LOVE IN SEOUL CITY

LOVE IN SEOUL CITY
Episode 11 / Biola & perasaan gue.



** Dikantin kampus..


Plakk.......Sebuah pukulan benda padat berlapisan kertas mendarat manjah diatas ubun-ubun gue.


“Au, sialan” Sontak gue langsung memijat lembut kepala gue dan gue langsung melihat ke arah sumber pukulan.


“Bangke, sakit tahu” Ujar gue kesel.


Gue langsung lihat pria gemulai dengan wajah tak berdosa menatap gue dengan sorotan tajam.


“Sakit kan??, begitu pula hati gue, lu tanpa kabar selama ini, kemana aja lu??” Ujar Edwin kesel sambil duduk disamping gue dengan pose manjahnya lalu mengeluarkan sebuah kaca kecil memperhatikan bentuk alisnya yang baginya sempurna.


“Sok melankolis lo win, gue masih disini kali!” Ujar gue kesel.


Puput dan sonya datang belakangan menghampiri kita.


“Udah seminggu lebih kita nggak lihat lo Ka” Gumam puput sambil merebahkan posisinya diatas tempat duduk.


Setelah mereka duduk semua, gue langsung mengeluarkan oleh-oleh dari hawai ke hadapan mereka. Expresi pertama kali gue lihat, mereka langsung terkejut.


“Lo ke hawai ka?” Ujar Sonya menatap gue penuh makna.


“Bukan, Bokap ke Hawai kemarin terus dia ngirimin ini ke gue buat dibagi-bagi” Terpaksa gue bohong, kalau gue jujur abis gue diintrogasi kayak wartawan.


“Oooo” Ujar mereka serentak menandakan bahwa ni makhluk-makhluk percaya ama cerita


gue.


“Jadi om Tanu ke Hawai? enak banget, gue kan pengen kesana juga” Ujar si Edwin.


“Ya lo kesana aja, banyak selera-selera lo bergelimangan disana dan tinggal pilih” Ledek gue ke pria gemulai itu.


“Gue tahu makanya gue lagi ngumpulin duit buat kesana” Ujar si Edwin dengan penuh menggebu-gebu.


“Napain lo capek-capek ngumpulin duit?? Kan lo tokek sawit?” Ujar Sonya yang blak-blakan


tapi gue suka.


“Eeh bangke, sekarang harga sawit turun, gue nggak bisa harus mengandalkan kiriman Bonyok, gue harus kerja biar bisa ke Hawai” Gumam Edwin yang dengan semangat apinya.


“Lo tinggal ngangkang aja, wajah lo lumayan, lo tinggal nyari tante-tante kesepian disini” Ujar puput, wanita kedua yang juga suka blak-blakan. Bahagia banget gue punya sahabat super bangke kayak mereka.


“Lo kan tahu gue nggak selera sama perempuan” Ungkap si Edwin dengan tampang tak


berdosanya.


“Dasar homo lu” Gumam gue kesel.


“Biarin” Ledek Edwin membenarkan jati dirinya.


“Pokoknya habis kelulusan kita ke Hawai bareng ya, entar kalau duit gue kurang lu bertiga yang nambahin uang jajan gue” Semangat Edwin sambil nunjuk-nunjukin kita.


“Eee jangan pulang, lu nyari kerja disini, siapa tahu lo dapat jodoh disini, kan lumayan merubah generasi dan keturunan”


Seketika kata-kata Puput mengingatkan gue dengan sosok Baek Hi. Oh My God wajahnya langsung terngiang diingatan gue.


Doi masih ada urusan yang gue nggak tahu urusannya apa jadi dia jarang pulang. Gue biarin aja asal dia balik pulang lagi.


Hapah ?? balik pulang lagi ?


Kayaknya gue salah minum obat deh berharap orang yang nggak jelas datang ke kehidupan


gue.


---


Sebulan berlalu, Baek Hi nggak pulang-pulang dan nggak jelas keberadaannya. Dia nggak pernah hubungin gue. Gue pun juga udah pernah hubungin dia tapi nggak pernah aktif. Semakin lama dia nggak balik, semakin cepat pula waktu kelulusan gue. Terus gue mesti gimana ? Dipikirin juga nggak ada gunanya.


Apa dia udah lupa sama gue? Apa dia udah dapatin yang lebih cantik dari gue ? Wajar sih, dia tampan dan kayaknya kaya, jadi gampang dapatin cewek yang lebih dari gue.


Gue mutusin ke sebuah cafe yang ada live musiknya. makan dan minum sendirian ala wanita


Jablay alias jarang dibelai sambil menatap arah sekelompok band yang sedang menyanyikan sebuah lagu. Dan mata gue terarah oleh sebuah Biola yang nganggur di sebuah panggung kecil. Kayaknya itu khusus panggung untuk pemain Biolanya.


Hati gue langsung tergerak ingin memainkan Biola itu. Darah seni dari keluarga gue langsung tergerak. Tanpa mikir panjang gue langsung izin ke pihak Manager cafenya buat mainin Biolanya. dan syukur gue dibolehin.


Gue langsung melangkahkan kaki gue menghampiri Biola yang masih dengan indahnya terletak di atas kursi. Seolah-olah Biola ini manggil gue buat disentuh.


Gue ingat waktu gue belajar Biola dengan tutor gue waktu SD sampai-sampai tangan gue penuh luka dan gue nggak mau lagi belajar Biola karna kerasnya belajarmhanya untuk darah seni yang dimiliki orang tua gue. Gue sempat berhenti danwaktu SMA gue coba main lagi dan coba beberapa lirik lagu kedalam bahasa Biola gue. disitu gue merasakan kalau gue sedih, hanya Biola yang mampu memadamkan api emosi gue.


Gue taruh Biola itu diatas bahu kii gue dan tangan kanan gue memagang tangkainya. dipikiran gue hanya satu lagu yang akan gue mainkan yakni lagu Ailee - I Will go to you like the first snow. Gue perhatikan sebentar manik-manik yang menatap gue disekeliling gue. dan gue langsung fokus pada permainan gue.


Gue langsung memainkan irama lagu dengan khusyuk. tangan gue bermain indah diatas biola. mengeluarkan suara tak biasa. Di alunan ini gue bermain dengan perasaan gue. di lagu ini, gue langsung membayangi wajah Baek Hi, pria yang sampai kini nggak jelas keberadaannya.


♫ ... ♪ ... ♫ ... ♪ ... ♫ ... ♪


Gue berhasil menghipnotis seluruh mata dan telinga mereka dicafe itu tanpa mengalihkannya ke arah lain. Selain karna paras gue mendukung, irama yang gue mainkan membuat mereka berdecak kagum. Ada beberapa pasang kamera mengabadikan moment gue memainkan biola.


♫ ... ♪ ... ♫ ... ♪ ... ♫ ... ♪


♫ ... ♪ ... ♫ ... ♪ ... ♫ ... ♪


Gue melanjutkan irama gue sambil tetap mengingat kenangan gue dengan Baek Hi. Gue berharap waktu cepat berlalu dan bisa ngelupainnya. Gue main se fokus mungkin sampe-sampe gue nggak sadar air mata gue menetes jatuh secara slow motion di pipi chubby gue. Ternyata emosi gue tersalurkan dan menghasilkan air mata di


pelupuk mata gue.


* Sampai jumpa di episode selanjutnya. Jangan lupa Love\, Favorite\, share dan rating yang banyak ya.


Kamsahamnida yeoreobun *