
Sepulangnya loli, anya dan brend dari mansion ayana. Mereka bertiga langsung berpisah arah karena anya langsung menuju pulang ke mansion keluarganya sedangkan loli dan brenda langsung pulang menuju mansion keluarga brenda.
Setelah mereka membersihkan tubuh dan berganti pakaian tidur. Brenda dan loli langsung merebahkan tubuh mereka di atas ranjang king size milik brenda di kamar brenda yang lumayan luas tak seperti kamar loli yang luasnya seukuran 1 rumah sederhana.
" Lol ? ".
Brenda memposisikan tubuhnya mengarah dan menatap ke arah loli di sampingnya dengan wajah terlihat ingin menanyakan sesuatu pada loli.
" Hmm ".
Loli yang sedang memainkan ponselnya, langsung menjawab panggilan brenda hanya dengan deheman saja, tanpa menatap ke arah brenda.
" Lu penasaran gk ? sama pria yang di maksud sama nyonya ayana tadi ? ". Tanya brenda dengan serius.
" Gk ".
" Haiss.. Lu mestinya harus cari tahu dong, siapa pria itu ! Ya kali apa yang di katakakan nyonya ayana itu beneran, kalau pria itu ngincar persahabatan kita apalagi nyonya ayana bilang kalo lu adalah incaran utama pria itu ".
" Gimana sih lu ! ".
Brenda sedikit kesal karena sikap bodoh amatannya loli yang selalu mengabaikan hal-hal yang perlu di waspadai seperti ini.
" Udahlah bren.. Gue gk minat cari tahu siapa pria yang kalian omongin ".
" Kalau pria itu emang mau ngincer gue, seperti yang nyonya ayana katakan. Ya biarin aja, gue mah gk peduli dan gue gk takut sama sekali ! ".
" Ya, gue tau kalo Lo emang gk takut ama siapapun di dunia ini kecuali yang di atas. Tapikan setidaknya Lo harua waspada juga, Lol ".
" Lo harus cari tahu kenapa pria itu sampe mau ngincar Lo, gue ama sahabat kita yang lain ".
" Kan aneh.. Kita yang gk pernah cari masalah sama orang, tiba-tiba ada orang yang ngincer kita berlima ? Setidaknya kita harus mencengah dari pada mengobati ".
Loli pun sejenak menatap brenda dengan tatapan datar yang sulit di artikan, kemudian dia langsung meletakkan ponselnya di atas nakas di sampingnya dan mulai memposisikan tubuhnya mulai duduk di atas ranjang dan menatap ke arah brenda.
Brenda juga ikutan duduk karena melihat loli duduk menghadap ke arahnya, dengan berpikir, mungkin loli tertarik dengan bujukannya.
" Apa Lo mau gue cari tahu soal pria itu sekarang ? ". Tanya brenda begitu antusias.
" Gk ".
Brenda langsung melototkan matanya mendengarkan jawaban loli yang langsung mengatakan tidak dengan begitu cepat.
" Dengerin gue baik-baik ! ".
" Kalau memang pria itu ingin ngincar gue apalagi kalian sahabat gue, maka gue gk akan tinggal diam aja ".
" Tapi, tolong biarin gue ngatasin masalah ini dengan cara gue sendiri ".
" Maksud Lo ? ". Tanya brenda tak habis pikir.
" Gue akan cari tahu sendiri apa alasan dan maksud tujuan pria itu ngincar gue dan kalian berempat, dan kalian gk perlu ikut campur dalam masalah ini ".
" Gk ".
" Gk bisa gitu dong, Lol ".
" Gue gk akan pernah ngebiarin Lo hadapin masalah ini sendirian dan Lo harus ingat kalau bukan cuma gue aja yang akan bersikap seperti ini !".
Brenda langsung menatap loli dengan tatapan tajamnya.
" Apa Lo pikir, Anya dan rolan bahkan aron akan ngebiarin Lo menghadapi semuanya sendirian ? ". Tanya brenda tak habis pikir.
Mendengarkan nama aron di sebutkan oleh brenda. Dengan perlahan loli menghembuskan nafasnya dengan berat.
Brenda mengusap wajahnya dengan kasar, dia tau loli ingin mengindari pembahasan ini.
Mau tidak mau, brenda pun langsung ikut membaringkan tubuhnya di ranjang dengan kesal.
*********
Ke esokan pagi harinya, tepat jam 9 pagi...
Loli bersama brenda dan anya sedang dalam perjalanan menuju ke suatu tempat, dimana mereka akan menemui 3 orang pria yang loli kenal, yang niatnya akan loli ajak dalam timnya selama berlangsungnya penyelidikan kasus ini.
Setelah sekitar 25 menit perjalanan yang mereka bertiga tempuh. Akhirnya mereka tiba juga di sebuah gedung besar yang nampaknya biasa saja jika di lihat dari luar dan akhirnya mereka bertiga turun dari mobil.
" Tempat apaan ini, Lol ? ". Tanya anya dengan raut wajah penasaran.
Loli tidak menjawab, tapi dia langsung berjalan mendekati pintu utama gedung itu dan langsung membuka pintu tersebut, lalu masuk dan menghilang ke dalam sana.
" Yakk.. Tungguin kita napa sih ". Pekik Anya dengan kesal langsung berlari menyusul loli bersama dengan brenda.
Sedangkan loli sudah masuk semakin dalam ke ruangan gedung tersebut yang ternyata gedung itu bukan sembarang gedung melainkan gedung itu adalah rumah seseorang yang sangat loli kenali.
Ketika loli telah sampai di ruangan tengah di rumah tersebut. Dia berhasil membuat 3 orang pria terkejut melihat kehadiran loli yang begitu tiba-tiba di hadapan mereka.
" Kau ". Pekik ketiga pria itu sangat terkejut, bahkan mereka sampai melototkan mata mereka.
Tapi loli terlihat biasa saja dan bahkan loli dengan santainya, langsung duduk di salah satu kursi kosong yang berhadapan dengan ketiga pria itu yang sedang duduk santai di meja kerja mereka.
" Ka-kapan anda tiba di sini, detektif robin ? ". Tanya salah satu pria berbadan gemuk tapi berotot yang mengenakan jaket merah.
" Saya datang bukan untuk mendengarkan pertanyaanmu ! Saya akan langsung bicara intinya saja ". Jawab loli dengan wajah datarnya.
Ketiga pria itu langsung terdiam. Tapi, mereka tahu bahwa loli memang tidak suka membuang-buang waktu dengan basa-basi seperti ini dan mereka tidak mempermasalahkan sikap loli pada mereka.
" Ya, anda bisa mengatakan tujuan anda datang menemui kami ". Jawab pria lainnya yang mengenakan jaz biru bergaris putih.
" Bergabunglah dengan tim saya dalam penyelidikan kasus yang akan saya tangani di negara ini ". Ucap loli langsung intinya.
Sih pria berjaz biru langsung memicingkan matanya setelah mendengarkan ucapan wanita di depannya.
" Kasus apa ? ".
" Kasus pembunuhan keluarga gerald robin, 14 tahun yang lalu ". Jawab loli dengan datar.
Deg.
" Bukannya kasus itu sudah di tutup ? ". Tanya sih pria berjaket merah.
" Kasus itu belum sepenuhnya di tutup, karena masih banyak kejanggalan yang di biarkan selama ini oleh jendral nelsen yang banyak di curigai oleh publik bahwa ada yang di tutupi jendral nelsen dari kasus pembunuhan tersebut ". Jelas sih pria berjaz biru yang bernama Adrian dengan serius.
Tanpa sadar, sih pria lainnya yang memakai pakaian berwarna putih langsung menyelidiki apakah yang di katakan adrian itu benar.
" Ternyata kau sudah mengetahui hal itu ? ". Ujar loli dengan tatapan datar.
Baru saja adrian ingin menjawab ucapan loli, tapi tiba-tiba anya dan brenda baru saja menyusul loli di dalam ruangan itu.
Deg.
Mata brenda dan anya langsung melotot kaget melihat siapa ketiga pria yang sedang berhadapan dengan loli dalam ruangan itu.
" Me-mereka ". Pekik anya melototkan matanyanya dan langsung bersembunyi di belakang tubuh brenda.