
Wawancara pun berakhir kemudian. Sang reporter dan juru kamera pamit undur diri.
Drrrtttt ddrrtttt. Lagi-lagi ponsel Kak Melly berdering “Nee” Balas Kak Melly setelah doi menjawab sambungan telfon tersebut yang tentu saja gue nggak tahu. “Ah oke oke. Arasso/baiklah.” Bipp. Dan panggilan pun berakhir begitu saja.
“Kenapa kak??” Tanya gue dari belakang punggungnya. “Tidak, sekretaris Lee hanya menanyakan jadwal mu saja. Oh ya, setelah kau bertemu Hanji kau harus segera pulang. Jun Ki akan mengantarmu dan menjemputmu juga”
“Nee Arasso” Balas gue.
Kak Melly buru-buru mengejar Oppa Jun Ki yang saat itu jalan lebih cepat ketimbang kita dan mereka pun membicarakan hal yang gua nggak tahu, biasanya pasti itu masalah kerjaan dan itu nggak ada urusannya sama gue. “Barusan Sekretaris Jun Han menelfon. Situasi sudah aman dikediamannya. Bawa Yuka kesana untuk ia mengganti pakaiannya lalu antar dia ke tempat dimana ia bertemu hanji.” Oppa Jun Ki terlihat terkejut dan melirik kearah Kak Melly.
“Nuna, kau yakin kalau situasi aman disana??. Yuka bisa saja ketahuan kalau saat ini ia balik kesana” Oppa Jun Ki tampak khawatir dengan ulasan yang disampaikan Kak Melly.
“Katanya mereka sudah mengatur pengamanan super ketat disitu” mereka berbincang dengan serius sambil berjalan meninggalkan area. Gue cuma lihatin dari belakang saja interaksi mereka berdua.
Kita pun jadinya melewati parkiran dan masuk kedalam mobil Van. “Oppa. Kak Melly tidak ikut dengan kita???” Tanya gue bingung karna didalam mobil nggak ada sosok Kak Melly.
“Ia langsung balik pulang. Jadi oppa akan mengantarmu pulang ke kediaman Jun Han. Setelah itu Oppa akan mengantarmu ke tempat Hanji. Apa kau mau dijemput nanti??”
“Tidak perlu. Aku balik dengan Hanji saja” Karna ini sudah malam dan bakal ngerepotin dia kalau gue minta jemput.
Kami pun meninggalkan area wawancara tadi. Selama dalam perjalanan gue mengecek handphone gua dan ada beberapa panggilan telon yang terabaikan oleh gue “Sekretaris Lee menelfonku” Gumam gue saat mengecek
layar Handphone.
“Oh ya tadi dia menelfonmu, tapi sudah beres karna ia menelfon Nuna setelahnya”
“Ada apa memangnya oppa??”
“Dia hanya menanyakan jadwalmu??” Entah kenapa gue risih, bahkan ia menanyakan jadwal gue. Pasti ini ulah kecebong Junhan. Gue rasanya pengen teriak ke agensi buat ngasih kerjaan rody buat gue biar hutang gue cepat lunas. Sembari itu gue cek media social yang pasti nggak boleh lupa gue cek.
“C-cucu Daily Group??” Gumam gue heran. Gue lihat lebih lekat-lekat dan membaca seluruh artikel. Oppa Junki udah paham kenapa ekspresi gue demikian dari kaca spion mobil. “Haa, pamannya???. Heol, kasus narkoba di Amerika??” Entah berapa banyak kata-kata fantastis yang terbayang difikiran gue. Tapi entah kenapa nama Junhan dibahas disini yang terlibat Narkoba adalah pamannya. “Kau sudah melihat beritanya??” Balas oppa saat melihat gue dibelakang dari kaca mobil.
“Oppa sudah tahu?”
“Ya tentu saja, berita itu panas saat ini. Anak dari CEO Daily group terkena skandal Narkoba.”
“Lalu hubungannya dengan Junhan apa??. Kenapa dia dihubung-hubungkan??”
“Kau tidak tahu???. Jun Han adalah calon pewaris kuat Daily Group setelah Kakeknya. Jika pamannya terkena skandal, otomatis Jun Han yang menjadi pewaris terkena imbas. Bisa saja itu pengaruh karna Jun Han cukup terkenal”
Emang nggak salah sih kenapa itu anak kecebong terkenal. Walau pun memang bukan artis, tapi dia adalah deretan Rich Man alias pria konglomerat berstatus lajang yang jadi incaran para wanita-wanita single diseluruh negeri. Ahh kalau bagi gue ini kayak aib atau bisa jadi kesialan. Mobil Van pun memasuki area Mansion tunggal milik Junhan. Setelah melewati pos satpam lalu masuk kira-kira 500meter menuju rumah.
“Hmm” Balasnya. “Kenapa ya si Junhan mau pacaran sama aku??” Entah kenapa gue bingung aja. Cewek kayak gue yang nggak ada apa-apanya ini kok bisa dijadiin Junhan pacar bohongan alias kontrak. “Bukannya ini
seperti misi antara Rentenir dan budak??” Gue langsung melirik kesel kearah Oppa Junki yang sebenarnya lumayan masuk akal.
“Heol, ternyata Oppa betul juga!” Balas gue yang menyadari bahwa kenyataan itu kejam.
“Sudahlah. Kau jalani saja. Junhan bukan orang sembarangan. Meski pun kalian memiliki status. Daily Group sudah menjamin keamanan kalian selama kalian menjadi pasangan. Dalam artian sosokmu tidak akan ketahuan oleh public”
“Kayak di drama-drama gitu ya Oppa?!”
“Ya lebih kurang sih begitu” Balasnya santai.
Mobil pun tiba tepat didepan pintu utama. Gue keluar dari mobil dan segera masuk kedalam buat berganti pakaian. Karna sekarang sudah menunjukan pukul 19.00 KST, maka gue harus buru-buru. “Selamat malam Nona” Sapa
Bibi Kim saat tahu gue pulang. “Hallo Bibi. Aku ingin berganti pakaian dan akan pergi lagi.”
“Apa Nona akan pergi lagi??” Tany Bibi Kim yang kemudian gue menghentikan langkah gue sebentar untuk memberitahunya. Siapa tahu ia butuh kalau-kalau ditanya oleh majikannya.
“Ya Bi. Aku ada urusan sebentar dan tidak akan lama. Aku pasti pulang malam ini”
“Baiklah kalau begitu”
“Terima kasih bi” Gue pun memberi salam bungkuk lalu berjalan kembali menuju kamar.
Hanya mengganti pakaian casual beserta topi dan masker didalam kamar lalu pergi menuju mobil Van. “Bibi aku pergi dulu ya” Salam gue sambil tetap membungkukkan badan. Mobil yang gue tumpangi pun perlahan berjalan
dan meninggalkan rumah super mewah tersebut. Oppa Junki yang melihat gue memakai topi dan masker pun tersenyum sungging. “Kau sudah terbiasa menggunakan penyamaran itu (Masker dan topi yang biasa digunakan artis untuk penyamaran saat berada diluar).”
Bersambung
@yulia.fernanda__
Jangan lupa dukung terus dengan cara vote, love, like, sharing plus komen. Dan baca juga
· Cerita Julia dan Korea Selatan
· Cerita Julia dan Korea Selatan 2
· Future Princess.