LOVE IN SEOUL CITY

LOVE IN SEOUL CITY
Episode 1 / Pertemuan



Kring kring kring ........


Buru-buru tangan gue ambil jam


woker yang gak berhenti ribut ditelinga dan lihatin pukul berapa sekarang.


“Ya elah kan ini hari libur coi,”


Gumam gue sambil lanjutin mimpi indah lagi.


Drrtttttt....


kali ini hp gue yang bunyi, oh


tuhan ganggu Frozen mau tidur aja ee.


“Yoebseo”


“Yuka Shi, kau tidak datang ke


kampus ?


“Anyieo/tidak oenni jadwalku hari


ini kosong. hmm nee oenni” Ternyata telf dari oenni senior yang gak ada kerjaan


nelf pagi-pagi.


---


“ Lu cepetan, lama amat ih” Cerutu


kesal Puput dengan Edwin karena jam sudah menunjukan bahwasannya dia telat


masuk mata kuliah gara-gara pergi dugem bareng Edwin di Pelataran Gangnam.


“ Sabar donkk, alis gue belum rata


ni” Jawab kesel Edwin, Pria gemulai yang selalu menomor satukan penampilan.


Saat sampai didepan kelas untung


saja dosen belum masuk dan mereka buru-buru mengambil posisi duduk.


-


“Put, lu cepetan ambil makanannya


gih, entar keburu rame ni kantin ama anak-anak sipit” Gumam Edwin yang cerewet


sambil nunggu antrian makan siang.


“Lu rese kalau lagi laper” Ujar


puput menyeringai.


Mereka pun duduk diantara pria-pria


tampan kece. Puput nggak akan membiarkan mangsanya lewat begitu saja terutama


Edwin pria homo yang nggak kalah antusias dengan pria-pria disamping mereka


sama halnya dengan Puput.


Gue pun langsung menghampiri mereka


yang sibuk pasang wajah mode imut ke arah laki-laki tampan disampingnya.


Plakkkk......


“Au” Puput dan edwin kesakitan


karna kepalanya gue pukul pake buku mata kuliah kampus.


“Idihh lo kok suka banget sih bikin


harga diri gue jatuh di depan pria-pria tampan?” Ujar puput kesal ngeliat wajah


gue.


“Ia ni akikah kan jadi pusing shay”


Jawab Edwin si pria kondekan.


“Kita ini udah mau semester akhir,


lu mau lama-lama hidup jadi mahasiswa abadi dikampus ni ? Lagian kampus-kampus


dikorea nggak ada yang namanya mahasiswa abadi-abadian kecuali langsung di D.O?


Cerutu gue kesal liad dua temen gue yang super ganjen ini.


Gue ngomel ala bahasa Indonesia


biar tu cowok-cowok nggak ngerti sama bahasa gue. tapi tetap aja pandangan


mereka nggak lepas-lepas ke arah gue. bukan karna gue cerewet, tapi emang gue


standar kecantikan wanita Korea. wkwkwkwk


“Yuka cin alias yuka cintaku, kalau


ada lu disini, pamor kita jadi ilang cui, secara kita kalah cantik ama lu”


Edwin kesel karna mangsanya seperti direbut ama gue.


“Ya bukan salah gue kalau gue


cantik. secara bibit dari orang tua gue jelas mereka cantik dan ganteng, ya


wajar anaknya kayak gini” Ujar gue meninggi.


Kenalin Gue Agnesia Yuka Tanumarto


Mahasiswa tingkat akhir di sebuah Universitas di Korea Selatan, gue kuliah


bersama tiga sahabat gue yakni Puput Caroline, Edwin Siahaan, dan Park Sonya.


Gue anak dari seniman orkestra terkenal di Indonesia yakni Thomas Tanumarto dan


Ibu gue Shalita Tanumarto. Tentu saja darah seni Ayah gue mengalir ke gue yakni


Namun bertolah belaka ama jurusan


kuliah yang gue ambil yakni Sastra Korea, Demi Apa ??? entahlah..


Puput Caroline kedua orang tuanya


juga berdarah seni. Ayah dan Ibunya adalah Aktor dan aktris terkenal. Si Edwin


Siahaan si Tokek sawit di Kalimantan. Nah Si Park Sonya yang namanya jelas nama


ala Korea ini dia keturunan Korea-Indonesia. Ibunya menikah dengan orang Korea


Selatan dan mereka tinggal di Indonesia karna Ayahnya bekerja di Perusahaan


Migas milik asing dan ditugaskan di Indonesia.


Kami berempat dulunya satu sekolah


di SMA yang sama dan berjanji bakal lanjutin kuliah di negeri ginseng Korea


Selatan, dan Syukurnya kami bisa Kuliah bareng disini.


---


Biarpun kuliah di negri ginseng,


tapi gue nggak terlalu ngikutin aliran Kpop dan Kdrama disini, hanya sewajarnya


aja. nggak kayak sahabat-sahabat gue ini yang tergila-gila ama bintang-bintang


Korea terutama penyanyinya. tiap ada yang konser, mereka nggak ketinggalan buat


nggak nonton live. Daebakkk.


“Yuka, ntar malam temanin gue ke Gorasugil


yuk, kemarin gue liad tas Gucci nya bagus banget”


Puput lagi-lagi ngajakin gue


belanja, nggak nanggung-nanggung beli tas mehong,


“Tenang aja, nanti gue beliin lo


tas yang disana”


“Call/ayo kita lakukan” ucap gue


bahagia.


“Call” bales puput.


Akhirnya malam itu gue jadi juga


nemanin puput beli tas kesayangannya di pelataran Gorasugil, tempat


barang-barang branded di Korea. Tentu saja gue tagih janji ni bocah dengan


ambil satu barang yang daritadi gue lirik yakni sepatu booth. Secara bentar


lagi mau spring jadi butuh booth biar gak kedinginan kaki jenjang gue.


Abis belanja, lanjut makan dan abis


itu kita pulang karna besok ada kelas pagi jadi harus buru-buru tidur.


Gue buru-buru masuk ke appartmen


gue buat istirahat. nyampe di appartmen gue baru ingat kalau roti bantel gue


abis, jadi harus ke mini market buat isi stok. Sialnya !!!


Akhirnya gue mutusin buat keluar


menuju mini market. gue berjalan kaki manja menuju mini market yang gak terlalu


jauh dari Appartmen. tapi seketika tubuh gue tiba-tiba ditabrak sama seseorang


yang nggak gue kenal dan kami tersungkur ke tanah berjemaah. Dan tubuh itu


cowok tertindih ama gue. Sejenak gue perhatiin itu cowok yang mukanya ditutupin


masker dan topi.


“Cakep” Pikir gue dalam hati. dan


gue belum beranjak dari posisi gue yang menindih itu cowok.


“Apa kau sudah puas melihatnya


nona?” Gumam itu cowok yang suaranya naudzubillah berat dan seksinya.


Seketika gue langsung tersadar dan


langsung berdiri membenarkan posisi gue. Gue bingung ama tu cowok yang


tiba-tiba nabrak gue sampai gue nindihin dia. salah gue nggak kira-kira


nindihin dia?? nggak kan?!


“Mian hae/Maaf”


Bentar, kenapa gue yang minta maaf,


kan harusnya dia yang minta maaf.


Seketika tu cowok langsung narik


punggung tangan gue dan berlari ke arah yang nggak gue paham.


“Hei, Lu mau bawa gue kemana?” Ujar


gue ketakutan.


Dan kami berhenti disebuah gang


sepi untuk menghindari sesuatu.