
Klekk. Suara knop pintu terbuka dari belakang tubuh gue. Doi langsung senyum penuh kemenangan. “Ini kamarmu”. Shit!!!. Apa yang baru saja gue alamin??. Gue sudah suudzon. Dia ngegodain gue kayak gini???. Emang nggak ada matinya ini cowok cetar. Dia langsung berbalik dan membuka pintu dikamar sebelah gue. Jadi kita tetanggan gitu?!. Gue langsung masuk karna sudah keburu malu.
“Arrghhh” Gue langsung guling-gulingan diatas ranjang karna enggak sanggup lagi menahan rasa malu. “Sialann!!!!!” teriak gue dengan logat Indonesia. Junhan yang kebetulan mendengar suara teriakan gue tertawa dari kamar sebelah. “Awas lo Junhan” Gue menenggelamkan kepala gue dengan bantal, berteriak dengan menahan suara gue sekecil-kecilnya agar tidak terdengar.
Dengan kayak gini, rasa kantuk gue buyar pemirsah. Gue langsung menuju kamar mandi. Karna didalamnya ada bath up, gue pun berendam ala mimi peri. Ukhh segarnya. Gue harus menenangkan diri dari si Junhan sialan. Gue memilih agak lama dikamar mandi. Hhmm satu cukup kayaknya. Tapi aneh ya, kenapa gue malah dibawa kesini?!. “Dia mau banggain rumah-rumahnya sama gue kali!!”
“Tunggu ajj beberapa tahun kemudian, gue beli ini rumah. Nyebelin banget” Gumam gue disela-sela mandi.
Satu jam kemudian gue selesai berendam. Gua pun bangun dan membuang sisa air mandi di bath up dan keluar menuju kamar buat pakai baju “Ahh kamjag/terkejut aku” Gue buru-buru pegang handuk yang dililit dibadan gue
dan dikepala gue. “Lama sekali kau mandi!!” Teriak Junhan yang duduk santai diatas ranjang gue. “Ngapain lo disini??” Enggak sopan masuk ke kama cewek malam-malam.
“Aku sudah ketuk pintu kau seribu kali tapi kau enggak balas. Jadi aku masuk dan ternyata kau berendam ya?”. Ahh masa sih gue enggak dengar dia manggil?. Ini amar mandi kedap suara ya?. “Aku enggak dengar” Balas
gue.
“Ayo cepat pakai bajumu dan keluar. Bibi Kim baru saja datang dan membawa makanan” Dia pun melenggang keluar dengan telinga sedikit memerah. “Kenapa telinganya merah??. Dia demam kali ya?” Gumam gue sendirian.
Gue pun buru-buru ke lemari dan membuka lemari itu “Haa???. Enggak ada baju??” Bibi kim udah bawa baju gue belum ya??” Gue pun buru-buru keluar kamar dan hanya menapakkan kepala gue saja. “Bibi, kau bawa perlengkapanku” Teriak gue dari balik pintu. Bibi Kim buru-buru menuju kamar gue.
“M-maaf nona, saya lupa membawa perlengkapan nona.” Ujarnya menunduk dan gue terdiam. Bibi Kim memperhatikan tubuh gue yang baru saja selesai mandi menggunakan handuk yang masih terlilit indah ditubuh gue. “Apa nona tidak membawa pakaian?!” Tanyanya yang membuat gue enggak habis pikir.
“Huaa bibi, aku harus pakai baju apa??” Gue merengek kemudian dan terdengar oleh Junki. “kenapa??” Junhan langsung menghampiri kita didepan pintu kamar. “Tuan maafkan saya. Saya lupa membawa keperluan nona. Sepertinya saya harus balik dan mengambil baju-baju nona” Gue langsung berfikir jarak antara kediaman ini sama rumah sebelumnya lumayan jauh. “Bi, aku keburu kedinginan” Rengek gue lagi.
“Ya sudah aku pinjami baju ku saja” Balas Junhan menengahkan suasana. “Kau punya baju model wanita ya?!” Tanya gue reflek. “Sembarangan. Aku pinjami kau kemeja saja untuk sementara waktu.”.Ya elah enggak ada baju lain gitu. Kemeja lo pasti gedek. Dan beberapa menit kemudian Junhan membawa kemejanya yang sudah enggak muat lagi ditubuh doi. Gue langsung pakai karna sudah lapar banget.
Gue pun keluar dengan kemeja Junhan yang terjuntai-juntai ditubuh gue. Lengan baju yang kepanjangan, dan panjangnya baju sampai ke paha gue. Gue baru menyadari kalau gue sama dia ibarat semut sama kecoa. Junhan yang lagi mencicipi makanan tersedak kemudian saat melihat gue keluar. “Uhukk uhukk eehhmm uhukkk”. Gue pun jadi reflek lihat ke dia karna suara batuknya. “Kau batuk ya??” Tanya gue polosnya.
Junhan suruh keluar. Dia pun kaget waktu gue bilang begitu “B-bukan. Maksudku mereka semua (menunjuk pengawal). Kalian diluar saja” Kaget kan gue. Gue pikir dia ngusir gue.
“Ayo cepat makan. Kau tidak lapar memangnya?” Gue pun berjalan menuju meja makan dan duduk manis disana dan makan malam ini judulnya Steak tonight. “Huffttt” gue pun membuang nafas gusar. “Kenapa?” Doi bingung kenapa gue begitu. Gue menangis lihat piring yang ada dihadapan gue. Begitu mengemaskan dan menggiurkan. Kira-kira sudah setahun lebih gue tidak menyentuh daging. Lebih parah dari fakir miskin. Mereka masih mending dapat jatah qurban tiap tahun, nah gue boro-boro. Naik dikit sudah kena tegur. Badan gue sudah mirip papan triplex lagi?!.
“Gue kan enggak boleh makan daging. Gue kan artis. Kau lupa ya??. Kalau berat badanku naik, aku kena omel hhuuu” Rengek gue lagi tanpa air mata. Daging itu tidak akan membuat kau gendut. Makan sajalah sekali ini. Kau tinggal olahraga sebentar. Disini ada alat fitness. Atau itu untukku saja. Kau tidak usah makan. Aku akan bilang koki untuk membuatmu Sa”
“Andwae/tidak” Gue langsung memotong kalimat Junhan dan memegang piring itu sambil melirik tajam kearah Junhan. “W-wae/kenapa??” Junhan malah takut lihat tatapan gue. Gue enggak rela kasih ini ke lo. Biarkan gue mencicipinya. “Aku akan memakannya” Gue melepas pegangan pelan-pelan dan meraih pisau beserta garpu yang sudah tertata rapi disebelah piringnya.
Gue merebahkan tubuh gue diatas kasur dengan tatapan nanar sekaligus kesal. “Junhan sialan!!!” gumam gue. Barusan gue menghabiskan 2 porsi steak dan satu porsi salad sayur. “Huaaa, gimana ini. Kayaknya besok gue
bakal dimarahi hhuuu Junhan sialan!!!” habis lah Junhan gue maki-maki dengan logat Indonesia pastinya. “Enggak” Gue duduk tiba-tiba. “Gue harus langsung fitness malam ini. Gue harus Tanya Junhan dimana ruang fitnesnya”
Gue buru-buru keluar dan mengetok pintu kamar Junhan “Tokk tok tokkk. Junhan Shi. Bisakah kau beritahu aku dimana ruang fitnessnya? Tok tok” Gue menunggu si punya kamar alias yang punya rumah keluar. Gue membalikkan tubuh gue kearah lain sambil menunggu Junhan buka pintu. “Ada apa?” Akhirnya doi keluar dan “Dim… ehemm” Doi keluar dengan toples alias tidak memakai baju dan cuma menyisakan celana panjang kaos. Ya Tuhan, itu roti sobek level pedas. Batin gue berkobar.
Bersambung
@yulia.fernanda__
Jangan lupa dukung terus dengan cara vote, love, like, sharing plus komen. Dan baca juga
· Cerita Julia dan Korea Selatan
· Cerita Julia dan Korea Selatan 2
· Future Princess.