Lolita's Hidden Secrets

Lolita's Hidden Secrets
Bab 22



Setibanya loli dan indry di kantor kepolisian pusat, mereka berdua langsung masuk kedalam sana bergegas menuju ruangan penyelidikan.


Ceklek.


Loli dan indry langsung masuk kedalam ruangan penyelidikan yang di dalam sana sudah ada jendral piter, dan ketiga tim penyelidik tim loli.


" Bukan dia pelakunya ". Ucap loli secara tiba-tiba, saat dia sudah berhadapan dengan jendral piter.


" Apa maksud anda, detektif robin ? ". Tanya jendral piter menautkan kedua alisnya kebingungan.


" Ini hanyalah jebakan pelaku agar kita salah menangkap orang dan sengaja menggagalkan penyelidikan saya dan tim saya ". Jawab loli dengan serius, serta menatap jendral piter dengan tatapan serius.


" Berhentilah mempermainkan saya! , kalian sudah merahasiakan bukti utama dan melakukan penyelidikan secara diam-diam tanpa melaporkan pada saya ! Dan sekarang anda mengatakan kalau pria itu bukan pelakunya ? ". Pekik jendral piter benar-benar merasa di permainkan oleh loli dan timnya.


" Lalu bagaimana dengan hasil bukti yang dikirim kepada saya ?, bukti mengatakan kalau pria itu adalah pelakunya, kenapa sekarang anda mengatakan kalau bukan dia pelakunya ? ". Tanya jendral piter benar-benar marah.


" Setidaknya saya tidak ingin memenjarakan orang yang tidak bersalah, sekalipun kejadian ini adalah salah saya ! ". Jawab loli dengan tegas menatap jendral piter dengan datar.


Jendral piter benar-benar tak percaya kalau ternyata wanita di depannya tidak takut padanya yang jelas memiliki jabatan lebih tinggi dari seorang detektif seperti loli.


Tapi tiba-tiba...


Ceklek.


" Jendral ". Ucap seorang anggota kepolisian memanggil jendral piter setelah masuk kedalam ruangan penyelidikan.


Semua mata langsung tertuju pada anggota polisi tersebut.


" Ada apa ? ". Tanya jendral piter dengan tatapan datar.


" Maaf telah mengganggu waktu anda, tapi.. ".


Belum juga anggota polisi itu melanjutkan perkataannya, tiba-tiba seorang wanita berpakaian modis dengan raut wajah datar dan tatapan dingin muncul dan berdiri di depan pintu luar ruangan itu di temani 2 pengawal pribadinya di belakang wanita itu.



Melihat wanita yang sangat di kenal olehnya, jendral piter langsung menundukkan kepalanya sejenak memberikan hormat pada wanita itu dan berhasil membuat ke empat tim penyelidiknya terkejut. Tapi hanya loli yang bersikap biasa saja.


" Selamat siang, Nyonya Ruby ". Sapa jendral piter dengan ramah dan sopan seraya menegakkan lagi kepalanya.


Ternyata ruby yang datang berkunjung tanpa terduga di kantor kepolisian pusat tersebut.


Ruby berjalan masuk kedalam ruangan penyelidik dan langsung berdiri di hadapan jendral piter dan loli.


Ruby menatap loli dengan tatapan yang sulit di artikan, membuat loli kebingungan di balik wajah datarnya.


" Saya yang membunuh detektif itu ". Tiba-tiba ruby mengatakan hal yang tak terduga, masih menatap ke arah loli.


Deg.


Jendral piter tercengang sekaligus terkejut mendengarkan pernyataan wanita di depannya. Bukan hanya dia saja tapi ke empat anggota tim penyelidik yang juga berada dalam ruangan itu sama terkejutnya dengan jendral piter.


" A-apa maksud anda nyonya ruby ?, tolong jangan membuat saya bingung ". Tanya jendral piter benar-benar bingung dengan maksud pernyataan ruby.


Ruby memeberikan isyarat dengan jarinya pada kedua pengawal pribadinya. Salah satu pengawal ruby pun langsung maju dan memberikan sebuah paper bag, entah apa isinya pada jendral piter. Dan jendral piter langsung mengambil paper bag tersebut dan melihat isi di dalamnya.


Deg.


Setelah melihat isi dalam paper bag tersebut, jendral piter langsung menatap ruby dengan mata yang melotot karena terkejut. Membuat loli dan timnya penasaran.


" Itu adalah barang bukti yang asli, dan pisau yang saya gunakan untuk merobek-robek setiap kulit detektif itu ". Ucap ruby semakin membuat semua orang terkejut, bahkan loli pun ikut terkejut seraya merampas paper bag di tangan jendral piter untuk melihat isinya paper bag itu.


" Maaf nyonya ruby. Tapi saya sama sekali tidak percaya kalau anda adalah pelaku kasus ini, jadi tolong jangan membuat penyelidikan kami semakin sulit ". Ucap jendral piter dengan tegas.


Siapa orang yang tidak mengenal ruby? Bahkan seluruh orang di muka bumi ini sangat mengenal siapa ruby yang adalah pemilik perusahan RA grup yang menduduki posisi ke 4, perusahan paling sukses di dunia.


Pernyataan ruby tentu saja sangat tak terduga dan membuat semua orang tidak percaya. Apalagi bagi jendral piter, karena tidak mungkin seseorang berpengaruh seperti ruby melakukan hal sekejam ini.


" Bacalah berkas dari dokter forensik yang telah membuktikan kalau pisau itu adalah milik saya dan terdapat sidik jari saya di pisau tersebut, serta sidik jari saya juga sudah di nyatakan ada di tubuh detektif itu ". Ucap ruby dengan wajah santainya.


" Jadi, sekarang kalian bisa langsung memenjarakan saya ". Sambung ruby benar-benar sangat santai.


Loli menatap ruby dengan tatapan yang sulit di artikan. tapi entah kenapa dia juga mendapatkan firasat kalau memang benar wanita di depannya adalah pelaku pembunuhan tragis detektif bryan.


" Saya akan menyelidiki berkas dan barang bukti yang anda berikan sekali lagi. Anda bisa menunggu di ruangan ini sampai saya selesai menembukan kebenaran dalam pernyataan anda ". Ucap jendral piter langsung pergi meninggalkan ruangan itu.


Ruby memberikan isyarat pada kedua pengawalnya untuk keluar dari ruangan itu dan kedua pengawalnya langsung melakukan perintah ruby tanpa menunggu lama.


Ruby tersenyum tipis melihat loli menatapnya dengan tajam saat ini.


" Kalian antarkan tuan tristan pulang ke rumahnya sekarang juga ". Ucap loli pada ke empat anggota timnya.


" Baik, detektif robin ". Jawab ketua tim langsung mengarahkan tristan berjalan keluar dari ruangan itu.


Sekarang tersisa loli dan ruby di dalam ruangan penyelidikan tersebut. Mereka berdua saling tatapan dengan pemikiran masing-masing.


" Hah ". Tiba-tiba ruby menghembuskan nafasnya dengan pelan.


" Kau baru saja membebaskan 2 orang yang nantinya akan kau selidiki lagi walaupun dengan kasus yang lain nantinya. Apa kau tidak menyesal telah melepaskan kedua pria yang kau duga pelaku kasus ini ? ". Ucap ruby seraya bertanya, memulai topik pembicaraan dengan loli.


" Apa maksud anda ? ". Tanya loli dengan tatapan dingin.


" Aaa.. tidak, saya hanya ingin memastikan saja bahwa anda nantinya tidak akan menyesali tindakan anda sendiri, karena membebaskan begitu saja kedua orang yang akan memberikan jawaban atas pertanyaan yang anda pendam selama ini ". Jawab ruby malah membuat loli semakin bingung bahkan loli langsung menautkan kedua alisnya.


" Saya tidak mengerti apa yang anda katakan barusan. Tapi jawab pertanyaan saya, jika benar anda lah pelaku yang membunuh detektif bryan, kenapa anda dengan santainya datang dan menyerahkan diri anda sendiri ke pihak kepolisian ? ". Tanya loli dengan serius.


" Hmm... Yah karena saya memang pelakunya. Apakah saya tidak boleh mengakui perbuatan saya pada pihak kepolisian ?, Bukankah kalian juga di untungkan atas pengakuan saya? setidaknya kalian tidak kesulitan lagi mencari siapa pelakunya, bukan ? ". Jawab ruby dengan santainya, semakin membuat loli curiga dan bertanya-tanya.


Melihat loli terdiam setelah dia menjawab pertanyaan loli, ruby malah tersenyum tipis menatap loli dengan tatapan yang sulit di artikan.