
Malam ini, mansion loli kembali ramai karena brenda dan anya ingin menginap di mansion loli.
Awalnya loli tidak mengizinkan mereka berdua untuk menginap di mansionnya, tapi alena berhasil membujuk loli dengan alasan nanti brenda dan anya akan tidur sekamar dengannya walaupun banyakk kamar kosong di mansion loli, sehingga mau tidak mau, loli terpaksa mengizinkan brenda dan anya menginap di mansionnya.
Sekarang mereka berempat sedang berada di ruang santai, loli sedang menatap malas melihat ketiga orang di depannya terlalu berisik karena bercanda.
" Oh ya ka, aku boleh nanya sesuatu gk sama kalian berdua ? ". Tanya alena pada brenda dan anya.
" Hmm, memang apa yang ingin kamu tanyakan ? ". Jawab brenda dengan anggukkan kepala.
" Apa? Ka anya dan ka brenda punya pacar ? ".
Deg.
Loli langsung tersenyum tipis merasa puas mendengarkan pertanyaan alena pada kedua sahabatnya. Loli tahu apa jawaban anya dan brenda sehingga dia menahan tawanya.
Sedangkan anya dan brenda langsung melotot kaget mendengarkan pertanyaan alena barusan.
" Ehh, itu... " Anya jadi bingung mau jawab apa.
" Apa kalian berdua gk punya pacar ? ". Tebak alena dengan polosnya.
" Ya, mereka berdua jomblo akut, alena ". Malah loli yang menjawab dengan menatap kedua sahabatnya dengan tatapan mengejek.
" Ck, memangnya kenapa kalau kita berdua jomblo ?, lah lu juga kan jomblo ". Brenda pun langsung balik menyindir loli dengan senyum puas.
Alena dengan polosnya terkejut dan langsung menatap ke arah loli.
" Kaka juga ? ". Pekik alena tak percaya.
Loli merasa dia malah terkena senjata makan tuan, dia langsung terdiam karena pertanyaan alena.
Pufftt..
" Bwaahahaha ". Tawa anya dan brenda pun pecah karena loli tidak bisa menjawab pertanyaan alena.
Ting Tong.
Tawa anya dan brenda seketika berhenti ketika suara bel mansion loli tiba-tiba berbunyi.
Loli menautkan kedua alisnya, seraya dia mengecek jam di jam tangannya.
" Siapa yang bertamu selarut ini ? ". Batin loli langsung berdiri dari tempat duduknya untuk mengecek siapa yang bertamu sudah jam 11 malam seperti ini.
Alena langsung berpindah posisi mendekati anya dan brenda, karena dia takut mungkin saja itu adalah pencuri.
Loli baru saja tiba di dekat pintu utama mansion dan dia langsung membuka pintu tersebut.
Ceklek.
Loli spontan kaget dan langsung mudur kebelakang.
Bruk.
Seorang pria dengan tubuh di penuhi luka serta pakaian yang berantakan juga sudah basah karena darah langsung jatuh tepat di hadapan loli di pintu utama.
Deg.
Loli tidak bergeming dalam sejenak dia tiba-tiba blank dan tidak tahu harus berbuat apa.
" Aaaakkkhhhh ".
Brenda, anya dan alena ternyata baru saja menyusul loli dan betapa kagetnya mereka melihat seorang pria dengan penuh luka dan berlumuran darah tergeletak di lantai tepat di hadapan loli, sehingga mereka bertiga spontan berteriak kaget.
" Si-siapa dia Lol ? ". Tanya brenda bergetar ketakutan, sedangkan alena langsung bersembunyi di belakang tubuh anya dengan tubuh bergetar ketakutan.
Loli pun tersadar dari kagetnya dan langsung menghubungi arga untuk melaporkan kejadian ini. Dan dalam dering ke 2 pangilan langsung terhubung.
" Ada apa ? ". Tanya arga dengan nada datar di sebrang sana.
" Seorang pria tidak di kenal baru sana datang ke mansionku, ketika aku membuka pintu, pria itu jatuh ke lantai begitu saja. Dia terluka parah dan sudah berlumuran darah, apa yang harus aku lakukan ? ".
Saking blank nya pikiran loli, dia bingung harus melakukan apa saat ini sehingga dia berpikir untuk meminta bantuan arga.
" Periksalah jika pria itu masih hidup atau tidak, jika nyawanya masih bisa di selamatkan, cepatlah bawah dia kerumah sakit ".
Loli langsung berjongkok dan memeriksa keadaan pria itu sesuai perintah arga.
" Dia masih hidup ". Jawab loli dengan cepat setelah dia mendapati denyut nadi pria itu masih ada.
" Oke. Bawahlah dia kerumah sakit sekarang juga, aku akan segera menyusulmu ". Ucap arga dengan cepat.
Akhirnya loli langsung membawah pria itu ke dalam mobilnya dengan memapah pria itu. Sedangkan anya, brenda dan alena langsung mengikuti loli untuk pergi ke rumah sakit, karena mereka takut jika tinggal di mansion.
******
Tak.
Tak.
Tak.
Arga langsung berhenti di hadapan loli setelah dia berlari dari depan rumah sakit menuju ruangan UGD.
" Apa kau baik-baik saja ? ". Tanya arga khawatir jika loli terluka.
Loli menggelengkan kepalanya, dia tidak terluka hanya saja dia syok akan kejadian tadi yang membuatnya teringat kembali kejadian di masa lalu, ketika ayahnya jatuh ke lantai setelah di tembak oleh pria-pria jahat yang telah membantai membunuh semua keluarganya.
" Hah, syukurlah ". Arga tiba-tiba langsung memeluk loli seraya bernafas lega.
Pakkkk...
Anya langsung memukul punggung arga, sehingga arga langsung melepaskan pelukannya dari loli.
" Kalau mau pacaran liat situasi napa sih.. Masih di rumah sakit loh ini ". Sindir anya mengankat 1 keningnya keatas.
Arga langsung tersenyum dan mengusap kepala anya dengan lembut, kemudian selanjutnya kepala brenda kecuali alena.
" Ka, apa pria tampan ini pacarnya ka loli ? ". Bisik alena di telinga brenda yang tepat berada di samping, seraya pandangannya tak lepas dari arga.
Arga bisa mendengar bisikan alena pada brenda, tapi ketika arga ingin menjelaskan pada alena, keburu brenda duluan menjelaskannya.
" Bukan alena, Anya hanya bercanda mengatakan hal tadi kok ". Jelas brenda pada alena.
" Dia ka arga, kaka angkat kami bertiga. Kenalan gih.. " Sambung brenda.
Alena seketika langsung malu dan canggung ketika dia salah paham hubungan arga dan loli.
" Ha-halo ka, aku alena ". Ucap alena memperkenalkan dirinya pada arga.
" Saya sudah mendengarkan semua tetangmu dari mereka bertiga, kamu adiknya aron kan ? ".
" Ahh, yaa. Aku adiknya ka aron ". Jawab alena canggung.
" Baiklah, saya arga ". Ucap arga memperkenalkan dirinya, seraya tersenyum hangat pada alena.
" Tampan ".
Satu kata yang muncul tanpa sadar dalam batin alena, ketika melihat senyuman arga yang sangat manis.
" Lalu bagaimana kondisi pria itu ? ". Tanya arga kembali serius.
" Dia akan segera menjalani operasi, karena luka tusuk di perutnya sangat parah dan bisa berakibat fatal kalau gk langsung di operasi ". Jawab anya.
" Trus kenapa bukan kamu yang memeriksa pria itu, kan kamu dokter di rumah sakit ini ? ".
Arga bertanya pada anya dengan menautkan kedua alisnya.
" Ini bukan jam kerjaku, sekalipun aku bersikeras ingin memeriksa pria itu, kepala rumah sakit tidak akan mengizinkan aku ka ". Jawab anya jujur.
" Iya deh iya, sih paling dokter kebanggaan rumah sakit ini, sehingga gk ada yang berani membuatmu kelelahan ". Sindir brenda hanya bercanda.
" Ck, gk gitu juga kalinya ". Ujar anya dengan malas.
Akhirnya mereka berlima hanya bisa menunggu di depan ruangan UGD, menunggu sampai dokter keluar dan memberikan kabar bagaimana kondisi pria tidak di kenal itu.