LOVE IN SEOUL CITY

LOVE IN SEOUL CITY
Episode 29 / Kesempatan dalam kesempitan.



~~ Kalian masih semangat kan nungguin cerita selanjutnya, kalau ia jangan lupa komen dan likenya ya. Selamat membaca dan semoga suka.


 


Sesegera mungkin gue bangun dan duduk memperbaiki posisi gue yang kebetulan sama dengan Baek Yeol. Pria yang tiba-tiba menampakkan diri dihadapan gue ini duduk dan menyenderkan air mineral botol dingin ke kepala gue. Sontak gue terlonjak. Tidak ada hal yang lebih membuat gue deg-degan selain dengan kehadiran sang mantan. Dan suasana diruangan ini membuat gue sedikit kikuk, pasalnya tidak ada siapa pun disini. Oh pliss setidaknya ada seseorang yang tiba-tiba masuk biar gue bisa pura-pura kabur.


“Kenapa kau belum pulang” Tanya si pria jangkung ini dengan tatapan mautnya yang membuat gue susah menelan saliva gue, padahal pertanyaan doi bisa jadi kunci buat gue bisa luput dari pandangannya.


“Ini gue mau pulang” Gue langsung buru-buru bangkit menuju salah satu ruangan tempat gue menaruh tas disana. Bukannya dia pergi ninggalin gue, tapi dia malah ngekorin gue sampai ke ruang ganti. Sekilas saat gue berbalik gue hampir aja bertabrakan sama body kekarnya dia.


“Kenapa ngikutin aku?” Tanya gue nggak suka.


 “Apa kau benar dengan Jaehyun?” Sontak pertanyaan dia buat gue kalut. Apa dia mulai curiga dengan hubungan gue ? atau dia masih belum bisa nerima kenyataan? Duhh kenapa sih ni bocah nggak bisa bikin gue tenang.


“Ia, aku memang pacaran dengan dia” Suara gue agak melantang, demi apa pun pria ini harus nyerah.


“Aku nggak akan nyerah” Ungkap doi dan langsung pergi gitu aja. Dari tadi kek.


---


“Mimpi apa gue semalam dapat kerjaan bareng si Rayun” Gue menyandarkan kepala gue diatas meja disebuah cafe dekat Appartmen gue, gue memutuskan untuk menenangkan diri setelah lelah seharian latihan.


Ddrrtttttt...


Ponsel gue berdering diatas meja. Entah siapa yang menelfon gue dengan nomor yang nggak gue kenal, dengan sangat terpaksa gue mengangkatnya.


---


Gue saat ini sudah berada di Appartmen. Seharusnya gue masih dicafe menyeruput ice Americano yang udah gue gadang-gadang dari tempat latihan dan langsung buyar ketika panggilan telfon yang diyakini itu adalah manager Jaehyun yang menyuruh gue pulang saat itu juga. Udah kayak orang tua gue aja ni orang pake nyuruh-nyuruh pulang.


Dan manager itu sekarang berada di Appartmen gue sambil duduk di atas sofa tunggal, sedangkan gue duduk disofa bersampingan dengan Jaehyun.


“Ini bacalah” Sambil menyodorkan sebuah map yang gue belum tahu isinya apa.


“apa ini?” Tanya gue sambil mengambil map itu.


“Itu adalah kontrak mu dengan Jaehyun. Kalian akan berpacaran selama tiga bulan dan setelah itu agensi akan memberi tahu publik tentang putusnya kalian” Ujar sang manager Jaehyun.


“Tidak, kau tahu, sasaeng BCT hampir sama dengan Aslan. Kau akan jadi bulan-bulanan sasaengnya jika terlalu lama kalian berhubungan” Ya elah, jangankan tiga bulan. besok pun kalau mau diklarifikasi sama agensi juga nggak masalah keles, pikir gue.


Tak lama kemudian gue langsung mengambil pena yang diatas meja dan menandatangani kontrak itu. Karna ini udah terlanjur terjadi, maka mau nggak mau gue harus tanda tangan kontraknya. Gue malah nggak baca itu isi kontrak dedemit yang mungkin aja nggak ada gunanya.


“Oke, aku udah tanda tangan, berarti tiga bulan kemudia dia (Jaehyun) bisa pindah dari appartmen ini kan??” Manager berdecak bingung, pasalnya appartmen ini yang ditinggali Yuka saat ini ternyata punya Jaehyun. Gokil men.


”Bukan Jaehyun yang akan pindah, tapi kamu. karna pemilik appartmen ini adalah Jaehyun” gue sontak kaget. Pasalnya gue nggak ngira kalau appartmen ini yang punya Jaehyun. Ya nasib berarti besok gue dong yang diusir dari appartmen ini?? Berarti mulai dari sekarang gue harus cari tempat tinggal baru ni. Ya ampun tega banget ini orang sama gue.


Jaehyun cuma terdiam, tampaknya doi kurang setuju dengan rencana managernya. Namun demi karirnya ia harus mau.


---


Akhirnya si manager pulang. Dan kita pun bisa istirahat. Jae sepertinya kurang enak badan. Gue nggak sengaja lewat dikamarnya dan dengan suara kayak orang kedinginan gitu. Gue memberanikan diri untuk masuk ke kamarnya yang kebetulang nggak doi kunci.


“Jahyun Shi, Qwaenchanna??” Tanya gue sambil bisik-bisik namun nggak ada balasan dari Jaehyun, yang ada pria itu tetap berbaring dengan keringat jagung yang membasahi badannya. Kok sexy ya? Otak mesum gue lagi-lagi bekerja dan gue langsung mendekati dia dan mengusap dahinya.


“Masyallah, panas banget, kamu demam” Gue buru-buru ke dapar ambil air buat kompresin dia. Setelah ambil air gue langsung menuju kamar Jaehyun. Pria itu masih tetep kayak posisi sebelumnya. Gue selimutin dia dan gue kasih kompres ke dahinya.


“Kok kamu bisa sakit sih, kan barusan baek-baek aja.” Tanya gue yang pasti kagak dijawab sama Jaehyun.


“A-aku kedinginan” Saat dia bilang kedinginan, gue langsung nyelimutin badannya.


“Apa udah hangat??” Tanya gue.


Jaehyun masih terdiam sambil mengeluh kedinginan, berarti harus tambah selimut. Gue buru-buru ke lemarinya buat nyari selimut lagi tapi ternyata nggak ada.


“Kamu cuma bawa selimut sehelai doank?” Gue juga nggak punya selimut lebih, gue juga nggak bisa nggak pake selimut. kan cuaca mulai dingin. Ahh bodo amatlah yang penting anak orang sehat dulu. Gue kasih jatah selimut gue ke dia dan hasilnya tetap sama. Doi masih ngaku kedinginan.


“Aku nggak ada selimut lagi Jae” gue langsung pusing mikirinnya. Jaehun langsung lepasin selimutnya dan menarik kasar tangan gue sampai gue terjatuh kepelukan dia. Demi apa gue langsung syok dan Jaehyun langsung ngunci gue seketika dipelukannya.


“Jaehyun, kamu ngambil kesempatan dalam kesempitan ya??” Ujar gue kesel ke dia.


“Biarkan aku memelukmu, ini lebih baik”


Hello, bukan apa-apa tapi jantung gue mau meledak ini sankin deketnya. Wajah gue memerah Mungkin kalau mau lomba siapa yang paling memerah saat ini pasti gue pemenangnya. Ya tuhan ampuni hambamu ini, pikir gue.