LOVE IN SEOUL CITY

LOVE IN SEOUL CITY
Episode 16 / Nggak bisa lupa



Bughhhh...


Gue rebahin badan dikasur empuk gue. Ada sesuatu yang membuat hati gue hampa banget.


Tringggg...


Suara ponsel gue menggema diatas nakas gue lalu gue angkat.


“Ka, lu dimana???” Rupanya suara lenggok Edwin bikin suasana batin gue buyar...


“Kenapa lo nanya gue dimana?? Ya dikolor gue la, masa dikolor lo?” Timpal gue bikin dia esmosi. wkkwwkwkwk


“Sialan lo. Gue juga nggak minat kali sama kolor lo.” Ujar Edwin.


Kita jadi curhat-curhatan. Mulai dari masalah gue yang masih belum berani untuk naik panggung solo di acara awards besok sama Edwin yang dijodohin orang tuanya sama cewek pengusaha kaya. Itung-itung biar si Edwin bisa balik normal. Emang bisa????


---


Baek Yeol lagi sibuk diruang studio yang dipenuhi dengan lampu sorot dan kostum yang bakal dia gunakan. Ya selama satu tahun kedepan dia dikontrak sebagai Brand Ambasador merk pakaian ternama dari Italy yakni Prize. Doi begitu lihai mengambil titik yang tepat untuk model foto yang keren. Nggak salah emang dia selebritis dengan segudang prestasi. Penyanyi ia, Aktor ia, model juga ia.


“Oke, sekarang kita ganti kostum” Ucap salah satu penanggung jawab studio.


Baek Yeol lalu duduk sebentar sambil menyeruput Ice Americano nya.


“Yeol. tiga bulan lagi akan ada perhelatan akbar Asian Music Awards. Kita harus mulai persiapan untuk koreo dan kostum.” Ujar sang manager menghampirinya.


Sambil menutup matanya, Yeol nggak gubris kata-kata dari managernya.


“Kali ini bintang tamunya sedikit berbeda. Nanti bakal ada yang duet dari penyanyi korea dengan orang Indonesia” Mendengar kata-kata Indonesia bikin Yeol langsung bangun dan memperbaiki duduknya.


“In-Indonesia??” Ujar Yeol meyakinkan pikirannya kepada managernya.


“Ya Indonesia, kenapa kau terkejut gitu??” Tanya sang manager agak menyelidiki.


“Ahh Anyi/tidak. memang berbeda sepertinya.” Yeol jadi salah tingkah saat disebut Indonesia.


“Apa kau tahu siapa tamu dari Indonesia itu??” Sambung Yeol kembali.


“Aku belum tahu siapa.” Ujar manager.


---


Gue lagi nongkrong bareng anak-anak di sebuah cafe. Maksudnya disini gue bareng Edwin dan Puput. Terus sonya kemana??? Karna si Sonya orang keturunan Korea, Bapaknya udah dipindah tugaskan ke Korea jadi sekarang dia menetap disana. Sedih gue.


Kita ngopi-ngopi cantik disini Karna gue juga stress mikirin yang bentar lagi bakal manggung solo.


“Gimana perasaan lo sekarang??? Masih gugup?” Pertanyaan Puput bikin gue tambah down.


“Gugup. Kalau gue berhenti sekarang, sia-sia perjuangan gue selama ini.” Ujar gue.


“Ya ia lah, lo gila apa bakat emas begitu lu biarin aja. Gue yakin abis lo manggung disono, bakal banyak om-om yang ngantri buat lo.” Mulut si bangke ini kadang bikin gue kezel juga lama-lama.


“Lu” Sambil mukul kepala edwin


Plakkkk. “Auu” Ujar si edwin sambil mengusap lembut kepala bekas pukulan gue.


“Otak lu gimana sih ??? kok om-om ??? Emang gue kayak tante-tante ?”  Gue kesel dengarin ocehan si Edwin pria


gemulai.


“Ya maaf. ini kepala masih dipake tahu?!”


“Udah-udah, kok kalian pada berantem??” Ujar Puput


---


Besok adalah hari perhelatan akbar. Demam panggung udah melanda diri gue sendiri. Apa yang harus gue lakuin??? Ya Lord jangan sampai gue hancurin acara cuma gara-gara grogi gue yang nggak ada untungnya.


Gue lagi fitting gaun terakhir untuk acara besok. Kali ini gue terima bersih karna kak Meli manager gue yang nyiapin semuanya. Persiapan udah beres tinggal besok gue tampil aja. Gue udah taburin garam didepan rumah, Mandi kembang tujuh rupa, dll. Ya elah demi apapun gue lakuin biar nggak demam panggung. Gue udah glady


Esoknya pukul 03.00 sore kita udah siap-siap dari rumah. Tentunya gaun yang gue pakai bakal beda sama yang dipanggung nanti. Karna bakal ada Red Carpet jadi harus tampil beda. Pukul lima sore gue harus udah nyampe lokasi karna undangannya dibuat jam segitu.


Tokk tokkk tokkk..


Ada yang ngetuk pintu kamar gue pas gue lagi siap-siap sama MUA.


“Siapa?” Teriak gue menanyakan siapa yang ngerusak fakus gue saat ini.


Klik, knop pintu terbuka dan memperlihatkan dua makhluk yang nyebelin tapi gue sayang.


“Yukaaaaaaaaa” Teriak si Edwin menggebu-gebu lihat tampang gue.


“Kenapa sih lo, gue nggak tuli kali.” Ujar gue kesel setengah mampus.


“Sumpah lo cantik banget, banget dan banget” Puji Edwin agak berlebihan tapi itu memang fakta guys.


“Ya ia lah. Nyokap bokap gue kan ganteng dan cantik” Puji gue nggak kalah sama Edwin.


Jadinya gue satu mobil sama ni dua makhluk dan Ayah gue. Mereka juga nggak kalah glamour dari gue pakai jas sama gaun. Si Puput bela-belain beli gaun mahal-mahal cuma buat ngasih support gue malam ini. Tapi gue tahu di otak liciknya sebenarnya ini anak nyari mangsa dilokasi acara. Dasar!!!


Gue berjalan di Red Carpet bersama Ayah gue. Degup jantung gue nggak karuan. Para wartawan dengan flash kameranya nggak henti-henti jepret ke arah gue termasuk para barisan fans yang udah nungguin disana. Gue berhenti disebuah Backdrop bertuliskan Indonesian Movie Awards. Ternyata udah banyak artis yang udah mulai


datang di acara. Gile mereka cantik-cantik dan ganteng-ganteng semua.


Gue tampil di urutan ke 8 setelah penyanyi Rossa tampil. Acara dimulai jam 7 jadi gue bisa latihan sebentar.


---


“Mari kita saksikan penampilan dari Violinis kita, Agnesia Yuka Tanumarto”


Prokk prokk prokkk semua betepuk tangan setelah gue memasuki area panggung spektakuler. Gaun indah berwarna putih rancangan dari Farhan Gunawan membuat gue terlihat berbeda malam ini. Gue memulai memainkan biola gue diiringi orchestra ayah. Lagu yang gue mainin Can’t Forgive salah satu ost Pink Lisptik.


♫ ♪ ♫ ♪ ♫ ♪ ♫ ♪ ♫ ♪ ♫ ♪ ♫ ♪ ♫ ♪


♫ ♪ ♫ ♪ ♫ ♪ ♫ ♪ ♫ ♪ ♫ ♪ ♫ ♪ ♫ ♪


♫ ♪ ♫ ♪ ♫ ♪ ♫ ♪ ♫ ♪ ♫ ♪ ♫ ♪ ♫ ♪


♫ ♪ ♫ ♪ ♫ ♪ ♫ ♪ ♫ ♪ ♫ ♪ ♫ ♪ ♫ ♪


Entah kenapa lagu yang gue mainkan sekali lagi muncul wajah Baek Yeol. Tidak. Gue harus fokus. Bayang-bayang dia menyelimuti pikiran gue.


Sesak dada gue ingat wajahnya. Sesak dada gue ingat kebohongannya. Dia Cuma mainin perasaan gue. Sampai sekarang nggak pernah hubungi gue. Bajingan lo Yeol.


Test......


Air mata gue keluar begitu aja saat gue masih memainkan melodi lagu.


♫ ♪ ♫ ♪ ♫ ♪ ♫ ♪ ♫ ♪ ♫ ♪ ♫ ♪ ♫ ♪


♫ ♪ ♫ ♪ ♫ ♪ ♫ ♪ ♫ ♪ ♫ ♪ ♫ ♪ ♫ ♪


Prokk prokk prokkk.... Hampir 8 menit gue bermain diatas panggung akhirnya tepuk tangan menggema ke seluruh sudut ruangan. Sebagian ada yang tepuk tangan berdiri ada juga yang sambil duduk. Itu lah hasil dari kerja keras gue. Air mata gue sukses mengundang decak kagum penonton yang melihat. Apalagi kamera cukup dekat


mengshoot wajah gue. Dan disanalah orang tahu kalau gue menangis sambil memainkan melodi.


Gue segera ninggalin panggung dan ke backstage buat nenangin diri gue. Demi apapun gue nggak sengaja menangis. Wajah dia selalu ngebayang dipikiran gue. Gue diemin diri gue ke Backstage dan disana gue keluarin tangis gue sendirian. Nggak ada orang diruangan itu. Hanya gue sendiri.


“Aaaa.....”


“Kenapa lo harus muncul diingatin gue wae/kenapa”...


 


~~ Tunggu episode selanjutnya ya. Jangan lupa beri komen, love dan favoritenya. kamhsamnida.