LOVE IN SEOUL CITY

LOVE IN SEOUL CITY
Episode 43 / Choi Hanji.



“Tidak tidak Sonbae/senior. Aku tidak terganggu.  Semua orang tentu memiliki masalah, dan masalahnya pasti berbeda-beda. Aku juga begitu” Sebagai orang yang juga punya masalah gue juga sama halnya dengan dia. Bedanya gue nggak tahu dia punya masalah kayak apa.


“Umur kita sama kok, tapi aku debut 2 tahun lebih dulu”


“Huuuftttt” Wanita cantik dihadapan gue ini menghembuskan nafas gusar. Kayaknya masalah dia rumit deh. Apa gue hibur dia aja? Tapi bingung mau hibur kayak gimana?


Gue sekali lagi memegang tangannya dan mengajak dia keluar untuk berkumpul dipanggung karna acara akan selesai.


“Ayokk sonbae kita keluar” Ujar gue dan langsung menggandengnya keluar dari toilet. Semua yang melihat kita menatap aneh. Gue juga sama anehnya dengan tatapan mereka. Ada apa emangnya kalau gue gandeng tangan dia. Dia senior gue loh, pasti terkenal kan dia?.


Hanji juga sama bingungnya dengan tingkah gue. Padahal semua orang banyak menjauhinya tapi gue malah berani menggandeng tangan dia. Saat kita udah satu panggung dengan artis-artis lain gue nggak sengaja ngelihat satu orang yang gue kenal gerak-geriknya. Gue nggak percaya ternyata Baek Yeol ada disini dengan penyamarannya. Dan untungnya nggak ada satu pun fans yang mengetahui keberadaan dia.


“Gila tu anak” Pikir gue.


Akhirnya acara selesai. Kita pulang dan menuju ke parkiran. Saat tiba diparkiran dan menuju mobil kita, Hanji tiba-tiba menarik sebelah tangan gue dari belakang. Semua member lain dan staff gue sontak melihat.


“Sori, bisa nggak aku pulang dengan Yuka, aku akan mengantarnya pulang sampai alamat” Hanji ingin ada teman yang menemaninya dalam perjalanan, dia butuh seseorang untuk mendengar curhatannya.


“Han sori, abis ini kita ada acara dengan CEO. Mereka nggak langsung pulang ke dorm.” Jawab Oppa Junki.


“Ya udah aku antar deh dia ke tempat acara kalian, tapi dia satu mobil sama aku”


“Oke nggak apa-apa” Jawab kak Melly yang langsung memberi izin. Sementara yang lain masih dengan kebingungannya.


Hanji langsung menarik tangan gue menuju mobilnya lalu kami masuk. Tak lama, Hanji pun mengemudi mobilnya dan melaju meninggalkan area parkiran.


“S,sonbae, gwaenchanna??” Dimobil itu hanya ada kita berdua. Hanji tampak santai mengemudi “Kau mau jadi temanku?” Tanyanya yang membuat gue sambil menelan saliva.


Glek.


“tentu saja sonbae, aku mau jadi temanmu” Nggak ada ruginya juga kan berteman dengan dia.


“Sebenarnya aku tidak punya teman, dikatakan punya tapi mereka mendekatiku hanya karna aku terkenal dan memanfaatkanku saja” Katanya nggak punya teman tapi dia barusan bilang temannya cuma manfaatin dia.


Bingung gue.


Hanji mengambil ponselnya dan memberikannya ke gue “simpan nomormu disini” Gue langsung ambil dari tangannya dan menyimpan nomor gue diponselnya. “Ini sonbae” menyerahkan ponselnya setelah itu.


“Jangan panggil aku sonbae, panggil nama aja. Kita seumuran kok”


“kemana pergi staff mu?” Timpal gue, harusnya saat acara show case tadi dia bareng sama manager atau staff lainnya.


“Mereka udah pulang naik mobil lain”


“Ooo”


Gue memberanikan diri untuk bertanya lebih dalam ke Hanji.


“Sebenarnya kamu ada masalah apa, aku bisa jadi pendengar setiamu” Kali ini biarlah gue dianggap pahlawan kesiangan setidaknya mengurangi bebannya doank, toh selama ini gue juga jadi tong sampah yang selalu jadi tempat curhatan anak-anak.


“Kenapa kau ingin jadi artis disini? Bukannya disana kau juga artis?”


“Entahlah, kata hatiku bilang lakukan saja, toh kalau aku nggak sanggup tinggal hengkang”


“hengkang??” Hanji terheran-heran dengan kalimat terakhir gue yang dia ulang.


“Jadi artis itu berat, kau mungkin juga paham karna sebelumnya pernah terjun ke dunia hiburan juga. Aku nggak tahu dinegara mu jika menjadi artis apakah semengerikan disini atau tidak. Yang jelas menjadi artis disini salah sedikit maka kau akan dibully”


Dari pernyataan Hanji gue paham kalau masalah yang dia miliki sekarang adalah haters.


“Sebenarnya dimana pun pembullyan itu pasti ada, nggak hanya di Korea sendiri. Di negaraku juga ada bully bahkan ada juga yang bunuh diri, sama halnya dengan disini.”


Sebenarnya pembullyan di Indonesia agak jarang gue dengar terutama artis sih, karna disana sebenarnya baik-baik aja. Gue sengaja ngomong kayak gini biar dia merasa nggak hanya dia yang kesulitan.


“Kamu pasti punya masalah karna haters kan?” Tanya gue ke Hanji.


“Bener, aku korban bully. Pembullyan itu dimula saat aku memposting foto minuman, ya memang itu minuman soju dan aku dibully habis-habisan karna katanya hidup aku dipenuhi dengan alcohol. Padahal logikanya aja, yang minum alcohol nggak cuma aku. Terus aku juga dibully karna posting lemari yang isinya tas semua. Aku diserang lagi. Terutama saat aku foto bareng Ahjussi Oh Changmi, dia senior di perfilman Korea yang udah terkenal banget.” Kedua manik Hanji berkaca-kaca dan memerah.”Difoto itu kita memang berpelukan tapi gue dibilang jalang dan pelacur yang suka main sama om-om” Hanji sesegukkan menahan isak.


Buliran bening dari mata Hanji keluar dari ujung matanya. Suaranya tercekat karna nahan tangis. Postingan dia yang kayak gitu aja mendapat ujaran kebencian, apa kabar dengan gue kelak ya?


“Waktu itu aku liburan ke hawai dan pakai bikini, terus nggak tahu kenapa foto aku pakai bikini tersebar, disitu lagi-lagi aku diserang karna katanya aku telanjang dan ……” Suaranya lagi-lagi tercekat, Dadanya seperti ditusuk beribu pedang, sakit tapi tak berdarah. Gue segera menggosok punggung belakang Hanji. Gue paham apa yang dia rasain.


“udah-udah, aku paham kok. Sekarang kalau kau ada masalah, kau boleh menelfonku. Kita akan senang-senang oke” Ujar gue sambil tersenyum dan menenangkannya.


“Hhuuhuuu huk huk” Hanji akhirnya tak tahan dan menangis, air matanya menganak sungai. ia segera menepikan mobilnya. Melanjutkan tangisnya yang tadi setengah-setengah. Gue langsung kasih dia sapu tangan  dan ia langsung menerimanya.


Bersambung.