LOVE IN SEOUL CITY

LOVE IN SEOUL CITY
Episode 14 / Kebohongan terungkap.



Jalanan sekitar Gangnam masih ramai tapi tidak seramai sebelumnya karna ini sudah menunjukan pukul 01.00 pagi. Kalau di Indonesia mungkin udah sepi banget, tapi disini masih hiruk pikuk dengan segala kesibukan orang-orang.


Kami akan melewati lampu merah dan akan menyebrang, tapi karna masih lampu hijau, jadi harus nunggu lampu berganti warna terlebih dahulu. Diseberang gue ada layar monitor besar untuk iklan-iklan bermerk ataupun promosi lagu-lagu kpop. Dan nggak sengaja mata gue teralihkan oleh sosok dibalik layar itu. Demi apa pun sepertinya rasanya gue nggak asing dan sangat familiar. Gue perhatikan itu dengan sangat-sangat jeli.


Mungkin gue fikir itu mirip tapi nggak mungkin juga. mereka benar-benar mirip. Gambar pria yang gue lihat dimonitor layar besar itu mirip banget dengan Baek Hi. Sekali lagi gue pastikan kalau gue salah karna nama tampilan dimonitor itu Baek Yeol, Bukan Baek Hi.


Gue pelan-pelan megalihakan pandangan gue ke pria sebelah yang sedari tadi bersama gue. Pria yang memakai masker dan topi disamping gue. Gue berusaha menelan air ludah gue. Tangan gue coba ingin meraih masker yang ada di wajahnya tapi ada sesuatu yang membuat gue enggan.


Baek yeol alias Baek Hi belum menyadari layar monitor yang ada diseberang. Dia masih melihat ke sisi kanan untuk menunggu lampu berubah. Gue melihat kembali ke layar monitor itu dan masih terpampang jelas lekuk wajahnya. Nggak salah lagi itu memang dia.


Benarkah?? Pikir gue saat itu. Rasanya gue dibohongi dan dimanfaatkan untuk keperluan pribadinya. Pria ini selalu menggunakan masker ketika keluar ruangan. Ia benar. Hanya selebritis yang memakai masker dan topi untuk sebuah penyamaran agar tidak dikenali publik.


Lampu jalan telah berganti. Kendaraan pun berhenti menunjukan bahwa saatnya mentaati rambu lalu lintas. Kerumunan orang-orang mulai berjalan menyebrangi zebra cross. Namun tidak dengan Gue. Baek Hi yang akan melangkah dan akhirnya harus menyesuaikan jalannya dengan Yuka pun dibuat bingung dengan Yuka yang belum


beranjak dari posisinya.


Ia pun mengalihkan pandangannya dari arah perhatian Yuka ke arah sebuah layar LED monitor raksasa diseberang sana. Merasa ada yang aneh, Baek Hi pun ikut melihat seperti yang yuka lakukan.


Demi apapun mulut dan matanya membulat sempurna ketika melihat gambar sosok dirinya terpampang jelas di layar monitor itu. Dia menyadari jika Yuka tahu jati dirinya.


Gue pun langsung mengalihkan lagi pandangan gue ke arah Baek Hi, bukan. Baek Yeol. Pria yang selama ini membohonginya hampir beberapa bulan.


Gue hanya bisa mematung memperhatikan pria yang sudah dua langkah maju dari samping gue sehingga mata gue bisa jelas melihat sosoknya dari depan.


“Baek Yeol???” Tanya gue nggak percaya ke arah Baek Yeol.


“Yu-Yuka shi” Panggilnya gagap.


Gue langsung mengepalkan kedua tangan gue saat itu juga. Air mata gue langsung jatuh tanpa sebuah perintah. pompa darah dari jantung gue bekerja lebih cepat. Ritme degup jantung gue nggak karuan. Nyesek gue!.


Begini rasanya dibohongin. Ulu hati gue sakit. rasanya badan gue dihantam berton-ton batu. Tega banget lo Baek Yeol.


Gue langsung langkahkan kaki gue meninggalkan dan melewati zebra cross selagi lampu lalu lintas berwarna merah. Baek Yeol langsung mengejar gue. Gue cepetin langkah gue ninggalin sosok orang yang mulai gue benci. Baek Yeol berusaha nahan gue dan menarik lengan gue hingga langkah gue terhenti dibuatnya.


Gue langsung menepis tangannya dan melihat ke arahnya.


“Gue udah tahu siapa lo. Lo bohongin gue” Ucapan gue bisa buat Baek Yeol merasa bersalah.


---


Kita udah sampai di appartmen. Gue dan Baek Yeol saling diam. tiga puluh menit berlalu. belum ada tanda-tanda siapa yang akan duluan memulai pembicaraan.


“Yuka shi” Panggil Baek Yeol ke gue.


Gue nggak gubris panggilannya dan tetap diam.


“Mian Hae, Aku.....”


“Wae/kenapa, wae Baek Yeol shi, Waeeeee” Gue memotong pembicaraan Baek Yeol dan berteriak kenapa ia melakukan itu ke gue. Seketika airmata membanjiri pipi gue. jantung gue berdegup kencang. nafas gue terengah-engah berpacu bersamaan dengan kedua bahu gue yang naik turun bersamaan.


Kita tetap mematung. Gue menghadap ke arah jendela. Sedangkan Baek Yeol masih setia menatap ke arah gue dari saat kita baru sampai appartmen.


“Yuka shi” Panggil baek yeol.


“Gara/pergi. Gue nggak mau lihat lo lagi.” Sambil menunjuk ke arah pintu.


“Yuka shi” Berjalan ke arah gue dan tiba-tiba memeluk gue dengan erat.


Gue usaha buat lepasin pelukannya, tapi apa daya kekuatan laki-laki nggak sebanding sama wanita yang lemah kayak gue yang bagaikan kapas.


“Lepasin gue” bentak gue sambil usaha lepasin pelukannya.


“Anyi/tidak. aku tidak akan melepaskanmu” Timpal baek yeol yang semakin kuat meluk gue.


Seketika rasanya gue pengen nangis. Kebohongan bagi gue sama aja dengan brengsek. Mau apapun itu alasannya nggak bisa ditoleransi. Dia selebritis ka, ya apa gunanya selebritis. Gue nggak bakal senang juga walaupun dia sehebat apapun.


Dia selebritis terkenal, harusnya gue bangga, tapi gue nggak butuh pacar yang kayak gitu. Mestinya dia jujur dari awal ke gue. Gue nggak mempermasalahkan dia artis atau gembel sekalipun, tapi kebohongannya nggak bisa gue tolerin lagi.


Ok detik ini juga gue putusin untuk pergi dari Seoul.  Gue akan pulang dan berangkat ke Indonesia.


Thor butuh komen, like dan share dari chinggu-chinggu sekalian biar thor semangat up episode selanjutnya. Kamsahamnida.