampingnya. Sepanjang jalan ternyata ada beberapa bunga liar yang cantik tumbuh di pinggir trotoar. Beragam warna dan bentuk. Wah......,jalanan ini terasa berbeda dari sebelumnya, terlihat lebih menarik dipandang mata. Cukuplah sebagai pengalih dari macet dan terik matahari sore.
Tak lama kami tiba di depan rumah pasien tempat aku jadi perawat pribadi. Pekerjaan sambilan yang kuambil bersama beberapa teman.
"Terimakasih ya bang." Kataku setelah turun dari boncengan dan mengembalikan helm yang tadi ku kenakan.
"Sama sama. Senang bisa antar kamu. " Bima tersenyum lagi. Senyuman itu benar benar membuatku kikuk, tak tau mau bicara apa lagi.
"Besok pulang jam berapa ?" Bima bertanya. Pertanyaan itu menyelamatkan ku dari rasa kikuk.
"Besok pulang sore bang, seperti jam sekarang."Terangku padanya.
"Aku libur besok." Kataku melanjutkan. Yang kemudian kusesali mengucapkan nya.
Dalam hati seperti menyalahkan diri, "aduh...,kok harus dibilang sih....,kan dia ga nanya." Gerutuku di hati.
"Bagus dong libur, "sambung Bima bersemangat. "Kita nongkrong yuk sama teman teman yang lain. Besok pulang kerja aku jemput ke sini ya. " Bima segera membuat jadwal tanpa sempat aku sangkal atau kujawab.
Meski begitu tak urung aku senang dan meng iya kan. Yah.....,paling tidak mengobati rasa malu ku lah, karena menyampaikan hari liburku tanpa ditanya.
Setelah kesepakatan itu mencapai mufakat, Bima pamit pulang. Dengan janji besok akan menjemputku lagi di sini di jam yg sama seperti hari ini.
_________________
BIMA
Tak pernah kusangka akan berjalan sebaik ini. Membangun hubungan lagi dengan Marla, ternyata tak sesulit yang aku fikirkan sebelumnya. Dibayanganku yang kupikir seperti jalan buntu, ternyata masih banyak jalan.
Abangku Hans benar....,bukti dalam aksi itu lebih besar pengaruhnya daripada hanya kata kata.
Satu hari ini adalah buktinya, bagaimana Marla mulai membuka diri lagi untukku. Aku ingin lebih lagi, lebih dekat lagi dan lebih mengenal Marla lagi. Setiba di rumah kontrakan aku memilih dirumah saja dan beristirahat. Setelah membasuh diri, aku berbaring di atas kasurku, mengambil ponselku dan akan mengirim pesan.
"Hai La, aku udah sampai rumah ini. Mau langsung istirahat. Selamat bekerja ya. Sampai ketemu lagi besok sore. "
Pesan terkirim, dengan emoji senyum kusisipkan di bawah kalimat.
Dengan cepat pesanku dibalas
"Ok bang. Terimakasih banyak ya bang untuk hari ini. Aku benar benar merasa tertolong . Iya, sampai ketemu besok sore bang. "
Aku langsung terduduk karena senangnya. Segera aku ketik pesan baru.
"Ok, sama sama. BTW ga sibuk ini, takutnya aku mengganggu lo. " Pancingku berbasa basi.
"Enggak kok, ini pasienku sudah beres, sedang bersantai menonton berita. " Balasnya lagi.
Lalu untuk beberapa saat kami saling berbalas pesan. Saling berbalas candaan dengan emoji emoji lucu. Entah kenapa, seperti terasa sudah dekat.
Tanpa kuminta Marla menjelaskan tentang pekerjaan nya disana. Menjelaskan bagaimana dia bisa bekerja sambilan sebagai perawat pribadi. Menjelaskan bagaimana dia mengatur waktu kerjanya di rumah sakit dan perawat pribadi.
Lalu akupun menjelaskan tentang diriku. Bagaimana aku sudah menjadi Yatim Piatu sejak kecil. Bagaimana aku merintis usaha bersama abangku Hans. Bagaimana kedekatan hubunganku dengan abangku Hans. Di sela sela ceritaku, aku mengirimkan pesan tentang kekagumanku pada profesi yang dia miliki. Bagaimana aku berterimakasih padanya saat aku kecelakaan. Bagaimana aku bersyukur ada dia pada saat kejadian kecelakaanku waktu itu.
Dengan semua text itu Marla menjawab dengan sangat rendah hati. Mengatakan bahwa itu bentuk pelayanan. Bentuk tanggung jawab profesi yang akan dia lakukan kepada siapapun.
Tanpa terasa kami sudah saling berbalas text berjam jam, lalu menutup cerita pesan text dengan saling memuji dan saling berterimakasih. Lalu di akhir cerita tak lupa saling mengingatkan lagi 'sampai ketemu besok sore'.