
Dalam perjalanan menuju ke Medan, Rohulina ibunya Marla selalu memberi kabar. Saat akan berangkat dari rumah, saat dalam perjalanan, sampai saat akan tiba di Rumah Sakit tempat putrinya bekerja. Dia tetap berkabar tentang keadaan suaminya dalam perjalanan.
Wajah tua namun masih terlihat cantik itu tak bisa menyembunyikan kekhawatirannya. Sejak dia menikah dengan Togar, tidak pernah dia merasakan takut sebesar ini, pun ketika dia harus melahirkan 2 putri dengan kesulitan, rasa takut yang dia rasakan tak sebesar kali ini. Apa mungkin karena dia takut kehilangan suaminya ? Bisa jadi begitu.
Sepanjang perjalanan, Rohulina menggenggam tangan suaminya erat erat, sambil sesekali mengusap keringat di dahi pria paruh baya itu. Ingin memberikan kenyamanan sebisa mungkin. Hatinya perih tak berdaya melihat suaminya meringis kesakitan, namun tak ada yang mampu dia lakukan untuk meredakan rasa sakit itu.
Jaka yang menyetir sangat hati hati memperhatikan dari kaca depan. Pemandangan seperti ini tak pernah dia lihat pada orangtuanya. Papa dan mamanya juga saling jatuh cinta, tapi tak pernah romantis begini. Apakah mereka canggung atau tabu memamerkan kemesraan mereka? Mungkin kultur keluarganya yang kaku dalam hal seperti itu.
Hampir pukul 12.00 WIB Jaka dan orangtua Marla tiba di Rumah Sakit. Marla dan petugas IGD sudah siap sedia menyambut pasien yang akan tiba. Ketika satu mobil mendekat ke arah mereka, Marla seperti mengenali mobil itu, dan kaget melihat Jaka yang turun dari atasnya. Jaka tanpa canggung ikut membantu memindahkan Togar ayah Marla dari mobilnya ke *brankar Rumah Sakit. Marla sempat terpaku sebentar, ia pikir Jaka hanya akan mencarikan mobil dan supir , tapi Jaka sendiri yang menyetir dan membawa mobil yang pernah ditumpangi Marla itu untuk mengantarkan ayahnya.
"Aduuhhh..., sakitnya!" Teriak kesakitan ayahnya saat dipindahkan ke brankar menyadarkan Marla.
"Maaf ya pak, sabar sebentar ya pak." Perawat laki laki yang ikut memindahkan Togar memperlambat dorongan brankar untuk menghindari goncangan.
"Pak....,"Marla meraih tangan ayahnya memberi kekuatan, "ini Marla pak." Togar memandang sekilas pada putri sulungnya itu dan mengangguk angguk sambil menahan sakit.
"Orangtua kamu La ?" Dokter Frank *triase IGD mendekat.
"Iya dokter."
Setelah melakukan pemeriksaan fisik, masih harus menunggu hasil laboratorium keluar. Marla kemudian menuntun ibunya ke arah kursi tunggu.
"Mamak tunggu di sini saja, biar aku yang urus bapak ya." Rohulina yang sedari tadi telah menahan air matanya, langsung memeluk Marla dan menangis tersedu sedu di barisan kursi tunggu IGD. Keberadaan putrinya disini sangat melegahkan, seolah mengambil sebahagian dari beban yang ada di pundaknya.
Jaka yang tadi sempat keluar memarkir mobil muncul di belakang mereka. Melihat adegan ibu dan anak itu, ia inisiatif mendekat dan bantu menenangkan Rohulina.
"Biar aku yang temani nantulang di sini La. Kamu fokus saja urus tulang."
Marla mengangguk. "Terimakasih banyak ya Ja." Lagi.... Marla terharu lagi. Kebaikan Jaka membuatnya terharu lagi. Terharu sekaligus sedih. Terharu karena Jaka mau membantunya sampai sejauh ini, padahal dia bukan siapa siapa. Hanya teman, itupun teman dari masa lalu yang sempat terlupakan. Merasa sedih, karena Marla berharap Bima yang ada di sini. Dalam keadaan seperti ini, kehadiran kekasih dihatinya itulah yang dia butuhkan. Dengan Bima disini dia berharap bisa berbagi beban, berbagi cerita dan berbagi tugas mengurus orangtuanya.
"La...,sini deh." Dokter Frank memanggilnya ke arah meja triase.
"Iya dokter ?" Marla yang hendak menjenguk ayahnya, berubah arah menuju dokter Frank.
"Sepertinya ayah kamu kena *apendisitis ini. Saya akan konsulkan ke bagian *bedah digestive. Kamu maunya ke dokter siapa ?"
Marla terpaku sebentar mendengar penjelasan dokter barusan, tiba tiba tak bisa memutuskan. Bayangan ruang operasi, anastesi, dan pemulihan yang menyita waktu juga perhatian sudah terpampang nyata dihadapannya. Ditambah biaya besar yang harus dikeluarkan.
"La.... La...? Marla. Hello." Suara Dokter Frank yang mulai meninggi menyadarkannya.
"Oh...,iya dokter. Gimana tadi dokter ?"
"Mmmm..., mikirin apa sih ? Tadi saya bilang, ayah kamu mau saya konsul ke bagian bedah digestive, kamu maunya ke dokter siapa ?"
"Oh...,eh...,mmm..., ke dokter Rahmad saja dokter."
"Ok, ini konsul sudah saya buat, nanti perawat yang urus ya."
"Ok dokter, terimakasih dokter."
"Selamat siang dokter Rahmad, ini dengan suster Nindy dari IGD dokter. Ada pasien baru yang konsul dengan *suspect apendisitis, hasil lab, pemeriksaan fisik sementara, sudah terlampir, perlu saya bacakan dokter?" Teman seangkatan Marla itu menjelaskan keadaan pasien yang menjadi tanggung jawabnya lewat telepon berkabel. Marla tau pembicaraan itu tentang ayahnya.
"Baik dokter. Baik. Untuk terapi apakah ada tambahan lagi dokter ?" Nindy masih tersambung di telepon sambil mencatat tindakan dan terapi yang diinstruksikan. "Ok dokter. Terimakasih dokter. Selamat siang." Nindy menutup telepon, menuliskan instruksi barusan di status pasien.
"Gimana Nin?"
"Dokternya minta pasien di foto rontgen dan USG dulu La. Kita kerjakan itu dulu ya. "Marla hanya mengangguk mengiyakan. Untunglah sebelum ayahnya tiba tadi Marla sudah menghadap bagian keuangan Rumah Sakit. Sehingga tagihan bisa dibuat belakangan.
Nindy perawat IGD barusan adalah teman seangkatan Marla ketika masuk bekerja di Rumah Sakit ini. Mereka berkenalan saat ujian masuk dan interview 5 tahun lalu. Bukan teman dekat, tapi saling mendukung dalam urusan pasien. Apalagi yang menjadi pasien adalah keluarga teman satu profesi. Biasanya diberi perhatian lebih, sebagai bentuk solidaritas.
Saat hasil pemeriksaan terbaru keluar, dokter Rahmad segera datang,masih memakai jas medis dan name tag, begitu Nindy menghubunginya. Mungkin baru dari poli rawat jalan, atau baru *visite pasien di ruangan.
"Dokter." Marla mengangguk ramah kepada dokter Rahmad yang mendekat ke arah tempat ayahnya berbaring.
"Oh, iya..., ayah kamu ya ?" Dokter Rahmad memastikan.
"Iya dokter, mohon bantuannya dokter." Marla meminta dengan sopan.
"Ok, ok. Sabar ya ." Marla hanya mengangguk tegar, menerima bentuk empati itu. Ia mengamati dokter Rahmad melakukan pemeriksaan fisik lebih detail dan mengikuti dokter yang berjalan ke meja perawat.
"Mmmmm......,ya ya ya."Dokter Rahmad membolak balik lembar demi lembar pemeriksaan di status pasien, lalu mengamati hasil foto rontgen dan USG. Dengan yakin dia menutup status dan memandang Marla serius. "Gimana ini Marla ?"
"Harus operasi ya dokter ?" Sebagai perawat medis Marla cukup faham kemana arah pembicaraan dokter Rahmad barusan.
"Iya. " Dokter Rahmad mengangguk tegas."Kamu lihat ini, sepertinya sudah ada bocor sedikit. Takutnya bisa terkena *peritoneum. Kalau dari saya, harus dioperasi hari ini juga." Dokter Rahmad menjelaskan hasil pencitraan rontgen dan USG.
Marla mengangguk sedih, berusaha menahan air matanya. Meskipun dia sudah biasa menghadapi situasi begini , tapi ketika dihadapkan pada keluarga sendiri, perasaan takut dan khawatir ini tak bisa dipungkiri. "Ok dokter, dipersiapkan saja." Putusnya kemudian.
"Ok. Saya masih di Rumah Sakit sampai jam 6 sore, kalau keluarga perlu penjelasan dari saya, bilang saja ya. Saya siap menjelaskan."
"Baik dokter. Terimakasih dokter."
"Nindy, tolong persiapkan konsul anastesi dan rencana *operasi sito . Nanti kabari saya ya." Dokter Rahmad beranjak pergi setelah melengkapi dokumen medis dan anjuran rencana tindakan.
*triase : yang mengkaji kegawatdaruratan pasien, penanganan awal, dan penanganan lanjutan pasien di IGD
*brankar : alat untuk memindahkan pasien yang mengalami ketidakmampuan atau keterbatasan gerak.
*apendisitis : radang apendiks/radang usus buntu
*bedah digestive : bidang kedokteran bedah umum bagian pencernaan
*visite : kegiatan mengunjungi pasien di ruang rawat inap
*peritoneum : selaput yang melapisi dinding perut bagian dalam.
*operasi sito : tindakan operasi yang harus dilakukan segera.