LOVE IN SEOUL CITY

LOVE IN SEOUL CITY
Episode 45 / Stalker.



Akhirnya gue nemuin dia disebuah meja Bar dalam keadaan teler. Hal yang gue lakukan pertama kali memapahnya keluar dan memaksanya untuk pulang. Kita berjalan menuju parkiran mobil sambil terseok-seok memapah manusia stress ini. “Sonbae, apa kau membawa mobil kesini???” Sebelum memastikan ia membawa mobil atau nggak. Saat dilorong Bar gue menghentikan langkah gue.


“Mobil??”


“Ahh aku bawa mobil ya???” Ya elah dia malah nanya balik?? Ya Allah sadarlah Hanji sialan.


“Ohh ya aku baru saja dibelikan Porche oleh seseorang” Sambil menyentuh ujung hidung gue dengan telunjuknya dan itu buat gue bergidik ngeri saat disentuh. “Kau dibelikan Porche???” Tanya gue takjub yang dibalas anggukan imut-imut ala Hanji yang bikin batin gue tersiksa.


“Mobil itu baru datang dan langsung aku kendarai kesini. Hebat kan??” Gue sedikit kepo, siapa pria luar biasa yang


menghiadiahkan ini anak sebuah mobil mahal yang gue sendiri mungkin kudu mikir buat belinya. Tapi sekarang bukan itu masalahnya. Gue harus bawa ini mahkluk pulang ke dorm dan memasakkan sesuatu buat menghilangkan mabuknya. Gue langsung merogoh isi tas Hermes blacknya dan mencari kunci mobilnya.


Saat gue nemuin, gue langsung pencet remotnya buat nyari keberadaan mobil barunya yang bikin jiwa miskin gue meronta-ronta.


Tit titt. Dan suara khusus remot mobil pun menyala disalah satu diantara deretan mobil. Porche berwarna ping 2 pintu tak jauh dari pandangan gue. Oh My God. Gue langsung tergoda sesaat lihat mobilnya. Gue jadi pengen dibeliin seseorang. Ya ampun, mungkin iler gue sekarang udah keluar dari mulut gue saat ini.


Sambil menahan beban tubuh Hanji yang lumayan berat, gue melamun saat tahu porche baru milik hanji. Dengan langkah yang lumayan berat karna beban yang gue bawa, gue berusaha mendekati mobilnya. Saat sampai, gue langsung membuka pintu mobilnya dan memasukkan Hanji pelan-pelan, lalu setelah itu barulah gue beralih masuk ke pintu kemudi. Sekarang masalah gue, gimana cara bawa ini mobil sport??


“Ini kayak nyetir mobil biasa nggak sih??” Pikir gue melayang saat lihat isi dalam mobilnya yang menakjubkan. Seketika gue langsung ambil nafas dalam-dalam biar nggak grogi bawanya. Setahu gue ini mobil kekuatannya lebih besar ketimbang mobil biasa. Jadi pelan-pelan aja biar aman.


“Oke, karna ini mobil mahal Yuka, jadi kita kudu pelan-pelan biar mobilnya nggak lecet. Honor lo semenjak debut masih belum kelihatan hilalnya karna lo masih harus lunasin hutang lo selama jadi Trainee. “Ya Tuhan kenapa honor gue belum kelihatan, gue cuma Trainee 3 bulan loh” Gumam gue dalam mobil sambil pelan-pelan menginjak pedal gas mobil.


Gue hampir berhasil membawa mobil menuju jalanan Kota Seoul yang padat dan penuh dengan aktifitas segala macam orang-orangnya. Saat lampu merah menyala dari kejauhan, gue langsung mengurangi kecepatan pelan-pelan, karna ini mobil harus aman saat berdekatan dengan mobil lain. Sementara Hanji tertidur dengan pulasnya didalam mobil.


“Senior, kau tahu?? Aku takut setengah mati membawa mobilmu. Aku belum pernah membawa mobil dengan mesin besar kayak gini karna takut dari dulu. Tapi juga bukan hanya hal itu saja sih, lebih tepatnya gue nggak mampu belinya huhuhu” gue ngomong sendiri. Setidaknya disituasi yang menegangkan ini, gue harus mencairkan suasana yang kacau.


Ketika lampu merah berganti warna menjadi hijau. Gue membiarkan mobil lebih menjauh dan barulah gue pelan-pelan kembali menginjak pedal gas dan membawa mobil Porche milik Hanji dengan hati-hati. Gue terlalu focus


melihat kedepan tanpa melirik Hanji disebelah gue yang masih teler dan belum sadarkan diri.


“Hhuuuhuuuu hiks hiks” Gue terhenjak kaget saat mendengar suara tangisan. Hanji tiba-tiba aja bangun dan langsung menangis. “Sonbae/senior, kau kenapa??” Tanya gue mulai panik.


“hhuhuhuuuu” Gue jadi lebih nggak tenang saat Hanji kayak gini. Dan seketika focus gue langsung bercabang karna tangis Hanji yang tiba-tiba. “Cup cup cup tenanglah” Ujar gue sambil memukul ringan pundak Hanji menenangkan si empunya.


Akhirnya memang Hanji menghentikan pukulannya sesaat dan terdiam. “Kenapa hidup gue sesulit ini???” Setelah ia terdiam, itulah kata pertama yang keluar dari mulutnya. Gue melirik sekilas Hanji disamping gue. Bila diukur, entah sebanyak apa kesulitannya saat ini. “Seseorang menerorku. Reporter itu menerorku hhuhuuu hiks”


“Reporter???” Gumam gue sambil kembali melirik sekilas kearah Hanji.


“Apa kau kenal reporternya Sonbae??” Tanya gue setelah mendengar itu dari mulut Hanji.


“Setiap hari dia selalu mengirimkan foto-fotoku ke appartmen. Aku takut hiks” Sekilas gue menyadari kalau Hanji memiliki Stalker.


“Dia juga mengikutiku hingga ke Bar tadi”


“B-b-bar???” Gumam gue ketakutan. Bulu kuduk gue langsung merinding. Jika memang reporter itu ngikutin dia sampai ke Bar. Pasti dia juga ngikutin kami saat ini. Gue seketika langsung melirik ke spion, dan benar. Ada mobil aneh yang ngikutin kita dari belakang. “Oh Shitt” Hentak gue seketika saat baru menyadari keadaan.


Jika gue ngikutin keadaan, mobil yang gue bawa lumayan kuat buat menerjal jalanan Korea buat ngebut. Tapi gue nggak seberani itu buat mencoba. Disisi lain, kalau gue berhasil ngebut, bisa aja keberadaan kami nggak terikuti sama mobilnya si stalker. Seketika nggak sadar gue ikut dalam kesengsaraan yang dialami Hanji.


“Oh no, kalau gue terlalu pelan bawa ini mobil, pasti tiba-tiba dia ngalangin mobil ini dan lebih buruknya lagi itu stalker pasti culik Hanji.”


“Nggak, nggak mungkin dia ninggalin saksi mata, begok namanya kalau dia ninggalin gue terus culik Hanji. Pasti gue juga ikut diculik.” Pikiran gue langsung buyar dan sudah nggak focus lagi buat nyetir.


BRAKKK….


Bersambung


@yulia.fernanda__


Baca juga


·         Cerita Julia dan Korea Selatan


·         Cerita Julia dan Korea Selatan 2


·         Future Princess.