LOVE IN SEOUL CITY

LOVE IN SEOUL CITY
Episode 52 / Hari pertama.



“Ayo cepat turun kebawah. Makan malam sudah siap” Imbuhnya sambil membalikkan badan berjalan santai meninggalkan kamarnya.


“Aku akan mandi terlebih dahulu baru turun” Jawabnya yang dibalas lambaian tangan dari belakang punggung Junhan hingga pria itu menghilang dari balik pintu.


Tak butuh waktu lama gue turun dari tangga setelah menyelesaikan ritual wajib setiap harinya yakni mandi kembang. Gue turun dari tangga menuju ruang makan yang kaki gue langsung pegel sankin jauhnya. Rumahnya kelewat lebar kayak lapangan bola. Sekalian aja dia bikin kos-kosan kalau ini rumah selebar ini.


Setelah gue tiba, salah satu pelayan langsung menarik gagang kursi makan yang kali ini kursi makannya berwarna gold dan ini agak memanjang. Oh Tuhan, gue pacarin anak Sultan.


Junhan santai duduk sambil menggesekkan pisau kesebuah steak daging diatas piringnya tanpa terganggu dengan kedatangan gue. Setelah selesai memotong daging secara keseluruhan diatas piring itu, pria itu langsung


melirik kearah gue sambil memberikannya kepada seorang pelayan disebelahnya. Baik banget dia ngasih ke pelayan steak daging.


“Ini makanlah. Semuanya sudah ku potongkan” Gue terperanga sekilas saat pelayan itu menggantikan steak yang belum gue sentuh didepan gue dengan piring milik Junhan yang sebelumnya sudah ia potongkan beberapa untuk gue. Dan piring gue sebelumnya diberikan ke Junhan dan ia kembali mengulang memotong irisan daging tersebut satu persatu dan berangsur masuk ke dalam mulurnya yang seksi, what?? Gue bilang seksi barusan???


Tapi jujur aja. Ketampanannya hampir setara samaBaek hig dan Jaehyun. Mungkin bedanya dibalik baju yang dia kenakan terdapat otot-otot kekar kayak roti sobek isi daging panggang Sapi kualitas super. Tinggi, rahang yang kokoh dan bentuk wajah layaknya ukiran karya seni, rambut sedikit ikal dan rapi, mata yang agak sipit persis kayak warga asli Korea, bibir bawah yang lebih tebal dibanding bibir atas, hidung yang agak nungging kayak pernah di operasi plastic. Bahu badan yang sangat lebar, kalau bersandar pasti nyaman.


Oh Tuhan gue baru saja membayangkan yang tidak-tidak. Ohh pikiran dan otak mesum gue, sadarlah!!!.


“Aku tahu kalau aku ganteng, tapi tak perlu kau melihatnya sampai ileran begitu”


“Sial gue ketahuan” Umpat gue dalam hati.


“Wajar kali aku ngelihat. Kan punya mata” Balas gue menohok.


“Besok aku dinas keluar negeri pagi-pagi banget. Jadi mungkin kamu nggak akan lihat aku sekitar 4 hari” Lapornya tiba-tiba.


“kagak nanya” Batin gue.


“Ya” Jawab gue singkat sambil makan satu persatu daging dimulut gue. Sumpah ini enak banget. Tapi baguslah. Gue juga bakal pergi besok pagi buat syuting.


Junhan beranjak bangun dari kursinya “Ayo ikut aku” Ujarnya tiba-tiba.


“Kemana??” Tanya gue bingung.


“Ke Bar” Jawabnya singkat dan itu sukses bikin gue bergidik ngeri. “Ke Bar?? Kamu gila?? Kalau ada yang kenal kita gimana??”


“Tenang aja. Teman-temanku orangnya cuek. Diantara mereka juga ada yang selebritis. Mungkin kamu kenal”


“Bisa nggak kalau aku nggak ikut? Aku mau istirahat. Aku capek banget” Lirih gue pura-pura biar nggak ikut.


“Nggak bisa. Diperjanjian tertulis, nggak boleh melawan dan harus patuh”


---


Kita tiba disebuah Bar. Sangat-sangat mewah dan jujur saja gue nggak tahu dimana lokasinya karna nggak penting juga gue ingat. Diantara para tamu, banyak Selebritis yang pernah gue lihat dan kenal. Sebagai Junior, gue sapa pastinya karna itu adalah etika. Mereka sibuk dengan dunianya sendiri. Ada yang menari-nari, bercengkrama bahkan mereka melakukan hal erotis tanpa memandang tempat. Kalian pasti paham maksud gue.


Kita tiba disebuah bilik yang hanya bersekat disela kiri kanan dan pastinya bilik itu bisa dilalu-lalangi orang-orang yang lewat dari depan. Kalau mau yang lebih private lagi, disini juga tersedia ruangan tertutup. Terserah ingin melakukan apa disana dan dengan berbagai ukuran pastinya.


Diruangan itu, beberapa teman Junhan telah menanti dengan beberapa wanita didalamnya. Kalau gue lihat, kayaknya wanita yang sengaja disewa untuk menemani mereka. Tapi nggak semua, ada satu wanita yang


menonjol dan terlihat glamor. Gue nggak kenal, tapi dia melihat gue dari atas sampai bawah secara intens.


“Kenalin, ini adalah teman-temanku. Yang memakai kemeja biru adalah Kim Niko, dia baru saja menyelesaikan S3 nya di Malaysia sebagai syarat supaya ia bisa menduduki jabatan diperusahaan orang tuanya. dipojok sana bersama wanita disampingnya adalah Nana Park dan Sun gi. Nana seorang pengacara dan Sun Gi adalah seorang actor.


“Anyeongaseo” Sapa gue ke mereka semua.


“Kenalin, dia Yuka.” Menarik pinggang gue lebih dekat. Shit, shock gue.


“Dia juga selebritis dan salah satu member Angel”


“Aku tahu. Perusahaan Ayahku pernah mengundangnya untuk tampil. Dia sangat-sangat cantik waktu itu.” Racau Niko yang bikin pipi gue merona. Ya jangan jujur juga kali bang, pikir gue.


Kita pun duduk disalah satu sisi yang lumayan kosong. Gue melirik kearah meja yang hanya dipenuhi alcohol tanpa air mineral. Nggak mungkin kan gue mabuk malam ini terus besok paginya nggak bisa bangun karna


teller.


“pelayan” Teriak Junhan memanggil salah satu pelayan yang kebetulan lewat. “Air mineral ya.” Mendengar Junhan memesan air mineral, sontak mendapat seringai ledekan “Kau memesan air mineral? Are u really??” Galak Niko sambil menerima ciuman dari wanita sewaannya, heol. Gue kaget banget.


“Besok pagi-pagi aku harus terbang jauh, dan dia juga” menunjuk gue


Bersambung


@yulia.fernanda__


Jangan lupa dukung dan baca juga :


·         Cerita Julia dan Korea Selatan


·         Cerita Julia dan Korea Selatan 2


            Future Princess.