
Hari terus berlanjut. Penyelidikan kasus kematian detektif bryan juga masih terus berlanjut dan hasil penyelidikan bukti utama yaitu pisau belati yang di temukan loli rekan tim penyelidiknya juga sudah selesai.
Di rumah sakit ternama di paris, loli sedang berjalan ke ruangan dokter forensik untuk menemui anya dan mengambil hasil bukti itu.
Tok.
Tok.
Tok.
" Masuk ".
Setelah mendapatkan izin masuk kedalam ruangan yang di ketuk olehnya, loli pun masuk kedalam ruangan di depannya yang tak lain adalah ruangan anya.
" Ahh.. Gue kira siapa yang datang. Duduk Lol, gue ambil dulu berkas hasilnya ". Ucap anya ketika melihat loli lah yang memasuki ruangannya.
Anya langsung berdiri dan berjalan ke arah rak yang di penuhi banyak dokumen penting untuk mengambil berkas hasil penyeledikan bukti pisau belati yang loli minta dia selidiki. Sedangkan loli langsung duduk di kursi tamu di depan meja kerja anya.
" Ini ". Ucap anya seraya menyodorkan 2 kembar kertas pada loli dan loli langsung meraihnya.
Pandangan loli serius membaca berkas di tangannya, tapi di detik kemudian dia langsung menautkan kedua alisnya.
" Jika bukan pria tua itu, lalu siapa yang menaruh bukti itu di dalam mobil ? ". Batin loli cukup terkejut setelah mengetahui hasilnya.
" Pisau itu memang benar pisau yang di gunakan pelaku, darah yang menempel di pisau itu dan sidik jari yang menempel di pisau itu, serta sidik jari orang lain yang di temukan di tubuh korban adalah orang yang sama ". Jelas anya dengan santai menatap loli.
Loli menatap anya dan anya langsung menganggukkan kepalanya karena dia mengerti maksud tatapan loli padanya.
" Ya, pelakunya sudah bisa terdeteksi, dan ternyata pelakunya bukan ayah korban ". jelas anya.
Loli terdiam sejenak sambil berpikir. Kemudian dia merongoh ponselnya di saku celananya, kemudian dia menghubungi brenda.
" Ya, kenapa Lol ? ". Jawab brenda ketika panggilan telah terhubung.
" Lacaklah pria bernama Tristan Angelo sekarang juga, kirimkan lokasi kediamannya secepat mungkin ".
" Ok ". Panggilan pun berakhir.
" Gue pergi dulu ". Ucap loli seraya berdiri.
" Hmm, Berhati-hatilah saat lu sudah bertemu dengan pelaku. Jangan bertindak gegabah ". Balas anya memberikan nasihat pada loli.
Tapi loli malah membalas dengan menunjukkan jari tengahnya dan pergi meninggalkan ruangan anya.
" Dasar gila, di nasehatin malah kayak gitu ". Kesal anya yang hanya beberapa detik saja, setelah itu dia langsung menggelengkan kepalanya seraya tersenyum.
*****
Di kantor kepolisian pusat, brenda langsung melakukan apa yang di suruh oleh loli. Dengan lihainya dia langsung mengotak-atik keyboard computer di depannya.
" Aneh, kenapa wajah pria ini tidak asing ? ". Gumam brenda ketika dia sudah menemukan informasi identitas dan lokasi tempat tinggal pria bernama tristan angelo itu.
Brenda langsung mengirimkan lokasi pria itu pada loli melalu WhastApp. Dan chat dari brenda langsung masuk dalam hitungan detik diponsel loli.
Loli langsung membuka isi chat brenda. Setelah mengetahui lokasi dugaan pelaku utama kematian detektif bryan, loli langsung menghubungi tim penyelidiknya.
" Dugaan pelaku utama kasus ini sudah terindetifikasi, salah satu dari kalian pergilah temui jendral piter untuk melaporkan hal ini dan mintalah surat izin untuk penangkapan pelaku pada jendral piter ". Ucap loli pada ketua tim penyelidik yang dia hubungi.
" Saya membawah berkas hasil penyelidikan bukti utama dan setelah kalian mendapatkan surat izin penangkapan dari jendral piter. Kalian langsung saja ke lokasi kediaman pelaku yang akan saya kirimkan pada kalian ".
" Baik, detektif robin ".
Panggilan pun berakhir, loli langsung melajukan kecepatan mobilnya menuju kediam terduga pelaku utama kematian detektif bryan.
*****
Mobil loli baru saja berhenti di depan pagar rumah sederhana yang berada di pinggir jalan utama sebuah perumahan.
Tak berselang lama, mobil tim penyelidik pun berhenti di depan mobil loli yang terparkir di depan jalan.
" Detektif robin ? ". Panggil ketua tim langsung berjalan mendekati loli di ikuti anggota tim lainnya.
" Cepat sekali kalian mendapatkan surat izin dari jendral piter ". Ujar loli dengan wajah datarnya.
" Jendral piter awalnya terkejut dan sempat marah karena kita merahasiakan bukti itu, tapi karena kami mengatakan bahwa terduga pelaku sudah di ketahui. Jendral piter langsung memberikan surat izin tanpa ragu ". Jawab ketua tim.
Loli menganggukkan kepalanya tanda mengerti, kemudian dia langsung berjalan mendekati pintu rumah sederhana itu, di ikuti tim penyelidik.
Ketika sudah berada di depan pintu rumah tersebut, Loli memberi isyarat lirikan mata ke arah pintu agar salah satu tim mengetuk pintu rumah tersebut. Dan langsung di lakukan oleh anggota tim wanita.
Tok.
Tok.
Tok.
Ceklek.
Baru saja pintu di ketuk dan pintu langsung di buka dengan cepat. Spontan anggota wanita tim penyelidik langsung mundur beberapa langkah kebelakang. Sedangkan loli langsung menatap dingin lurus kedepan pintu.
Seorang pria paruh bayah pun keluar dari di depan pintu rumah, tepat di hadapan loli dan lainnya, dengan tatapan datar. Tapi anehnya pria itu malah menatap lurus ke arah loli dengan tatapan dingin.
" Selamat siang tuan, apa benar ini kediaman tuan tristan angelo ? ". Tanya ketua tim dengan sopan.
Pria itu diam dan lanjut menatap ke arah ketua tim dengan tatapan aneh.
" Kalian siapa ? ". Tanya pria paruh baya tersebut.
" Kami dari kepolisian pusat, kami mendapatkan laporan dan bukti yang kuat kalau tuan tristan angelo adalah pelaku utama kematian detektif bryan beberapa hari yang lalu ". Jelas ketua tim.
" Saya adalah orang yang kalian cari, tapi saya cukup terkejut, karena kalian menuduh saya sebagai pelaku pembunuhan yang kalian katakan ". Jawab pria itu yang ternyata adalah tristan angelo yang mereka cari.
" Maaf tuan, Tapi kami akan menangkap anda karena dugaan pelaku utama pembunuhan detektif bryan. Anda bisa menjelaskan nanti di kantor polisi, jika anda keberatan dengan pernyataan kami ".
Ketua tim penyelidik langsung memborgol kedua tangan tuan tristan dan membawahnya ke dalam mobil.
" Detektif robin ? ". Panggil ketua tim yang melihat loli masih berdiri diam di depan pintu rumah tuan tristan.
Loli menoleh dan berkata " Kalian pergilah lebih dulu ke kantor, saya dan indry akan menyusul kalian sebentar lagi ". Ucap loli.
" Baik, detektif robin ".
Ketiga pria anggota tim penyelidik dan juga tuan tristan angelo pun langsung pergi dari area tersebut, meninggalkan loli dan anggota wanita satu-satunya di tim itu bernama indry.
" Detektif robin ? ". Panggil indry.
" Dia bukan pelakunya ". Ucap loli tiba-tiba membuat polisi wanita bernama indry itu langsung kebingungan.
" Apa maksud anda, detektif robin ? ". Tanya indry dengan raut wajah kebingungan.
" Sepertinya pelaku utama ingin mengajak kita bermain petak umpet. Bahkan dia melakukan semus ini dengan bersih tanpa meninggalkan jejak ".
Indry semakin bingung di buat loli.
" Tapi orang itu tidak bisa membodohi ku, dengan kemampuan firasat yang muncul dalam pikiranku ".
" Ini semakin menarik ". Ucap loli seraya menyeringai tipis.
" Ayo pergi, karena kita harus melepaskan tuan tristan sebelum jendral piter mengumumkan bahwa pelaku utama sudah di temukan".
Loli langsung mengajak indry untuk kembali ke kantor kepolisian pusat. Mereka pun meninggalkan area rumah tuan tristan.