MARLA

MARLA
Rindu Untuk Bima



MARLA


Setelah sekian lama tak ambil libur ,kali ini aku libur 4 hari. Pagi ini, sehabis dinas malam aku memutuskan pulang kampung sejenak. Memilih beristirahat beberapa hari di rumah, menikmati masakan mamak yang tak ada duanya. Menghirup hawa gunung yang segar dan dingin. Membayangkannya saja, rasanya sudah menyenangkan.


Setelah mengemas beberapa barang keperluanku dan oleh oleh aku berangkat pulang kampung.


Sepanjang perjalanan aku melamun tak jelas. Perlahan mulai terkantuk kantuk dan tersandar di kursi bus. Meski tak bisa benar benar terlelap karena goncangan perjalanan, tapi setidaknya bisa membuat mataku disegarkan sesaat.


Sesampai di rumah, seperti biasanya selalu ada sambutan dan pelukan hangat buatku. Adekku segera membantu membawa tentenganku. Tepatnya mencari tau oleh oleh apa yang aku bawa.


"Jam berapa tadi dari sana nang ?" Sapaan sayang bapakku bertanya.


"Jam 10 pagi tadi pak."Kataku riang.


Untuk sesaat tak ada beban menggantung di pundakku. Tak ada kemelut di fikiranku. Dan tak ada resah gundah di hatiku.


Saat ini aku benar benar merasa bebas, merasa lepas, merasa nyaman. Benar benar liburan yang menyenangkan.


"Ayo kita makan dulu lah. Mamak sudah masak gulai ayam tadi. " Senyum keriput wajah mamak ku penuh tulus.


Aku membalasnya dengan pelukan girang, memberikan kecupan terimakasih di pipi keriput itu.


"Wah......, enak nampaknya....."kataku saat melihat hidangan itu. "Mamak tau kali kesukaanku." Aku mengambil duduk dekat mamak ku.


Sepanjang di kampung banyak obrolan yang terjadi. Banyak pertanyaan juga, dan pastinya mereka bertanya tentang laki laki yang sedang dekat.


"Sudah adanya pacarmu ?" Mamak bertanya santai. Karena secara resmi, sampai hari ini aku belum pernah memperkenalkan satu laki lakipun sebagai pacar.


"Belum mak.....,doakan ajalah biar ketemu calon suami langsung." Jawabku bercanda tapi serius.


"Amin , amin. " Bapak ku yang sedari tadi hanya mendengar, segera mengaminkan. Kaget dengan suaranya yang berat dan tegas membuat kami tertawa.


"Tumben kali bapak ini nyambung." Adikku meledek girang.


"Yah....,kan sudah waktunya memang. Usia sudah cukup, sudah kerjanya kakakmu ini. Baguslah kalo ketemu calon suami. " Bapak menegaskan lagi. Seolah memberi restu padaku untuk menjalin hubungan yang serius dengan laki laki.


Entah kenapa, tiba tiba pikiranku mengingat Bima. "Ah.....,jauhlah itu." bisikku dalam hati. Kenapa sih harus teringat dia disaat begini. Kucoba menepis Bima dari fikiranku.


Lagi bapakku bicara. "Zaman sekarang ini nang, harus pintar pintar jaga diri. Jangan gampang kali dirayu laki laki. Jaga harga dirimu, jaga nama baik keluarga kita juga. Jaga marwah. Apalagi kamu jauh dari kami nang. Ga mungkinlah bisa kami awasi kamu di rantau sana. Kami hanya bisa mendoakan. Semoga Tuhan selalu menjagaimu."


Mendengar petuah itu, aku sangat terharu. "Makasih pak. Akan kuingat pesan bapak." Kataku meyakinkan.


Bapakku yang kaku, tegas dan konvensional itu, masih bisa bicara lembut namun bermakna sangat dalam.


_________________


Empat hari di kampung rasanya kurang panjang bagiku. Tapi jadwal dinasku sudah menunggu. Tidak bisa digeser atau digantikan lagi. Dengan berat hati aku mengemas barang bawaanku. Seperti biasa, mamak akan melengkapi semua kebutuhan yang bisa aku bawa. Beras, ikan kering, sayur beserta bumbu bumbunya. Beberapa cemilan, kue, perlengkapan mandi dan lain lain . Bagiku yang anak kost di kota besar, barang barang begini ibarat harta karun. Kar'na disana apa apa serba mahal. Mamak membungkuskanku ikan dan sayur yang sudah matang. Katanya supaya kalau aku sampai disana ga perlu repot lagi, tinggal masak nasi saja di rice cooker.


Saat busku akan berangkat, mamak masih menyisipkan uang saku di kantong jaketku. Dan setenteng pelastik berisi cemilan dan air mineral bekalku di jalan. "Mak.....,udah banyak loh ini. Aku ada uangnya....," kataku protes merasa malu.


"Udahlah ga apa apa, simpan saja uangmu. Mana tau disana ada yang lebih perlu." Kata mamak ku berkeras.


Kembali aku hanya bisa terharu. Tapi berusaha untuk tidak menangis. Aku peluk mamakku sebelum masuk ke bus. Dan melambai kepada bapakku yang berdiri sedikit jauh dari kami.


Setelah duduk di bus, aku masih melambai ke arah mereka. Masih memandangi mereka ketika perlahan lahan bus bergerak menjauh.


Orangtuaku.......,aku sangat beruntung memiliki mereka. Menjadi putri tertua dari 2 bersaudara aku sangat mengerti mereka menggantungkan banyak harapan kepadaku. Ibuku, seorang perempuan yang hebat. Meski sering disindir keluarga, terutama dari pihak bapakku karena tidak melahirkan seorang putra, sebagai pewaris marga, tidak membuat ibuku menyerah pada kami kedua putrinya. Dia memasukkanku sekolah kesehatan dengan biaya kuliah yang bisa dibilang mahal, ibuku ingin membuktikan, bahwa putrinya juga berharga. Sama berharganya dengan orang yang memiliki putra.


Kasih ibu memang sepanjang masa......


Tak tau apakah nanti masih bisa aku membahagiakan mereka.


Dijalan kembali ke kota besar tempat aku merantau, bayangan akan rutinitas, pekerjaan dan sebagainya sepertinya sudah siap untuk kuhadapi. Memasang head set ke telingaku. Memutar koleksi lagu kesayangan di ponselku dan menghibur diriku dengan itu.


Kupejamkan mataku, meresapi lagu demi lagu. Membiarkan angin menyapu wajahku dari balik jendela bus. Menyesapi aroma pertanian sepanjang perjalananku pulang. Setidaknya keadaan ini cukup bisa menghiburku. Memberikan ku kekuatan yang baru untuk menghadapi hari esok.


___________________


Setiba di kota M, aku menumpuk barang barang bawaanku. Memastikan tidak ada yang tertinggal, aku memeriksanya sekali lagi. Dan sudah benar, tidak ada yang tertinggal. Aku merogoh saku jaketku mengambil head set untuk disimpan di dalam tas tenteng. Tanganku sekaligus menggenggam 3 lembaran seratus ribu pemberian mamak tadi. Kembali aku memandang syahdu pada tiga lembar itu. Terbayang wajah mamak ku lagi. Sejenak aku menarik nafas, melegahkan dadaku yang bergemuruh. Aku mendadak melo......, ga lucu kalau aku menangis ditengah keramaian ini, pikirku.


"Becak.......,"Kupanggil becak mesin untuk menepi. Sebentar kami tawar menawar ongkos dan sepakat. Aku angkat barang barangku naik ke atas beca dan berangkat ke kost an ku yang tidak jauh dari pemberhentian bus.


"Pinggir di depan bang." Kataku ke abang becak begitu tiba di depan gerbang rumah kost ku.


Aku menurunkan barang bawaanku, lalu memberikan ongkos ke abang tukang beca.


Saat akan membawa barangku masuk, aku terkejut ketika melihat Bima sudah berdiri di sana. Di bangku tamu diluar kost. Aku terpatung untuk sesaat.


"Sini aku bantu...," saat tersadar Bima sudah ada di depanku. Masih dengan suara yang menenangkan itu. Aku hanya membiarkan saja tentenganku dia angkat satu persatu. Dan tanpa bisa bicara apa apa, Bima hanya mengangkat barang barangku tepat ke depan pintu kamar kost ku.


Aku tak bisa bicara apa apa. Hanya membuka kamar kost ku, memasukkan barang barangku dan menguncinya dari dalam. Membiarkan Bima mematung di depan pintu kamar kostku.


Didepan pintu yang kukunci Bima barkata " Pasti kamu capek, istirahatlah dulu. Aku akan menunggu di luar. " Seakan berusaha mengerti aku, Bima memberiku ruang bagiku menenangkan diri.


Mendengar itu, kembali aku menarik nafas, menghembuskannya perlahan dan melakukan nya beberapa kali. Lalu bergerak membuka perbekalanku, memasukkan beras kedalam rice cooker, menekan tombol memasak, dan bergerak ke kamar mandi lalu menyegarkan diri. Iya.....,aku butuh menyegarkan diri, supaya otak dan hatiku juga kembali segar. Dengan begitu aku mungkin bisa berfikir jernih, dan memilih kalimat tepat yang bisa aku sampaikan.